Childhood Sweetheart

Childhood Sweetheart
he and me


__ADS_3

"Jadi tadi itu siapa? " tanya Ari saat mereka duduk di salah satu meja rumah makan, cowok itu melipat satu tangannya sedangkan yang lain menopang dagunya.


kening Vira berkerut, "Siapa, siapa? " tanya cewek itu balik.


Ari tersenyum menggoda, senyum yang Vira kenal banget kalo Ari pengen tahu sesuatu. "Ayolah, jujur sama gue. tadi siapa? " Ari tidak sabar mendengar jawaban dari Vira, meski ada yang menusuk-nusuk dadanya, sambil menyebar senyum jahil ke cewek cantik di depannya.


"Kakak Kelas aku di sekolah. " jawab Vira menghela nafas berat.


kepala Ari manggut-manggut, "Kakak kelas tapi ada yang lain tuh selain kakak dan Adik kelas. " ujar Ari dengan keisengan.


"Apaan sih, Ri! nyebelin deh! " ucap Vira cemberut, ingin rasanya melempar sesuatu ke arah cowok itu.


Ari tertawa kecil, kepalanya menggeleng pelan. pesanan mereka datang, tidak ada yang berubah dari makanan favorit Ari dan Vira, keduanya masih menyukai Mie Ayam Bakso.


"Btw, besok lo udah mulai masuk sekolah dong? " tanya Vira memotong kecil-kecil bakso miliknya.


mengangguk, cowok itu sedang mengunyah sayuran yang ada di mangkuk mieso nya.


"Terus gue masih penasaran, lo sebenarnya masuk di SMA mana sih? " tanya Vira menatap Ari.


cowok itu mendongak, "Lo pengen tahu atau tahu banget? " tanya Ari sambil mengedipkan matanya, membuat Vira terpana.


mencoba menyadarkan diri, "Astaga, " ujar Vira menggeleng pelan.


"Ada apa? " tanya Ari.


"Nggak apa-apa." jawab Vira.


mengaduk mieso sambil melihat Ari yang begitu menikmati makanan, "Lo kayak orang nggak makan seminggu. " celetuk Vira.


"Uhuk uhuk... " membuat Ari tersedak, buru-buru Vira mengambil gelas minumannya.


"Minum, Minum. sorry! " ucap Vira.


tangan Ari terangkat tanda bahwa ia baik-baik saja. "Hahaha... "


"Malah ketawa... "


"Habis dari dulu sampai sekarang, kalimat yang keluar dari lo pas gue makan lahap kayak gini tu nggak pernah berubah. " ucap Ari membersihkan bibirnya.

__ADS_1


Vira terdiam memikirkan ucapan Ari, "Bener juga ya? "


"Jawab dong! "


"Jawab apa? "


"Jawab pertanyaan gue tadi, lo sekolah dimana sekarang? " tanya Vira.


mengusap-usap dagunya, "Hmmm... Gue belum tahu. " jawab Ari santai kembali melanjutkan makan.


Vira yang udah duduk manis siap mendengarkan Ari ngomong cuma bisa melongok, "Hah... kok lo nggak tahu? " tanyanya.


"Ya, gue emang nggak tahu. yang ngurus semuanya kan bokap, jadi gue tinggal masuk. " jawab Ari.


"Tapi kan besok udah hari senin? "


"kayaknya gue masuk hari selasa deh! pastinya berkas-berkas gue baru di terima senin, selasa mungkin gue baru bisa masuk. " jawab Ari enteng.


Vira mendekati Ari, "Tapi lo bener nggak tahu bakal sekolah dimana? " tanya Vira penuh pertanyaan.


"Nggak tahu, mungkin di SMA THERESIA. " jawab Ari asal, Sekolah yang dulu paling Vira hindari. karena hanya orang-orang kaya dan berduit yang sekolah disana.


"Gila lo! " seri Vira.


Ari hanya diam memperhatikan tingkah lucu cewek yang duduk di depannya, "Biasa aja kali, kan kita belum sekolah mana yang bakal nelepon gue besok. " jawabnya.


"Kok lo santai sih, Ri?! bukannya lo anti sama sekolah kayak gitu? " tanya Vira tak percaya.


Ari hanya tersenyum, hanya Vira nggak tahu aja kalo sekolahnya dulu juga salah satu sekolah Swasta Favorit dengan kalangan anak-anak orang kaya tapi beruntung setelah lulus dari SMP dan masuk SMA, Ari bisa masuk ke sekolah Negeri tanpa hambatan.


"Udah lanjut makan lagi. "


"Tapi Ri... "


"Ssssttt... " jari Ari menempel di bibir Vira menghentikan cewek super duper cewek itu untuk berhenti, "Cepet makan, mie lo hampir dingin tuh! " tunjuk Ari.


Vira hanya diam kaget dengan tindakan Ari, kepala Vira menunduk dan makan makanannya yang memang hampir dingin. tanpa sadar ia tersenyum, pipinya memerah.


***

__ADS_1


Lampu taman bermain menyala, Vira duduk di Ayunan dan di samping ada Ari yang hanya diam menatap matahari terbenam. pikirannya melayang entah kemana, Vira tidak ingin mengganggu Ari. cewek itu bermainan ayunan sendiri, mengikuti Ari yang tenggelem dalam pikiran masing-masing.


"Gue sama Kakak kelas lo itu baikkan mana? " ujar Ari tiba-tiba menoleh menatap Vira yang juga menoleh karena kaget.


menggaruk kepalanya, "Maksud lo? "


"Hmmm... lupain. " jawab Ari mengibaskan tangannya, kembali tenggelam di pikiran nya kembali.


"Lo bakal milih siapa di antara gue dan dia? " sekali lagi Ari membuat Vira bingung.


"Eh! "


kali ini Ari menatap Vira dengan tatapan serius yang beda dari biasanya, "Nggak usah di jawab, gue bakal nyari jawabannya sendiri. " jawab Ari sendiri.


mata Vira mengedip-ngedip bingung sekaligus heran, "Gue juga nggak tahu sih bakal milih siapa? " jawab Vira bimbang, "Mungkin gue bakal milih lo sebagai temen gue, karena dia juga belum jelas dan bukan siapa-siapa gue juga. " jawab Vira.


"Kalo dia udah kasih ke jelasan? "


Vira diam cukup lama, "Gue belum tahu, tapi yang pasti orang yang bertahan yang bakal gue pilih. " jawabnya.


suara tawa Ari terdengar hambar, "Yang bertahan ya? " ujar cowok itu terkesan aneh.


***


Di dalam kamar, Vira berbaring menatap langit-langit kamarnya yang bertabur lampu warna-warni. ingatan nya jelas mengingat ucapan Ari tadi sore di taman, tak henti-hentinya Vira memikirkan ucapan cowok itu yang penuh dengan teka-teki.


*kenapa Ari ngomong kek gitu?


Apa maksudnya?


Dan kenapa dia minta gue lupain omongannya tadi.


terus napa gue jadi kepikiran?


nggak mungkin kan gue naksir temen gue sendiri?


Gue harus sadar, nggak mungkin gue suka sama temen sendiri.


yang gue suka cuma Kak Aji.*

__ADS_1


setiap memikirkan semuanya Vira jadi bertengkar sendiri dengan dirinya sendiri, pada akhirnya ia malah tertidur lelap dengan pikiran yang kacau.


***


__ADS_2