Childhood Sweetheart

Childhood Sweetheart
Episode 29


__ADS_3

Riva tersedak dari minumannya, "Hah, gue nggak salah denger?" tanyanya menatap Vira yang duduk dikelas bersamanya, bell berbunyi ketika Vira sampai dilantai dua, Kelas IPA membuat Vira berjalan ke kelasnya sendiri. Apa lagi ia melihat Pak Kuncoro berdiri di kelas sebelah, dan sekarang guru itu sedang pergi keluar. Memberikan Vira dan Riva berbicara, cewek itu sampai tersedak minumannya karena mendengar perkataan Vira.


"Terus dia ngomong apa?"


Vira menggeleng, "Nggak ngomong sih, soalnya gue langsung ke inget Ari."


"Kok jadi ke inget Ari?"


Kepala Vira menggeleng cepat, ia juga nggak tahu kenapa ia bisa kepikiran Ari saat bersama Aji, cowok yang hampir membuat Vira jatuh cinta, kalo tidak ada orang yang mendahului Vira. Vira punya prinsip, harus cowok duluan yang mengungkapkan perasaannya terlebih dulu kepada Vira. Ia nggak mau jadi orang yang memulai awal hubungan mereka, dan nggak ingin dipandang rendah sebagai cewek gampangan zaman now.


***


Di gerbang sekolah, Vira melihat Ari dengan motornya ke arah Vira.


"Ayo, naik." ujar Ari menyuruh Vira naik ke motor cowok itu.


Vira memperhatikan motor yang di naiki Ari, "Blacky mana?" tanyanya melihat mobil Sport Ari berubah jadi Vario.


Kaca hlem Ari terbuka. "Lagi di pinjem Kak Rendy sebagai jaminan." jawabnya.


"Ah, aku kira Blacky udah turun mesin jadi Vario." ucap Vira polos, tangan kanan Ari mengacak-acak rambut cewek itu.


"Dasar, kamu itu polos atau bego!?" sindir Ari.


Vira merengus, "Nggak dua-duanya." jawab Vira cemberut.


"Naik," suruh Ari.


Tidak perlu perintah kedua kali, Vira duduk dimotor baru Ari. Sebuah Helm warna ungu hitam terulur ke belakang. "Pakai, aku nggak mau kena tilang gara-gara kamu nggak pakai hlem." kata Ari, Vira yang menerima helm dari Ari, tertawa ngakak.


"Wkwkwkwkwk... Kok aku jadi inget waktu kita dulu ya?" ujar cewek itu mengingat masa lalu ketika Vira baru bisa naik motor yang diajarkan Ari, kedua orang itu nekat lewat jalan raya yang ada pos Polisi-nya dengan ke adaan tidak memakai helm. Saat itu juga seorang Polisi menghentikan Vira dan Ari, mereka berhenti dipinggir jalan. Waktu itu mereka masih anak SMP, Vira yang duduk di depan menangis sedangkan Ari hanya diam menerima omelan dari Polisi tersebut.


Beruntung waktu itu karena ada tetangga mereka yang lewat dan menjamin kedua anak itu, sampai sekarang Ari dan Vira masih ingat.


"udah jangan ketawa." gerutu Ari yang duduk membelakangi.


***


"Thanks, Ri!" kata Vira menutup pagar rumah, jalan menghampiri Ari yang berdiri dipinggir trotoar.


"iya, sama-sama." jawab Ari kedua kantong celananya penuh.


Vira memiringkan kepalanya melihat kantong celana Ari yang penuh, "Lo bawa apa?" tanya Vira menunjuk kantong celana Ari.


"Ah, ini." kata Ari merogok saku celana dan mengeluarkan permen yang ia bawa dari rumah Vira, sebuah permen warna-warni dan kue-kue kecil dalam kantong plastik. "Mama lo yang kasih gue ini, tadi di seselin ke saku celana." kata Ari menyeringai.


"Hahahahaha... Mama bikin malu aja?" kata Vira.


Tawa Vira berhenti. "Setelah ini lo mau kemana?" tanyanya melihat Ari yang memasukan kembali permen dan kue-kue itu ke saku celananya lagi.


"Hm, pulang mungkin." jawab Ari.


Vira mengangguk berjalan menemani Ari menuju rumah Nenekya yang hanya selisih dua rumah dari

__ADS_1


rumah Vira, dari semua teman di Perumahan Vira hanya Ari teman masa kecilnya yang masih mau main dengan Vira. Bukan karena Vira nakal tapi teman-teman masa kecilnya sudah mulai sibuk dengan dunia remaja mereka,


hanya beberapa kali Vira bertemu dengan teman-teman mainnya dulu kala sedang di luar rumah berpapasan dan kadang saling menyapa atau malah tidak saling kenal.


***


Vira menarik tangan Ari, cowok itu menghentikan langkahnya melihat ke arah Vira lalu beralih ke


arah dimana Vira memandang. Taman komplek perumahan tempat tinggal mereka, dulu Vira dan Ari sering bermain disana bersama-sama dengan teman seumuran mereka.


"Mau kesana?" tanya Ari.


Menoleh, seperti yang diharapkan oleh Vira. Ari selalu tahu apa yang Vira inginkan, cewek itu mengangguk. Tangan mereka saling bergandengan, kaki mereka bersama langkah menuju taman yang penuh dengan kenangan.


Mata Vira berbinar melihat ayunan tempat dulu ia sering berayunan masih ada, tepatnya berada menggantung dipohon besar dengan sungai buatan. Terlihat bebek-bebek berenang di sungai, Ari berjalan ke arah pohon besar itu. Tangannya merabah-rabah permukaan batang pohon, matanya terpejam mencari sesuatu disana.


Vira mengikuti Ari, cewek itu berdiri di belakang Ari memperhatikan Ari yang sibuk mencari


sesuatu. "lo masih ingatkan?" tanya Ari.


Memiringkan kepalanya, "Dulu lo pernah nulis sesuatu disini dan nyuruh gue buat nyari tulisan yang lo buat tapi gue nggak bisa menemukannya, lalu lo nyuruh gue memejamin mata gue dan menyuruh tetap nyari." tutur Ari.


"Lo masih ingat?" tanya Vira.


Ari mengangguk samar, "Dan sekarang?"


"Ya, sekarang pasti lo udah menemukannya." jawab Vira.


Cowok itu membuka matanya, mendesah. "Belum, gue belum menemukan tulisan itu sampai


"Dasar bodoh nyari kayak gini aja susah." ujar Vira kesal, Ari meringis mengusap-usap kepalanya. Vira benar-benar belum berubah masih cewek seenak jidatnya. Sekarang mereka sibuk mencari tulisan yang dibuat Vira hampir depalan tahun yang lalu, ketika Vira dan Ari masih duduk dibangku sekolah dasar.


"Kok nggak ketemu," ujar Vira. Menatap Ari yang masih mencari, "lo gimana udah ketemu?" tanya Vira ke Ari.


Cowok itu menggeleng, "Belum memang lo tulis di bagian mananya?" tanya Ari.


"Gue lupa, lagian mana inget gue nulis di bagian mananya dan udah lama juga." jawab Vira yang duduk di rumput bersadar dipohon, Ari mengikuti cewek itu duduk.


"Mungkin sudah hilang." jawab Ari.


Menggeleng Vira yakin kalo tulisan itu masih ada, "Nggak mungkin." jawab Vira, pandangannya mengitari area taman komplek, Ari masih mencoba mencari tulisan yang dimaksud Vira. Samar-samar Ari menemukan tulisan dibelakang punggung Vira, tulisan itu sudah kabur dimakan usia dengan lumut-lumut pohon.


"Vira, minggir." kata Ari.


"Apaan sih!" seru cewek itu kesal, lagi enak-enak bersandar malah di suruh minggir. Vira minggir dari posisi duduknya, dan menatap tajam ke arah Ari.


Tangan cowok itu menunjuk ke arah tulisan yang tadi di punggungin Vira. "Apa itu?" tanyanya, Ari menggeleng.


"Mungkin ini tulisan lo."


Vira menggeleng, "Itu bukan tulisan gue, jelek banget tulisan gue." ujar Vira.


You and I, forever

__ADS_1


Ari melirik Vira, 'Lha emang tulisan dia jelek kan, kalo dibandingin tulisannya Vino yang


anak kelas XI IPS masih bagusan tulisa Vira sih!' kata hati Ari.


"Udahlah, kayaknya emang bener udah hilang." kata Vira yang melihat lumut dipohon yang sudah tua


di depannya, "Ketutupan lumut kali." ujar Vira yang berdiri menepuk-nepuk celana kainnya.


Ari diam sambil memikirkan ucapan Vira, cowok itu masih duduk memandang ke arah pohon


besar itu. Sesuatu menarik kerah baju Ari, menoleh ke belakang yang ternyata Vira yang menari kerah bajunya.


***


Kantin penuh dengan sesak, memang jam istirahat kayak gini selalu jadi sasaran anak-anak SMA Harnus termasuk Ari, Vino dan Davi, dua anak kelas IPS yang menemani Ari makan siang di Kantin IPS. Vino dan Davi ini adalah teman Ari sewaktu SMP, sampai sekarang mereka masih kumpul walau beda kelas dan beda kekuasaan. Ari ada di kelas IPA sedangkan Vino dan Davi berada di kelas IPS, mereka berdua satu kelas. Sebenarnya ada masih satu orang lagi di geng mereka tapi cowok itu tiba-tiba aja ngilang waktu Ari nyamperin dikelasnya, di XI IPA 3 kelasnya Vira dan saat itu Ari juga nggak lihat Vira ada dikelas hanya ada Dian dan Muri yang dikenal Ari di


Kelas XI IPA 3.


"Rey, mana?" tanya Vino yang berjalan di samping Davi yang tinggi.


Dari mereka berempat yang paling tinggi adalah Davi, urutan ke dua adalah Ari di susul Vino sedangkan Rey tingginya hampir sama dengan Ari cuma kurang dua senti.


"Nggak tahu, tadi aku samperin ke kelasnya nggak ada." jawab Ari.


"Udah jangan pikirin tu anak satu, mending sekarang lo nyari meja, gue sama Ari yang pesen


makanan." kata Davi yang bisa dibilang doyan makan. Vino memberi tanda 'Oke' kepada kedua temannya.


"Nggak ditanyain mau makan apa?" tanya Ari.


"Nggak perlu, kalo dia sih makanan apa aja pasti dimakan."


"Itu bukannya lo, Dav." singgung Ari. Cowok yang berjalan di samping Ari malah tertawa, garuk-garuk kepala.


"Ngaco lo, gue masih normal." jawab Davi. "Gue tahu kok makanan dia, jadi lo tenang aja." kata Davi.


Ari mengangguk dan ikut mengantri di barisan, salah satu konter makanan. Beberapa cewek-cewek


saling berbisik ketika melihat Ari yang tiba-tiba ada di kantin anak IPS.


"Ih, tumben banget Ari ke sini." ujar seorang cewek dengan rambut kemerahan.


"Iya, nggak biasanya Ari makan dikantin sini." kata cewek lain dengan rambut di ikat dua.


"He'eh, bareng DV pula."


"Eh, denger-denger mereka bertiga dulu satu SMP loh! nggak sangka kan." kata cewek yang bermain-main dengan rambutnya.


"Serius, di sekolah mana? Kok aku nggak tahu?"


"Kalo nggak salah kelas SMP 1."


Semua terdiam dan menatap tiga yang yang berjauh-jauhan itu, dengan tatapan kagum.

__ADS_1


***


__ADS_2