Childhood Sweetheart

Childhood Sweetheart
36


__ADS_3

motor yang dinaiki Ari dan Vira berhenti disebuah gerobak minuman dipinggir jalan, Ari memakirkan motornya dan segera menyusul Vira yang sudah duduk di bangku panjang yang ada di dekat gerobak minuman.


"Bang, Es Cendolnya tiga." teriak Ari.


"Kok tiga?"


"Iya, tiga kalo kurang lo bisa minum yang satunya." jawab Ari.


Vira cemberut, "Dua aja cukup." celetuk Vira.


"Tiga, nggak apa-apa udah terlanjur pesan juga. Kasihan Abangnya." kata Ari, Vira hanya diam mendengarkan Ari.


"Ya udah deh!"


Abang penjual Es Cendol berjalan ke arah Ari dan Vira menaruh tiga gelas di meja, "Silakan, Mas, Mbak," katanya, Abang penjual Es Cendol kembali ke gerobaknya.


Mengaduk-aduk minuman agar tercampur semua, "Eh, iya, tadi mana yang nggak bisa?" tanya Ari berhenti mengaduk minumannya.


"Oh, yang ini." tunjuk Vira.


"Sini gue ajarin caranya." kata Ari mulai mencoret-coret kertas milik Vira, Vira memperhatikan penjelasan yang diterangkan oleh Ari. "Gimana udah bisa?"


Mengangguk samar. "Hm, lumayan."


"Bisa nggak?" tanya Ari. Vira terdiam melihat angka-angka yang dicoret-coret ke dalam kertas, menggaruk-garuk kepalanya. "Ini gue bikin soal nanti lo kerjain." kata Ari.


"Ari, gue heran padahal lo akhir-akhir ini sering bolos tapi nilai lo tetap bagus ya?" tanya Vira menatap Ari yang duduk di sampingnya.


Cowok itu hanya diam, "Iya, dong! gue bolos sekolahkan bukan buat main-main, tapi ikut lomba cerdas cermat." jawab Ari masih membuat soal.


"Eh, jadi lo salah satu yang mewakili SMA kita?" tanya Vira.


"Lha emang siapa lagi kalo bukan gue?" kata Ari. "Anak paling pintar se-Jurusan IPA?" Ari menghentikan mencoret-coret di kertas.


"Eh siapa yang bilang lo anak paling pinter di Jurusan IPA, masih ada Riva, Elang, Arga, dan Ginanjar yang anak kelas IPA 2." Vira menyebutkan nama-nama rangking 5 besar.


"Et, lo juga jangan lupa Rangking pertama." tunjuk Ari pada dirinya sendiri yang senyam-senyum melihat Vira. Cewek itu menepuk keningnya, ia baru ingat dari semua nama yang ia sebutkan rangking pertama adalah milik Ari.


"Iya deh, apa kata lo saja?" jawab Vira kesal.


Ari memberikan kertas yang sudah di isi dengan soal-soal untuk di kerjakan Vira, menarik kertas yang diberikan Ari. Vira menelan air liurnya melihat soal-soal yang jelimet di depan matanya.


***


Pintu kelas terbuka lebar, Vira berjalan mendekati Riva yang duduk di mejanya. Matanya menangkap Rey yang melihat Vira aneh, cewek itu langsung duduk dan mengeluarkan bukunya.


"Hari ini ada ulangan dadakan." jawab Vira keras melihat ekspresi tanya teman-temannya. Rey langsung kembali ke mejanya, Riva kembali sibuk membaca buku tapi sekarang bukunya udah ganti.


Muri dan Dian yang baru datang bingung melihat suasana kelas yang hening setelah istirahat pertama, kedua cewek itu memhampiri Vira.


"Ada apa sih?"


"Ulangan dadakan." jawab teman lainnya.


Deg!


Kedua cewek itu langsung duduk di kursi mereka masing-masing, di luar kelas suara gaduh terdengar. Ari melongokan kepalanya ke dalam ruang kelas Vira yang sepi senyap tidak ada yang bersuara di dalam kelas, mereka sibuk dengan buku-buku mereka.


"Tumben banget mereka semua belajar?" tanya Ari.


"Gue denger Bu Andini bakal ngadain Ulangan dadakan." jawab sosok yang berdiri Di belakang Ari yang juga ikut mengintip.


Ari mendongak lihat Arga yang menunduk meringis kepadanya, "Wah, berarti setelah kelas ini kelas kita juga, Ga."


"Iya, Ri. Kayaknya kita juga harus siap-siap." ujar Arga.


***


"Lebih baik aku jalan-jalan sebentar" usul Tari keluar rumah, matanya menangkap sebuah sepeda yang bersandar di pohon mangga milik Oom-nya. "Pas banget udah lama aku nggak naik sepeda!" seru Tari berjalan ke sepeda yang disandarkan di pohon mangga.


Dengan pelan Tari mengayun sepedanya keluar dari gang rumah Om-nya menuju ke arah taman yang hijau, angin semilir menerpa wajahnya membuat rambutnya tertiup angin. Rasanya segar, sudah lama ia sangat merindukan suasana seperti ini. Matanya tak henti-henti menatap pemandangan yang hijau dan terlihat segar, mata Tari terpejam menghirup udara segar.


Tari menghentikan sepedanya Di samping sebuah bangku kecil yang terbuat dari bambung di pinggir jalan dengan dua pohon yang berdaun lebat menaungi bangku kecil untuk berteduh, di sandarkan sepedanya di dekat salah satu pohon itu. Tanpa pikir panjang cewek itu langsung duduk di sana, matanya mulai terpejam mengingat saat-saat Tari tinggal dirumah om saat liburan, dulu Tari sering bermain disini bersama teman-temannya.


"Non Tari." panggil seseorang membuyarkan lamunan Tari yang mengenang masa kecilnya bersama teman-teman kecilnya.

__ADS_1


"Iya, ada apa ya, Bu?" tanya Tari kepada wanita yang berdiri didepannya.


"Ini benar Non Tari, keponakannya Mas Bram?" tanya Ibu itu kepada Tari, cewek itu mengangguk bingung. "Wah, sekarang sudah besar ya." kata Ibu itu, Tari hanya bisa tersenyum dan menggeser duduknya mempersilakan Ibu itu untuk duduk.


"Bagaimana kabar Bapak dan Ibu di sana?" tanya Ibu itu.


Lagi-lagi Tari tersenyum. "Mami dan Papi, sehat. Bu." jawab Tari masih dengan kebingungan. Ibu itu seperti mengerti kebingungan Tari.


"Non Tari sudah lupa ya, sama Ibu?" tanya Ibu itu, Tari mengangguk. Sudah lama dirinya tidak pernah datang ke rumah Om-nya, karena kesibukan Papi dan Maminya membuat dirinya tidak sering berkunjung ke rumah Om-nya. "Saya Bu Abdul, yang dulu di suruh Mbak Aini jagain Non Tari, masa lupa." kata bu Abdul orang yang dulu selalu bersamam Tari bermain bersama teman-temannya.


"Ya ampun, Bu Dul!" seru Tari lembut, ia tidak menyangka dengan reaksinya.


Bu Dul tertawa. "Non Tari, masih belum berubah ya?" tanya Bu Dul.


Tari menggaruk-garuk kepalanya, "Ya, begitulah. Bu." jawab Tari.


Pada Akhirnya mereka ngobrol panjang lebar seakan tidak ada kata habis untuk obrolan mereka tentang masa kecil Tari dulu dan bagaimana cara mereka menangani omelan dari Nenek dan Om Tari atau bagaimana cara jitu menangkap Ikan dan sebagainya tentang masa kecil Tari yang begitu menyenangkan, tapi sebuah pesan membuat Tari harus mengakhiri obrolannya bersama Bu Dul. Tangannya melambai kepada Bu Dul, yang juga dibalas dengan lambaian.


***


Di tengah-tengah acara Upacara, suasana hening dan hikmat tak ada satu pun suara terdengar ketika sang Merah Putih di kibarkan. Aluna piano menyandungkan nada lagu Indonesia Raya, lagu ke banggaan Bangsa Indonesia. Ari mendongak memberi hormat kepada sang Merah Putih, tapi sebuah tangan menyenggol lengannya. Membuat Ari menoleh ke sampingnya, teman sebelah menyeringai tanpa rasa berdosa telah mengganggu Ari yang tengah Hikmat. Randy mencodongkan badannya ke samping Ari.


"Lihat deh! Siapa yang jadi petugas pengibar Bendera kali ini?" bisik Randy sambil menunjuk salah satu dari satu cewek yang berdiri tengah yang diapit dua cowok kanan kiri-nya.


"Oh! Maksud kamu Stella?" jawab Ari.


Randy mengangguk, "Yupz, betul banget." melipat ke dua tangannya.


"Memang kenapa, suka?"


Dengan senang Randy tertawa. "Kelihatan ya?" tanya cowok itu kepada Ari yang melihat ke arah kelas lain yang ada di sebelah barisan kelas mereka, disana Ari bisa menemukan Vira berdiri bersama Riva dan Muri yang sekali-kali tertawa.


***


Kantin terlihat ramai, dari pinggir kantin terlihat cewek-cewek tengah duduk sambil tertawa bersama, entah menertawan apa yang jelas sekarang mereka tengah menjadi pusat perhatian untuk sementara, setelah salah satu dari mereka sadar dengan tatapan orang-orang yang merasa terganggu dengan ulah mereka.


"Eh, lihat deh!" seru Muri. "Yudha, ngeliat ke arah sini!" bisik Muri tersipu malu, bukan gosip baru tentang Muri yang naksir Yudha, siswa baru dikelas IPA-2.


"Cieee...!" seru Dian, dan Riva.


"Eh, ada apa?" tanya Vira yang baru kembali dari alam kesadarannya.


"lo kenapa, Vir?" tanya Dian yang peka dengan sikap Vira akhir-akhir ini. Vira menggeleng, memberikan senyum menenangkan kepada teman-temannya.


"Iya, Vir. Cerita aja?" pinta Riva.


Vira malah tertawa terbahak-bahak nggak jelas, usut punya usut ternyata cewek itu tertawa karena ulah Ari dan teman-temannya yang ada dipojok kantin. Ari mengelingkan matanya ke arah Vira, membuat tawa Vira terhenti karena kaget. Membuang muka ke arah lain, dalam diam Riva, dan Dian menahan senyum mereka.


***


"Capek banget ?" keluh Rey mengelap keringatnya dengan handuk.


Seorang cowok berjalan menghampiri Ari, Rey dan Davi yang tengah beristirahat di pinggir lapangan.


"Bagaimana latihan hari ini?" tanya Kak Rangga, pelatih Tim Basket Putra. Ari yang selesai meneguk Air minumnya menatap cowok yang jadi pelatih.


"Ya, kayak gini-gini aja, sih! Kak." jawab Ari.


Kak Rangga menepuk-nepuk punggung Ari, "Semangat-semangat!" ujar cowok itu.


"Iiih! Kak Rangga nggak peka, jelas kita capek, dikasih minum kek atau apa gitu." ujar Rey yang menusap-usap lehernya dengan gemulai. "Dari tadi di suruh lari-lari muter lapangan terus, lari lagi di lapangan sambil main." gerutu Rey, bikin Kak Rangga ke pengen ke tawa.


"Aduh, aduh... Itu yang kamu pegang apa, Rey?" tanya anak kuliahan jurusan Pendidikan Rohani dan Jasmani.


Rey menunduk dan melihat botol minuman yang ia pegang, "Lha ini nggak seger, Kak. Yang seger-seger gitu, contohnya Es kelapa muda." ucapnya santai.


"Aduh, aduh." geleng-geleng kepala. "Ya udah, nanti selesai kalian latihan jangan ada yang pulang dulu. Oke!"


"Oke!" seru anak-anak Tim Basket Putra.


Kak Rangga berjalan meninggalkan Ari dan teman-temannya, mereka kembali latihan setelah istirahat sebentar. Ari mendribel bola-nya dan melemparkan ke arah Davi, yang ditangkap dengan tepat.


***


Bel tanda masuk berbunyi. Ratusan siswa-siswi SMA Harapan Nusantara mulai masuk ke kelas masing-masing. Suasana kelas X-4 di lantai dua masih ramai. Memang belum ada guru masuk ke kelas itu. Rencananya jam pertama adalah pelajaran Biologi. Lumayan buat penyegaran otak di pagi hari!

__ADS_1


"Pak Adit dateng!"


Teriakan itu kontan membuat seluruh penghuni kelas X-4 menuju meja masing-masing, menunggu ke datangan Pak Adit, apa lagi yang cewek-cewek tak sabar ingin menyapa guru muda dan ganteng tersebut. Guru Biologi mereka, Pak Adit terkenal Baik dan ramah tapi terkadang bikin jengkel kalo udah ngasih Ulangan dadakan. Pak Adit masuk kelas diikuti seorang cewek di belakangnya.


Semua mata mentap terkesima. Sosok itu berdiri seperti magnet yangg kuat. Memukau dengan segala pesona yang dimilikinya. Tubuhnya tinggi imut, tidak ketinggian atau kependekan, standar dengan wajah yang manis dan enak dipandang..


"Anak-anak, mulai hari ini kalian dapat teman baru. Dia baru pindah dari Solo" Pak Adit mulai membuka pembicaraan. Lalu guru itu menoleh ke si anak baru, seolah minta dia memperkenalkan dirinya sendiri.


"Nama saya Mentari Larasati. panggil saja Tari" ucapnya. Dan dengan senyum manisnya.


"Silakan Tari, pilih tempat duduk mu." pintah Pak Adit.


Tari mengangguk hormat, ia berjalan ke arah bangku kosong yang ada. Disamping bangku kosong itu, seorang cewek tersenyum ke arahnya. Mengulurkan tangan.


"Nadira.


"Tari." kata Tari setelah duduk.


Nadira merapikan buku-bukunya yang berserakan dimeja Tari, cewek itu tersenyum. Dan pelajaran pun dimulai.


***


"Please, Riv. Kali ini saja bantu gue?" mohon Vira, menggenggam ke dua tangan Riva yang duduk di depannya, membuat cewek itu merasa risih dengan tatap-tatapan orang-orang yang lewat sebelah meja mereka.


Elsa muncul dari samping meja, ke dua tangannya membawa Piring dan gelas. "Udahlah, Riv. Kasihan tu Si Vira, tampang-nya kayak anak kucing minta ikan asin." Sindir Elsa menjulurkan lidahnya, yang mendapat anggukan sekaligus pelototan dari Vira karena di katain kayak anak kucung oleh Elsa. Elsa teman sekelas Vino yang akhir-akhir suka nongkrong bareng dengan Riva dan Vira, setelah selesei dengan lomba Tradisional Dance sebagai perwakitan SMA Harnus, sekaligus teman sekolah Vira dan Riva di SMP. Mereka bertiga dulu bagaikan Tiga serangkai yang nggak bisa dipisahkan, baru masuk SMA ketiga cewek itu pisah kelas.


"Ayolah, Riv. Ayolah..." rengek Vira dengan air mata palsunya, membuat Riva tak tega melihat temannya bersikap seperti itu.


"Oke!" ke dua tangan Riva terangkat, "Gue bakal bantuin lo ngomong sama Ari tapi ini yang terakhir ya?" kata Riva setengah hati walau membuat Vira senang setengah mati.


Aduh, lagi-lagi deh! Tambah Riva dalam hati.


Dengan girang, Vira langsung memeluk Riva. "Hore... Thank ya, Riv." kata Vira penuh ke senangan. Menggoyang-goyangkan tubuh Riva, membuat kepala cewek itu jadi pusing tujuh keliling.


***


"Ari, ada yang perlu gue omongin." kata Riva yang berdiri di depan Ari dan anak-anak cowok kelas IPA 1, Ari melihat ke dalam kelas.


"Duh, Riv. Arga lagi nggak dikelas, mungkin lagi di ruang OSIS." jawab Ari.


Cewek di depan Ari melipat tangannya, "gue lagi nggak nyari Arga tapi lo." jawab Riva menatap mata Ari.


"Eh!" kaget Ari. "Nyari gue, ada apa ya?" tanya cowok itu penasaran.


Dari saku kemeja Riva mengeluarkan kertas, "Ini baca." kata Riva berbalik. Ari menatap bingung ke arah kertas dan Riva yang udah masuk ke IPA 3, Dewa yang ada di samping Ari.


"Apaan?"


"Nggak tahu." jawab Ari, dimasukannya ke saku celananya.


Dewa memperhatikan Ari yang masuk ke dalam kelas, tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Arga baru saja datang, yang dihentikan oleh Dewa.


"Ga, tadi cewek lo ke sini terus ngasih Ari surat." kata Dewa menepuk bahu Arga lalu pergi meninggalkan dengan kebingungan.


Arga bingung dengan apa yang di katakan Dewa kepadanya, "Riva ngasih surat ke Ari?" tanyanya bicara sendiri. Di ketik pesan ke Riva dan menanyakan apa benar ceweknya itu memberikan surat ke Ari dan jawabannya benar tapi ada lanjutan yang membuat Arga geleng-geleng kepala sambil megangi perut dan menahan tawanya.


"Parah, dasar Nenek lampir." ujar Arga yang masuk ke kelas.


***


Lagi-lagi sosok itu bersembunyi dari keramaian orang-orang, temannya menyenggol lengan-nya. Ia menoleh dan menemukan Tari berdiri di sampingnya, membuatnya kaget.


"Lagi ngeliatin siapa?" tanya Tari.


"Bukan siapa-siapa." jawab Nadira, "Ayo, katanya mau keliling sekolah. Mumpung aku Free nih!" ajaknya menggandeng tangan Tari.


"Oke! Tapi Fani dimana?" tanya Tari.


"Palingan nyamperin cowoknya." jawab Nadira.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan kantin, seorang cowok menoleh dan melihat dua orang cewek berjalan ke luar kantin.


"Ngeliatin apa sih, Dav?" tanya Vino yang berdiri disamping Davi.


Cowok itu menggeleng, "Bukan apa-apa." jawab Davi.

__ADS_1


***


__ADS_2