
"Ari ayolah, beliin gue sarapan di kantin." rayu Vira membujuk Ari untuk menurutinya.
Ari menggeleng, "Beli sendiri, elo yang mau makan kenapa gue yang harus susah." sahut cowok itu menarik-narik Vira agar melepaskannya.
"Gue nggak mau, gue males ke kantin. antrinya banyak." ucap Vira.
"Kalo gitu gue juga nggak mau lo suruh antri dua kali." kata Ari.
"Ri, lo nggak kasihan sama gue?" memasang wajah memelas.
"Nggak, seharusnya lo kasihan sama gue yang jauh dengan orang tua." jawab Ari.
Vira cemberut dan melepaskan diri dari Ari, "Ya udah kalo nggak mau, gue beli sendiri. Dasar pelit." ucapnya menjulurkan lidahnya, Ari menghela nafas bebannya sedikit ringan sekarang karena tidak di gelayuti Vira lagi.
***
Riva dan Arga sudah duluan di kantin, mereka malas melihat aksi Vira yang memelas kepada Ari dan memilih duluan dari pada jadi korban selanjutnya.
"Vira dulu sering gitu ya sama Ari?" tanya Arga di tengah makannya.
menggigit garpu, "Hmmm... bisa di bilang lebih parah dari ini." jawab Riva.
"Lebih parah maksudnya?"
"Mereka kayak orang pacaran tapi nggak pacaran."
"Serius?" Riva mengangguk.
"Ya seperti itulah mereka, kalo inget sikap Ari dan Vira dulu pasti orang-orang akan beranggapan kalo mereka sepasang kekasih."
Arga mengusap dagunya, "Awalnya aku juga berpikiran begitu tapi aku baru inget, Vira kan naksir berat sama Kak Aji." kata Arga.
"Hmmm.... saking naksirnya Vira nggak sadar cuma di jadiin pelarian." bisik Riva pelan.
Arga tahu itu tentang perihal Vira hanya di jadikan cadangan Aji, kalo-kalo hubungan cowok itu dengan salah satu anak cheerleaders ada masalah. Arga juga tahu kejadian kemarin saat Vira heboh karena di ajak jalan pun karena Aji sedang bertengkar dengan pacarnya, walau hubungannya masih disembunyikan karena Aji belum siap mengumbar status mereka ke semua orang termasuk Vira yang menyukai Aji.
"kamu mau tahu kata yang cocok buat dia?"
"Apa?"
Tapi Arga urungkan karena bisa-bisa Riva jadi marah kepadanya, "Kamu tahu pastinya dan aku nggak mau bilang," jawabnya, Riva hanya diam menikmati makanannya tanpa menghiraukan Arga yang menatapnya dengan tatapan yang hanya cowok yang bisa mengartikan.
***
__ADS_1
"Lo ngapain sih! ngikuti gue terus?" tanya Vira.
kening Ari berkerut, "Siapa yang mau ngikutin lo? gue mau ke kantin, kebetulan aja searah sama lo." jawab Ari yang langsung melewati Vira dan duduk di bangku yang hanya bisa di tempati dua orang itu.
mata Vira mencar-cari bangku yang kosong yang bisa ia tempati selain berada di sebelah Ari tapi tidak ada tempat lain selain tempat geng cewek di sekolahnya, dan Vira paling anti dengan geng cewek tersebut. apa lagi ada Stella disana, pada akhirnya Vira memilih duduk di depan Ari tepat di samping meja Stella.
"Ngapain lo duduk disini?" tanya Ari menopang dagunya menikmati wajah Vira yang sebel-sebel gimana gitu.
"Terpaksa, gue duduk disini." jawab Vira menaruh mangkuk Soto Kudusnya.
Ari hanya mengangguk-angguk dan menuangkan sambal ke mangkuk baksonya, "Sejak kapan lo suka sambel?" tanya Vira yang melihat Ari menuangkan sambal banyak ke dalam baksonya.
"Udah lama kok."
"Bohong, lo kan paling nggak tahan pedes diantara kita bertiga." sahut Vira.
"Kita, elo aja kali gue nggak." jawab Ari dengan cengirannya.
"Ih nyebelin, sekarang lo songong."
"Apa songo, songo itu sembilan Vir." kata Ari tertawa pelan, menggelengkan kepalanya.
Vira melotot karena kesal Ari menjawab terus omelannya, dengan masih kesal Vira menaruh semua sambel ke dalam Soto Kudusnya. Ari hanya menelan air liurnya, "Berhenti, Vir. lo bisa sakit perut nanti." tegur Ari menyingkirkan Mangkuk Soto nya.
"Nggak mending lo makan bakso gue."
"Nggak, gue mau nya soto bukan bakso, Ari."
"Kalo gitu pesen lagi."
"Gue nggak mau antri."
"Biar gue yang antri buat lo." kata Ari akhirnya membuat Vira diam, mereka selalu bertengkar masalah kecil dan entah kenapa Vira selalu menikmati saat Ari menuruti dirinya.
***
Diam-diam Geng Stella memperhatikan Ari dan Vira yang berdebat karena mereka duduk tidak jauh dari meja mereka, Stella tersenyum sinis melihat Vira. Rivalnya merebutkan Aji, cewek itu nggak ada apa-apanya dibanding Stella tapi entah kenapa Aji masih belum ingin hubungan mereka di ketahui oleh orang-orang termasuk Vira. kemarin Stella udah menuruti permintaan Aji untuk jalan bersama Vira memastikan perasaan cowok itu telah hilang, tapi tiba-tiba Aji datang membawa bingkisan dan di berikan kepada Stella. cewek itu baru ingat ia masih menyimpan kotak yang diberikan Aji tadi di tas make-up yang selalu ia bawa-bawa.
"Oh iya tadi pagi Kak Aji ngasih aku kado loh!" seru Stella agar Vira bisa mendengar suaranya.
dan tebakan Stella benar, Vira melihat ke arah mereka sepertinya tertarik dengan membicaranya dengan teman-teman satu geng-nya. Rachel langsung berseru ingin tahu hadiah apa yang di berikan oleh Aji untuk Stella.
"Buka, Stell, gue penasaran nih!" seru penuh semangat oleh Rachel.
__ADS_1
"Sabar-sabar, nanti juga Stella buka." kata Viola.
Stella masih mengamati reaksi Vira diam-diam dan puas saat melihat mata terbelalak cewek itu melihat kotak yang Stella keluarkan, "Gue penasaran isinya apa ya?" tanya Stella pada teman-temannya itu.
"Sama gue juga." kata Nikki yang ikut nimbrung, cewek itu juga melihat ke arah Vira.
"Astaga!" seru Rachel melihat gelang yang di angkat oleh Stella.
wajah Vira terlihat pucat saat mengetahui apa isi di dalam kotak itu, itu adalah gelang yang Vira belikan kepada Aji kemarin dan sekarang gelang itu ada di Stella, sebenarnya apa maksud dari semua ini?
***
Ari datang membawa pesana Vira, cowok itu nggak sadar dengan perubahan ekspresi cewek di depannya. "Vir, lo kenapa?" tanyanya melambaikan tangan di wajah Vira tapi Vira seperti nggak sadarkan itu.
"VIRA!" seru Ari mengguncang tubuh Vira.
seketika Vira sadar dari lamunannya, "Eh gue kenapa, Ri?" tanya Vira melihat antara Ari dan geng Stella.
"Lo kelaperan jadi lo ngalamun." jawab Ari asal karena dirinya baru saja datang.
Tapi Vira nggak salah lihatkan gelang yang di bawa Stella adalah gelang yang ia berikan ke Aji kemarin dan sekaang kenapa ada di tangan Stella, apa mungkin Stella mengambil gelang itu. Vira menggeleng, nggak mungkin tadi ia dengar bahwa Aji memberikannya kepada Setlla. Vira kembali mendengarkan obrolan cewek-cewek di sampingnya tanpa menghiraukan Ari yang bertanya kenapa dengan dirinya, cowok itu pada akhirnya melihat ke arah yang sama dan bertemu pandang dengan cewek yang kemarin mengikutinya seharian. Ari tahu karena Rey yang bilang saat mereka pulang sekolah, cowok itu berdigik ngeri dan memalingkan muka.
"Astaga."
***
"Wah baru jadian Kak Aji udah ngasih kamu hadiah segala, Stell." kata Viola tertawa manis.
Stella hanya tersipu malu dengan ledekan dari teman-temannya, "Apaan sih!" seru cewek itu.
"Iya, padahal baru kemarin kalian jadian tapi Kak Aji udah ngasih hadiah aja ke kamu, kamu beruntung Stella." kali ini Nikki yang berbicara, "Beda sama cowok yang di sebelah, di kasih kode nggak peka-peka." tambahnya.
di tempat duduknya kening Ari berkerut, Apa yang dimaksud cewek itu dirinya. bulu kudu Ari langsung berdiri, rasanya ia ingin segera pergi tapi Ari nggak tega meninggalkan Vira yang sepertinya sedang mendengarkan keempat cewek yang duduk disamping.
"Ya sabar ajalah, kan lo tinggal nyingkirin penghalangnya aja?" sambar Rachel.
mata Ari langsung membulat, apa maksudnya penghalang. cowok itu menatap Vira yang duduk di depannya, sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari mereka.
"Udah-udah yang penting sekarang, Kak Aji udah jadian sama Stella." kata Viola, "Dan Stell, jangan lupa ya traktirannya." imbuhnya.
"Dasar lo Vio, tahunya makan aja dia." kata Nikki cekikikan.
***
__ADS_1