
"Aish, siapa cewek tadi Ri?" tanya Vino yang duduk di depan Ari, dengan sepiring nasi goreng.
Sendok di tangan Ari terhenti ketika akan memasukan makanan ke dalam mulut cowok itu, "Adik kelas gue." jawab Ari melanjutkan makannya.
Vino mengusap-usap dagunya, "Gue kayak pernah lihat tapi dimana ya?" tanya cowok itu sambil mikir-mikir, mencoba mengingat-ngingat dimana dia pernah melihat Tari. "Aaa, gue baru inget. Klo nggak salah gue lihat photo cewek itu di kamar lo," ujar Vino menjentikkan jari nya.
Terlihat Ari tidak mengelak ucapan Vino, ia memang pernah memasang photo Tari Di kamarnya tapi itu dulu sebelum Ari benar-benar kembali ke perasaannya kepada Vira. Dulu setelah pindah ke Solo, kota yang pernah Ari tempati. Ia berkenalan dengan Tari, adik kelasnya. Mereka berdua cukup dekat, dan Ari selalu menganggap Tari sebagai adiknya karena perasaan Ari ke Vira masih sama. Sampai suatu hari Tari menyatakan perasaannya kepada Ari yang saat itu memang lose kontak dengan Vira yang tiba-tiba menghilang, Ari belum memberi jawaban kepada Tari tapi dari sikap Ari ke Tari membuat cewek itu beranggapan kalo Ari telah menerima perasaannya. Saat acara pernikahan Tante Ari, cowok itu pulang dan bertemu dengan Mama Vira yang ternyata sudah berpisah dengan Papa Vira, semenjak itu Vira jadi berubah sifatnya bertolak belakang dengan Vira yang Ari kenal. Sampai Ari memutuskan untuk pindah ke rumah Neneknya dengan alasan ingin menemani sang Nenek, karena Tante-nya akan ikut tinggal dengan suaminya.
"OI...! Malah ngalamun, tu Mie rebut lo jadi mengembang." ujar Vira yang baru datang bersama Riva, kedua cewek itu sudah berganti pakaian.
Ari menatap Vira memberikan senyuman sampai matanya tidak terlihat, "Nggak usah sok manis deh!" gerutu Vira menuangkan sambal ke mangkuk baskonya, "geli gue liatnya." ujar Vira. Membuat cowok itu cemberut.
"Eh, Fiona mana?" tanya Vino ke Riva dan Vira.
Kedua cewek itu mendongak, Vira tengah meniup-niup baksonya. "Mana gue tahu, emang gue Baby sister-nya apa?" jawab Vira nyolot.
"Gue nggak tanya sama lo!" bentak Vino keki.
"Tadi sih, gue lihat si Fiona lagi sama Davi." jawab Riva.
Vino berdiri membuat yang ada di meja kaget, "Serius lo!?"
"Kalo nggak percaya lihat aja sendiri, mereka masih ada di Kasir kok. Lagi bayar makanan." jawab Riva meneruskan makanannya.
Arga terlihat sibuk dengan gadget-nya, "Lagi nyariin apa, Ga?" tanya Vira mendekati cowok itu yang duduk di sebelah kanan Riva, Vira membawa mangkunya ke samping kanan Arga.
"Ini aku lagi nyari Hotel yang dekat." jawab Arga.
"Hm, pakai Aplikasi Traveloday aja?" usul Ari. Arga menatap Ari, "Aku sering pakai Aplikasi itu kalo lagi Touring sama anak-anak." kata Ari menambahkan.
"Bagus nggak?"
"Terjamin bagus, harganya juga cocok." jawab Ari.
"Atau mau tinggal di rumah Pamannya si Davi aja?" ucap Vino.
"NGGAK!" teriak mereka kompak, Vino menutup telinga.
"Gila apa tinggal di rumah Pamannya si Davi, minjem mobil aja kelihatan nggak ikhlas gitu." cerocos Vira, Davi duduk di depan Vira.
"Ya, maklumlah Vir. Kita kan minjem dua mobil." kata Davi yang datang-datang langsung nimbrung.
***
Tanpa sengaja Ari dan Tari di pertemukan kembali ketika mereka berada di alun-alun Yogyakarta pada malam harinya, cewek itu tengah bersama teman ceweknya yang sedang melihat-lihat aksesoris. Ari tengah sendirian karena mencari Vira yang tiba-tiba ngilang dari gerombolan, cewek itu entah pergi kemana. Padahal Ari sudah menyuruh Vira untuk selalu berada di samping nya, tapi ternyata anak itu sekarang hilang entah kemana.
Ari garuk-garuk kepala, pusing. "Kemana itu anak, nggak kelihatan lagi. Aish, seharusnya tadi gue gandeng tangannya biar nggak ngilang." ujar Ari.
Mata Tari terbelalak ketika melihat Ari ada di tengah-tengah kerumunan. "Eliza, aku ke Toilet sebentar ya?" kata Tari.
Eliza teman Tari mengangguk. "Jangan lama-lama ya?" kata Eliza.
Tari mengangguk dan berjalan menghampiri Ari yang terlihat kebingungan, "Kak Rian," panggil Tari melambaikan tangannya.
"Tari." panggil Ari kaget. Tari tersenyum, "Kok kita bisa ketemu lagi." ujar Ari.
Cewek itu masih tersenyum, "Iya," 'mungkin kita jodoh, kak' batin Tari tersipu.
__ADS_1
"Kakak, lagi nyariin siapa?" "Kok kelihatan bingung gitu?" tanya cewek itu.
Ari tertawa canggung, "Cariin temen kakak, padahal tadi udah aku suruh buat ngikutin aku, eh sekarang dia malah ngilang. Seharusnya tadi aku gandeng aja tangannya." kata Ari tidak sadar, sebelah alis Tari naik.
"Temen Kakak cewek?"
"Iya, cewek. Kamu lihat?"
Tari menggeleng, "Tari nggak lihat, kan Tari nggak tahu temen kakak seperti apa?" jawab cewek itu menarik bibirnya lurus.
***
"Vira, Ari mana?" tanya Riva yang melihat Ari tidak ada didekat Vira.
Cewek itu kaget, "Lho bukannya tadi bareng kalian?" tanya Vira kaget, teman-temannya menggeleng.
"Coba telepon Rey atau Davi siapa tahu Ari sama mereka." usul Arga.
Vira dan Riva mengangguk. Tiba-tiba suara klakson sepeda terdengar dari belakang mereka, semua berbalik dan mata mereka semua melihat Rey dan Davi duduk di dalam sebuah mobil-mobilan.
"Yahoo...!" teriak Rey yang seperti anak kecil.
Davi duduk dengan manis sambil mengayuh, wajahnya terlihat datar. Fiona yang berdiri di samping Vino tersenyum lebar, "Rey, berhenti. Aku ikut." kata cewek itu penuh semangat, Vino seperti tidak ingin kehilangan kesempatan ikut naik.
"Lho lho kok, malah pada naik odong-odong sih!" seru Riva.
Arga yang ada di antara ceweknya dan Vira, "Gimana kalo kita juga ikut naik?" usul Arga, yang paling terlihat bersemangat adalah Vira dari kedua cewek yang ada di samping cowok itu.
"Hayuuk! Sekalian nyari Ari, capek kalo cuma jalan." kata Vira.
Riva geleng-geleng kepala melihat tingkah dua orang yang sangat dekat dengannya, pada akhirnya Riva duduk di samping Arga yang menyertir. Vira duduk manis di belakang, bak ratu.
"Bantuin ngayuh juga napa!?" bentak Arga.
Vira nyengir. "Kalo bisa udah aku ayuh, Arga. Kamu nggak lihat di belakang." kata cewek itu.
"Udah Vira duduk manis aja di belakang." kata Riva pada akhirnya.
"Atau nggak, anggap aja aku nggak ada." jawab Vira.
Arga mencibir ucapan Vira, ujung-ujungnya pasti Vira akan mengganggu Arga dan Riva. itu adalah hobi Vira, gangguin Arga dan Riva yang lagi pacaran, dan kadang nggak lihat kondisi sama sekali.
***
"Vira," panggil Riva yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Vira yang duduk di tempat tidur menatap teman sekamarnya itu, dan menjauhkan sendok dari mulutnya. "Ada apa, Riv?"
"Fiona mana?" tanya cewek itu.
Kepala Vira menggeleng pelan, "Nggak tahu kemana tapi tadi Vino nyamperin Fiona ke sini?" jawabnya.
"Jadi Fiona bareng sama Vino?" Vira mengangguk.
"Kayaknya." jawab Vira.
Riva menaruh handuknya ke jemuran, dan berjalan mendekati Vira. "Mau makan malam apa?" tanyanya ke Vira.
__ADS_1
"Emmm, yang penting jangan gudeg."
"Kenapa?"
"Manis."
"Gudeg kan emang manis."
"Jangan, jangan makan gudeg."
"Kenapa?"
"karena gue udah manis." jawab Vira.
Menepuk jidahnya sendiri ngerasain sikap Vira, sambil nahan senyumnya "Kenapa lo nggak ngomong gitu sama Ari?" tanya Riva, "Kenapa malah ke gue?" ucap cewek yang duduk di samping Vira, penuh pertanyaan.
"Kalo ke Ari pasti dia ketawa, atau nggak cuma diem. Kalo sama lo beda."
"Beda."
"Iya,"
"Apa?"
"Lo kan jarang di gombalin Arga." ucap Vira tertawa sampai gulung-gulung kasur, Riva menatap Vira pongah.
***
Davi keluar kamar, ia menoleh ke arah Ke tiga temannya yang duduk di kamar. "Ada yang mau ngikut ngerokok nggak?" tanya cowok itu.
"Nggak,"
"Lagi puasa."
"Alergi."
Jawaban yang bermacam-macam dari teman-temannya, Arga memang punya Alergi dengan tembakau. Cowok itu akan bersin-bersin kalo menghirup aroma tembakau, pernah sekali nyoba merokok, cowok itu langsung bersin-bersin selama satu hari.
"Alergi lo aneh." ujar Rey.
"Iya, gue juga nggak tahu kenapa bisa Alergi sama rokok."
"Mungkin emang kodrat lo nggak boleh merokok."
"Bisa jadi, ngomong-ngomong Vino kemana?" tanya Arga yang baru sadar Vino tidak ada di kamar.
Rey menaruh remote TV, "Katanya mau ngaterin si Fiona."
"Nganter kemana?"
***
Di depan cermin, Tari tengah menatap dirinya di sana. Melihat apakah ada yang berubah pada dirinya, ketika ia bertemu dengan Ari. Cowok itu mengakatan ada yang berubah pada dirinya, tapi apa? dia termenung disana mencoba melihat ke dalam dirinya lebih jauh lagi, mencoba mengingat masa lalu.
"Apa ada yang salah dengan ku?" tanya Tari memutar tubuhnya di cermin, menatap bayangannya. Ia tersenyum samar. "Tidak ada yang salah dengan diri ku, aku baik-baik saja?" tapi kalimat Ari membuat Tari masih terniang-niang di pikiran nya.
"Sekarang kamu berbeda Tari, ada yang berubah." kata Ari, Tari mengingat senyuman cowok itu membuatnya tersipu malu.
__ADS_1
"Apa benar yang di katakan Kak Rian, aku yang dulu dan sekarang berbeda?" tanya Tari pada dirinya sendiri, ia menunduk. Di bawah lemari terselip sebuah buku Diary yang mengintip, Tari berjongkok mengambil buku tersebut.
***