Childhood Sweetheart

Childhood Sweetheart
always you


__ADS_3

pinggir lapangan dipenuh dengan orang-orang yang menonton anak-anak kelas X dan XI bermain Basket, suara histeris cewek-cewek dipinggir lapangan terdengar menggema. seorang cowok yang berlari mendribel bola ke arah ring, sekali-kali menghindar lawan yang mencoba merebut bola darinya. teriakan semakin histeris ketika seorang cowok berdiri dibawa ring siap menerima operan dari kawannya.


"Aarrgggh, Ariiiii!!!" teriak cewek-cewek histeris ketika melihat salah satu pemain dari kelas XI.


"Ya ampun, Ari keren banget!" seru seorang cewek dipinggir lapangan bersama teman-temannya.


"Iya, dia keren banget. nggak salah deh kalo Ari terpilih jadi kapten basket, udah ganteng, pinter, baik pula." puji seorang cewek lain yang berdiri dipinggir lapanga.


seorang cewek dengan rambut di kucir ekor kuda menatap cowok-cowok di tengah lapangan, matanya berpindah satu ke yang lainnya. di tangan kanannya ia membawa minuman, sedangkan tangan yang lain ia masukan ke dalam saku rok abu-abunya.


"Apa bagusnya si Ari." gumam Vira meneguk minumannya.


Riva yang ada di samping memiringkan kepalanya, disamping Riva ada Angel dan beberapa teman sekelasnya. "Lha emang Ari bagus." kata Ira.


bibir Vira cemberut, "Dia itu jelek!" tunjuk Vira ke arah Ari yang berjalan ke arah mereka, cowok itu kaget di tunjuk begitu oleh Vira.


"Apaan sih?" tanya Ari mendekati Vira dan mengambil minuman yang dibawa cewek itu, Vira melongok melihat minumannya diambil Ari.


"Lho, itu kan punya gue ngapain lo ambil." kata Vira meraih minuman yang di bawa Ari, tapi Ari mengelak. "Beli sendiri sana! jangan ganggu." ujar Vira masih berusaha mengambil minumannya.


Ari melirik ke bawa melihat Vira masih berusaha mengambil minumannya yang Ari angkat tinggi-tinggi, "Makanya tumbuh tinggi itu ke atas jangan ke samping!" sindir Ari yang melihat Vira sudah ke walahan.


"Apaan sih, dasar tiang berjalan." umpat Vira melipat tangannya, membelakangi Ari.


Ari menempelkan botol minum ke pipi Vira. "Nih gue kembaliin." kata Ari menyerahkan botol yang tinggal sedikit isinya.


"Lha, kok tinggal segini!" seru Vira, Ari berjalan meninggalkan Vira yang sepenuhnya jengkel. tangan Ari melambai ke belakang.


"Makasih!" seru cowok itu telah bergabung dengan teman-temannya kembali.


wajah Vira mengerut kesal, sedangkan teman-teman sekelas dan cewek-cewek yang ada disana menatap iri ke arah Vira. bukan berita baru kalo Vira dan Ari nggak pernah akur, ada saja kerusuhan yang di buat dua orang tersebut.


"Ari beliin yang baru!" teriak Vira melemparkan botol kosong ke lapangan, seorang siswa berdiri tepat di tempat Vira lemparkan botolnya dan botol itu sukses mendarat di kepala cowok itu. Vira kaget melihat lemparan yang tidah mengenai Ari, dan ketika korban yang kena timpukannya itu berbalik. wajah Vira langsung jadi pucat, "Ya ampun, itu kan Sony anak XI IPS 4." bisik Vira yang langsung melangkah ke samping menyembunyikan diri di belakang Riva.


***


motor Ari berjalan di samping Vira, cowok itu masih setia menemani Vira walau cewek itu tengah ngambek karenanya.

__ADS_1


"Udah ngambeknya, cepet naik nanti ke sorean." kata Ari.


bibir Vira maju beberapa senti, "Ogah." jawab Vira masih berjalan di trotoar.


"lo masih kesel gara-gara tadi siang, gue minta maaf deh!" kata Ari, Vira masih diam saja, membuat Ari jadi serba salah. "Masih mikirin masalah Sony yang ke timpuk botol lo tadi?" tebak Ari yang mendapat pelototan dari Vira.


"Kalo iya kenapa!?" ucap Vira setengah membentak, masih kesal.


mendengus, "Udah jangan dipikirin, gue udah ngomong tadi sama Sony kalo lo nggak sengaja." jawab Ari menatap Vira yang berhenti jalan. cewek itu menatap Ari sebentar, sebelum Ari memerintah Vira untuk naik ke motornya Vira udah duduk manis di boncengan belakang.


**** senyumnya, dan Ari menyalakan mesin motor nya. "Kata Kak Randy, besok mobilnya udah dianterin." kata Ari ditengah jalan.


"Oh."


"Masih marah?" tanya Ari.


Vira menggeleng, "Napa gue harus marah?" tanya Vira balik. "Nggak ada alasan kan." jawab Vira sendiri. Ari hanya diam dan melanjutkan perjalanan mereka, sekali-kali matanya melirik ke spion motornya. sesampai di depan gang rumah, tiba-tiba Vira menyuruh Ari berhenti.


"STOPPP!!! "


"Ada apa?" tanya Ari menoleh kebelakang.


"Oke, gue beliin." kata Ari yang turun dari sepedanya. "Jagain motornya ya?" perintah Ari.


di boncengan sepeda Vira mengangguk, hanya dua menit Ari sudah kembali. "Ini sama yang kayak tadi kan?" tanya Ari.


"Iya," jawab Vira.


***


"Ari, lihat ini ulah lo!" Vira menunjukan buku tugasnya kepada Ari.


cowok itu tengah duduk di depan kelas sambil main game di Hp-nya, terkejut dengan kemunculan Vira yang tiba-tiba di depan kelasnya. "Apa lagi sih?" tanya Ari jengkel karena ulah Vira hampir saja Hp yang baru dua bulan ia beli jatuh lagi.


"Lihat ini, udah gue bilang rumus yang lo ajarin ke gue itu salah." kata Vira.


Ari merebut buku tugas Vira, "Coba sini gue lihat." ucap Ari, kening cowok itu berkerut. "Kok bisa gini, kemarinkan gue nggak ngajarin yang ini." menatap Vira.

__ADS_1


"Nggak ngajarin kayak gini gimana, jelas-jelas gue ngikutin arahan lo kemarin." kata Vira, kerutan Ari semakin bekerut.


"Kemarin," ucap cowok itu heran, "Kemarin kan gue nggak ngajarin lo, Vir." kata Ari mengingat ke jadian kemarin malam, dan yang ia ingat Ari sama sekali tidak datang ke rumah Vira seperti biasa untuk mengajari Vira seperti biasa.


wajah Vira kaget, "Lha terus siapa yang ngajarin gue ngerjain ini?" tanya Vira pada dirinya sendiri, Ari menatap wajah bingung Vira. cewek itu tiba-tiba menepuk keningnya sendiri, "Argh, gue inget sekarang." kata Vira mengejutkan Ari.


beruntung Hp Ari udah masuk ke dalam saku celananya, cowok itu menegakkan tubuhnya. "Siapa?"


"Bang Bimo." jawab Vira.


"Tu kan, bukan gue makanya jangan nuduh sembarangan." hardik Ari.


"Huh, biasanya kan juga lo yang ngajarin gue, mana gue inget kalo yang ngajarin Bang Bimo." kata Vira, Ari menggeleng.


"Bukannya kemarin malam gue udah kasih tahu lewat Wa ke lo, nggak lo baca ya?"


Vira menggeleng, "Enggak, kuota guehabis." jawabnya cengengesan.


"Ya udah sini, gue ajarin." ucap Ari mengeluarkan bolpen dari saku celananya, yang memang selalu Ari bawa. jaga-jaga kalo kejadian seperti sekarang terjadi.


mengelak, "Nggak perlu, gue udah bisa sendiri." kata Vira, yang menjauhkan bukunya dari Ari yang akan mengambil.


"Kalo udah bisa ngapain nyariin gue?"


Vira menyeringai, "Heheheheee... buat apa lagi kalo bukan..." sebelum Vira bisa melanjutkan kalimatnya Bell tanda masuk berbunyi, cewek itu berbalik "Eh, bellnya udah bunyi!" seru Vira.


"Ari, gue ke kelas dulu ya!?" seru Vira yang udah nyibrit ke kelasnya sendiri,


meninggalkan Ari dengan kebingugannya.


di tempatnya Ari geleng-geleng kepala melihat Vira, tangan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. ia berdiri dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam kelas, disana beberapa teman menatap Ari dengan tatapan aneh.


"Ngapain lagi tu cewek nyamperin Ari?" tanya seorang cewek teman sekelas Ari.


"Iya, ngeliat wajahnya aja udah bikin kesel aja?" ujar teman cewek itu.


di meja paling belakang Ari menghampiri seorang cowok disana, samping cowok itu ada kursi kosong. "Dhit, gur duduk di sini ya?" kata Ari tersenyum.

__ADS_1


Radhit yang sedari tadi istirahat meringkuk di mejanya, menoleh ke arah Ari. "Hmmm..." jawabnya, Ari tersenyum mendengar perkataan temannya itu.


***


__ADS_2