
Suasana kelas seperti kapal pecah, beberapa anak-anak berlarian ke sana kemari tak jelas arah. seorang cowok berdiri di depan papan tulis menuliskan tugas yang harus di kerjakan yang dikarenakan guru pada jam pertama Absen masuk karena sesuatu. tapi siapa yang menyangka akan ada guru pengganti, menggantikan guru yang tidak masuk, karena kemunculan seorang guru yang segera membuat suasana kelas kembali tenang.
"Arga, kamu bisa kembali duduk." kata Bu Nia.
Arga segera kembali duduk di bangkunya yang berada di depan meja Vira, cewek itu terlihat sibuk mencoret-coret sesuatu di belakang bukunya. sekali-kali memperhatikan keliling ruangan, termasuk Bu Nia. Vira segera menghentikan aktifitasnya karena tatapan Bu Nia mengarah ke arahnya.
"Selamat pagi murid-murid."
"Pagi, Bu." jawab mereka kompak.
"Pagi ini kita akan ke datangan teman baru, pindahan dari Luar Kota." kata Bu Nia memanggil seseorang yang berdiri di balik pintu kelas, dengan percaya diri tanpa takut sama sekali Ari masuk ke dalam kelas yang membuat seisi kelas yang terkaget-kaget termasuk Vira yang menjatuhkan bolpennya.
beberapa anak cewek-cewek berbisik-bisik membicarakan cowok yang ada di depan kelas mereka sekarang, termasuk Riva yang berbisik ke telinga Vira.
"Vir, lo bilang Ari ke terima di Theresia?" tanya Riva dengan suara pelan yang hanya bisa Vira dan Riva yang mendengar.
Vira juga membalas bisikan Riva, menundukan kepala menghindari kontak mata dengan Ari. "Gue juga nggak tahu, jelas-jelas kemarin malam gue baca sendiri surat undangan dari Theresia." jawab Vira.
di depan kelas, Ari berdiri siap mengenalkan dirinya sebelum pintu kelas terbuka lebar dan beberapa anak cowok berdiri dengan kaku menatap dua orang yang berdiri di depan mereka, kening Ari berkerut melihat salah satu dari mereka cuma cengar-cengir kuda lumping kepadanya atau ke Bu Nia yang berdiri disamping Ari.
"Selamat Pagi Bu Nia." sapa anak-anak bandel kelas X-8.
Bu Nia menggelengkan kepalanya melihat tiga sampai empat siswa kelasnya berkelakuan tidak sopan, "Rapikan seragam sekolah kalian." tegurnya yang langsung di laksanakan oleh murid-murid yang terlambat.
"Sudah, Bu." kata salah satu dari mereka yang hendak duduk ke kursi yang berada di belakang.
"Siapa yang suruh kalian duduk?" tanya Bu Nia menghentikan langkah ke empat cowok tersebut, mereka menoleh ke belakang dan melihat wali kelasnya melotot marah. "Sekarang kalian berdiri di luar kelas, angkat kedua tangan dan satu kaki kalian!" perintah Bu Nia membuat wajah-wajah yang awalnya kusut menjadi tambah kusut.
"Dan jangan ada yang bergerak atau pun mengobrol sampai bell istirahat berbunyi." tambah Bu Nia.
"Paham!"
"Paham, Bu."
Keempat cowok itu berjalan keluar kelas dan bersiap melaksanakan hukuman yang diberikan oleh Bu Nia, sedangkan Ari hanya terpaku melihat kejadian di hari pertamanya, rasanya ia ingin tertawa karena salah satu temannya ada di rombongan yang kena hukum.
"Dan kamu sudah mulai bisa memperkenalkan diri." kata Bu Nia.
Ari mengangguk, "Nama saya Ariandro Sanjaya. Tapi cukup panggil Ari saja, atau Rian." katanya tanpa sedikit pun meninggalkan senyum dibibirnya, terlihat Ari cukup ramah untuk anak baru seperti Ari. tidak perlu basa-basi Bu Nia segera menyuruh Ari untuk duduk di kursi yang masih kosong, sebelum murid-murid cewek di kelas menjadi tak karuan.
***
Bell istirahat berbunyi, sebelum yang lain mengerubungi Ari dan membuat Vira tidak bisa mendekati cowok itu, Vira mengambil langkah duluan sebelum Bu Nia meninggalkan kelas. cewek itu dengan agresif memblock Ari yang duduk di bangkunnya, dengan kedua tangan diatas meja, cukup kelas saat tangan Vira bertemu dengan meja. Ari cuma meringis kesakitan membayangkan betapa sakitnya itu.
"Lo utang penjelasan sama gue." kata Vira menatap Ari ke matanya langsung.
kepala Ari di miringkan, "Penjelasan apa?"
__ADS_1
"Penjelasan apa?" ulang Vira, "Penjelasan, kenapa lo bisa ada disini bukannya di Theresia?" tanya Vira langsung ke intinya.
Ari menatap Vira dengan tatapan murung, "Jadi lo lebih suka gue di Theresia dari pada disini bareng lo?" tanya Ari sedih, Vira jadi kalang kabut sendiri.
"Bukan, bukan gitu..."
"Terus apa? "
"Tapi kan..."
"Gue laper, lo nggak pengen ngajak gue keliling sekolah gitu?" tanya Ari dengan ekspresi seperti biasa, cowok itu berdiri dan menarik tangan Vira keluar kelas. Vira hanya diam mengikuti Ari membawanya keluar kelas, dan cowok itu segera menggandeng tangan Vira, sikap Ari langsung berubah 180 derajat dari yang tadi.
"Lo kenapa sih tiba-tiba jadi aneh?"
"Aneh gimana?"
"Tadi sikap lo?"
"Gue males lihat tampang bingung lo." jawab Ari.
Mulut Vira terbuka, "Eh iya, gue juga nggak percaya loh kalo lo yang bakal dari murid baru itu." katanya
"Pasti lo kecewa ya, karena itu gue." ucap Ari.
"Nggak biasa aja?"
"Ih apaan sih, biasa aja lagi... lagian mana gue tahu kalo lo bakal sekolah disini, kan katanya ada dua orang yang daftar buat pindah sekolah. gue kan nggak tahu kalo yang bakal terpilih itu elo," jawab Vira,
karena gemas Ari menarik hidung Vira yang membuat cewek itu susah bernafas, "Bawel banget sih lo." ucap Ari.
"Aaayyiii eelaass..." ucap Vira mencoba menyingkirkan tangan Ari dari hidungnya.
saat sudah puas Ari melepaskan hidung Vira yang udah jadi merah tomat, "Jahat banget sih!" ucap Vira mengusap-usap hidungnya yang merah tomat.
Ari menjulurkan lidahnya, "Biar tahu rasa, sok sok-an tadi ngelabrak aku." ujarnya.
cewek yang menyentuh hidungnya itu cemberut, "Ih rese' lo."
***
"Udah gue tebak tujuan pertama kalian pasti ke sini." kata Rey yang mengambil duduk disamping Vira yang lagi makan batagor bandung, sedangkan Ari makan nasi Rames.
Di belakang Rey ada Riva dan Arga yang menyusul belakangan setelah mengambil pesanan mereka, "Pulang sekolah kalian mau kemana?" tanya Riva yang duduk di sebelah lain Vira.
Menaikan kepalanya menatap Riva, "Gue mau tidur di rumah." jawab Vira.
"Tidur terus kerjaannya." ucap Rey memukul kepala Vira dengan sedotan.
__ADS_1
"Apaan sih Rey, " ucap Vira. "Kotor."
"Kotor apaan, orang nggak kena apa-apa juga." jawab Rey.
"Kena air liur lo."
"Ari liur gue, sini gue kasih." goda Rey yang membuat Vira menjerit.
"Argh! Rey! Ari tolongin gue, Rey jahat!" seru Vira minta tolong Ari.
Ari menengahi kedua temannya itu, "Udah-udah kayak anak kecil aja?" ujar Ari.
"Dia tu anak kecil." tunjuk Rey.
"Rey yang anak kecil." jawab Vira.
"Elo, dari dulu apa-apa nyariin Ari."
"Rey nakal, Ari baik. nggak kayak Rey yang ngusilin Vira." nggak mau kalah, dari dulu Rey memang hobby jailin Vira dan Vira bakal ngadu ke Ari tentang perbuatan Rey ke dirinya, minta perlindungan dari Ari.
Ari geleng-geleng kepala, "Vira, Rey, kalian bisa nggak usah kayak anak kecil?" tanya cowok itu ke dua orang di depannya, Riva dan Arga hanya bisa menahan tawa mereka melihat tingkah Rey dan Vira. "Kalian berdua nggak sadar kalo lagi di jadiin tontonan orang-orang?" suara Ari pelan, matanya bergerak ke kanan kiri.
dua orang yang bertengkar itu sadar tengah jadi pusat perhatian orang-orang yang ada di kantin, dan sebagian adalah kakak kelas mereka.
"OMG, malu banget." ujar Vira menutupin wajahnya.
"Biasa aja kali."
"Biasa aja buat lo yang sering bikin rusuh!" jawab Vira.
sebelum terjadi perang lagi, Ari segera membawa Vira pergi. "Gue bawa anak ini pergi dulu ya?" kata Ari ke Riva dan Arga yang menghadang Rey untuk nggak ikut.
"RIIII! gue ikut!" seru Rey.
"Jangan entar lo bikin rusuh!" kata Riva.
cowok itu cemberut dan mengambil batagor milik Vira yang tinggal setengah, Riva dan Arga hanya menghela nafas. tanpa mereka sadari ada mata-mata yang sedari tadi mengamati mereka, seorang cowok berdiri dari duduknya dan berjalan pergi.
"Kak Aji mau kemana?" tanya cewek yang sedari tadi bersamanya.
"Maaf, Stella. aku harus kembali ke kelas duluan." kata Aji meninggalkan Stella bersama teman-temannya yang lain, seorang cewek yang duduk di samping Stella menepuk bahunya.
"Mungkin Aji inget sesuatu jadi harus balik ke kelas Stel." kata Marsya teman Aji.
Stella mengangguk mengerti, "Semoga saja" gumamnya.
***
__ADS_1