
Lapangan Futsal
Ada latihan pertandingan antara kelas X dan kelas XI, tanda pertandingan berbunyi. Sayup-sayup suara suproter terdengar dari pendukung perwakilan kelas masing-masing, yang menyemangati para pemain di tengah lapangan.
Di bangku cadangan kelas XI terlihat Benny, Oji dan Rey sedang berdiskusi dengan dua pemain inti mereka.
"Gue nggak mau kelas kita kalah dengan angkatan kelas X yang masih bau kencur." ujar Benny yang jadi Kapten. Dibarisan penonton ada Ari dan Vino yang mengamati mereka yang berdiskusi dipinggir lapangan. Memberi arahan kepada temen tim mereka.
"Vin, gue berani taruhan kali ini yang menang kelas XI." ujar Ari, Vino mengangguk.
"Kalo gitu gue tanya Yasmine dulu ya?" ucap Vino bersemangat dan ngacir entah kemana. Ari desis geram, melihat temannya itu berlari keluar dari area penonton.
"Dasar tu anak, kalo masalah kayak gini langsung larinya ke Yasmine, tapi kalo udah urusan Hati mana berani." guman Ari.
yang kembali melanjutkan menonton pertandingan, dari sudut matanya ia bisa melihat gerombolan cewek yang berbisik melihat ke arahnya. "Duh, jadi malas nonton kalo kayak gini." gerutu Ari, berbalik meninggalkan kerumunan penonton pertandingan Futsal.
***
pojok kantin Riva menemani Vira makan, cewek itu memasukan sambal satu gelas ke dalam mangkuk Basko yang sekarang berwarna merah darah. Riva menelan air liurnya melihat isi yang ada di dalm mangkuk Vira,
gadis itu menangis dengan air mata mengalir dan bibir yang merah karena kepedasan.
"Udah Vir, jangan banyak-banyak kasihan lambung lo." sahut Riva.
bukan namanya Vira kalo dengerin perkataan orang, gadis itu masih menyuapi kuah bakso ke dalam mulutnya, "Nggak ada pilihan Riva, cuma ini alasan aku biar bisa nangis sepuasnya." kata Vira.
"Tapi..."
sebuah tangan mengambil mangkuk bakso Vira yang udah nggak berbentuk itu, Vira mendongak melihat Ari dengan mangkuk baksonya. "Ari kembaliin" ujar Vira dengan air mata dan ingus yang meler sampai meleber
kemana-mana.
"Nggak!" bentak Ari dengan mata melotot ke Vira.
Vira mengusap ingusnya dengan lengan bajunya, cewek itu langsung diam setelah di bentak Ari.
***
suasana kelas rame setelah Bel pulang sekolah berbunyi, guru yang mengajar di kelas XI IPA 3 udah keluar terlebih dulu. Vira duduk di kursinya memasuk buku-bukunya dan melemparkan bolpenya ke dalam tas, cewek itu berdiri dari tempat duduknya. Riva menarik tangan Vira untuk jangan beranjak dari duduknya, cewek itu menunduk melihat Riva yang memengangi tangannya.
"Ada apa, Riv?" tanya Vira.
__ADS_1
tangan Riva menepuk-nepuk tempat duduk Vira, meminta Vira duduk. tanpa protes Vira duduk di kursinya lagi. "Arga dan gue punya rencana mau pergi ke pantai, lo mau ikut?" tanya Riva.
mendengar kata Pantai yang disebutkan Riva mata Vira langsung berbinar, "MAU!" seru Vira, membuat anak-anak yang masih tinggal di kelas menoleh ke arah mereka, telapak tangan Vira langsung menutup mulutnya. "Iya, gue mau pergi ke Pantai." jawab Vira pelan membuka tangannya.
"Oke, kalo gitu gue akan minta izin sama Bos dan bilang ke Arga kalo lo ikut." kata Riva, senyum Vira melebar.
***
"Mama!" teriak Vira yang masuk ke dalam rumah.
seorang wanita mengintip dari dapur, "Ada apa sayang?" tanya Mama yang berada di dapur, Vira muncul dan mendekati Mama kemudian memeluk wanita itu dari belakang.
"Mama," rajut Vira manja, tumben-tumbenan Vira manja kepada Mamanya.
"Hmmm... pasti ada maunya deh kalo udah manja-manja gini?" ujar Mama.
di punggung Mama, tawa cekikikan Vira terdengar. "Udah ketahuan ya?" kata Vira melepas pelukannya dari Mama.
"Jadi?"
senyum Vira melebar, "Ma, sabtu minggu Riva sama Arga mau ke Pantai, Vira boleh ikut ya?" Vira mulai merajut, cewek itu duduk di kursi pantry, Mama membalikan badannya menatap Vira.
kamu gunain hari libur kamu buat ketemu Papa dan bicara dengan Papa." tambah Mama.
tidak perlu mendengar lanjutan perkataan Mama, Vira berjalan ke kamarnya tidak menghiraukan panggilan Mama yang memanggil-manggil nama Vira.
BRAAAKKK!!!!
pintu kamar tertutup dengan bantingan keras, mengejutkan kucing yang lewat di samping kamar.
***
langit mendung Vira duduk di halte pinggir jalan matanya menatap kendaraan yang berlalu lalang. sebuah Bus berhenti, pintu masuk dan keluar terbuka, beberapa orang turun dan keluar silir berganti. Vira memutuskan untuk naik Bus dan duduk di dekat jendela, kepalanya menengadah ke langit, hujan masih turun dan membasahi bumi. ada genangan air di pinggir jalan, Vira menempelkan kepalanya ke jendela. pandangannya layu, bukan masalah ia tidak bisa pergi dengan Riva dan Arga tapi memikirkan perkataan Mama yang mengingatkan Vira dengan masalah cewek itu dengan Papa.
suara dering telepon berbunyi, tangan Vira menggenggam ponselnya. di layar ponsel tertulis nama orang yang telah mengacaukan hari Vira, dengan malas Vira mengangkat telepon dari Papa.
Papa : "Vira, Papa ingin bicara."
Vira hanya diam mendengar keinginan Papanya.
Vira : "Bicara sekarang."
__ADS_1
Papa : "Papa ingin bertemu dengan kamu."
Vira : "Vira sibuk, di telepon aja,"
Papa : "Tapi ini penting."
Vira : "Kalo masalah Papa mau nikah lagi, terserah Papa. lagi pula lebih penting mana kesibukan aku sama masalah Papa mau nikah!?"
Papa diam mendengar perkataan anak kesayangannya itu.
Papa : "Baiklah, kalo itu mau mu."
Vira : "Itu bukan mau ku tapi maunya Papa."
jawaban Vira membuat Papa terdiam sebelum ia menjawab perkataan anaknya, telepon sudah dimatikan, saat mencoba kembali panggilan tidak tersambung.
***
"Please! Bantuin gue!" rajut Vira yang duduk di lantai menghadap Ari yang duduk dikursi belajarnya, cowok itu tengah sibuk mengerjakanan tugas sekolahnya. Matanya melirik Vira yang duduk di lantai kamarnya yang dingin. Ari berbalik memperhatikan Vira, kepalanya miring ke samping mengamati penambilan cewek itu yang berantakan dan basah kuyup habis kehujanan.
Ari beranjak dari tempat duduknya, jalan ke arah jemuran dan mengambil handuk kering lalu ditahurnya di atas kepala Vira. "Keringin dulu, lalu mulai bicara." kata Ari yang masih berdiri, Vira mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat Ari.
"Gue ke dapur dulu." kata Ari berjalan ke pintu dan menghilang dari balik pintu kamar, Vira hanya diam menatap Ari yang sudah menghilang, tubuh Vira langsung merosot.
"Duh, apa gue terlalu over ya?" tanya Vira pada dirinya sendiri, menoleh ke arah pintu kamar Ari.
***
Diluar kamar, Ari mengambil nafas sebanyak-banyaknya. ia tidak habis pikir akan melihat Vira seperti anak kucing yang kehujanan datang ke rumahnya malam-malam, Ari melihat Neneknya berjalan menaiki anak tangga dengan dua cangkir Teh panas.
"Dia ada di dalam?" tanya Nenek.
Ari mengangguk, "Ini, Nenek buatin Teh hangat. Kamu suruh Vira minum," kata Nenek menyerahkan nampan kepada Ari, "Kamu ke kamar Tante mu dan ambil satu setel pakaian di lemarin, dan minta Vira untuk ganti pakaiannya." lagi Ari menjawab dengan anggukan kepala.
"Ya sudah, sana masuk. Setelah itu ambil baju Tante di kamarnya." perintah Nenek yang berjalan pergi.
"Iya, Nek." jawab Ari.
Ari tinggal dengan Neneknya, sedangkan kedua orang tuanya tinggal di luar Kota. Ari memutuskan untuk menemani Neneknya yang sendirian setelah Tante Ari menikah dan tinggal dengan suaminya, Ari membuka pintu kamar dan melihat Vira masih duduk dilantai, cewek itu menoleh ke arahnya.
***
__ADS_1