
"Ini Nenek buatin lo Teh Hangat, diminum." kata Ari menaruh nampan ke meja kopi dekat dengan Vira.
Vira menatap Ari, "Makasih, bilang ke Nenek ya," katanya, Ari mengangguk.
"Gue keluar lagi." kata Ari.
Mengangguk, Vira menyesap Teh hangat yang dibuatkan Nenek Ari untuknya. Vira sudah lama kenal dengan Nenek Ari, orangtua Ari pun Vira kenal. Soalnya dulu Vira sering di titipkan ke rumah Nenek Ari saat kedua orangtuanya harus pergi keluar Kota untuk berkerja, pada saat itu Vira mulai dekat dengan Ari yang pendiam. Teman taman kanan-kanannya sampai sekarang, dulu Ari pernah ikut orangtuanya yang tiba-tiba di pindahkan Dinas ke luar Kota tapi Ari hanya pindah satu tahun dan cowok itu kembali lagi kerumah Neneknya setelah Tante Ari yang sudah menikah memutuskan ikut suaminya.
Pintu kamar terbuka, dan seorang cowok masuk ke dalam. Vira melihat Ari membawa satu setel pakaian di tangannya.
"Ganti pakaian lo dengan pakaian kering," kata Ari menaruh pakaian ke atas tempat tidurnya, Vira melihat pakaian yang diletakan Ari ditempat tidur cowok itu.
Tanpa menunggu lama Vira berdiri dari tempat duduknya, ia langsung mengambil pakaian yang di bawa Ari dan berlari kecil ke kamar mandi di kamar cowok itu. Hampir saja ia kepleset karena ulangnya sendiri, Ari hanya menahan senyum melihat Vira yang setengah mati menahan tubuhnya gara tidak jatuh. Cewek itu menoleh ke arah Ari setelah sampai di depan pintu kamar mandi, dan masuk ke dalam.
***
Ari duduk menyilangkan kedua kakinya menatap Vira yang selesai berganti pakaian kering, cewek itu kini tengah menyesap Tehnya yang tinggal setengah.
"Jadi lo mau ngomong apa?" tanya Ari melihat Vira sudah tenang.
Sekarang cewek itu tengah menatap ke arahnya, "Ari..." panggil Vira lembut dengan suara serak, menakupkan kedua tangannya ke wajah dibuat melas asih. Melihat wajah Vira, Ari benar-benar nggak habis pikiria bisa berteman dan menyukai cewek di depannya ini.
"Ehem..." deham Ari mengalihkan pandangannya.
"Bantuin gue buat ngomong sama Mama dan Bang Bimo, Ri." kata Vira yang langsung ke intinya, Vira nggak suka basa-basi lebih suka langsung to the poin jadi nggak heran kalo ngomong sama Vira.
__ADS_1
"Ngomong apa?" tanya Ari bingung.
Kepala cewek itu menunduk, "Ngomong ke Mama dan Bang Bimo, kalo lo juga ikut acara Pergi ke Pantai bareng Riva sama Arga, kalo lo ikut pasti Mama sama Bang Bimo bakal ngizinin gue ikut." tutur Vira, udah bisa ditebak ke inginan cewek satu ini. Karena tadi siang Ari sudah dengar dari Arga yang rencananya mau pergi liburan di Pantai.
"Hm, gimana ya?"
Vira benar-benar memasang tampang andalannya, dengan mata kucingnya membuat siapa saja nggak bisa menolak apa yang di inginkan cewek satu ini, termasuk Ari yang selalu nggak bisa menolak Vira. Cowok itu
menghela nafas, "Oke, gue bantuin lo ngomong sama Tante tapi gue nggak janji Bang Bimo bisa percaya apa nggak." jawab Ari pada akhirnya.
Senyum di bibir Vira merekah lebar, rasanya cewek itu ingin memeluk Ari karena bahagia tapi ia urungkan melihat situasi. "Argh, Ari Emang The Best deh!" puji Vira memberikan kedua jempolnya kepada Ari. Vira terdiam, "Tapi lo ikut kan?" tanya Vira.
Senyum cewek di bibir Vira tiba-tiba pudar, Ari diam termenung. "Mm, kalo itu...?"
***
Cowok itu sudah dengar dari Riva waktu istirahat pertaman, "Gue masih bingung, " jawab Ari menutup buku kumpulan soal Ujian Nasional, yang ia beli waktu ikut Vira ke Toko buku.
Arga melihat sampul buku yang dikerjakan Ari menyengit, cowok itu kembali ke mode awalnya menghampiri meja Ari yang sekarang duduk di belakang bareng Radhit. "Bingung?" cowok yang duduk di hadapan Arga mengangguk. "Kenapa lagi?" Arga teringat sesuatu, "Masalah Caffee?" tanya Arga.
"Iya, masalah Caffee. Gue nggak bisa kalo ninggalin Caffee lama-lama, bisa-bisa gaji aku dipotong gara-gara bolos, lo kayak nggak kenal sepupu gue kayak apa." jawab Ari.
"Lha ngapain bolos lo kan bisa izin bareng Riva, cuma dua hari kok. Sabtu minggu." jawab Arga. "Lagian gue yakin Kak Rendy bakal ngizinin, nggak bakal rugi juga dia." kata cowok yang menjadi pacar Riva ini.
Walau cuma sabtu minggu, tapi itu adalah hari Penuh kerjanya. "Gue pikir-pikir dulu deh, masih ada satu hari lagi kan sebelum hari H." kata Ari.
__ADS_1
"Iya, masih H-1. Jadi lo bisa mikirin rencana ini matang-matang." jawab Arga.
***
duduk termenung di Green house hanya hijau yang di ramat oleh sekolah untuk udara segara tanpa polusi udara, Vira memejamkan matanya sambil menikmati angin yang semilir dengan earphone menempel di telinganya. Cewek itu dengan menyendiri di istirahat ke dua, tidak ada seorang pun yang berada di Green House selain dirinya itu membuat Vira senang. Karena ia tahu tidak banyak yang akan datang ke Green House pada jam istirahat kedua seperti dirinya. Ia juga meninggalkan Riva saat bell berbunyi, cewek itu langsung kambur meninggalkan Riva yang masih beres-beres memasukan buku-bukunya ke laci meja.
Hampir 5menit Vira duduk termenung sendiri di Green House, sampai terdengar seseorang duduk di sampingnya. Ia tidak membuka matanya, karena orang itu tidak mengganggunya.
"Udah sejak kapan kamu ada di sini." suara itu menyadarkan Vira dari Zona nyamannya, Vira membuka matanya dan menoleh ke samping melihat sosok yang duduk di sampingnya dengan senyum khasnya.
"Kak Aji."
Cowok itu tersenyum melihatkan lesung pipi yang kecil dan samar. "Hai!" sapa Aji kakak kelas Vira, anak Kelas XII IPA 2. Cowok yang pernah dekat dengan Vira saat awal-awal masuk sekolah, Vira kira Aji menyukainya tapi lama kelamaan cowok itu menjauh darinya. Vira tidak tahu apa sebab Aji menjauhinya tapi yang pasti karena seorang cewek dari kelas sebelah yang terang-terangan selalu mengikuti Aji, dan ketika dua minggu Aji mejauh dari Vira. Vira mendengar Aji dan cewek itu jadian, akhirnya mereka pacaran. Saat itu Vira yang di buat Baper oleh Aji jelas
sakit hati, tapi tepat saat itu Ari datang dan menghibur Vira membuat cewek itu sadar, ada orang lain yang lebih menyayangi dirinya.
Ngomong soal Ari, Vira jadi ingat untuk menemui cowok itu dan menanyakan rencana mereka. "Eh, aku baru ingat kak." ucap Vira berdiri dari duduknya melepas earphone yang ia pakai.
Aji menatap Vira bingung, "Lha kok udah mau pergi aja, kita baru ketemu." katanya tidak ingin Vira meninggalkan cowok itu sendirian, sudah lama Aji ingin memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Vira dan kesempatan itu baru datang sekarang, dan sekarang Vira ingin meninggalkan Aji sendiri.
"Aduh, maaf kak tapi aku harus segera balik ke kelas." kata Vira.
Meninggalkan Green house dan Aji yang menatap punggung Vira yang menghilang di tikungan, Aji menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Begitu bencinya kamu sama aku, Vira." gumam Aji.
***
__ADS_1