
"Selamat Pagi! "
"Pagi, Riv. " sapa Vira yang melihat Riva mendekati tempat duduknya, menaruh tas di atas meja dekat meja Vira.
Riva mengamati Vira dari atas kebawah, "Ada yang beda nih! " ujar Riva menjawil rambut Vira yang di biar kan tergerai.
"Apaan sih? " ucap Vira menyelipkan rambutnya ke telinga.
"Jepit rambut baru ya!? " sindir Riva.
"Enggak kok lama. " Vira mengelak.
**** senyumnya, "Iya deh! tapi bagus, biat aku ya? " kata Riva hendak mengambil jepit rambut Vira.
"Jangan... " menyingkirkan tangan Riva.
"Kenapa? " tanya Riva ingin tahu, sebelum Vira menjawab. seorang cowok tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kelas, dan melangkah ke meja Vira.
"Kemarin lo ke Stadion kan? " tanya cowok dengan perawakan tinggi, Vira mengangguk. "Lo bareng dia kan? " tanya cowok itu lagi.
kali ini Vira bingung yang di maksud dia itu siapa?
"Dia siapa? " tanya Vira.
Rey menarik kursi di depan Vira dan menyerobot minuman Riva, meneguknya setengah botol. "ARI! siapa lagi. " kata Rey.
"Ya, gue emang bareng Ari kemarin, terus kenapa? " tanya Vira yang mengerti apa sebabnya cowok ganteng depannya ini menghampirinya.
"Kenapa lo nggak bilang sama gue kalo kalian bakal datang! " seru cowok itu kesal.
"Ngapain gue harus bilang sama lo? " tanya Vira, Riva ikut bingung dengan kedua temannya itu.
"Sekarang anak cheerleaders lagi heboh bahas cowok yang jalan sama lo kemarin, dan tadi salah satu dari mereka liat lo di anter sama sama... "
"Ari, "
__ADS_1
"Pelan napa? "
"Oops sorry... " ucap Vira menutup mulutnya.
"Gara-gara lo gue seharian di kerubungi mereka, cuma nanya siapa cowok yang jalan sama lo? " ucap Rey.
"HAH! "
***
tebakkan Rey tadi pagi benar, jam istirahat anak-anak cheerleaders menemui Vira di kantin tapi hanya anak-anak memilik kepopuleran yang berani melabrak. dan anak-anak itu jelas di ketuai oleh Stella, tapi Stella nggak ikut andil dalam menemui Vira di kantin.
"Ikut gue! " kata seorang cewek yang berdiri di depan yang lain.
Vira mendongak tanpa sedikit pun berminat bergerak, "Sorry, lo siapa ya? " tanya dengan congkak.
anak-anak yang ada di kantin menatap kaget dengan keberanian Vira, padahal tidak ada yang berani melawan geng Beauty milik Stella.
cewek itu menatap tak percaya, "Lo nggak tahu gue? " Vira menggeleng.
"Berani juga lo sama gue! " ucap cewek itu dengan kasar menepis tangan Vira yang memegang sendok sampai terjatuh, Vira dengan kesal yang tertahan hanya melihat sendok yang terjauh.
cewek itu melirik tajam ke arah cewek yang telah berani mengganggu jam istirahatnya. "Emang nya lo siapa!? gue harus takut sama lo!? " tanya Vira yang kini berdiri sejajar dengan cewek didepannya yang lebih pendek dari nya.
jelas cewek itu jadi sedikit minder karena tinggi badan mereka yang berbeda jauh, "Jelas lo harus takut sama gue... " ucapnya. tiba-tiba Vira tertawa dingin, sambil menunduk menatap cewek di depannya.
"Kenapa gue harus takut sama cewek pendek kayak lo!? di liat aja jelas gue yang bakal menang... " ucap Vira.
"Jangan sombong ya? "
"Lo punya sabuk apa sampai berani nantang gue? " tanya Vira yang memegang sabuk hitam di Karate.
"Huh, gue di sini mau ngomong baik-baik sama lo tapi lo nya malah kayak gini? "
"Gimana gue nggak kayak gini, kesan pertama lo aja ngajak ribut. " di jawab santai oleh Vira, semua yang ada di sana membenarkan ucapan Vira.
__ADS_1
"Hah... susah ya ngomong sama orang kampungan " ucap cewek itu mengibaskan rambutnya.
"Kampungan, kalo gue kampungan terus lo apa? " tanya Vira nggak mau kalah. "Ondel-ondel! " seru cewek itu. "Itu bedak apa tepung terigu, tebel amat. " semua tawa terdengar dari penjuru kantin.
"ELO! " jari telunjuk mengarah ke wajah Vira, "Bakal tahu akibatnya. " ucap cewek pergi bersama teman-temannya yang seperti diam saja tanpa membela.
***
"Kenapa kalian nggak belain gue sih! " seru cewek itu setelah jauh dari kantin.
dua orang yang ada di belakang cewek itu saling pandang, "Kan elo yang bilang kalo kita diem aja apa pun yang terjadi. " jawab salah satu dari mereka.
"Bener, Nik. kan elo yang nyuruh kita diem tadi. "
"Tapi nggak gini, kalian belain gue kek."
"Sorry Nikki. "
"Udah ah, awas aja tu anak bakal gue kasih pelajaran biar tahu rasa kan kapok. " ucap Nikki dengan sinis.
tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengar percakapan mereka, cowok itu bersembunyi di balik pilar sekolah dengan menutupi kepalanya dengan tudung jaket. seorang guru menepuk pundaknya membuat nya terkejut.
"Astagfirullah! " serunya setelah ketiga cewek itu pergi jauh menghilang dari sudut pandang.
"Nak Ari sedang apa disini? " tanya guru yang memergoki Ari.
"Oh nggak sedang apa-apa, Pak. " jawab Ari melepas penutup kepalanya.
Guru itu memberikan surat ke Ari, "Ini surat untuk Nak Ari, mulai besok nak Ari sudah bisa bersekolah disini dan semua data milik Nak Ari pun sudah kami terima. " tutur Pak Guru.
Ari menerima Amplop putih tersebut, "Terimakasih, pak. " kata Ari menjabat tangan Pak Guru dan pamit undur diri.
cowok itu berjalan ke arah parkiran, dan semua orang yang ada di koridor menatap ke arahnya dengan terpesona. Ari hanya tersenyum manis sebagai tanggapannya, tapi cewek-cewek terlanjur terpikat pesonanya malah jadi kalang kabut sendiri.
***
__ADS_1