
"Pokoknya setelah ini lo harus traktir gue sama yang lain makan-makan. " kata Vira yang menggebu-gebu, Ari hanya menatap cewek yang berjalan di sampingnya dengan senyum.
cowok itu mengacak-acak rambut Vira gemas, "Iya, gue beliin apa pun yang lo mau. asal... " langkah Vira terhenti.
"Kok pakai Asal sih! " seru cewek itu cemberut.
"Asal nilai Fisika lo lebih bagus dari gue. " kata Ari.
"Apaan, mana bisa kayak gitu! " seru Vira melipat kedua tangannya di dada.
"Bisa dong! tapi kali ini gue bakal traktir lo makan namun gue yang milih tempatnya. "
"Nggak adil! " sahut Vira kesal.
melihat Vira kesal membuat Ari memiliki kebahagiaan tersendiri, mereka berjalan ke arah parkiran mobil. langkah Vira yang mendahului Ari terhenti menatap mobil milik cowok itu, Ari mendekati Vira yang diam mematung.
"Siapa yang berani berbuat kayak gini sama mobil lo? " tanya Vira lirih.
tatapan Ari beralih ke mobilnya yang terparkir di bawah pohon mangga, cowok itu hanya menghela nafas.
"Ayo pulang. "
"Tapi, Ri, mobil lo? " tanya Vira.
"Besok biar Pak Shomad yang bawa ke bengkel. " jawabnya membuka pintu mobil, berhenti menatap Vira. "Lo mau disana atau pulang? " tanya Ari.
Vira langsung ngibrit masuk ke dalam mobil yang tidak berbentuk, hening tidak ada satu kata pun yang keluar dari dua orang di dalam mobil.
"Ri, lo nggak mau ngasusin masalah ini? " tanya Vira membuka suara.
cowok itu terlihat santai dengan apa yang terjadi dengan mobil kesayangan nya ini. "Lo tenang aja udah ada yang ngurusin. " jawab Ari enteng.
Vira hanya menghela nafas berat, ia tidak sanggup melihat penampilan mobil mewah milik Ari yang tak berbentuk sekarang. beberapa kali Vira menangkap tatapan orang-orang ke arah mobil yang mereka tumpangi, termasuk anak-anak sekolah mereka saat keluar dari gerbang.
***
"Serius, gue nggak bohong. " sahut Vira di telepon, cewek itu tengah duduk di balkon kamarnya menatap jendela kamar di depannya. hanya jendela tanpa balkon sama seperti kamar Vira, cewek itu kenal siapa pemilik kamar tersebut. siapa lagi kalo bukan Ariandro, teman sekaligus sahabatnya sedari kecil.
Riva : "Terus siapa yang ngelakuin itu? "
"Gue juga nggak tahu Riv, kalo gitu tahu udah gue cincang itu orang. " jawab Vira tersulut emosi.
Riva : "Apa jangan-jangan ini ada sangkut pautnya sama kejadian tadi pagi di kantin? "
"maksud lo? ini semua kerjaannya... "
Riva : " Yupz, filing gue mereka. "
"Mereka, tunggu mereka itu siapa? " tanya Vira tak mengerti.
Riva terdiam cukup lama, hampir lima menit dan itu membuat Vira nggak sabar. "Riv, maksud lo gimana, mereka itu siapa? "
Riva : "Anak kelas dua belas IPS 5."
__ADS_1
jawaban Riva membuat Vira ganti terdiam, kelas yang katanya bermasalah dari tahun ke tahun. "Lo serius? kenapa bisa mereka, emang Ari punya salah apa? "
Riva : "Mungkin Ari nggak punya salah tapi mereka pasti bayar buat ngelakuin hal itu, lo ngertikan cara main mereka kan? "
mengangguk tanpa sadar, "Iya, gue tahu dulu juga Kak Brandon juga pernah nyewa mereka buat gebukin anak STM yang jadi pacar gebetannya. " ujar Vira.
"Tapi yang jadi permasalahan nya siapa yang nyewa mereka? "
Riva : " Kalo yang ini gue kurang paham, tapi opini gue masih nyangkut masalah tadi pagi. "
kepala Vira jadi pusing sendiri, "Ah yang bener yang mana sih!? " seru Vira pusing mengacak-acak rambutnya.
suara ketukan pintu menghentikan Vira, cewek itu berjalan siap membuka pintu tapi langkahnya terhenti, ia ingat belum mengakhiri panggilan dengan Riva.
"Riv, nanti gue sambung lagi. "
Riva : "Oke! "
akhirnya mengakhiri panggilan telepon nya dengan Riva, Vira berbalik melihat ke arah pintu kamarnya yang masih di ketuk.
"Iya sebentar! " teriak cewek itu.
betapa kagetnya Vira mengetahui siapa yang berdiri di depan kamarnya, tidak lain dan tidak bukan adalah sepupu laki-lakinya Rey.
"Rey, bilang dong kalo itu lo! " seru Vira kesal, cewek itu langsung keluar kamar.
Rey cuma menyeringai, "Sorry, gue sengaja. lo serius banget sih ngobrol nya. " jawab cowok itu.
"Bukan cuma gue tapi yang lagi lo omongin juga denger tuh, " tunjuk Rey ke seseorang yang menunggu mereka di pintu rumah Vira.
Ari terlihat santai dengan kemeja kotak-kotak yang tidak ia kancingkan memperlihatkan kaos Apollo putih, Vira menatap Rey minta pertanggung jawaban.
"Apaan jangan salahin gue, lo ngomong aja kayak toa masjid gitu. "
melototin Rey yang melenggang menyusul Ari, cowok itu terlihat seperti biasa. "Ayo, Vir. " ajak cowok itu berjalan di belakang Rey yang sudah keluar duluan.
***
suara musik dari Radio mobil mengalun dengan merdu, Vira memperhatikan Ari dan Rey yang duduk di depan. Rey asyik ikut bernyanyi mengikuti musik dari radio, sedangkan Ari terlalu sibuk fokus mengemudi mobil karena jalanan mulai macet.
"Kita mau kemana sihh? " tanya Vira mendekatkan diri ke depan.
"Makan-makan! " seru Rey penuh semangat.
"terus kenapa pakai mobilnya Bang Randy? " tanya Vira lagi.
"Ya pakai mobil Bang Randy lah, klo pakai mobil Bang Bimo nggak di rumah, klo pakai mobil gue, gue kan nggak punya mobil. " saat bibir Vira siap berucap, "Mobil Ari kan di bengkel. " jawab cowok itu kembali menyanyi lagi.
***
"Makan yang banyak. " kata Ari mengambilkan Vira beberapa lauk ke dalam piring cewek itu sampai membuat Vira menelan bakso bakarnya bulat-bulat, Rey yang melihat geleng-geleng kepala.
semua makanan yang ada di meja rata-rata makanan kesukaan Vira sebagai milik Ari dan Rey.
__ADS_1
"Tuh denger makan yang banyak biar nggak kurus lagi. " sindir Rey yang mengunyah kentang gorengnya.
mata Vira melotot kesal ke Rey yang malah memilih menghabiskan kentang goreng kejunya.
"Gue kira lo bakal traktir gue besok. " sahut Vira.
menggeleng pelan, "Nggak, lebih baik sekalian aja kita pergi nonton. " kata Ari.
"Nonton. "
"Yups, Arga sama Riva udah beli tiket buat kita nonton tapi... " Rey melirik jam hp nya, "masih dua jam lagi filmnya mulai. "
"Jadi... "
"Hmmm..."
"Kok Riva nggak ngomong sama gue? "
"Udah makan aja nanti keburu dingin. " kata Ari yang menyuapi makanan ke mulut Vira yang sedikit terbuka.
kaget dengan perlakuan Ari yang menyuapi dirinya, Vira hanya mengunyah makanan yang di berikan kepadanya.
***
Di depan bioskop Riva berdiri menunggu Ari dan kedua temannya yang lain, Arga terlihat sibuk dengan selembar brosur yang ia dapat di salah satu Toko Elektronik yang tadi mereka lewati.
"Mereka lama banget ya? " celetuk Riva.
Arga mendongak dan melihat Riva, cewek yang jadi pacarnya ini.
"Tadi mereka bilang lagi makan. " jawab Arga, kalo itu Riva juga tahu tapi makan apa mereka sampai lama banget.
"Bentar lagi filmnya mulai. "
melirik jam tangannya. "kurang 15 menit lagi. " jawab Arga.
suara langkah keras mengalihkan perhatian Riva dan Arga, keduanya menoleh ke arah sumber suara bersamaan dengan tatapan orang-orang. Riva menutup wajahnya dengan lengan Arga yang ia tarik terpaksa, Arga hanya menggelengkan kepalanya. di belakang terlihat Ari dan Rey berlari mengejar cewek yang ada di depan mereka.
"Sorry, lama ya!? " seru Vira dengan nafas terengah-engah, badannya sedikit membungkuk.
Riva menurun kan tangan Arga, "Kalian kemana aja sih lama banget? "
"Kan tadi gue udah kirim pesan ke elo. "
"Yaaa, tapi dari dari tadi kalian turun dari mobil sampai sekarang udah makan jam berapa!? " Riva ngomelin ke tiga temannya itu.
Rey menghela nafas, "Lo tanya aja mereka berdua kenapa lama? gue juga korban. " ujar cowok yang tak parah dengan Vira.
"Ya udah masuk bentar lagi filmnya mulai. " ucap Riva menarik tangan Vira.
"Gue mau minum. " kata Vira meraih tangan Ari, tahu maksud cewek satu itu apa.
***
__ADS_1