Childhood Sweetheart

Childhood Sweetheart
Episode 26


__ADS_3

"Lo sering pulang malam ya akhir-akhir ini?" tanya Vira yang berjalan disamping Ari.


cowok itu menoleh ke Vira yang berjalan di sampingnya, "Enggak juga, cuma hari libur pulang malam." jawab Ari. Vira mengangguk, "Lo masih mikirin yang tadi?" tanya Ari.


menggeleng, bohong kalo Vira nggak ke pikiran dengan apa yang di katakan Papa yang tiba-tiba menyuruh Vira datang ke rumah sang Papa, Ari memperhatikan wajah Vira. "Bohong ya kalo aku bilang nggak ke pikiran rencana Papa buat nikah lagi?" tanya Vira.


Ari terdiam, ke dua tangan Vira terangkat ke atas. "Huah, capek banget!"


"Hm, sebentar lagi kita sampai kok." jawab Ari.


Vira mengangguk dan mengikuti kemana Ari membawanya ke salah satu mini market dekat sana, "Ari, rasa Stroberry ya?" kata Vira yang menunggu di luar minimarket.


"Oke!"


Ari masuk ke dalam minimarket dan berjalan ke jejeran Box Ice Cream, cowok itu langsung mengambil Es


krim kesukaan Vira. dari kecil sampai sekarang, Ari sangat tahu apa yang di sukai dan tidak disukai oleh Vira. cowok itu bisa melihat Vira duduk di kursi depan minimarket, Ari tersenyum berjalan ke arah kasir. tanpa sadar Ari menabrak seorang cewek yang berjalan masuk ke minimarket.


"Duh,"


"Maaf." kata Ari mengulurkan tangannya kepada cewek yang terjatuh terduduk.


"Hati-hati dong lain kali." ujar cewek itu menepuk-nepuk telapak tangannya, ia melihat tangan Ari yang terulur dan menerima ulurang tangan Ari.


"Iya, maaf ya, tadi saya buru-buru." kata Ari.


cewek itu berdiri dan menatap wajah Ari, matanya terbelalak melihat cowok yang menabraknya tadi. "Ya ampun ganteng banget." gumam cewek itu.


"Tadi bilang apa?" tanya Ari bingung tidak mendengar apa yang di katakan oleh cewek yang ia tabrak.


cewek itu gelagapan sendiri, menggelengkan kepalanya. "Nggak, nggak apa-apa." jawab cewek itu yang langsung melenggang pergi. Ari melihat cewek itu menghilang dari rak-rak yang ada di sana, ia kembali melanjutkan berjalan ke arah kasir.

__ADS_1


***


tangan Vira sibuk mengetik pesan balasan untuk Kakak-nya, yang menanyakan keberadaan Vira setelah pulang dari rumah Papa. sambil menunggu Ari, cewek itu sekali-kali melihat ke jalan-jalan yang ramai kendaraan berlalu lalang.


Vira melihat pintu minimarket terbuka, ia melihat Ari berjalan dengan kantong plastik putih di salah satu tangannya. "Lama banget." ujar Vira.


"Maaf tadi antriannya banyak." jawab Ari menaruh plastik yang berisi pesanan Vira ke atas meja. Vira mengintip ke jendela kaca minimarket dan melihat beberapa orang antri dikasir, "Rame ya?" tanya Vira.


"Ini makan Es krimnya, gue beliin seperti yang lo suka." kata Ari mengeluarkan Es krim dari tempatnya.


"Makasih, gini dong sering-sering baik sama gue." kata Vira menikmati Es krimnya, Ari tersenyum melihat Vira yang terlihat senang dengan Es krim yang ia belikan.


"Iya, tapi sekali-kali giliran dong lo yang beliin. masa gue terus." kata Ari membuka Es krim yang ia beli


bersamaan dengan punya Vira.


"Kan lo yang udah kerja, gue aja uang pulsa masih minta." jawab Vira.


Ari memutar tubuhnya menghadap Vira, di sudut bibir Vira ada Es krim yang menempel. "Duh, dasar anak kecil makan Es krim aja masih belepotan." kata Ari membersihkan sisa-sisa Es krim yang menempel di ujung bibir


"Eh, iya, besok mau berangkat sekolah bareng nggak?" tanya Ari.


mengangguk lemas, Vira menunduk dan melanjutkan kembali memakan Es krimnya. suara panggilan masuk di Hp Vira berbunyi, Ari melirik benda yang ada diatas meja di depan Vira. "Nggak lo angkat?" tanya Ari.


"Nggak, paling nanyain gue setuju apa nggak?" jawab Vira.


"Memang dari siapa?" tanya Ari.


Vira menunjukan layar ponselnya kepada Ari, "Papa lo, kenapa nggak diangkat?" wajah Vira seperti menahan kesal. Ari memilih diam kalo sudah seperti ini, cowok itu hanya diam sekali-kali melirik Vira yang menghabiskan Eskrim nya.


"Kan tadi aku udah bilang."

__ADS_1


"Iya, tapi nggak perlu seperti itu." kata Ari mencoba menasehati Vira. cewek yang duduk di depan Ari hanya diam, cowok itu menghela nafas.


***


Vira duduk menghadap papan tulis tapi pikirannya melayang pada kejadian malam ketika Ari mengatarkan dirinya pulang ke rumah, bukan kejadian Vira yang bertemu Papa di rumah tapi kejadian ketika Ari menepuk-nepuk


kepalanya dengan lembut yang kemudian turun ke pipi Vira. Riva yang duduk di samping Vira, sekali-kali melirik cewek yang melamun di kelas.


penjelasan guru di depan kelas seperti tidak begitu menarik untuk Vira, padahal pelajaran pada jam itu adalah salah satu mata pelajaran favorite Vira. Riva, Dian dan Muri terheran-heran melihat teman mereka yang hari ini lebih anteng di kelas, biasanya Vira akan ribut dengan Rey yang duduk di depan cewek itu. Bu Andini pun juga heran melihat Vira yang tidak biasanya, bersemangat mengerjakan soal di papan tulis kini hanya diam di tempat duduknya.


"Vira, kamu sakit?" tanya Bu Andini mendekati Vira ketika bell istirahat berbunyi.


cewek itu mendongak menatap Bu Andini menatap Vira dengan wajah khawatir, Vira tersenyum manis kepada Bu Andini. "Saya baik-baik saja, Bu." jawab Vira.


"Apa benar kamu baik-baik saja, Ibu perhatikan sedari tadi konsentrasi kamu sedang tidak ada di sini?" tanya Bu Andini lagi, Vira garuk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Mm, mungkin saya sedang kecapekan Bu." jawab Vira.


"Benar?" Vira sekali lagi mengangguk meyakinkan guru favorite-nya bukan hanya pelajaran yang menjadi favorite Vira tapi juga Bu Andini yang menjadi favorite Vira, karena gurunya itu tidak masalah dengan tingkah yang Vira buat di kelas. "Baiklah, jika ada apa-apa kamu harus bilang jangan di pendam." kata Bu Andini, Vira mengangguk lagi.


***


Riva memasukan buku-buku ke dalam rak lemari di perpus, di sampingnya berdiri Vira yang membantu Riva membawa tumpukan buku yang akan di kembalikan ke tempatnya. "Lo beneran baik-baik saja?" tanya Riva, Vira menatap cewek yang berdiri di depannya.


"Iya, aku baik-baik saja"


"Nggak mau cerita gitu sama aku?" ujar Riva.


Vira memiringkan kepalanya, "Cerita apa?" tanyanya, Riva berdecak kesal menatap temannya itu. kedua tangan Riva menepuk bahu Vira, matanya menatap tajam ke arah Vira.


"Cerita apa saja yang terjadi kemarin." hardik Riva kesal.

__ADS_1


mendengus, Vira menaruh tumpukan buku di tangannya ke meja dan menarik kursi yang kosong dan duduk di sana, Riva ikut duduk dikursi lain dekat Vira. cewek itu beberapa kali menarik nafas untuk menenangkan hatinya untuk siap, sedangkan Riva menunggu dengan cemas. Riva menjadi pendengar yang baik untuk Vira, memeluk, penepuk dan punggung Vira agar tenang.


***


__ADS_2