Childhood Sweetheart

Childhood Sweetheart
33


__ADS_3

Pintu kamar diketuk, Rey berjalan ke pintu.


"Vira dan Riva, ngapain kalian ke sini?" tanya Rey yang berdiri membatu melihat dua cewek yang berdiri di depannya.


"Ngapain lagi kalo nggak ngajak kalian buat pergi ke Malioboro!" seru Vira yang membara, cewek itu udah sangat gatal dan ingin segera ke pusat oleh-oleh Khas Yogyakarta. Ari yang mendengar suara Vira mengeluarkan kepalanya dari pintu kamar mandi yang memang dekat dengan pintu kamar.


Tangan Vira melambai ke arah Ari sambil tersenyum, "Malioboro?" tanya Ari. Kedua cewek yang ada di luar kamar mengangguk.


Arga jalan, "Ayo," ajak cowok itu mengeluarkan dompetnya.


"Yahoo!" seru Vira yang diikuti senyuman Riva.


Ari yang masih di dalam kamar mandi jadi glagapan sendiri, "Oi, tungguin gue!" serunya masih di dalam kamar mandi.


Ketiga orang yang sekarang ada diluar kamar menatap Rey, "Mau ikut?" ajak Arga dan Riva yang saling rangkulan, cowok itu terdiam menatap ketiga temannya.


"Boleh deh! Tapi gue ngikut aja ya?"


Ketiganya mengangguk, Vira udah sibuk dengan ponselnya. "Ngapain?" tanya Riva.


"Ngechat Davi sama Vino."


"Terus gimana?"


"Kata Davi dia nunggu di depan hotel karo Vino," Vira terdiam, "Dia nggak balas tuh!" jawab Vira memasukan kembali ponselnya.


Ari sudah keluar dengan pakaian lengkapnya, celana seperempat hitam dan kaos putih serta hem kotak-kotak hitam. "Vino sama Davi gimana?" tanya Ari yang baru keluar kamar.


"Davi udah nunggu di luar, kalo Vino nggak tahu." jawab Riva.


Vira berjalan mendahului empat orang dibelakangnya, cewek itu penuh semangat untuk menghabiskan semua uang jajannya. Vira udah minta kiriman uang kepada Papa-nya, Mama dan Bimo, senyum cewek itu secerah lampu neon di jalan-jalan menuju Malioboro.


***


Pada akhirnya mereka pun berpencar, Davi dan Rey seperti biasa lebih tertarik dengan kuliner, sedangkan Ari menemani Vira berbelanja, Riva dan Arga juga sama. Kali ini Ari menggandeng tangan Vira, agar cewek itu nggak ngilang lagi atau enggak dia yang nggak menghilang. Rasanya Ari ingin tertawa jika ingat kejadian tadi, bukan Vira yang menghilang dari gerombolan tapi dirinya.


"Jangan ngilang lagi." ujar Ari.


Vira cemberut, "Cih, siapa yang ngilang. lo tuh yang suka ngilang." cibir Vira tetap mengandeng tangan Ari, sekali-kali mereka berdua berhenti untuk melihat-lihat.


"Ini bagus nggak?" tanya Vira.


"Bagus kok."


Setelah membeli beberapa oleh-oleh dan pakaian, Vira menarik Ari ke tempat duduk yang berada dibawa lampu. "Huah, capek."


"Sakit?"


"Apa?"


"Kakinya."


"Lumayan." jawab Vira sambil mengipasi dirinya dengan tas aksesoris yang ia beli, "Lo nggak beli sesuatu gitu?" tanya Vira, Ari yang sedari tadi melihat ke arah kaki Vira mendongak.


"Hah?" cowok itu langsung menggeleng. "Enggak, emang mau beliin buat siapa?" tanya Ari, cewek yang duduk disampingnya terdiam.


"Hm, mungkin buat Nenek atau Ara. Kalo nggak buat cewek lo gitu." jawab Vira sekenanya.


Cowok itu malah tertawa, "Hmmhmm... lo kan tahu sendiri kalo gue nggak punya cewek." jawab Ari menahan senyumnya.


"Ya, kali aja punya." kata Vira mengalihkan pandangan, sibuk melihat orang yang berlalu-lalang.


"Kalo beliin buat lo, lo mau nggak?"


kening Vira berkerut. "Buat gue?" Ari mengangguk, matanya menatap mata Vira. "Terserah, kalo mau beliin." jawab Vira asal, di dalam hati ada perasaan senang bercampur gembira.


"Es Krim."


"Es Krim." melihat senyum Ari, "Bosen, yang lain dong! yang bisa dipakai terus," kata Vira menyeringai.


"Contohnya?"


Kepala Vira menunduk dan melihat gelang-gelang yang melingkar di tangannya, "Gimana kalo lo beliin gue gelang, buat nambah koleksi." jawab Vira menatap Ari yang di sebelahnya.


"Oke!"


***


"Puas banget rasanya." ujar Riva melemparkan belanjaannya ke tempat tidur yang di susul belanjaan Vira, cewek itu menghempaskan tubuhnya ke tempat yang masih ada sebagian. "Ngeliatin apa sih?" tanya Riva yang ikut bergabung dengan Vira.


"Hehehe... gue dapat gelang dari Ari." jawab cewek itu cengar-cengir, menular ke Riva juga


"Ya ampun, cuma gelang seneng banget." ujar Riva masih tiduran, ikut tersenyum.


tubuh Vira berbalik, "Habasnya, bingung mau minta dibeliin apa tadi." jawab Vira.


Riva terduduk dari tidurnya, "Serius itu Ari yang beliin bukan lo yang minta." ucap Riva yang mendapat pelototan dari Vira, nggak biasanya Ari beli barang untuk Vira kalo cewek itu yang nggak minta sendiri.


"Seriuslah, dia yang beliin ini buat gue." jawab Vira.


Kembali tiduran, "Hm, jadi udah ada perkembangan dong kalo gitu." kata Riva melirik penuh arti.


Vira berbalik menatap temannya itu, "Perkembangan apaan?" Riva senyam-senyum sendiri, melihat Vira yang mulai kepo.

__ADS_1


***


Udara dingin menusuk tulang-tulang orang yang berjalan ke area Candi Ratu Boko, Vira mempererat jaketnya agar hangat. Tatapan tajamnya mengarah ke arah Vino yang cengar-cengir menahan udara dingin yang menggigil, di sampingnya Rey yang menggosok-gosok tangannya.


"Vin, parah lo!" seru Vira yang berjalan di samping Davi yang tinggi, berharap cowok itu bisa menyalurkan kehangatan. "Ini jam berapa?" umpat Vira kesal, mempererat pelukannya kepada bantal yang ia curi dari penginapan.


Di belakangnya ada Ari yang berdiri dengan Arga, sedangkan Riva sudah berjalan menyusul Vino dan Rey. "Baru juga jam 4 pagi." kata cowok itu.


"Jam empat pagi, jidat lo!" umpat Vira jengkel, masih mending jam 4 pagi, yang bikin Vira jengkel tega banget Vino datang-datang nyeret Vira dan yang lain tepat saat mereka mulai tidur terlelap.


Davi melihat jam tangannya, "Sekarang emang jam 4 pagi, tapi lo bawa kita ke sini jam 1 pagi." tutur cowok itu. Melihat gerakan Davi yang ingin merangkul Vira, Ari maju mendekat dan mengambil cewek itu dari samping Davi. Davi menyengit melihat sikap Ari, cowok itu tiba-tiba menahan senyumnya.


***


"Hooo...hooo...!"


"Sunrise!" seru Vira yang berdiri di gapura candi, membentangkan ke dua tangannya, Ari langsung mengarahkan kameranya ke arah Vira.


Davi menyenggol Ari, cowok itu menoleh. "Sini biar gue yang ambil photo kalian." ucapnya, cowok itu mengambil kamera dari tangan Ari dan mendorong tubuh tinggi Ari mendekati Vira.


Ari berdiri samping Vira, "loh lo di sini terus yang mhotoin siapa?" tanya Vira menatap Ari yang tersenyum kecil, cowok itu menunjuk Davi yang mengotak-atik kamera milik Ari.


"Di bawa Davi yang bersedia ngambil photoin kita." jawab Ari.


Vira mengangguk, canggung.


***


"setelah ini kita mau kemana?" tanya Rey yang matanya udah sedikit merem.


"Terserah!"


"Tidur," ucap Vira yang lemas, berada di gendongan Ari. Cewek itu langsung tertidur di rumput saat mereka selesai berphoto, Ari terpaksa menggendong Vira. Sebenarnya Davi menawarkan menggendong Vira tapi Ari menggeleng. sifat posesif Ari baru terlihat akhir-akhir ini, ia akan sangat kesal jika ada cowok lain yang mendekati Vira, contoh saja Davi yang menawarkan menggendong Vira yang langsung di tolak oleh Ari.


"Ya, nanti kita mikir sambil jalan." jawab Arga. "Setelah ini nyari makan gimana?" tanya Arga setelah melihat jam di ponselnya.


"Boleh, gimana kalo gudeg." mata Rey langsung melebar.


"Jangan gudeg." jawab Vira yang masih merem, terkesan ngelindur. padahal merem tapi masih bisa nyautin omongam temen-temennya.


Semua menatap ke arah cewek itu, Ari cuma tersenyum. "Kenapa?" tanya mereka, Riva yang ada di samping Arga cuma diam sambil menahan senyum.


"Manis."


"Lha kalo manis kenapa?"


"Karena yang di sini udah ada yang manis." menunjuk dirinya sendiri, sambil tersenyum dengan mata terpejam.


Ingin rasanya Vino ngajak ribut tapi lihat Vira yang lagi K.O, nggak ada gunanya.


***


Selama perjalanan ke Yogjakarta Vira selalu bersama Ari, cowok itu seperti nggak mau kehilangan Vira dan mengikuti kemana pun cewek itu pergi.


"Yuhuu, pantai lagi!"


Ari menatap Vira tajam, "Udah, ganti baju sampai pakai sunblock kok!" jawab Vira yang melihat tatapan Ari, takut-takut. terkadang sifat Ari ke Vira bikin orang berpikiran jika keduanya adalah pasangan kekasih, tapi tidak ada yang tahu kecuali teman-teman mereka, bahwa hubungan  Ari dan Vira belum sampai ke tahap serius dan masih sebatas temen atau sahabat.


***


"Eh, iya, kereta kita berangkat jam 4." kata Riva ketika mereka makan siang.


Davi melihat jam-nya, "Tinggal 2 jam lagi." jawabnya, semua mengangguk. Rey menatap Vino yang seharian bergabung dengan dirinya dan Davi, cowok itu terlihat biasa-biasa saja setelah Fiona memutuskan balik habis mendapat kabar.


"Vin, kamu nggak apa-apa sendirian?" tanya Rey.


Yang mendapat pertanyaan melotot, "It's oky" jawab cowok itu yang kembali sibuk dengan ponselnya.


"Vino kan strong!" seru Vira penuh semangat. "Stres tak tertolong, wkwkwkwk!" tawa Vira yang disambut pelototan dari Vino, cewek satu itu hobi banget bikin Vino kesel. kalo nggak ada Ari di samping Vira udah abis cewek itu di tangan Vino, lagi pula mood Vino juga lagi nggak bagus aura yang di pancarkan gelap.


Ari memperingatkan Vino dengan tatapannya, dan mengusap kepala Vira lembut. "Udah habisin makanannya." kata Ari menyuruh Vira menghabiskan makanannya, Vino cuma bisa melirik Ari dan Vira.


***


Kereta berjalan tenang di tengah persawahan, di dalam kereta seorang cowok sedang termenung menatap luar jendela, memperlihatkan pemandangan. Satu tangan kenopang dagu-nya, angin semilir menerpa wajahnya. Membuat rambutnya terkena angin menjadi berantakan, tangan cowok itu menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya. Seorang wanita membawa nampan di kepalanya berjalan di samping tempat duduk Ari, wanita itu berhenti.


"Nasi Pecel, Den?" tanya Wanita tersebut.


Ari menoleh, ia tersenyum. Menolak secara halus, wanita itu langsung kembali berjalan menawarkan dagangan-nya kepada penumpang di dalam kereta lainnya. Kembali menatap ke arah jendela, tersenyum lebar ketika melihat anak-anak kecil berlarian di pinggir rel kereta api sambil melambaikan tangan ke arah jendela. Dengan ceria Ari membalas lambaian anak-anak kecil itu, masih dengan tersenyum.


Di sampingnya Vira tertidur pulas, sedangkan teman-temannya sibuk dengan kesibukan mereka. Tidak ada suara di dalam kereta hanya suara mesin yang berkerja, Ari meletakan kepala Vira ke bahunya. Liburan Dua hari itu mengukir kenangan diantara mereka berdua, jari-jari Ari menyingkirkan anak rambut Vira yang tertiup angin.


Rey baru kembali dari toilet dan duduk di samping Vino, "Kenapa sama muka lo?" tanya Vino mematikan ponselnya, wajah Rey tidak enak dipandang.


"Mira ngambek gara-gara gue nggak ngajak dia." jawab cowok itu


"Terus?"


"Yeah, lo tahu sendiri Mira kayak gimana?" ujar Rey menyandarkan punggung ke sandaran kursi, matanya ikut terpejam.


***


Dedaunan berguguran dengan langit mendung, berjalan di tengah guguran daun yang mulai jatuh dari pohon. Seorang cewek berhenti ketika salah satu daun jatuh di atas kepalanya, dan turun melalui helai rambut hitam-nya. Dari belakang-nya cewek lain berlari ke arahnya, kemudia memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Riva!" teriak cewek yang memeluk Riva.


"Ya ampun Vira, kaget tahu!" seru Riva menyentuh dadanya, yang dikejutkan oleh sahabatnya.


Vira menyeringai, menerima respon dari Riva. "Heeheehee... Sorry, habisnya dari jauh aku perhatiin lo bengong sih!" ucap Vira dengan senyum cerianya, perjalanan selama dua hari tidak mematahkan kecerian Vira walau hari seninnya harus berangkat ke sekolah.


"Idih, siapa juga yang bengong, lo kali." elak Riva yang gak mau di tuduh lagi ngalamun, "Bengong mikirin Ari." ujar Riva membuat mata Vira membesar.


"Riva, apaan sih!" sungut Vira. "lo tu ngelamun mikirin Arga..." balas Vira nggak mau kalah, bibir Riva manyun. sahabatnya itu tahu saja apa yang sedang dipikirkan oleh Riva, Riva memang sedang memikirkan Arga yang susah di hubungi tapi Riva mencoba mengerti dan memahami cowok itu.


Riva menyubit pipi Vira, gemas. Cewek itu cuma meringis. "Tapi bener kan!?" ucap mereka bersamaan.


"Iya, iya... Be The Wey, bawa apaan sih!?" tanya Vira merebut kertas yang di pegang Riva, dan semua berantakan terlepas dari tangan Riva kemudian tertiup angin.


"Ya ampun, Vira... Kertasnya pada terbang, jadi berantakan deh!" teriak Riva histeris.


"Oops, sorry!"


Mereka berdua berjongkok memunguti kertas-kertas yang berserakan di tanah, setelah terkumpul semua Vira menyerahkan sebagian kertas yang ia bawa kepada Riva.


"Emang itu apaan?" tanya Vira.


"Aduh! Ini kan tugas dari Pak Cipto?" kata Riva.


Vira menatap penuh tanya, "Ini kan Naskah Drama yang harus di bagiin kan." tanya Vira sambil menujuk-nujuk wajah Riva dengan jari telunjuknya.


"Iya, tapi gak usah nunjuk-nunjuk segala kenapa?" oceh Riva, menahan jari Vira yang ada di depan wajahnya.


***


"Bosen, kalo cabut boleh nggak?" tanya Vira asal di tengah pelajaran.


Cowok yang duduk di depan Vira menoleh, "Mau cari mati lo." ujar cowok itu, sedangkan Riva memutar bola matanya.


Hari ini Rey tidak masuk sekolah, mungkin karena kecapekan dan sesampai dirumah cowok itu tidak bisa bangun dari tempat tidur. Sekarang orang yang duduk di depan Vira mengisi bangku kosong Rey adalah si ketua di kelas XI IPA 3 yang menyebalkan, Niko Hamka Ibrahim.


"Riv, aku beneran bosen nih!" bisik Vira.


Kepala Riva mendongak dan melihat jam, "15 menit lagi istirahat, sabar." Riva berbisik membalas.


Pada akhirnya Vira diam sambil menunggu, dan sekali-kali Vira melihat Niko melirik ke arahnya. "Nyebelin deh!" umpat Vira berbisik. Riva melirik sebentar, "Pengen banget gue mutilasi cowok depan gue ini." kata Vira.


"Jangan sadis, nanti Ari nggak jadi naksir lo." sahut Riva.


"Eh, kalo gitu nggak jadi."


Niko berbalik dan melihat kedua cewek dibelakangnya, "Kalian bisa diam nggak!?" bentak cowok itu.


"Niko ada apa?" tanya guru di depan kelas.


Cowok itu berbalik dan tersenyum, "Tidak ada apa-apa, Bu." jawab Niko.


***


Menatap pemandangan keluar adalah salah satu pilihan Ari jika ia mulai jenuh dengan pelajaran yang mulai berlangsung hampir dua jam tersebut, lamunannya buyar ketika mendengar suara bell berbunyi.


"Baiklah, buka halaman 104-110 dan kerjakan dibuku tugas, besok pagi harus sudah ada dimeja saya sebelum jam pertama dimulai. Semuanya mengerti." kata Guru yang mengajar hari ini.


"Mengerti, Bu."


semua orang bergegas membereskan buku-buku mereka. Jenny menghampiri Ari yang masih melihat keluar jendela. "Ari, pulang sekolah jalan bareng yuk!" ajak cewek itu, "Ada kafe yang baru buka." Jenny menambahkan. Matanya melirik ke arah ke dua temannya yang menunggu di depan pintu kelas.


Ari berdiri tanpa memperdulikan cewek disamping mejanya, "Maaf, tapi hari ini gue sibuk." jawab Ari berjalan menjauh dari Jenny.


Seorang teman sekelas mereka menghampiri Jenny, "Gimana, Jen. Ari, mau ikut kita?" tanyanya kepada Jenny, cewek itu menggeleng. Memang susah untuk mengajak kapten Basket SMA mereka, apa lagi ada satu cewek yang selalu mengikuti cowok itu kemana-mana.


"Udah, mending kita ajak Vino aja? Dia kan juga nggak kalah ganteng dari Ari." usul salah satu temannya.


"Ide, bagus sekalian aja Davi." mata cewek-cewek itu berbinar.


***


"Gimana kalo lo ganti suasana?" usul Vino yang duduk dipinggir lapangan, menunggu giliran bermain.


"suasana gimana?" tanya Ari yang duduk diantara Davi dan Vino


Vino mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya, "Hm, gimana kalo lo jadi anak yang bermasalah?" Vino mengeluarkan usulnya, disamping Vino ada Davi yang menatap cowok itu kesal. "Maksud gue nggak bermasalah juga, cuma di depan Vira lo jadi cowok nyebelin dan suka nyari perhatian dia." kata Vino setengah berpikir, "Istilahnya tu badboy." ucap Vino.


Ari terdiam, "Gue kasihan lihat lo jadi Babysister tu cewek tiap hari, sekali-kali lo harus bikin si Vira jadi kesel sama lo. Jangan lo terus yang dibikin kesel." kata Vino.


"gue nggak kesel tu sama Vira."


"Lo bilang nggak kesel karena lo suka sama dia, coba lo jadi gue yang tiap ketemu sama dia, pasti kesel."


"Itu kan elo yang emang suka bikin Vira jengkel." ucap Davi yang ikut nimbrung.


Suara peluit terdengar, Davi berlari ke lapangan yang disusul Vino. "Udah deh! Percaya sama gue, ganti suasana pasti tambah asyik." kata Vino yang berlari ke tengah lapangan.


Ari terdiam memikirkan perkataan Vino tadi, tiba-tiba Davi balik ke pinggir lapangan.


"jangan dengerin Vino, Sesat." sahut Davi yang kembali lagi ke lapangan setelah mengambil ikat kepalanya.


***

__ADS_1


__ADS_2