
Panca Wiguna mengunci dirinya di dalam kamar.
Panca duduk kasurnya menyandarkan dirinya ke tembok, ia searching tentang Dewi Rara Panas.
" Dewi Rara Panas,, dia adik Roro kidul ?" Panca tercengang, mengetahui kalau Rara adalah adik Roro kidul yang menjadi Legenda Laut kidul.
" Hah,, !" memegang Keningnya, Panca Wiguna ia tidak menyangka. " Apa gue mimpi,, Iyah mungkin Gue hanya mimpi ?" Panca menampar Wajahnya sendiri.
( Plak,, ). " Ah,, sakit. Bagaimana ini ?" Panca menyandarkan dirinya lagi ke tembok namun ia salah perhitungan dan ( Dukkk,, ) Kepalanya terbentur ke tembok, " Ah,, aku sial sekali ?" mengelus-elus kepalanya yang kesakitan, Panca Wiguna berbaring lagi.
Beberapa menit kemudian Panca Wiguna ketiduran di kamarnya.
( Tok,, tok,, tok ) Dewi Rara Panas mengetuk pintu kamar Panca.
" ( Tok,, tok,, tok ). Panca,, kamu di dalam aku juga ingin masuk. Hoamm ( menguap )?" berbicara di depan pintu kamar.
" ( Menggeliat ). Siapa,, yang tengah malam ?" Panca bangun, ia menurunkan kakinya berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Tangannya meraih gagang pintu, ia membukanya ( Klakk,, ). Panca melihat Dewi Rara Panas berdiri di depan pintu dengan rambut berantakan menghalangi wajahnya.
__ADS_1
" Ah,,, hantu ?" Panca berteriak, ia terjatuh ke lantai.
Dewi Rara Panas mengangkat wajahnya dan rambut yang menutupi wajahnya ke belakang.
" Han,,, tu ?" Dewi Rara Panas menoleh ke belakang, ia melihat sekeliling Apartemen namun tidak ada siapa-siapa.
Panca bangkit, " Kamu hantu nya,, coba ngapain malam-malam mengetuk pintu dan rambut berantakan ?" Panca memarahi Dewi Rara Panas.
" Panca takut hantu,, ?" menatap, Dewi Rara Panas tersenyum.
" Aku,, aku bukannya takut Geli saja ?" Panca pergi bulu kuduknya berdiri.
" Benarkah,, apa hantu itu seram sehingga panca takut kepadanya ?" Dewi Rara Panas mengikuti Panca Wiguna masuk ke dalam kamar.
Dewi Rara Panas membaringkan tubuhnya di kasur Panca Wiguna.
" Eh,, eh. Mau ngapain kamu ?" melihat Dewi Rara Panas.
" Tidurlah,,, udah tahu aku berbaring di kasur masa mau senam ?" membentak, Dewi Rara Panas membaringkan tubuhnya lagi.
__ADS_1
" Yang benar saja dia sudah berani membentak ku?" Tercengang. " Maksudku,, kamu tidur di sana ?" Panca menunjuk ke lemari pakaiannya.
Panca berdiri, ia mengarahkan Dewi Rara Panas ke kamar baru untuknya.
" Sekarang ini kamar mu,, karena tidak selamanya kita tidur bersama ?" menatap Dewi Rara Panas.
" Kenapa,, Rara suka tidur bersama Panca ?" tersenyum.
" Wanita ini,, polos sekali. Bagaimana nanti kalau aku berani melakukan hal sesuatu kepadanya ?" Gumamnya.
" Karena kita bukan pasangan,, jadi tidak boleh tidur bersama ?" Tegasnya.
" Oh,,, kalau begitu Rara mau jadi pasangan Panca agar Rara bisa tidur sama Panca lagi ?" tersenyum lebar.
" Rara ngantuk,, Terimakasih Panca ?" Dewi Rara Panas menjijitkan kakinya " Muachhhh " Ia mencium pipi Panca Wiguna.
Dewi Rara Panas berbaring di kamar barunya dengan riang gembira, sedangkan Panca Wiguna ia terdiam tak bergerak sama sekali setelah di Cium oleh Dewi Rara Panas.
Panca menyentuh pipi bekas ciuman bibir Dewi Rara Panas, ia tak menyangka dan baru pertama kali ia di cium oleh seorang wanita.
__ADS_1
Panca Wiguna tersenyum, ia terlihat sangat bahagia meski dia baru tahu kebenaran tentang Dewi Rara Panas.
" Aku mikirin apa sih,, mana ada ?" Panca, bergumam sendiri tentang perasaannya terhadap Dewi Rara Panas.