
Tengah malam Panca Wiguna membuatkan Telur dadar untuk Dewi Rara Panas karena ia kelaparan.
Di meja makan.
Dewi Rara Panas sedang duduk menyandarkan tubuhnya ke kursi kekenyangan.
" Aku,, manggil kamu Rara saja. Bagaimana ?" menatap Rara Panas.
Rara Panas mengangguk-anggukan kepalanya, ia setuju untuk di panggil Rara Panas ( Dan bukan karena itu nulisnya panjang " Heheh " ).
Ke esokan paginya.
Panca Wiguna hendak pergi ke Kantor.
" Ini,, Aku risih melihat kamu berpakaian kayak gitu ?" Panca Wiguna memberikan sebuah baju dress short dan sepatu Kets untuk Dewi Rara Panas.
" Untuk aku ?" Dewi Rara Panas mengambil.
Panca Wiguna pergi meninggalkan Dewi Rara Panas sendirian di rumah.
Di kantor.
" Panca,, ?" Dari kejauhan Raun Gani berteriak ke arah Panca Wiguna.
" Tap,, tap,, tap " berjalan menghampiri Raun Gani.
Raun Gani merangkul pundak Panca Wiguna dan ia membisikan kata-kata ke telinganya " Jian Batari,, dia come back ?" Ucap Raun Gani, ia yang ribut dengan kedatangan Jian Batari, sedangkan Panca Wiguna dia biasa-biasa saja.
__ADS_1
" Tap,, tap,, tap " Jian Batari berjalan lenggak-lenggok memasuki Kantor Panca Wiguna dengan mengenakan pakaian berkelas dan kaca mata hitam.
Semua orang melihat ke arahnya, karena ia begitu seksi dan montok, bahkan menandingi Panca Wiguna.
Panca Wiguna dan Jian Batari saling berhadapan, Jian Batari melepaskan kaca matanya.
" Lama tak bertemu ?" Panca mengulurkan tangannya.
Jian Batari memandangi Panca Wiguna, lalu ia meraih tangan Panca Wiguna. Mereka berjabat tangan.
Raun Gani memotret momen langka Panca Wiguna dan Jian Batari.
Panca Wiguna dan Jian Batari melihat ke arah Raun Gani.
" Ups,, Maaf !" Tersenyum. " Hehehe ".
Di restoran ternama.
Panca Wiguna dan Jian Batari sedang makan malam.
Malam yang begitu indah langit malam yang cerah bintang-bintang di langit berkelap-kelip, bulan menyinari malam mereka dan satu lagi mereka di temani musik Jazz.
" Kamu,, semakin berubah ?" Ucap Panca Wiguna, memulai pembicaraan yang canggung itu.
Jian Batari diam, ia mengabaikan perkataan Panca Wiguna. Ia fokus makan dan minum.
" Kamu juga ?" Tiba-tiba Jian Batari yang selalu mengabaikan Panca Wiguna, akhirnyah ia membuka mulutnya untuk berbicara dengan Panca Wiguna.
__ADS_1
Panca Wiguna tersenyum. " Soal,, perjodohan ?" menatap Jian Batari.
Jian Batari kembali jutek, ia menatap Panca Wiguna dengan tatapan tajam.
" Bisakah,, kita tidak membahasnya malam ini karena aku enggan membicarakannya ?" Dingin.
Panca Wiguna memalingkan wajahnya ia merasa malu, kalau dirinya masih belum di terima oleh Jian Batari.
" Baik,, ?" tersenyum.
Setelah selesai makan dan berbincang-bincang, mereka hendak pulang.
" Biar aku antar kamu pulang ?" membalikan badannya melihat ke arah Jian Batari.
Jian Batari menatap Panca Wiguna " Tidak usah,, aku bisa pulang ?" terpotong.
" Kalau begitu aku bukan pria dong,, yang membiarkan wanita pulang sendiri di malam hari ?" tersenyum manis.
Jian batari menyetujui ajakan Panca Wiguna, mereka menaiki mobil bersama.
" Kring, kring,, kring " Alarm dari rumah.
" Aku lupa,, Rara pasti kelaparan lagi ?" melihat ke Handphonenya.
Jian Batari penasaran dengan apa yang membuat Panca Wiguna mengabaikannya.
" Siapa ?" bertanya-tanya.
__ADS_1
" Itu,, Saudaraku. Dia menginap di Apartemen dan aku lupa kalau dia pasti belum makan malam ?" merasa bersalah, Panca Wiguna membohongi Jian Batari tentang Dewi Rara Panas.