Cinta Dewi Rara Panas

Cinta Dewi Rara Panas
Handphone baru


__ADS_3

( Ilustrasi orang yang masih berkarir di berbagai bidang ).


Semua orang yang sibuk dengan pekerjaannya baik Aktor-aktris, Penyanyi dan sebagainya. Dalam mencapai kesuksesan seseorang rela mengabaikan kesehatan dan waktu bersama keluarga.


Akan tetapi semua itu di balas dengan senyuman orang-orang yang mereka ingin mereka bahagiakan, karena itu Kasih sayang tidak akan merubah apapun.


Panca Wiguna habis menemui Kliennya, ia pulang dengan raut wajah lesu yang kelelahan.


( Klak,, ) Sopir membukakan pintu untuk Panca Wiguna.


Sopir membungkuk memberi hormat kepada Panca Wiguna.


" Terimakasih,, ?" Panca melangkah.


" Tunggu,, Tuan ?" Sopir menghentikan langkah kaki Panca Wiguna, ia masuk ke dalam mobil dan keluar lagi mengambil sebuah kotak. " Barang,, Anda ketinggalan ?" Sopir memberikan kotak tersebut kepada Panca Wiguna.


" Oh iya,, terimakasih dua kali Bapak ?" tersenyum, Panca Wiguna melupakan hadiah untuk Dewi Rara Panas.


Panca Wiguna yang awalnya lesa-lesu, setelah mengingat bahwa dirinya akan memberikan Hadiah kenapa Dewi Rara Panas.


" Aku pulang,, ?" Suara keras, Panca memberi tahu bahwa dirinya sudah pulang.

__ADS_1


Dewi Rara Panas mendengar suara Panca Wiguna ia langsung menoleh ke arahnya. " Panca ?" Berdiri, Dewi Rara Panas menghampir Panca Wiguna.


" Kamu bawa apa,, Batagor atau Bajigur ?" Mata Dewi Rara Panas melihat ke atas seolah-olah dia sedang berpikir.


" Ini lihat aja sendiri ?" memberikan.


Dewi Rara Panas senang, ia duduk di meja makan, ia langsung membuka kotak tersebut dengan tergesa-gesa " Apa ini,, ?" menggoyangkan kotak tersebut.


" Ehh,, jangan di goyang-goyang,, sini biar aku yang bukakan ?" Panca membantu Dewi Rara Panas.


" Apa itu,, Kue kah ?" Dewi Rara Panas meraih Handphone dari tangan Panca Wiguna.


Dewi Rara Panas menggigit Handphonenya, ia pikir itu adalah makan. " Enggak enak,, ?" Dewi Rara Panas hendak melempar Handphonenya ke lantai.


( Kring,, kring,, kring ) Telepon berdering.


" Huh,, ?" Dewi Rara Panas terkejut mendengar nada dering, " Musik,, ada musikan ?" tersenyum.


Panca Wiguna menepuk keningnya sendiri, " Kenapa kau kirimkan aku seseorang yang Bodoh ?" berteriak, Panca Wiguna meratapi nasibnya yang malang.


Dewi Rara Panas mencoba menelpon ke Handphone Panca Wiguna.

__ADS_1


( Kring,, kring,, kring ) Panggilan masuk dari Rara.


" Kamu kalau mau menelpon,, itu harus dari jarak jauh ?" Ucapnya.


" Kalau begitu,, Tunggu sebentar ?" Dewi Rara Panas berlari ke Balkon Apartemen.


" Halo,, Panca. Aku Rara,, Aku mencintaimu Panca ?" Tiba-tiba Dewi Rara Panas berkata seperti itu.


Panca yang mendengarkan ia senyum jaim. " Hehehe !" ia malah sok jual mahal. " Kamu mencintaiku ?" Tersenyum sinis. " Apa buktinya ?" Panca menantang Dewi Rara Panas.


Dewi Rara Panas berpikir keras, " Bukti apa,, aku tidak tahu ?" Gumamnya. Raut wajah Dewi Rara Panas muram.


" Aku tidak tahu,, ?" Lanjutnya.


( Masih menelpon ). " Oh,, kalau begitu jangan bilang mencintaiku kalau kamu tidak punya buktinya ?" Panca mengakhiri panggilannya.


Dewi Rara Panas kecewa, ia berjalan menghampiri Panca Wiguna yang sedang duduk di meja makan.


Dewi Rara Panas melihat ke arah Panca tapi ia malah menggaruk-garuk kepalanya sendiri, dengan tatapan wajah polos.


Panca Wiguna merasa bersalah, ia membujuk Dewi Rara Panas " Besok,, mau ikut ke kantor lagi ?" menatap Dewi Rara Panas.

__ADS_1


Tersenyum, Dewi Rara Panas menghampir Panca Wiguna " Ikut,, ?" tersenyum lebar.


__ADS_2