Cinta Dewi Rara Panas

Cinta Dewi Rara Panas
Cemburu buta


__ADS_3

Pada malam yang dingin, terdengar suara televisi dan ketikan keyboard Handphone.


Rara dan Panca tak bersuara akan tetapi mereka saling melempar tatapan yang mematikan.


Suara langkah kaki menghampiri mereka berdua. ( Tap,, tap,, tap ) berjalan.


Rara menoleh " Mau kemana,, ?" ucap Rara ke Raun.


Panca ikut menoleh.


Raun mengenakan jaket " Keluar,, mencari udara segar?" Balasnya. Ia malah menatap ke arah Panca.


Panca memalingkan wajahnya setelah ia tahu kalau Raun akan pergi keluar.


" Udara segar,,?" kebingungan. " Aku mau dong ?" Raut wajah polos Rara mengatakannya dengan lantang.


" Prept,, " menahan tawa. " Hahaha " Namun Panca malah tertawa keras menertawakan Rara.


Raun ikut tersenyum mendengar pernyataan Rara.


" Kenapa kalian,, apa ada yang salah ?" Lirik sana-sini melihat ke arah Panca dan Raun.


Raun berjalan keluar pintu.


" Rara,, kamu tahu apa itu udara ?" Ucap Panca yang duduk di sebelahnya.


" Apa ?" Wajah Rara mendekat dengan Panca.


Panca mendorong kepalanya karena merasa tidak nyaman.


" Udara adalah,,, ?" menatap Rara, yang sudah menunggu penjelasan. Ia nampak antusias mendengarkan. " Eu,, Lupakan saja ?" Memalingkan wajahnya.

__ADS_1


" Kenapa ?" Terheran-heran. Rara menatap wajah Panca yang terus menghindar dari tatapan Rara.


Panca berdiri, Rara mengikutinya. Panca terus mencari menjauh dari Rara namun Rara terus menempel kepadanya.


Di Kos-kosan Dania dan Karina.


Dania sedang menggunting kuku kakinya, sedangkan Karina sedang berbaring sambil maskeran.


( Kring,, kring,, kring ) Panggilan masuk dari nomor tidak di ketahui.


" Siapa ini ?" Ucap Dania, tangannya meraih Handphonenya. " Siapa ?" Ucapannya.


Karina mendengarkan percakapan Dania.


( Di restoran { Dara } ). " Ini aku,, Dara ?" Ucapnya. " Bisakah kamu kesini,, ke restoran Saung Abi ?".


( Dania ). " Oh,, Dara !" tersenyum ke Karina. " Sekarang. Baiklah ?" Raut wajah muram.


" Siapa ?" Suara pelan karena ia takut maskeran nya gagal. Karina menanyakan siapa yang menelpon Dania.


" Jadi kamu mau pergi,, ?" Cemberut, Karina seperti tidak rela Dania pergi meninggalkan dirinya sendirian di Kosan.


" Ya,, bagaimana ?" Dania sudah siap pergi. " Aku pergi,, Bye ?" melambaikan tangannya, Dania berjalan keluar.


Beberapa saat kemudian Dania tiba di restoran yang sudah ditentukan.


( Tap,, tap,, tap ) berjalan masuk, Dania celingak-celinguk mencari Dara.


" Dania ?" Dara mengangkat tangannya, memanggil Dania.


Dania terfokuskan, ia melihat ke arah Dara berada.

__ADS_1


Dania menghampiri, namun ia seperti malu karena ada seorang Pria yang duduk di sebelah Dara.


Dara tersenyum, Pria tersebut juga tersenyum menatap Dania.


" Cantikan ?" Ucap Dara, membisikan ke Pria tersebut.


Pria tersebut, menganggukkan kepalanya.


Dania duduk di depan Dara dan di sebelah teman Pria Dara.


" Kenalkan Dania teman Aku dan Maeda ?" Dara mengarahkan.


" Namaku Lehan ?" mengulurkan tangannya.


Dania meraih tangan Lehan, " Dania ?" tersenyum.


Mereka berjabat tangan.


Lehan tersenyum, ia terus memandangi wajah Dania yang cantik.


( Tap,, tap,, tap,, ) Sura langkah kaki, menghampiri mereka.


Maeda melihat Dania dan Lehan berpegang tangan. Raut wajahnya langsung berubah.


" Maeda ?" Ucap Dara, melihat ke arah Maeda.


Begitu pula Dania dan Lehan menoleh ke arah Maeda berada.


Dania langsung melepaskan pegangan Lehan, seolah-olah ia tidak ingin di lihat oleh Maeda.


Dengan Raut wajah kesal Maeda terus menatap Dania, ia duduk di sebelah Dara.

__ADS_1


" Lehan ?" Lehan mengulurkan tangannya ke Maeda.


Maeda menatap sinis Lehan, ia bukannya menjabat tangan Lehan namun ia malah memegang sedikit ( mencolek ).


__ADS_2