
Pada malam yang dingin, terdengar suara televisi dan ketikan keyboard Handphone.
Rara dan Panca tak bersuara akan tetapi mereka saling melempar tatapan yang mematikan.
Suara langkah kaki menghampiri mereka berdua. ( Tap,, tap,, tap ) berjalan.
Rara menoleh " Mau kemana,, ?" ucap Rara ke Raun.
Panca ikut menoleh.
Raun mengenakan jaket " Keluar,, mencari udara segar?" Balasnya. Ia malah menatap ke arah Panca.
Panca memalingkan wajahnya setelah ia tahu kalau Raun akan pergi keluar.
" Udara segar,,?" kebingungan. " Aku mau dong ?" Raut wajah polos Rara mengatakannya dengan lantang.
" Prept,, " menahan tawa. " Hahaha " Namun Panca malah tertawa keras menertawakan Rara.
Raun ikut tersenyum mendengar pernyataan Rara.
" Kenapa kalian,, apa ada yang salah ?" Lirik sana-sini melihat ke arah Panca dan Raun.
Raun berjalan keluar pintu.
" Rara,, kamu tahu apa itu udara ?" Ucap Panca yang duduk di sebelahnya.
" Apa ?" Wajah Rara mendekat dengan Panca.
Panca mendorong kepalanya karena merasa tidak nyaman.
" Udara adalah,,, ?" menatap Rara, yang sudah menunggu penjelasan. Ia nampak antusias mendengarkan. " Eu,, Lupakan saja ?" Memalingkan wajahnya.
__ADS_1
" Kenapa ?" Terheran-heran. Rara menatap wajah Panca yang terus menghindar dari tatapan Rara.
Panca berdiri, Rara mengikutinya. Panca terus mencari menjauh dari Rara namun Rara terus menempel kepadanya.
Di Kos-kosan Dania dan Karina.
Dania sedang menggunting kuku kakinya, sedangkan Karina sedang berbaring sambil maskeran.
( Kring,, kring,, kring ) Panggilan masuk dari nomor tidak di ketahui.
" Siapa ini ?" Ucap Dania, tangannya meraih Handphonenya. " Siapa ?" Ucapannya.
Karina mendengarkan percakapan Dania.
( Di restoran { Dara } ). " Ini aku,, Dara ?" Ucapnya. " Bisakah kamu kesini,, ke restoran Saung Abi ?".
( Dania ). " Oh,, Dara !" tersenyum ke Karina. " Sekarang. Baiklah ?" Raut wajah muram.
" Siapa ?" Suara pelan karena ia takut maskeran nya gagal. Karina menanyakan siapa yang menelpon Dania.
" Jadi kamu mau pergi,, ?" Cemberut, Karina seperti tidak rela Dania pergi meninggalkan dirinya sendirian di Kosan.
" Ya,, bagaimana ?" Dania sudah siap pergi. " Aku pergi,, Bye ?" melambaikan tangannya, Dania berjalan keluar.
Beberapa saat kemudian Dania tiba di restoran yang sudah ditentukan.
( Tap,, tap,, tap ) berjalan masuk, Dania celingak-celinguk mencari Dara.
" Dania ?" Dara mengangkat tangannya, memanggil Dania.
Dania terfokuskan, ia melihat ke arah Dara berada.
__ADS_1
Dania menghampiri, namun ia seperti malu karena ada seorang Pria yang duduk di sebelah Dara.
Dara tersenyum, Pria tersebut juga tersenyum menatap Dania.
" Cantikan ?" Ucap Dara, membisikan ke Pria tersebut.
Pria tersebut, menganggukkan kepalanya.
Dania duduk di depan Dara dan di sebelah teman Pria Dara.
" Kenalkan Dania teman Aku dan Maeda ?" Dara mengarahkan.
" Namaku Lehan ?" mengulurkan tangannya.
Dania meraih tangan Lehan, " Dania ?" tersenyum.
Mereka berjabat tangan.
Lehan tersenyum, ia terus memandangi wajah Dania yang cantik.
( Tap,, tap,, tap,, ) Sura langkah kaki, menghampiri mereka.
Maeda melihat Dania dan Lehan berpegang tangan. Raut wajahnya langsung berubah.
" Maeda ?" Ucap Dara, melihat ke arah Maeda.
Begitu pula Dania dan Lehan menoleh ke arah Maeda berada.
Dania langsung melepaskan pegangan Lehan, seolah-olah ia tidak ingin di lihat oleh Maeda.
Dengan Raut wajah kesal Maeda terus menatap Dania, ia duduk di sebelah Dara.
__ADS_1
" Lehan ?" Lehan mengulurkan tangannya ke Maeda.
Maeda menatap sinis Lehan, ia bukannya menjabat tangan Lehan namun ia malah memegang sedikit ( mencolek ).