Cinta Dewi Rara Panas

Cinta Dewi Rara Panas
Hujan


__ADS_3

Rara merasa kesal dengan Sikap Panca kepadanya.


Di tengah pemotretan Panca menerobos masuk dan membuat sebuah orang gaduh.


" Lepaskan... ?" Berteriak.


Rara melepaskan. Ia berjalan dengan buru-buru pergi keluar dari perusahan Panca.


" Rara tunggu.. ?" Ucap Dania.


Dania yang mengikuti Rara, ia terhenti karena Cuaca yang begitu cerah tiba-tiba saja Turun Hujan sangat deras.


" Hujan.. perasaan cuaca hari ini menyatakan Cerah tak berawan !" Ucap Dania.


Dania mengulurkan tangannya seolah-olah dia menyentuh air hujan tersebut, ia terheran-heran mengapa terjadi hujan.


Panca keluar dari perusahaannya menyusul Rara.


" Dia pergi kemana ?" Tanya Panca.


Dania menunjukkan kemana Rara pergi.


" Dia ke arah sana... Maaf aku tidak bisa mengikutinya ?" menyeringai.


Panca pun pergi ke arah Rara pergi.


Marvel yang tidak mau kalah dari Panca, ia juga pergi menyusul Rara namun terhenti kan.


" Eh... mah kemana ?" Tanya Dania.


Dania memegang tangan Marvel. Ia menghentikan langkah Marvel yang hendak mengikuti Rara.

__ADS_1


" Aku mau mengejar.. !" Terpotong.


" Seorang Aktor dilarang hujan-hujanan itu tidak baik untuk kesehatan mu.. Apalagi jadwal kamu padat... itu tidak.. tidak baik?" Menyeringai.


Marvel pun tidak melanjutkannya, ia masih memandangi Panca yang menyusul Rara di hujan deras.


Rara berjalan sambil menangis di derasnya hujan, tangisan Rara begitu menyesakan dadanya.


Busana yang ia kenakannya basah kuyup. Rara terus mengusap air matanya, ia menangis tersedu-sedu.


" Rara ... ?" Panca.


Panca meraih tangan Rara, ia membalikan badannya melihat ke arahnya.


" Apa yang kamu lakukan ?" Tanya Panca.


Panca juga basah kuyup, ia bicara dengan air hujan yang terus masuk ke mulutnya.


Rara berbalik, ia hendak berjalan menghindari Panca.


" Kenapa kamu seperti ini ?" Tanya Panca.


Panca terheran-heran dengan Rara yang tiba-tiba marah kepadanya, dia berbeda dia yang selalu mengikuti dan senang jika Panca mendekatinya tapi sekarang dia bahkan membentaknya.


" Lepaskan.. ?" Nada tegas. " Aku bilang lepaskan.. kenapa kamu tidak mendengarkan aku ?" berteriak.


" Apa yang kamu katakan... aku tidak memahaminya ?" Panca membalikan badan Rara.


Rara memalingkan wajahnya.


" Kamu selalu bilang kalau aku menyukaimu kamu butuh buktinya.. Aku selalu berjuang membuktikannya tapi kamu tidak peduli sama sekali ?" Membentak.

__ADS_1


" Kalau kamu menolak ku bilang saja.. jangan membuat aku selalu berharap dengan harapan palsu yang kamu berikan ?" Lanjutnya.


Panca menyeringai.


" Kenapa... kamu tersenyum apakah ada yang lucu.. Hah ?" Ucapnya.


Panca tersenyum setelah mendengar pernyataan Rara yang cemburu terhadapnya.


" Imutnya ?" Panca mencubit pipi Rara.


Rara kebingungan, Panca malah menganggap bercanda.


" Tuh.. kamu malah bercanda ?" Cemberut.


Panca merangkul pinggang Rara dan mendekatkan nya kepadanya.


Panca mencium bibir Rara, ia memegang erat tangannya.


Rara teringat dengan perkataan Dania yang bilang.


" Kalau berciuman tanpa sengaja berarti dia tidak mencintaimu.. Tapi kalau dia mencium kamu lebih dulu berarti dia menyukaimu ?" Kata Dania.


Rara yang sangat terkejut, ia tersenyum dan perlahan-lahan ia menutup matanya.


Panca dan Rara berciuman.


" Kamu itu tambah cantik kalau sedang marah ?" Panca menggoda Rara.


" Kamu ini ?" Rara memukul dada Panca.


Di Apartemen Panca.

__ADS_1


Panca dan Rara sudah berganti baju, karena baju mereka basah kuyup.


Mereka sedang duduk menonton berduaan. Rara yang masih gugup dan malu setelah mereka berciuman begitu pula Panca yang dari tadi dia hanya diam saja.


__ADS_2