Cinta Dewi Rara Panas

Cinta Dewi Rara Panas
Ketemu lagi?


__ADS_3

Di keesokan paginya.


Di ruangan Panca.


" Raun.. ?" berteriak, Panca membuat keributan di kantornya.


Panca menelpon resepsionis untuk memanggil Raun segera menghadap ke ruangannya.


( Klakk ) membuka pintu.


Panca yang sedang duduk di kursinya, ia melambaikan tangannya memanggil Raun.


" Sini kamu ?" Sahutnya.


Panca nampak sangat marah.


" Apa ?" Suar lemah lembut.


Raun tak berani mendekati Panca, karena dia tahu penyebab Panca memanggilnya.


" Siapa yang menyuruh Dia menjadi model di perusahaan ku ?" tegasnya.


Panca melemparkan kertas yang bertuliskan sebuah perjanjian kontrak.


Raun meraih kertas tersebut, ia melihatnya sebentar.


" Ini.. bukankah ini bagus dia kan saudaramu dan bayarannya lebih murah ?" Menatap Panca.


Raun mencoba mengelak, seperti orang yang tak berdosa dia malah tersenyum.


" Murah-murah.. Kepalamu ?" Tegasnya.


Panca kembali duduk di kursi kerjanya, ia menyentuh keningnya.


Panca enggan bekerja sama dengan Marvel ( Saudaranya ), konflik antara mereka belum kunjung reda.


Raun berjalan keluar meninggalkan ruangan kerja Panca.


" Sama Saudara saja enggak mau.. Apa mau dia ?" Gumamnya.

__ADS_1


Panca masih pusing, dengan Raun yang tidak mengerti akan posisinya.


( Tok,, tok,, tok ) Jian mengetuk pintu.


" Masuk.. ?" Bersandar ke kursi.


Jian berjalan masuk, menghampiri Panca.


" Marvel sudah ada di depan.. kamu mau menemuinya sebentar ?" Tanya Jian.


" Ah.. enggak silakan kamu saja yang menemuinya ?" Panca malah mengalihkan ke orang lain.


" Kenapa dengan wajahmu ?" Tanya Jian.


" Bukan apa-apa ?" Dingin.


Jian berbalik, ia meninggalkan ruangan Panca.


Marvel dan Para-staf mulai bersiap-siap melangsungkan pemotretan.


" Maaf.. Tuan Raun model wanitanya belum kunjung datang ?" Ucap Salah satu Staf.


Marvel yang sedang di rias.


" Kenapa Marvel.. Apa kamu mencari seseorang ?" Ucap Satf-make up.


Marvel yang melihat ke arah Lain, ia terfokuskan.


" Enggak... aku cuman penasaran saja ?" Dingin.


Marvel Luis adalah seorang aktor dan model, ia sudah berkarya di usia muda ( 19 tahun ), bakat aktingnya ia memenangkan beberapa penghargaan.


Usia Panca dan Marvel tidak jauh beda, Marvel adalah Anak dari pamannya ( Adik Ayahnya Panca ).


Manager Marvel menghampiri Para staf, karena mereka tak kunjung memulai pemotretan nya.


Dari kejauhan.


" Ada apa ini ?" Celingak-celinguk.

__ADS_1


Rara penasaran ia berjalan mendekati sesi pemotretan sendirian.


" Rara mau ke mana ?" Tanya Dania.


Dania yang berada di belakang Rara bersama Karina.


" Aku mau lihat ?" Jawabnya.


Dania dan Karina menghampiri Rara, mereka bertiga melihat sesi pemotretan.


" Katanya.. Ada Aktor tampan yang menjadi model yang akan mengenakan semua desain kita ?" Dania merasa bangga.


Rara masih mengamati dengan serius.


" Benarkah.. Siapa ?" Menoleh ke arah Dania.


" Namanya Marvel Luis ?" tersenyum.


" Marvel.. ?" Raut wajah kebingungan.


Rara berpikir, ia merasa tidak asing mendengar Nama Aktor tersebut.


Marvel memulai pemotretan sendiri dulu.


( Cekrek ) Memotret.


Marvel sangat tampan dan gagah setiap mengenakan busananya, karena tubuhnya yang tinggi membuatnya semakin Sempurna.


" Lihat itu.. Marvel ?" Ucap salah satu karyawan lain.


Marvel yang memfokuskan pandangannya, ia tak sengaja melihat Rara yang sedang berdiri melihat ke arahnya.


" Dia di sini ?" Gumamnya.


Ekspresi Marvel berubah, yang tadinya dingin dan cuek setelah melihat Rara, ia menjadi orang murah senyum.


" Model wanitanya masih belum datang ?" Tanya Marvel ke Staf yang memotretnya.


" Belum.. Bahkan dia tidak menjawab telponya. ?" Jawab kameraman.

__ADS_1


__ADS_2