
Di keesokan paginya.
Di ruangan Panca.
" Raun.. ?" berteriak, Panca membuat keributan di kantornya.
Panca menelpon resepsionis untuk memanggil Raun segera menghadap ke ruangannya.
( Klakk ) membuka pintu.
Panca yang sedang duduk di kursinya, ia melambaikan tangannya memanggil Raun.
" Sini kamu ?" Sahutnya.
Panca nampak sangat marah.
" Apa ?" Suar lemah lembut.
Raun tak berani mendekati Panca, karena dia tahu penyebab Panca memanggilnya.
" Siapa yang menyuruh Dia menjadi model di perusahaan ku ?" tegasnya.
Panca melemparkan kertas yang bertuliskan sebuah perjanjian kontrak.
Raun meraih kertas tersebut, ia melihatnya sebentar.
" Ini.. bukankah ini bagus dia kan saudaramu dan bayarannya lebih murah ?" Menatap Panca.
Raun mencoba mengelak, seperti orang yang tak berdosa dia malah tersenyum.
" Murah-murah.. Kepalamu ?" Tegasnya.
Panca kembali duduk di kursi kerjanya, ia menyentuh keningnya.
Panca enggan bekerja sama dengan Marvel ( Saudaranya ), konflik antara mereka belum kunjung reda.
Raun berjalan keluar meninggalkan ruangan kerja Panca.
" Sama Saudara saja enggak mau.. Apa mau dia ?" Gumamnya.
__ADS_1
Panca masih pusing, dengan Raun yang tidak mengerti akan posisinya.
( Tok,, tok,, tok ) Jian mengetuk pintu.
" Masuk.. ?" Bersandar ke kursi.
Jian berjalan masuk, menghampiri Panca.
" Marvel sudah ada di depan.. kamu mau menemuinya sebentar ?" Tanya Jian.
" Ah.. enggak silakan kamu saja yang menemuinya ?" Panca malah mengalihkan ke orang lain.
" Kenapa dengan wajahmu ?" Tanya Jian.
" Bukan apa-apa ?" Dingin.
Jian berbalik, ia meninggalkan ruangan Panca.
Marvel dan Para-staf mulai bersiap-siap melangsungkan pemotretan.
" Maaf.. Tuan Raun model wanitanya belum kunjung datang ?" Ucap Salah satu Staf.
Marvel yang sedang di rias.
" Kenapa Marvel.. Apa kamu mencari seseorang ?" Ucap Satf-make up.
Marvel yang melihat ke arah Lain, ia terfokuskan.
" Enggak... aku cuman penasaran saja ?" Dingin.
Marvel Luis adalah seorang aktor dan model, ia sudah berkarya di usia muda ( 19 tahun ), bakat aktingnya ia memenangkan beberapa penghargaan.
Usia Panca dan Marvel tidak jauh beda, Marvel adalah Anak dari pamannya ( Adik Ayahnya Panca ).
Manager Marvel menghampiri Para staf, karena mereka tak kunjung memulai pemotretan nya.
Dari kejauhan.
" Ada apa ini ?" Celingak-celinguk.
__ADS_1
Rara penasaran ia berjalan mendekati sesi pemotretan sendirian.
" Rara mau ke mana ?" Tanya Dania.
Dania yang berada di belakang Rara bersama Karina.
" Aku mau lihat ?" Jawabnya.
Dania dan Karina menghampiri Rara, mereka bertiga melihat sesi pemotretan.
" Katanya.. Ada Aktor tampan yang menjadi model yang akan mengenakan semua desain kita ?" Dania merasa bangga.
Rara masih mengamati dengan serius.
" Benarkah.. Siapa ?" Menoleh ke arah Dania.
" Namanya Marvel Luis ?" tersenyum.
" Marvel.. ?" Raut wajah kebingungan.
Rara berpikir, ia merasa tidak asing mendengar Nama Aktor tersebut.
Marvel memulai pemotretan sendiri dulu.
( Cekrek ) Memotret.
Marvel sangat tampan dan gagah setiap mengenakan busananya, karena tubuhnya yang tinggi membuatnya semakin Sempurna.
" Lihat itu.. Marvel ?" Ucap salah satu karyawan lain.
Marvel yang memfokuskan pandangannya, ia tak sengaja melihat Rara yang sedang berdiri melihat ke arahnya.
" Dia di sini ?" Gumamnya.
Ekspresi Marvel berubah, yang tadinya dingin dan cuek setelah melihat Rara, ia menjadi orang murah senyum.
" Model wanitanya masih belum datang ?" Tanya Marvel ke Staf yang memotretnya.
" Belum.. Bahkan dia tidak menjawab telponya. ?" Jawab kameraman.
__ADS_1