Cinta Dewi Rara Panas

Cinta Dewi Rara Panas
Ya,, atau tidak


__ADS_3

Rara, Dania dan Karian mereka bertiga kembali ke tempat kerja setelah jam Istirahat.


Karian yang terkejut melihat sebuah buket bunga mawar merah yang ditaruh di atas mejanya entah oleh siapa.


Dania si kepo, ia langsung mengambil Bunga dari tangan Karina, ia mengamati bunga tersebut.


" Rara lihat,, bukankah ini misterius ?" Menunjukan ke Rara.


Rara ikut mengamati bunga tersebut, ia tak sengaja melihat sebuah kertas yang di selipkan di pinggir bunga tersebut.


" Apa ini,, ?" mengambil, Rara menunjukkan ke temannya ( Karina dan Dania ).


Karian mengambil kertas tersebut dan membukanya.


( Isi surat tersebut ). " Hai,, Karian. Semoga kamu suka dengan bunganya ?" Tertanda Misterius.


" Cie,, yang dapet bunga dari seseorang ?" Dania mencoba menggoda Karina.


Karina senyum-senyum sendirian, wajahnya yang merona ia tersipu malu.


Karian menyentuh pipinya. " Siapa,, ya ?" berpikir, Karian berharap.


" Sebentar lagi,, temanku ini akan melepas masa Jomblonya ?" Dania memeluk Karina dengan erat.


Mereka saling berpelukan. Namun Rara masih lemot ( Berpikirnya lama ).

__ADS_1


" Kenapa,, Dia mengirim bunga ?" Ucap Rara dengan tatapan wajah polosnya.


" Hahaha " Dania tertawa terbahak-bahak. " Rara,, kamu lemot sekali sih ?" Dania mencubit pipinya.


Rara merasa sakit akibat cubitan Dania, ia memegangi pipinya " Sakit,, ?" Raut wajah sedih.


Dania tersenyum, " Dia memberikan bunga ini,, mungkin ia ingin menunjukkan atau Bukti kalau dirinya menyukai Karina ?" Menatap Rara.


Rara teringat dengan perkataan Panca kalau dirinya menginginkan Bukti kalau dia mencintai Panca.


" Ah,, maksud Panca ini ?" Gumamnya, Rara Senyum-senyum sendiri.


Karina dan Dania terheran-heran melihat Rar tersenyum, mereka saling menatap satu sama lain dan menggelengkan kepalanya melihat sikap Rara yang aneh.


Setelah itu, beberapa jam kemudian mereka bekerja.


Raun berjalan dengan gagahnya, ia mendekati meja Karina Sasani.


" Hai Karina,, ?" berdiri di depan meja Karina.


Karin yang terkejut, ia langsung berdiri " Tuan Raun,, ?" membungkuk memberi hormat kepadanya.


" Karina,, maaf membuatmu terkejut ?" Suara lemah lembut, Raun Gani bersikap manis di depan Karina.


Karian celingak-celinguk melihat ke semua orang yang Se-ruangan dengannya.

__ADS_1


" Ada apa,, yang membuat Taun Raun menghampiri saya ?" Gugup, Karina merasa tertekan karen semua orang memandang ke arahnya.


" Karina,, ?" Tegas, Raun berlutut di hadapan depan Karina di hadapan semua orang. " Aku tidak bisa melupakan mu setelah Kencan Buta itu, Siang dan Malam aku terus terbayang-bayang akan wajah cantikmu ?" menunjukan. " Aku tahu,, aku orangnya jelek ( menunjukkan sebaliknya ). Aku bukan pengusaha namun aku hanyalah orang yang menginginkan yang selaku berada di sampingmu ?" Raun Gani terus menggombal.


" Sikapnya,, beda sekali kalau bersamaku ?" Gumamnya, Rara berpikir keras.


" Oh,, jadi gitu. Kalau kita menyukai seseorang harus mengungkapkannya di depan semua orang ?" Ucap nya.


Ternyata Rara terus mengamati, ia mempelajari semuanya cara mendapatkan perhatian dan balasan dari orang yang di sukai nya.


" Aku akan mencobanya nanti ?" tersenyum.


Kembali ke Karina dan Raun.


" Tuan,, orang melihat ke arah kita ?" Karina mencoba membuat Raun berdiri.


" Kamu tidak mendengarkan perkataan ku,, Jahat ?" Raun kecewa.


Karina memegang tangan Raun. " Bukan begitu ?" menahannya.


Raun tersenyum ," Ya,, atau tidak ?" Lanjutnya, detak jantung Raun berdegup kencang bukan karena ia akan di terima oleh Karina namun ia takut kalau Karina menolaknya.


Karina murung, " Maaf,, ?" menatap Raun.


Raun menghela nafasnya, ia melihat raut wajah Karina yang akan menolaknya.

__ADS_1


" Maksudku,, Ya. Aku mau ?" tersenyum.


__ADS_2