Cinta Dewi Rara Panas

Cinta Dewi Rara Panas
Macan Mengaum


__ADS_3

Dania yang di ajak Maeda Faul menemui kedua orang tuanya.


Di dalam mobil perjalanan menuju tempat yang di tentukan.


" Aku tuh cape tahu,, ?" Dania merajuk, ia pikir Maeda menjemputnya karena ia simpati kepadanya nyatanya ia malah meminta Dania menemaninya.


Maeda Faul mengelus-elus rambut Dania " Iyah,, manis sekali sih kalau ngambek?" mencubit pipi Dania, Maeda memujinya agar ia berhenti merajuk.


Mereka pun tiba di restoran yang sudah di tentukan.


Dania dan Maeda bergantian turun dari mobil, " Ayo masuk,, mereka sudah menunggu ?" Mengarahkan.


" Tap,, tap,, tap " berjalan masuk ke dalam restoran.


Kedua orang tua Maeda sudah menunggunya bersama Teman Ayahnya dan wanita ( Dara ) yang akan di jodohkan dengan Maeda.


Semua orang melihat ke arah Maeda dan Dania yang baru tiba di sana.


" Halo,, Tante dan Om ?" Dania membungkuk memberi hormat kepada kedua orang tua Maeda, Dania tersenyum ke teman Ayahnya Maeda dan Dara.


" Dania,, silakan duduk ?" Ibu Maeda menyuruh Dania duduk di sebelahnya.


Dania berjalan ke samping Ibu Maeda. Dania menatap wanita yang akan di jodohkan dengan Maeda. " Hai,, ?" tersenyum.

__ADS_1


Wanita tersebut membalas senyuman Dania. " Namaku Dara ?" mengulurkan tangannya.


" Aku Dania ?" menjabat tangan Dara.


" Dania ini teman masa kecil Maeda ?" Ucap Ibunya Maeda, memegang tangan Dania.


Dania menoleh ia tersenyum manis kepada Ibunya Maeda yang sudah lama tidak bertemu meski begitu Ibunya Maeda tidak berubah memperlakukan Dania yang seperti anaknya sendiri.


Maeda menatap Dania yang berbincang dengan Ibunya. " Jangan dekat dengan dia,, kalau marah seperti Hulk ?" Maeda meledek Dania.


" Apa,, kamu tuh sudah mendapat wanita cantik masih saja genit ?" Dania menatap Dara.


Dara tersenyum.


" Maeda ajak Dara keluar mungkin dia jenuh,, lama menunggu kamu ?" Ucap Ayah Maeda.


Dania mendengarnya terkejut. " Aku,, enggak?" Dania menatap Maeda, ia menggelengkan kepalanya menolak ajakan Maeda.


Maeda memaksa Dania untuk ikut. " Dania,, ?" suara pelan, Maeda membujuk Dania.


Dan pada akhirnya mereka pergi bertiga.


Mereka berjalan ke luar Dania dan Dara berjalan berdekatan sedangkan Maeda berada di belakangnya.

__ADS_1


" Aku iri sama kamu,, ?" Tiba-tiba Dara berkata seperti itu ke Dania.


Dania menoleh ke arahnya. " Mengapa ?" Dania bertanya-tanya. " Aku dan Maeda teman masa kecil,, tidak lebih ?" menggoyangkan tangannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Membalikan badannya menghadang Dania. " Kalau begitu,, aku nitip Maeda ?" Dara memegang tangan Dania. " Aku percayakan sama kamu ?" tersenyum.


" Baik,, aku akan mengalaminya ?" tersenyum. " Kamu jangan khawatir ?" menepuk-nepuk tangan Dara.


Dania dan Dara tertawa terbahak-bahak bersama sampai mereka mengabaikan Maeda.


" Kalian melupakan kehadiranku ?" tegas, Maeda menatap mereka dengan tatapan tajam.


Dania meledek Maeda. " Bleeee,,, !" menjulurkan lidahnya.


" Dania,, kurang ajar ?" Maeda Faul mengejar Dania.


Mereka saling mengejar-ngejar, " Hahaha" tertawa terbahak-bahak.


" Mereka sangat akrab,, tetap saja aku merasa iri melihat kedekatan mereka ?" Raut wajah sedih.


Maeda menjambak rambut Dania sampai kepalanya ikut tertarik, sangking gemesnya ia Samapi kebablasan, " Maaf,, aku tak sengaja ?" raut wajah penuh penyesalan.


" Maeda,, brengsek ?" Dania mengangakat kakinya dan melayangkan ke pantat Maeda ia menendangnya sangat keras.

__ADS_1


" Plak ", Dara yang sedang asyik duduk, ia sangat terkejut melihat Dania yang berani menendang pantat Maeda.


Maeda meloncat-loncat karena menjerit kesakitan akibat tendangan Dania yang di sebut tendangan Macan mengaum.


__ADS_2