
Dewi Rara Panas di belikan sebuah Smartphone, untuk kesehariannya dan memudahkan komunikasi.
Semalaman Dewi Rara Panas di ajarkan berbagai fitur menarik dan Semua Aplikasi sosial media.
Ke esokan harinya.
Panca berjalan ke ruang tamu, " Rara,, ?" berteriak memanggil Dewi Rara Panas.
Dewi Rara Panas berlari menghampiri Panca di ruang tamu, ia berdiri di hadapan Panca " Aku sudah siap ?" tersenyum. " Hehehe " menatap Panca Wiguna.
" Ini tas untuk kamu,, di dalamnya terdapat Kartu identitas kamu dan Id-Cart akses masuk ke kantor ku ?" memberikan.
Dewi Rara Panas menerima tas tersebut, ia memasukan Handphonenya ke dalam tas.
" Mari,, kita pergi ?" menatap Dewi Rara Panas, Panca Wiguna melangkah pergi keluar dan Dewi Rara Panas mengikutinya dari belakang.
Dewi Rara Panas menyemangati diri sendiri, lalu ia menatap ke arah Panca Wiguna dan tersenyum ke arahnya.
" Apa,, ?" Panca mengetahui kalau Dewi Rara Panas yang terus memandanginya. " Kamu sudah punya buktinya ?" menoleh ke arah Dewi Rara Panas yang duduk di sebelahnya.
Dewi Rara Panas langsung memalingkan pandangannya ke luar kaca mobil. Matanya langsung melotot karena dirinya tidak menyangka Panca akan terus menagih bukti Cintanya.
" Bagaimana ini ?" menggigit bibirnya, Dewi Rara Panas berpikir keras.
__ADS_1
" hmp,, " Panca Wiguna tersenyum melihat Dewi Rara Panas yang kebingungan.
Setibanya di kantor, dan seperti biasa Panca di sambut oleh karyawannya.
" Selamat pagi Pak ?" semua orang membungkuk memberi hormat kepada Panca Wiguna.
" Pagi !" Saut Dewi Rara Panas dengan semangat, ia tersenyum ke semua orang yang ia jumpai.
" Rara,, ?" Tersenyum, Karian berteriak dengan suara lemah memanggil Dewi Rara Panas. Begitu pula Dania yang melambaikan tangannya ke Dewi Rara Panas.
Dewi Rara Panas tersenyum, sambil berjalan ia mengedipkan matanya ke Karina dan Dania.
Akan tetapi, " Dia berkedip ke arah ku ?" Ucap Karyawan lelaki yang berdiri di sebelah Dania dan Karina.
Langkah kaki Panca Wiguna terhenti, " Rara,, Kita berpisah di sini?" Ucapnya.
" Kenapa,, aku ikut sama kamu saja ?" Tersenyum, Dewi Rara Panas menatap Panca Wiguna.
" Dia,, belum mengerti apa-apa ?" Gumamnya, Panca Wiguna tak sengaja melihat ke arah Dania dan Karina.
Panca menyentuh rambut Dewi Rara Panas " Rara,, kamu pergi ke bagian Desain interior ?" Lanjutnya. " Karina Sasani dan Dania Valina,, kemari ?" memanggil mereka berdua.
" Tap,, tap,, tap " melangkah menghampiri Panca Wiguna dan Dewi Rara Panas.
__ADS_1
Karina dan Dania membungkuk memberi hormat kepada Panca Wiguna.
" Kalian,, tolong bimbing Dewi Rara Panas sekarang dia Anggota Desain interior ?" mengarahkan.
" Baik,, ?" Serentak, Karina dan Dania tersenyum manis melihat Dewi Rara Panas.
" Tap,, tap,, tap " Suara langkah kaki menghampiri mereka berempat.
" Panca Wiguna,, ?" Ucap Jian Batari.
Mereka berempat menoleh ke arah Jian Batari, Dewi Rara Panas menatap Jian Batari begitu pula Jian Batari menatap Dewi Rara Panas, Mereka saling menatap satu sama lain.
Karena mereka pertama kali bertemu. Jian Batari memalingkan wajahnya melihat Panca Wiguna.
" Mari,, kita bicarakan di ruang kerjaku ?" Panca Mengarahkan.
Dewi Rara Panas memandangi mereka, Ia melangkah hendak mengikuti mereka berdua.
" Jangan,, ?" Dania memegangi tangan Dewi Rara Panas, ia menahan Dewi Rara Panas mengikuti mereka.
Dewi Rara Panas seperti tidak rela melihat mereka berdua, terlihat dari raut wajah yang murung.
Dania memegang tangan Dewi Rara Panas mengajaknya pergi ke Bagian Desain interior.
__ADS_1
Namun Dewi Rara Panas terus menoleh ke arah Panca Wiguna dan Jian Batari pergi.