Cinta Dewi Rara Panas

Cinta Dewi Rara Panas
Hampir saja


__ADS_3

Kala malam itu, rembulan menyinari bumi dengan cahayanya yang terang.


Raun datang ke Kosan Karina, kala itu Dania sedang pergi bersama teman-temannya.


" Silakan masuk ?" Ucap Karina dengan gugup.


Raun berjalan masuk ke dalam kosan Karina. " Hmp,, rapih juga. Kalau wanita selalu bersih ?" Raun memuji Kosan Karina yang rapih dan bersih.


Namun nyatanya tidak sesuai kenyataan, sebelum Raun datang dan sesudah ia datang.


" Hehehe " Karina tersenyum.


Raun duduk di sofa, ia mengelus-elus lututnya karena ia gugup berduaan dengan Karina tanpa seorang pun.


" Hehehe " Karina terus tersenyum bila ia melihat Raun dan begitu pula Raun.


" Kok,, aku rasa panas ya ?" Ucap Raun matanya lirik sana-sini.


" Ah,, maaf ?" Karina berdiri, " Tunggu sebentar ?" Ia berjalan, ia terhenti dan membalikkan badannya melihat ke arah Raun " Eh,, Mau minum apa Soda atau...?" menatap Raun.


" Mmm... Soda aja ?" Terpaksa tersenyum.


Karian pergi ke dapur, ia mengambil minuman untuk Raun. " Kenapa aku keceplosan.. jadi dia berpikir yang tidak-tidak ?" Karian memukul-mukul mulutnya sendiri.

__ADS_1


Ia kembali dari dapur dan menaruh Soda di depan Raun. " Ini ?" mempersilahkan, Karina duduk di sebelah Raun.


Raun meraih minumannya, namun ia membukanya terlebih dahulu. " Glek.. ( meminum ) !".


Karian tersenyum, sambil memainkan kuku jempolnya yang ia gosok-gosokkan ke jempol lain nya.


30 menit kemudian, Raun dan Karina saling diam tak mengucapkan sepatah katapun.


" Aku.. ?" Serentak, Raun dan Karian mengucapkannya bersamaan.


Karina dan Raun pun tersenyum.


Raun terpesona melihat wajah Karina yang bersinar ( terkena sinar bulan ) ketika ia tersenyum.


( Deg, deg, deg ) Denyut jantung Raun berdegup kencang.


Karina pun gugup, sampai-sampai ia berkeringat dingin.


Raun pun mencium bibir Karina, ia menidurkan Karina di sofa, mereka pun terus berciuman.


" Kenapa degan Karina, ia seperti tersetrum saja ?" Gumamnya, Raun melihat Karina terus menutup matanya dan selalu menghindar.


Suara pintu terbuka.

__ADS_1


" Maeda kurang ajar,, akan ku bunuh kamu ?" Ucap Dania yang langsung masuk ke dalam tanpa permisi lebih dulu, ia membuka sepatunya.


Raun dan Karina terkejut, mereka jadi salah tingkah, Karina membenarkan rambut dan bajunya begitu pula Raun yang duduk menjauh dari Karina.


Karina bertanya lebih dulu " Dania.. Kamu sudah pulang ?" Gugup, Karina terpaksa tersenyum.


" Iyah.. kalau bukan karena Maeda brengsek ?" Ngomel-ngomel, Dania menoleh ke arah Karina, " Raun... ( cengengesan ). Mmm.. maksudku Tuan Raun sejak kapan Anda ada di sini ?" Mata molot, Dania terkejut melihat Raun ada di kosannya, dan apalagi ia baru saja mengumpat.


" Ta.. Dari tari ?" Ucapnya gugup.


" Aku... Aku masuk dulu ke kamar ?" Tangan Dania menunjuk ke kamar.


Ia berjalan membalikan badannya dan hampir menabrak tembok.


" Awas,, ?" Ucap Karina sudah refleks berdiri.


Dania cengengesan, " Iyah,, aku tahu ?" Ia mengelus-elus temboknya, namun setelah ia melangkah ia malah memukul tembok tersebut.


Sesampainya di kamar Dania langsung mengunci pintu kamarnya, " Hah,, Apa yang mereka berdua lakukan ?" Dania langsung berpikiran negatif.


" Jangan-jangan.. ?" tersenyum. " Apa yang aku pikirkan.. Aku baru saja mengalami nasib naas ?" Ia langsung cemberut.


" Karina.. Kalau begitu aku pulang saja ?" Raun berdiri. " Besok libur kerja.. Kamu bisa istirahat sepuasnya ?" Raun menatap Karina.

__ADS_1


Karina berdiri ia mengantarkan Raun Samapi di depan Kosannya.


" Jaga dirimu ?" Raun membelai rambut Karina.


__ADS_2