Cinta Dewi Rara Panas

Cinta Dewi Rara Panas
Perasaan yang terabaikan


__ADS_3

Rara yang mendadak jadi model, ia terlihat seperti model sungguhan karena tubuhnya yang tubuhnya yang putih dan Cantik.


Marvel dan Rara sedang melakukan beberapa pose, namun Rara malah terlihat seperti robot atau seperti photo KTP ( Kartu Tanda Penduduk ).


" Bukan seperti itu.. Senyum dan lihat ke kamera ?" Ucap Staf pengarahan.


Rara pun mengikuti instruksinya, ia tersenyum dan perlahan-lahan ia menguasai panggung.


Marvel mendekatkan wajahnya dengan wajah Rara, ia menatap Rara.


Rara tertegun, ia mengedip-ngedipkan matanya karena gugup.


Marvel semakin menjelma ia terus memojokkan Rara. Bibir Rara yang Pink membuat Marvel kurang fokus.


" Deg,, deg,, deg " Denyut jantung Marvel.


Rara menatap ke arah lain, ia mencoba menghindari tatapan Marvel.


Di Ruangan Panca.


" Ayolah.. Kamu sebagai Direktur utama kurang kompeten ?" Cemberut.


Panca mengindahkan perkataan Raun. Ia terus mengetik ( menulis di komputer ).


" Panca.. ?" membentak.


Panca melirik dengan tatapan tajam, melihat Raun.


Raun pun ketakutan seperti anak Anjing.


" Ehh.. Jangan seperti itu ?" bertingkah seperti anak kecil.


Raun menyenggol pundak Panca, lalu ia menepuk-nepuk nya, seolah-olah dirinya sedang membersihkan baju Panca. dari debu.

__ADS_1


" Aish.. Debu ?" Menyeringai.


" Apa menyeringai.. malah menyeramkan ?" Sahutnya dengan nada dingin.


Raun dengan kesal, ia langsung meraih lengan Panca dan menyeretnya keluar dari Ruang kerjanya.


" Hei.. ?" membentak.


Panca terseret oleh Raun.


Terhenti, Jian melihat ke arah mereka berdua " Mau kemana ?" Tanya Jian.


" Melihat Piguran Busana kita ?" Jawab Raun.


Panca mencoba menepisnya, namun Raun malah menggenggam erat lengan Panca.


" Jian.. kita pergi.. Dah ?" Ucap Raun.


" Ngapain kita ke sini.. Aku sudah bilang !" Panca tertegun.


Panca terkejut melihat Rara dan Marvel yang berdekatan.


Raun menepatkan tangan Panca karena dirinya terkejut.


Begitu pula Jian yang baru saja tiba ia langsung melihat ke arah Panca, Jian melihat mata Panca yang terus melihat ke arah Rara dan Marvel, Jian tertegun.


" Deg.. Deg.. Deg " Denyut jantung Panca berdetak kencang.


Ia tanpa berpikir panjang, ia berjalan mendekati.


Panca meraih tangan Rara, ia hendak membawanya pergi dari tempat Pemotretan.


Rara pun menoleh, ia melihat Panca wajahnya yang kesal.

__ADS_1


Namun tak disangka Marvel juga memegang tangan Rara, sehingga kedua tangan Rara terlentang.


Marvel dan Panca saling menatap.


Rara melihat ke arah Panca dan Marvel yang salin menatap, dan memperebutkan dirinya.


" Sepertinya akan terjadi Perang Dunia ?" Sahut Raun.


Jian merasa kesal melihat Rara dekat dengan Panca tapi sekarang ia juga dekat dengan Marvel, membuatnya iri.


Jian berbalik, ia meninggalkan tempat Pemotretan dengan raut wajah tidak senang.


" Tuan Panca.. Anda tidak sopan menyerobot masuk begitu saja ?" Nada tegas.


Rara merasa tidak nyaman, ia langsung melepaskan pegangan Panca dan Marvel yang memegang tangannya.


" Lepaskan.. ?" membentak.


Panca dan Marvel terkejut.


" Kamu... ?" menatap Panca. " Jangan mengatur hidupku ?" Nada tegas.


Panca terkejut dengan perkataan Rara, ia pertama kali melihat Rara se-marah itu kepadanya.


Marvel tersenyum melihat Panca terabaikan.


" Dan kamu.. Aku bukan model, bukan artis. Maaf ?" Rara berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


Dania melihat Rara pergi, ia berjalan mengikutinya.


" Rara.. !" memanggil.


Rara berjalan tergesa-gesa, ia beberapa kali mengusap air mata.

__ADS_1


__ADS_2