
Malam yang melelahkan Maeda mengantar Dania pulang ke Apartemennya.
Mobil yang di kendarai Maeda tiba di depan Gedung Apartemen Dania.
Maeda turun dari mobil, setelah itu ia menaiki anak tangga sambil menggendong Dania.
" Kamu makan apa sih ?" Ngos-ngosan , Maeda membenarkan Dania yang semakin merosot.
" Jangan banyak bicara,, gara-gara kamu aku jadi begini ?" Tegas, mata Dania berkaca-kaca.
( Klakk,, ) membuka pintu.
( Tap,, tap,, tap ) berjalan masuk, keringat bercucuran membasahi wajah Maeda yang kelelahan menggendong Dania dari lantai 1 ke lantai 4.
Karina yang sedang duduk nonton TV . " Hahaha, bagus hajar dia ?" Ucapnya ngomong ke Tv ( Maklum korban Sinetron ).
Suara langkah kaki, Karina menoleh melihat ke sumber suara " Dania,, dia kenapa ?" Karina Sasani terkejut melihat Dania yang di gendong oleh Maeda.
" Bisakah,, kita tunda dulu berbincang-bincang nya,, Wanita ini berat sekali ?" kewalahan.
" Oh,, Maaf. Silakan ?" Karina mengarahkan Maeda menurunkan Dania di sofa.
__ADS_1
Maeda duduk, ia menyandarkan tubuhnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena ia kepanasan.
" Hareudang,, nyaho ?" ( Bahasa Sunda yang artinya " kegerahan tahu " ).
Karina berlari ke dapur mengambil segelas air minum untuk Maeda, yang murka.
Karina kembali ia berlari secepat kilat. " ini,, ?" memberikan.
Maeda meraihnya, ia meneguk minuman tersebut " Glek,, Glek,, Glek " ia sangat kehausan seperti baru saja di Padang pasir yang tandus.
Karina duduk di sebelah Dania dan mengofres benjolan di keningnya Dania. " Maeda,, kenapa begini ?" menatap Maeda.
Maeda tersenyum sinis ( keren ). " Hehehe,, dia tuh dasar ceroboh Tiang lampu jalan diembat juga ?" Maeda tertawa terbahak-bahak.
" Saat,, Aku, Dania dan Dara sedang menikmati keindahan di malam hari. Dia berlarian seperti anak kecil ?" Maeda malah tertawa " Hahaha,, aku tidak kuat masih terbayang-bayang ?" menunjuk ke Dania.
( Plak,, ) Karina spontan memukul pundak Maeda. " Hahaha,, terus ?" ucapnya mendesak Maeda untuk bercerita.
Maeda mengusap-usap pundaknya yang mulai terasa sakit " Pukulan Dania yang keras dan langsung terasa sakitnya, akan tetapi Karian yang memukul tidak keras namun Sakitnya lebih sakit dari sakit gigi ?" Gumamnya, Maeda masih memandangi Karian dan Dania membandingkan mereka berdua.
" Iyah,, sangking bodohnya dia berlarian sambil menundukkan kepalanya ke bawah dia tidak melihat ke depan dengan benar Sampai Mencium Tiang lampu jalan untungnya keningnya yang benjol coba saja kalau bibirnya ?" Maeda menahan tawanya.
__ADS_1
( Di tempat kejadian setelah Dania menabrak Tiang lampu jalan ).
Ibunya Maeda yang hendak pulang bersama Suaminya dan teman suaminya.
" Maeda,, Dania kenapa ?" Menghampiri Dania.
" Di kejedot Tiang lampu jalan,, Mah ?" tersenyum.
" Maeda antar pulang Dania dulu kasihan kepalanya pasti sakit dan agak terasa pusing ?" Ucap Ayah Maeda menyuruhnya mengantar Dania pulang.
" Dara,, maaf ya aku tinggal ?" melihat ke arah Dara yang berdiri di depannya.
" Enggak apa-apa,, lagian aku bisa pulang bersama Ayahku ?" tersenyum. " Kamu antar saja Dania kasihan dia ?" lanjutnya.
Itulah yang asal-usul di mana asal Benjolan di dahi Dania.
" Itu juga gara-gara kamu ?" Saut nya, Dania menatap Maeda dengan tatapan tajam.
Karian menepuk pundak Dania dengan lembut " Cup,, cup Anakku sayang ?" Karina menyandarkan kepala Dania ke bahunya.
" Aww,, !" Dania kesakitan karena kepalanya yang benjol tak sengaja tertekan oleh Karina.
__ADS_1
" Sorry,, ?" Karian menatap Dania yang akan menangis