
Di tempat orang-orang mencari rezeki, Raun Gani menantang dirinya beruji nyali di depan semua orang.
Raun mengungkapkan perasaannya kepada Karina, wanita yang ia jumpai di Acara Kencan Buta yang di adakan oleh teman-temannya.
Raun yang berjongkok di hadapan Karina, ia menunggu jawaban Karina atas pengakuan perasaan Raun kepadanya.
" Ya,, atau tidak ?" Wajah penuh harapan, Raun menutup matanya, ia takut kalau dirinya di tolak oleh Karina dan membuatnya malu.
Karina menjawab ungkapan perasaan Raun kepadanya, ia dengan gugup berkata.
" Maksudku,, Ya aku mau ?" Karina tersenyum.
Raun langsung membuka matanya, ia mengangkat wajahnya melihat Karina yang menatap ke arahnya.
Raun berdiri, ia memeluk Karina.
( Prok,, prok,, prok ) Semua orang bertepuk tangan, dan memuji keberanian Raun mengungkapkan perasaannya.
Rara celingak-celinguk, ia terheran-heran namun pada akhirnya ia juga ikut bertepuk tangan.
Rara tersenyum lebar melihat temannya sedang berbahagia.
" Cium,, cium,, cium !" Serentak, semua orang menyudutkan Raun dan Karina untuk berciuman.
Karina menatap Raun, ia menggelengkan kepalanya " Jangan,, ?" Suara pelan.
__ADS_1
Raun yang bersemangat ia terus nyosor, Karina memundurkan kepalanya, ia terus menolak untuk berciuman.
Raun semakin dekat dan semakin dekat.
" Apa yang kalian lakukan ?" Tegas, suara wanita yang memarahi semua orang di bagian Desain interior.
Semua orang kabur berserakan kembali bekerja, begitu pula Karina yang sedang berbahagia ia harus menerima kepahitan.
Karina langsung menundukkan kepalanya, ia melepaskan pegangan Raun.
" Siapa yang berani ?" Raun menoleh kebelakang, ia langsung menciut " Eh,, Jian sudah lama ?" Raun cengengesan, ia menggaruk-garuk kepalanya.
" Kalian tidak tahu berterima kasih sudah untung kalian di pekerjakan di sini,, tapi apa balasannya ?" Tegas, Jian terus marah-marah.
( Tap,, tap,, tap ) suara langkah kaki mendekati mereka.
" Apa yang terjadi ?" Ucap Panca berdiri di belakang Jian.
Jian menoleh, namun ia masih kesal dengan karyawan Panca yang berleha-leha dalam bekerja.
Raun yang malu, kepergok sedang mengungkapkan cintanya. Ia melihat Panca dengan raut majah melas seolah-olah dirinya meminta bantuan dari Panca.
Panca mengangguk kepalanya, ia menyuruh Raun untuk tetap diam.
Rara tersenyum, ia berdiri dan mencari objek untuk di berikan kepada Panca. Ia melihat sebuah Bunga Plastik di meja Dania.
__ADS_1
Rara mengambil bunga tersebut. " Hey,, itu milikku?" Ucap Dania.
Rara menyembuhkan Bunga di belakangnya, ia berjalan sok manis menghampiri Panca, ia tersenyum lebar melihatnya.
Panca terheran-heran dengan tingkah Rara, " Apa yang akan dia lakukan ?" Gumamnya.
Ia semakin mendekati Panca, ia bertingkah seperti anak kecil yang berjalan sambil memainkan bajunya.
Rara menyerahkan bunga tersebut sambil tersenyum.
Panca mengulurkan tangannya, mengambil bunga dari tangan Rara.
Rara menjijitkan kakinya, ia menghalangi mulutnya yang mendekati telinga Panca. Rara berkata " Ini bukti,, Aku Mencintaimu ?" Rara membisikan ke telinga Panca.
Rara melihat wajah Panca yang tersipu malu, Rara tersenyum.
Panca menundukkan kepalanya karena malu, ia langsung meraih tangan Rara dan membawanya menjauh dari Jian.
" Rara,, aku tahu kamu sangat,, sangat mencintaiku ?" menatap Rara.
Rara menganggukan kepalanya.
" Tapi,, jangan sekarang Ya. Kamu kembali bekerja ?" Panca menyuruh Rara kembali ke tempat kerjanya.
Jian menatap dengan tatapan sini, " Dasar !" Gumamnya, Jian merasa tidak senang melihat kedekatan mereka.
__ADS_1