
Dalam perjalanan pulang, Panca dan Dewi Rara Panas mereka mampir ke Festival.
Mereka sangat menikmati permainan di sana, bahkan beberapa kali mereka menaiki wahana.
Didalam wahana Romantis, Dewi Rara Panas yang selalu ingin tahu akan semua benda, ia hendak mengambil sebuah Boneka di wahana tersebut dan membuat perahu yang mereka tunggangi oleng.
" Ah,,, !" Dewi Rara Panas berteriak. " Awas ,, !" Panca menarik tangan Dewi Rara Panas.
Mereka pun berciuman.
Panca tertegun, ia terdiam menatap wajah Dewi Rara Panas.
" Bibirnya,, lembut sekali ?" Gumam Dewi Rara Panas.
Panca melepaskan, ia langsung memarahi Dewi Rara Panas " Aku bilang,, jangan main-main ?" Setelah sampai di pintu keluar, Panca turun dari perahu meninggalkan Dewi Rara Panas yang masih di perahu.
" Panca,, tunggu aku ?" Dewi Rara Panas berlarian mengikuti Panca Wiguna.
Di dalam mobil, Suasana menjadi Canggung, Panca tak bergeming sama sekali.
Menoleh " Apa aku saja yang merasa gugup saat melihatnya ?" menatap Dewi Rara Panas yang sedang melihat ke luar kaca mobil.
Dewi Rara Panas perlahan-lahan ia menoleh ke arah Panca Wiguna.
Panca Wiguna terkejut ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. " Gawat,,, ?" Detak jantungnya berdegup kencang.
" Deg,, deg,,, deg " Panca Wiguna merasa kepanasan sampai berkeringat, ia membuka Kaca mobil.
Dewi Rara Panas menoleh, ia terheran-heran dengan sikap Panca Wiguna yang bertingkah aneh. " Sejak kejadian tadi,, Panca jadi pendiam ?" menjembikan bibir bawahnya ke depan.
Sesampainya di rumah.
__ADS_1
" Aku harus kembali ke kantor ?" bicara di dalam mobil, " Jangan menunggu ku ?" tersenyum.
Dewi Rara Panas menatap Panca Wiguna " Iyah,, !" tersenyum.
" Aku pergi ?" Panca wiguna pergi.
Dewi Rara Panas masih memandangi Panca Wiguna yang semakin jauh, ia merasa kesepian karena dia di tinggal sendirian lagi di Apartemennya.
Mobil Panca Wiguna semakin tak terlihat, Dewi Rara Panas masuk ke dalam Apartemen menuju ke nomor kamarnya.
Di perjalanan.
" Pak,, berhenti di Toko Smartphone ?" Bicara ke sopir.
" Baik,, Pak ?" Mereka pun menepi.
Beberapa saat kemudian, Panca Wiguna kembali sambil membawa Smartphone.
" Jalan,, Pak ?" Ucapnya.
Di kantor Panca Wiguna yang menunjukkan pukul 16.00 ( Waktu kerja berakhir ).
" Dania,, ayo ?" Ucap Karina berdiri di depan tempat kerja Dania.
Dania yang masih berkerja " Duluan saja,, karena pekerjaan ku belum selesai ?" menatap Karina.
" Kamu yakin ?" Ucap Karina.
Karina melihat Dania sangat sibuk, " Kalau begitu aku duluan ?" tersenyum.
" Maaf,, ?" tersenyum.
__ADS_1
Dania sendirian di kantor.
Pukul 19.00.
Dania meregangkan lehernya dan tangannya. " Pegal sekali ?" masih mengetik.
" Akhirnya selesai juga ?" tersenyum lebar, Dania menyandarkan dirinya ke kursi.
Dania berkemas, dia mematikan Komputernya.
" Tap,, tap,, tap " Berjalan.
Di luar Gedung.
Dania yang berjalan seperti orang yang tak bernyawa, saat ia mengangkat kepalanya melihat ke depan. " Maeda Faul ?" Terkejut.
Maeda Faul yang menunggu Dania dari pukul 17.00-19.00 Sore.
" Aku menunggu kamu tahu ?" Ucapnya.
" Benarkah,, pasti Karina yang memberi tahu kamu ?" Menjembikan bibir bawahnya ke depan.
" Tapi,, maaf bisakah kamu temani aku menemui Kedua orang tua ku ?" memohon.
" Kedua orang tua ku ingin menjodohkan aku,, Please aku mohon ?" berharap.
Dania menangis dalam hatinya, ia sendiri enggan menolak ajakan Maeda karena dia sudah menunggunya.
" Baiklah,, ?" terpaksa tersenyum.
" Asyik ?" Maeda Faul, meraih tangan Dania dan menyeretnya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1