
Gilang yang kecapean saat tiba dirumah Gilang punk langsung masuk kamar setelah pergi menyapa Ayahnya di ruag kerjanya.
" malam Ayah aku sudah balik, sapa Gilang sambil menundukan kepalanya.
" Kamu tumbuh dengan baik disana.
kemari Ayah sangat merindukanmu", Sahut balik pak Mada sambil berdiri dari kursi kerja, dan melangkah ke depan menghampiri Gilang, langsung memeluk lembut putranya sambil memekul-mukul bahunya Gilang.
Mada mememang tegas sama Gilang namun dibalik ketegasanya dia sangat menyangi putra tunggalnya itu, walau pun Gilang belum menyadarinya. karena Gilang selalu berbeda pendapat dengan Ayahnya Dia bahkan selalu bertengkar dengan Ayahnya.
Sebenarnya Gilang menyagi Ayahnya tapi karena sikap cuek dan ketegasannya yang membuat Gilang sedikit tidak suka dengan Ayahnya. Apa lagi Gilang sebelumnya mendengar isu bahwa Ayahnya menjalin hubungan dengan sekertarisnya.
Hal itu yang membuat Gilang semakin membenci ayahnya. tapi dia pendamkan isu tersebut demi menjaga kerukunan keluarga, dan tidak ingin menyakiti hati mamanya.
Mama Gilang yang melihat dari luar pintu begitu bahagia, dia tersenyum lebar dibibirnya sudah lama dia menginginkan momen seperti ini.
" ma...kemari , sapa Mada pada Malti istirinya saat melepaskan pelukan dari Gilang. Saat
Gilang yang melihat senyuman kebahagian di mata mamanya membuatnya berfikir sejenak kalo yang digosipkan tentang ayahnya tidaklah benar.
Buktinya mamanya terlihat begitu bahagia. apalagi Ayah sama mama sudah 20 tahun menikah mana mungkin Ayah mau menghianati mamanya. Gilang memasng senyum tipis saat melihat senyuman mamanya.
" bukanya mama bahagia putra kesayangan mama sudah pulang?. bicara pelan Mada pada istrinya saat Malti sudah berdiri didepan Dia dan Gilang.
Tanpa menjawab Malti hanya tersenyum yang mengartikan bahwa dia sangat bahagia.
akhirnya ketiganya berpelukan bersama malti ditengah Gilang dan Mada memeluk dari samping kiri, kanan sambil tersenyum lebar bahagia.
Setelah berpelukan beberapa menit Gilang pamit pada mama dan papanya untuk beristirahat.
" Ma, pa. Gilang kekamar dulu ,hari ini aku sangat cape, sambil memegang lehernya.
"Ok sayang ,jangan lupa mandi dan makan sebelum tidur, sahut mama Gilang sambil memegang lengan Gilang."
"Makan malam kamu diantar keatas oleh bibi".
Kata Malti dengan suara yang sedikit keras agar didengar Gilang saat Gilang sudah melangkah keluar dari Ruang kerja papanya.
__ADS_1
" Yahh", Sahut Gilang Singkat sambil berjalan santai dengan gayanya yang memasukkan kedua tangan kesaku celana, lalu melangkah menaiki anak tangga untuk kekamarnya. Saat Gilang menaiki anak tanga di dilihat olehh seluruh asisten rumah tangga yang terpesona dengan ketampanan Gilang ada yang berbisik,
" Tuan muda Gilang sangat tampan ."
Mereka berbisik satu sama lain sambil menundukkan kepala pada Gilang sebagai tanda menghormati anak majikannya.
:
:
:
Selesainya penguburan mamanya Zalina.
Mereka pun kembali ke rumah agak malam karena Ayah Zalin sama adiknya harus menemani Zalin yang masih sedih di Pusaran Bundanya dimakamkan.
" Zalina ayo kita pulang ,ini sudah mulai malam, bisik Toy saat disamping putrinya yang masih terus menangis".
" Ya ka. Reino tahu kakak memang kehilangan Bunda ,tapi bukan kakak yang kehilangan , Reno juga sama Ayah , tapi kita harus kuat seperti Ayah.
sambung Reino adik Zalina dari samping kakanya yang terus memeluk kakanya."
" Kata Reino benar. sebenarnya yang paling sedih disini Ayah , karena dari rumah sakit sampai pemakaman Bunda. Ayah menahan sakitnya dia berusaha tegar di hadapan aku dan Reino walau aku tahu kalo hatinya pasti hancur sekali",
Zalina berbisik dalam hati sambil menatap mata Ayahnya mata yang penuh air mata dan senyuman ketegaran sambil mengelus - elus rambut Zalin dan Reino.
" Ayah maafkan Zalin karena membuat Ayah menunggu. ayo kita pulang, Ayah benar Ini bukan salah siapa-siapa ini adalah takdir dan mungkin jalan bunda seperti ini. Walau menyakitkan buat kita tapi Zalin yakin bunda sudah bahagia bersama Tuhan di surga", Kata Zalina sambil memeluk Ayah dan adiknya lalu menghapus air matanya yang menetes dipipi
Sambil berbisik dalam hati lagi,
"Bunda maafkan Zalin yang belum iklaskan Bunda ,tapi Zalin akan mencoba walau sulit,
Bunda bahagia di surga, Ayah dan Reino Zalin yang akan jaga, dan soal tabrak lari itu...."
Zalin teringat akan pesan terakhir
Bundanya,
" Zalin ... Bunda tidak tahu apakah bunda selamat atau tidak , jika tidak selamat Bunda harap kamu jangan membahayakan dirimu mencari tahu siapa yang menabrak Bunda karena itu akan menyulitkan Ayahmu dan kamu.
__ADS_1
dan juga jaga Reino da-..n Ayah.
"Bundaaa....buka matamuu.... Ehuuuu...."
Zalina menutup matanya dan mengeratkan pelukannya pada Ayahnya.
" jika itu yang diinginkan Bunda Zalina menurutinya".
Hingga akhirnya Mereka pulang kerumah.
Walau terasa suasaan berbeda di rumah karena tidak ada suara bunyi piring di dapur. namun apalah boleh buat bila ini takdir Tuhan.
Awal hari yang baru bagi Zalina. tanpa Bundanya , biasanya Bunda Zalin yang menyiapkan sarapan pagi namun sekarang itu adalah tugasnya setiap hari.
Zalina menyiapkan sarapan pagi untuk Ayah dan adiknya membangunkan Reino ke sekolah dan Ayah untuk kerja seperti yang dilakukan Ibunya. Walau Zalin merasa sangat aneh dan Ia kembali bersedih tapi dia tidak mau membuat Ayahnya sedih.
"Demi Ayah dan Reino aku harus kuat", batin Zalina saat menyiapkan sarapan pagi.
Ini juga awal yang baru bagi Gilang dia harus beradaptasi dengan suasana yang baru, sudah tiga tahun dia hidup sendiri di negri orang lain. sarapan ambil sendiri handuk ambil sendiri jika mau mandi.
Tapi sekarang suasana berbeda 100%. dari sarapan disiapkan asisten rumah, handuk sudah disiapkan dikamar mandi.
Gilang pun mulai menyesuaikan diri .
Hari demi hari keduanya melakukan hal yang sama
di mana Zalina harus bekerja lebih keras demi keluarga, menjadi pengganti mamanya ,bekerja pas hari libur sekolah sabtu dan minggu yaitu mencuci baju dan menggosok di beberapa Rumah yang membutuhkan tukang cuci sama tukang gosok. dan lebih paranya dia menjadi salah satu kariawan di kafe milik papanya Gilang. yang bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah.
Kafe dibmana bosnya itu adalah engkong tapi karena engkong sudah tua jadi dia menjual kafe miliknya itu pada Mada .
Zalina memang mengetahui Pertukaran bos namun dia tidak tahu kalo bos baru itu adalah Papanya Gilang.
Sedangkan Gilang menikmati liburannya jalan -jalan dengan nando , makan- makan di luar ,harus terpaksa mengantar Reina ke sekolah. jika diminta mamanya bermain basket di rumah Nando , menonton bioskop bersama. Gilang melakukan semua rutinitas seperti biasanya.
Tak terasa sudah tiga minggu keduanya melakukan rutinitas mereka setiap hari seperti biasanya.
*Bersambung.
__ADS_1
tingalkan jejak saat membaca🙏, terima kasih bagi yang sudah mampir🙏🙏❤*.