
Karena hari ini Nando dan Ina merayakan hari jadian mereka yang ke dua tahun berpacaran.
Ina meminta Zalina menemaninya mencari kado di mol untuk Nando.
Zalina pun mengikuti ajakan Ina. dia ingin Ina dan Nando merayakannya di kafe mereka saja agar Ia bisa menghindari Gilang yang ingin mengajak dia keluar.
" Zal menurut kamu kado apa yang bagus ya untuk Dia", ucap Ina saat keduanya sudah ada di depan mol.
" Emmn, Nando suka warna apa ?",tanya Zalina pada Ina saat mereka sudah turun dari mobil sambil duduk di depan mobil Ina.
" Dia suka warna putih, tapi aku mau membelikan dia jam tangan", seru Ina yang menatap Zalina .
" Itu juga boleh walau sederhana tapi bermakna. ayo kita masuk nanti kita cari saja di dalam", kata Zalina sambil memegang tangan Ina untuk masuk mol.
Keduanya pun masuk ke mol sambil mencari kado mana yang pas.
Di sisi lain Reina mengajak Gilang makan siang di luar sebagai rasa minta maafnya pada Gilang.
Gilang pun Menyetujuinya sekalian dia ingin membahas hal penting dengan Reina.
Keduanya makan di salah satu restoran mewah yang tidak jauh dari mol, di mana itu dekat dengan Ina dan Zalin.
"Lang kamu mau pesan apa ?",tanya Reina pada Gilang saat melihat menu makanan yang di serahkan oleh pelayan restroran padanya.
"Jus saja", jawab singkat Gilang sambil memasukkan kedua tanganya di saku jaket yang ia kenankan dengan wajah yang cuek.
" Kamu tidak pesan makanan?".
"Terserah kamu saja", sahut Gilang balik sambil menghindari tatapan Reina padanya.
"Baiklah aku yang pesan", Setelah memesan makanan Reina menatap, Gilang sambil menyimpan kedua tangannya di atas meja dan menggenggam kedua tangann Gilang.
"Gilang kamu mau bicara apa sama aku?".
" Aku sudah resmi sekolah di sekolah bangsa", kata Gilang kembali menatap Reina dengan wajah datar.
"Apa..!", Reina sedikit kaget namun dia begitu bahagia ingin rasanya dia mau berteriak kegirangan."
" Karena kita berdua sudah tunangan aku harap kita bersikap biasa saja di sekolah. oh ya kamu jangan salah paham dulu, aku pindah bukan karena kamu", Gilang menegaskan agar Reina tidak salah paham sama dia.
" Maksud kamu?", Reina mengerutkan dahinya sambil nenatap Gilang.
" Kamu mengerti maksud aku. ada seseorang yang membuat aku mau tinggal dan sekolah di Indonesia. nanti juga kamu akan tahu siapa dia", Gilang mengatakannya dengan raut wajah yang sangat serius.
" Aku sama sekali tidak mengerti maksud kamu lang?. apa jangan-jangan kamu ada pacar?", sahut Reina dengan tatapan serius tidak kalah serius dengan Gilang.
__ADS_1
" Intinta aku pindah bukan karena kamu", sahut kembali Gilang yang sedikit menyandarkan tubunya pada kepala kursi.
Reina yang mendengar perkataan Gilang ia terdiam ,matanya berkaca - kaca seakan bagaikan duri mawar yang menusuk semua jantungnya ,Ia pun menghindari tatapan Gilang dengan menatap keluar.
Suasana terdiam beberapa menit Reina yang menatap pemandangan di luar entah mengapa air matanya menetes seakan Gilang tak menggapnya sebagi tunangan. apalagi dia mendengar perkataan Gilang barusan hatinya begitu sakit
Gilang yang melihat kesedihan di wajah Reina dia pun kembali, membuka pembicaraan mereka kali ini Gilang mengalihkan pembicaraan.
" Makana sudah di meja masih mau menangis terus di sana?. ya sudah aku makan dahulu", kata Gilang sambil mengambil sendok dan garpu untuk mulai makan.
Mendengar perkataan Gilang. Reina menghapus air matanya lalu membalikan wajahnya kembali semula dan mereka pun mulai makan bersama.
•
•
•
" Zal terima kasih ya kamu sudah mau menemani aku", tatap Ina pada Zalina.
" Ya sama- sama bebku. hehehe....", Sahut Zalina pada Reina sambil merangkul kedua bahu Ina.
" Hello kata sayang hanya Nando yang berhak mengatakan",
Ina tertawa pelan sambil memeluk perut Zalina dari sampingnya.
" Ya bu Nando. aku doakan semoga kamu sama Nando langgeng sampe oma opa."
" Apa kamu bilang ?, penjaga nyamuk. jangan lari sini", Zalina lari pelan mengejar Ina dan keduanya tertawa bahagia dan berpelukan kembali.
:
:
:
" Aku antar kamu pulang, hari sudah mulai sore",
Kata Gilang pada Reina setelah keduanya makan dan berjalan-jalan sambil menemani Reina belanja di mol.
" Terima kasih lang untuk hari ini ", sahut Reina pada Gilang sambil mengengam tangan Gilang dan menuruni anakan tangga menuju lobi mol karena keduanya malas naik lift.
Saat keduanya sudah di lobi parkiran mobil, Reina tiba-tiba memeluk dari belakang Gilang saat Gilang ingin melangkah ke depan lalu berkata pelan.
" Lang. aku sangat merindukanmu. setiap detik, setiap waktu aku selalu kebayang akan berjalan bersama, menggengam tangan kamu dan hari ini semua mimpi itu menjadi nyata.
" Ren plisss lepasin", bisik Gilang pelan sambil memaksa melepaskan tangan Reina dari perutnya. namun sayang Reina semakin memeluk erat peluakanya akhirnya Gilang pun terdiam saat Reina kembali bersuara.
" Lang semakin kamu menjauh , semakin membuat aku menginkamu.
Bersamaan dengan itu Zalina dan Ina melihatnya. wajah Zalina pun berubah ,matanya sedikit di bulatkan ke depan dan tatapan Zalina begitu dalam.
__ADS_1
Seakan jantung Zalina stop detik itu juga , hatinya bagaikan disobek-sobek oleh pisau.
Terdengar sebuah musik yang kebetulan dinyanyikan oleh band band yang ada di restoran makan di mol. musik tersebut mengiringi adegan pelukan dari Gilang dan tatapan Zalina.
Aku tahu engkau
Sebenarnya tahu,
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu,
Kau sembunyikan rasa cintaku,
Dibalik topeng persahabatan yang palsu,
Kau jadikan aku kekasih bayangan..
Untuk menemani saat kau merasa sepi ,
Bertahun lamanya kujalani cinta sendiri.....
Zalin menghindari tatapannya saat Gilang melihatnya,
" Zalina!", ucap pelan Gilang dengan kaget.
" Kamu tadi sebut nama siapa?", sahut Reina .
Dengan cepat Gilang melepaskan tangan Reina dari perutnya,lalu melangkah ke depan menghampiri Zalina.
Saat Gilang melangkah Zalina menarik tangan Ina untuk pergi
namun saat Zalina melangkah Gilang memegang lengan Zalin.
"Zal. Sapa Gilang saat di samping wajah Zalina."
" Ntar malam aku jemput", sambung Gilang lalu melepaskan lengan Zalina dan melangkah pergi.
Zalin memutar tubuhbya dengan wajah yang kesal dan dahi yang berkerut. baru Zalina mau berteriak, dia melihat Reina yang menatap dengan tajam dirinya. Zalina mengurungkan niatnya dan berbalik ke barat dan melangkah kembali untuk ke mobil Reina.
" Ada apa dengan Gilang dan Zalina?", Batin Ina sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil melangkah mengikuti Zalina yang sudah pergi.
" Apa Gilang menyukai Zalina?, tapi kalo gue tanya di sini yang ada masalah tambah berabe", Batin Reina dengan wajah yang bingung saat di depan mobil Gilang.
" Ayo masuk", ucap Gilang pada Reina yang dari tadi hanya berdiri di luar pintu mobil.
" Apa gadis yang dimaksud Gilang di restoran adalah....ahh...tidak-tidak. itu tidak mungkin", batin Reina sambil mengeleng-geleng kepalanya agar tidak mengingat pertanyaan yang menurutnya konyol.
Mobil Gilang kembali dinyalakan dan di lajukan pergi meninggalkan mol tersebut sambil mengantar Reina Pulang kembali ke rumahnya.
*Jangan Lupa like, komen, dan saran
__ADS_1
kasih bintang di ceritaku ini. terima kasih bagi yang sudah mampir*.