
Malam telah tiba seperti biasa Zalina mendapatkan sift malam jadi dia bekerja dari jam 07 malam sampai jam 12 malam.
Seperti biasa Zalina mengetik pesan pada Ayahnya agar tidak menunggunya pulang.
" Malam Ayah, Zalin pulang larut jadi Ayah dan Reino jangan menunggu Zalin dan Ayah jangan lupa makan yang teratur dan minum obat sebelum tidur. Sampai ketemu besok Yah."
"Zalina sayang Ayah, Bunda, dan Reino," ketikan pesan diponsel Zalina dan dikirim ke nomor Ayahnya.
Ayah Zalin yang membaca pesanya sedikit menarik nafas dalam lalu, menghembuskan pelan saat Ia dan Reino duduk di meja makan untuk mau menyantap makanan yang ala kadarnya saja.
" Ren kita jemput kakak kamu setelah makan, kasihan Dia selalu pulang larut malam sendirian, " ucap Toy saat dia dan putra semata wayangnya sedang duduk dan makan di meja makan.
" Baik yah, tapi sebelum jemput kakak Ayah jangan lupa minum obat," Reino pun menyodorkan plastik obat di depan Ayahnya.
Keduanya pun melahap makanan yang ada di meja, tak lupa mereka menyiapkan makanan dirantang untuk di bawa sebagai bekal untuk Zalina saat keduanya pergi ke tempat kerja Zalina. Entah mengapa tiba-tiba foto keluarga jatuh dari meja yang ada di kamar Zalina.
Toy merasakan perasaan yang tidak baik lalu dia sedikit bergumang di dalam hatinya.
" Semoga keluargaku baik-baik saja Tuhan , kumohon jagalah putriku. Cukup istriku yang KAU ambil jangan lagi dengan kedua anakku," lalu Toy mengangkat foto keluarga dan di simpan kembali. Tapi sayang kaca yang ada dibingkai itu hancur dan anehnya foto Toy seperti pertanda darah yang ada difoto tersebut.
Toy pun mengangap tanda darah diwajah fotonya itu hanya sekedar noda, karena maklum foto itu sudah sangat lama di mana Zalina dan Reino masih kecil.
Ayah ayo kita pergi!" ajak Reino yang sudah memakai sepatu biasa dan jaket hitam yang dibeli Zalina dihari ulang tahunya dan tanganya yang memegang rantang makanan kakanya.
Mereka pun keluar dari pintu rumah yang sederhana itu Toy tak lupa mengunci pintu. Lalu mereka pergi menggunakan taksi karena tidak mungkin mereka jalan kaki.
Di sisi lain Gilang duduk dibalkon kamar dia mengingat kembali kejadian tadi di sekolah hati Gilang begitu merindukan Zalina dan akhirnya dia menelpon Nando untuk menemaninya bertemu dengan Zalina di salah satu kafe milik papanya itu.
__ADS_1
" Hallo...lang," suara Nando dari ponsel Gilang.
" Ya emberrr," sahut Gilang dengan panggilan ledek kesayanganya pada Nando.
" Ada apa cempreng, tumben amat lo telpon gue, lagi kangen 'ya, sama gue," tawa pecah Nando diponsel Gilang.
" Ngapain kangen lo, gila. Gue mau minta tolong temani gue ke kafe Quing, soalnya gue lagi kwatir sama Zalina setelah kejadian tadi," jelas Gilang diponsel suara Nando."
" Idihhhhhh.... malas amat gua nanti yang ada gua jadi penjaga nyamuk.
Bilang saja lo rindu dia, 'kan?"
" Mau tidak ember...?"kesal Gilang pada Nando.
" Emmm....tapi traktir gua 'ya," suara Nando sedikit meminta imbalan.
" Dasar tempat nasi....," dengus kesal Nando saat melihat panggilan suara dari Gilang dimatiin begitu saja diponselnya.
Gilang memakai kaos hitam adidas lengan panjang dan dengan celana jins putih yang sedikit sobek di lutut kirinya. Dia memakai parfum dan rambutnya yang acak-acak tapi kool dan rapi ditambah dengan anting hitam kecil ditelinga kananya.
Lalu memegang jaket hitamya ditangan saja dengan memakai sepatu mahalnya yang merah dan pergi menuruni anak tangga satu per satu hingga tiba di di lantai satu.
Gilang sadar kalo papi dan maminya lagi sibuk meeting di perusahaan, jadi dia pun keluar dengan leluasa tanpa ada halangan dari siapa pun.
Gilang menekan tombol buka kunci pada mobil sport birunya lalu dia pun keluar dari rumah yang besar itu dengan pengawalan dan penjagaan yang ketat baik dari satpam,bodyguard, atau asisten rumah tangga yang berjumblah 25 orang itu.
" Maaf Tuan muda pulang jam berapa?" tanya satpam rumah saat Gilang mau keluar dari gerbang rumah.
__ADS_1
" Aku pulang tidak terlalu malam, nanti kalo mama dan papa pulang bilangin saja aku keluar dengan teman-temanku," jawab Gilang saat menurunkan kaca jendelanya dan kembali pergi melajukan mobilnya.
:
:
Di sisi lain Reina meminta bantuan Ayahnya untuk melakukan hal kejam pada Zalina,
" Ayah aku mau Ayah perintahkan anak buah Ayah untuk melenyapkan seseorang malam ini juga , karena jika tidak bisnis kerja sama Ayah dan niat Ayah yang mau menguasai seluruh perusahaan dan kekayaan Durga Mada tidak akan tercapai," Mata Reina begitu tajam saat berdiskusi dengan Pikke Ayahnya diruang kerja Pikke.
" Apa maksud kamu?" tanya Pikke pada putrinya dengan alis yang terangkat sedikit.
" Ayah ini wanita yang disukai Gilang Mada. Gilang sangat menyukai gadis ini. Gadis ini adalah anak seorang pemulung , kumohon Ayah lenyapkan dia karena aku membencinya sangat membencinya," Reina pun menangis di depan Ayahnya saat menunjukkan foto Zalina pada Pikke dan mengingat kejadian tadi siang .
Hati Reina seperti disobek-sobek oleh pisau atau beling-beling pecahan kaca.
Reina pun menceritakan semua kejadian selama satu bulan di sekolah dari sikap Gilang padanya, Zalina , dan kejadian pertengkaran Gilang dan Niko karena Zalina.
Pikke yang mendengar semua cerita dari putrinya meramas jari jemarinya kuat dan matanya menatap tajam foto Zalina lalu membuka suara kembali setelah beberapa detik Dia diam mendengar penjelasan Reina.
" kamu adalah putri terhormat Irwan Pikke dan gadis yang cantik jika kamu sedih maka Ayah juga sedih Apa yang Kamu inginkan akan Ayah turuti selam itu menyangkut kehormatan kamu."
" Zalina........ putri TAMATLAH kamu karena sudah menyakiti hati putriku," bisik Pikke dengan keras dalam hatinya lalu meramas foto Zalina yabg ada pada genggamanya.
Pikke melangkah mendekati Reina lalu memeluknya pelan sambil mengelus rambut putrinya itu dengan lembut tapi matanya
dupenuhi dengan emosi yang membara.
__ADS_1
Bersambung.