
Satu minggu kemudian dimana Gilang dibebaskan Ayahnya dari kurungan kamar. Terasa membosankan bagi Gilang selama satu minggu hanya memegang ponsel, bermain game di komputer memain Gitar, duduk dibalkon dan sisanya mencari informasi tentang kecelakaan Jian lewat surat-surat kabar.
" Akhirnya bisa bebas juga, " ucap Gilang.
Sambil mengangkat kedua tanganya keatas dan menghirup udara segar, saat dirinya sudah siap-siap mau kesekolah yang sudah disiapin mobil dan supir pribadi.
" Loh ko bapak yang antar? dimana kunci mobil pribadiku?" tanya Gilang yang kaget karena melihat mobil pribadinya yang tidak ada di depan halaman rumah.
" Mulai sekarang kamu pulang pergi diantar oleh supir, mau ke mana pun kamu pergi diantar oleh driver, " tegas Mada pada Gilang yang dari tadi berdebat dengan supir.
Saat melihat kunci mobil pribadinya disita, dan diganti dengan salah satu mobil mewah milik papanya.
" Tapi pak, Gilang..."
"Tidak ada tapi-tapi, pak Mamat tolong diantar dia jika dia menolak tinggalkan dia di jalan dan balik kembali kerumah."
Tambah Mada lalu pergi meninggalkan Gilang yang masih kesal dengan sikap papanya.
Ia pun masuk di mobil mewahnya yang satu, yang berbeda dengan Gilang lalu pergi meninggalkan Gilang.
Dengan terpaksa Gilang pergi.
Saat melangkah mau masuk Gilang sempat melihat Malti dari lantai dua dan Malti hanya memberi kode bahwa ikuti saja aturan papa.
••••••
Suasana sekolah masih sama seperti biasanya Gilang, yang turun dari mobil dengan wajah sedikit kesal disambut hangat oleh Nando dan Tomy yang menunggunya di parkiran motor dan mobil yang ada di area sekolah.
"Kenapa muka lo kaya manusia hantu gitu?" ledek Nando saat melihat wajah Gilang yang kusut.
" Nan....bukan manusia hantu tapi wajah animasi..., " tambah Tomy saat keduanya sama-sama tertawa lepas dan memeluk Gilang dari samping kiri dan kanan.
" Tau.... Sotoy lo berdua, " ucap cuek Gilang lalu pergi. Meninggalkan kedua temanya.
Nando dan Tomy hanya tersenyum lalu, mereka melangkah mengikuti Gilang ke ruang rahasia yang ada di area sekolah. Disana sudah ditunggu Niko yang diundang Gilang karena mereka ingin mencari tahu penyebab kecelakaan Jian.
Gilang masuk ke dalam ruangan itu, ia pun meletakkan tasnya dan langsung disapa sama Niko dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
" Ada apa kamu ajak aku ketemuan di ruangan yang buruk ini? lo kalo mau cari masalah sama gue jangan sembunyi-sembunyi langsung di tempat umum, ucap Niko dengan
tatapan tajam dan sangat kesal pada Gilang.
" Bentar lagi bakal perang ketiga Tom, " bisik Nando pada Tomy saat keduanya melihat tatapan tajam baik dari Gilang atau pun Niko.
Gilang ya g menahan emosinya, langsung berkata to the point sama Niko. " Kalo bukan karena kasus Jian gue juga malas kali mau ketemu sama lo, " sahut Gilang dengan nada tidak terima atas perkataan Niko.
"Sudah- sudah, kalian berdua kalo satu hari saja jangan berantam tidak bisa. "
" Lagian mau tidak kasus kejahatan ini terungkap?" ucap Nando dibalik pintu yang dari tadi dengan Tomy memperhatikan sikap keduanya yang saling menyahut satu sama lain.
" Kerja sama saja juga butuh waktu yang lama, bagaimana kita mengungkapkan kejahatan Itu, " jelas Nando dengan melangkah menyimpan tasnya dekat dengan tas Gilang yang ada di meja.
" Buang ego lo berdua, jika ingin misi kita ini berhasil, " tambah Tomy lalu ia dan Nando melempar pandangan satu sama lain dan bersama -sama menyahut.
" Seperti kita berdua, " Nando dan Tomy saling merangkul satu sama lain dan tersenyum miring-miring dibibir masing-masing. Lalu mengedipkan mata masing-masing seperti seorang inces-inces.
" MALAS banget, " sahutan bersamaan dari Gilang dan Niko yang sedikit jijik dengan sikap kedua temanya itu.
Gilang pun mulai berbicara pada Niko sambil berdiri menunjuk foto Jian, Ibunya Zalina dan kasus bom bunuh diri diri salah satu preman yang sengaja membunuh Zalina, namun salah dan yang terkena adalah Ayah Zalina.
" Gue hanya minta penjelasan lo tentang Jian, sebelum ia mengalami kecelakaan bukan mau cari masalah dengan lo, " ucap Gilang mulai mengintrogasi Niko dan tatapanya pada Niko. Memang berbeda sedikit. Niko yang dari tadi diam memperhatikan semua penjelasan Gilang dengan foto-foto itu pelan-pelan mengangukan kepala dan mulai perkataanya.
" Ok. Kalo itu menyangkut tentang kecelakaan Jian maka aku akan senang hati membantu, menemukan kasus pembunuhan ini. "
" Gue akan cerita sebelum meninggalnya Jian. Niko mulai menceritakan semua kejadiam empat tahun lalu pada Gilang, Nando dan Tomy, ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan pelan-pelan dan ia mulai menceritakan cerita ini walau hatinya sakit jika mengingat kembali semua kejadian itu.
" Jian adalah sahabat aku sejak kecil, kami sudah saling kenal satu sama lain sejak kecil, gue yakin lo pasti kaget dengan cerita gue Gilang, tapi itulah yang sebenarnya terjadi, " ucap Niko yang melihat ekspresi kaget dari wajah Gilang.
Yang sangat serius mendengar ceritanya dan ia pun melanjutkan kembali ceritanya.
" Jian sebenarnya sangat mencintai lo Gilang, dan soal yang lo lihat dihari ulang tahunnya.
itu hanyalah rekayasa dari gue dan Jian."
" Yang sengaja melakukan semua itu, lo jangan berkata dulu sebelum gue bercerita selesai, " pinta Niko yang melihat mulut Gilang sudah mulai terbuka untuk bertanya.
__ADS_1
" Baiklah lanjutkan, " jawab kesal Gilang. Sambil merapatkan sedikit mulutnya dengan dahi yang kerut.
" Gue langsung saja keintinya, sebelum Jian putus hubungannya dengan lo, dia bercerita ke gue kalo dia diancam oleh seorang lelaki tua yang mengatakan menjauhi diri dari lo, Jian menolak namun Lelaki tua itu berkata bahwa jika Jian tidak menjauhi kamu maka dia akan menghancurkan keluarga Jian. "
" San lo sendiri tau siapa kedua orang tua Jian, mereka hanyalah guru magang di sekolah dasar. Teror pun selalu datang menghantui keluarga Jian selama beberapa malam terakhir sebelum Jian meninggal. "
" Gue sempat tanya siapa lelaki yang mengancam Jian, Gue pikir.... sorry Gilang, itu Ayah lo namun Jian berkata kalo itu bukan Ayah lo. "
" Setiap malam dia hanya menangis, karena merasa bersalah sama lo, apa lagi saat lo membilokir semua tentang dirinya dari akun sosmed lo, dan ini yang paling menyedihkan sehari sebelum meninggal. Jian mendapat sms dari nomor yang tidak kenal yang mengatakan itu diri lo Gilang. "
" Dalam sms itu nomor itu mengatakan bahwa lo, mengajaknya ketemuan di sebuah terowongan jembatan. Karena keras kepala dan cinta tulusnya pada lo, dia pergi ke terowongan itu namun dia tidak tahu kalo itu adalah takdir terakhir ia. "
" Gue sempat hubungi lo karena ingin bertanya, kenapa Jian belum pulang padahal sudah pukul 12. 00 WIB. "
" Gue diberitahu oleh Orang tua Jian yang sangat kwatir dengan Jian. Tapi lo tidak angkat karena lo lagi sibuk dengan pertunangan Lo. "
Bersamaan dengan itu kami , dikabarkan dari pihak penemu sebuah mobil yang hangus, karena kecelakaan lewat berita di tv, dan plat mobil itu sama dengan plat mobil Jian. "
" Saat itu kedua orang tua Jian sangat terpukul, berharap apa yang dilihat di tv bukanlah Jian. Namun telpon masuk dari pihak pemadam kebakaran yang mengatakan bahwa mereka menemukan gadis bernama lengkap Jian larasati dan sopirnya yang terbakar dalam mobil tersebut. Karena mereka menemukan kartu tanda penduduk (ktp) stegah hangus. "
" Akhirnya kami pergi namun sayang, Jasad Jian hangus total dalam kecelakaan mobil yang tersisa hanyalah sepatu dan tasnya saja. Bersamaan dengan sopir pribadinya. "
Niko menyelesaikan perkataannya dan ia mulai menangis dan berlutut dengan kedua lutunya di lantai.
"Huuuu....huuu..., jika dia tidak memaksa diri pergi menemui lo mungkin dia tidak akan mengalami kecelakaan itu. Ayah dan bundanya meminta pada polisi untuk mencari tahu penyebab kecelakaan Jian, dengan sopirnya di dekat jurang jembatan itu namun sampai sekarang hingga kasus itu ditutup penyebab kecelakaan itu belum terungkap."
Bersambung.
Cast pemeran Niko.
Cast pemeran Nando.
Cast pemeran Tomy.
__ADS_1