CINTA GILANG

CINTA GILANG
Cinta pertama Gilang~ cinta Gilang.


__ADS_3

Dalam pelukan Pikke dengan Reina, Pikke menggingat kembali semua kejahatan masa lalunya, dimana dia membunuh seorang gadis yang sangat dicintai Gilang dan dekat dengan Gilang.


Pikke melenyapkan gadis cantik yang berambut panjang ,tubuh yang kecil dan ramping serta mata yang berbinar disebuah terowongam jembatan disebuah pondok. hingga sekarang tidak ada yang mengetahui penyebab kematian gadis itu.


Jian laras cinta pertama Gilang namun Gilang belum mengetahui kalo Jian telah tiada didunia ini lagi dia telah pergi untuk selama-lamanya.


kasus pembunuhan empat tahun kini akan terjadi lagi pada diri Zalina putri.


Pikke masih ingat wajah gadis itu dimana sebelum dibunuh dia diperkosa oleh Irwan dan bergantian dengan anak buahnya.


" Tolong jangan lakukan ini pak saya, mohon...," tangisan Jian saat Irwan merobek dress putih yang dia kenakanya dengan menelanjangkan tubuhnya yang hanya tertinggal dengan bra coklat dan dalaman coklat.


" Tubuh kamu tidak terlalu bagus tapi sangat disayangkan jika aku tidak mengambil perawan kamu," bisik Irwan dengan nafsu bejat bajinganya itu hingga akhirnaya ia memperkosa Jian dengan leluasa. dan menyuruh keenam anak buahnya ikut merasakan tubuh Jian yang malang setelah dirinya.


Melihat gadis itu sudah lemah dan masih menangis dengan air mata


Irwan melakukan aksi kejahatanya mencekram leher gadis itu dengan telapak tanganya membuat gadis itu berteriak namun Pikke tetap mencekik leher Jian hinga rontaian dari tangan Jian melemah dan Gadis itu meninggal akibat cekikan tangan irwan pada leher Jian.


Lalu mereka membawa mayat gadis itu kembali ke mobil di mana di sana ada mayat supir Jian,


dan di mana mobil itu sudah dilengkapi bom yang sudah berjalan sejak tadi dan kini hitungan sepuluh menit pada bom mobil itu terbakar dan hangus dengan mayat Jian dan supir di dalamnya.


PIKKE menutup matanya lalu membuka kembali kedua kelopak matanya itu dan nafsu pembunuhan terlintas kembali dipikiranya . yang dipenuhi dengan pembunuhan pada Zalina. Pikke sms ke keenam anak buahnya untuk melakukan pembunuhan pada Zalina di terowongan tersebut sama seperti yang dilakukan empat tahun lalu.


" Pergi sekarang juga ke kafe Qiung dan lakukan pelenyapan pada gadis yang ada di gambar ini, malam ini juga dan jangan lupa jejek pembunuhan harus diteliti sebijak mungkin jangan sampai ketahuan,"


ketika pesan pada ponsel pikke lalu dikirim ke salah satu bos preman pembunuhan.


Karena Toy dan Reino tidak diijinkan masuk melihat Zalina oleh satpam maka mereka terpaksa menunggu Zalina di luar sampai pulang.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 wib. Zalina sudah selesai bekerja tiba saatnya dia harus pulang tak lupa Zalina memeriksa kembali setiap pekerjaanya mulai dari menata piring di dapur, kebersihan dapur dan semua meja dan kursi pelanggan yang sudah ia bersihkan dan rapikan.


Zalina pun pergi berpamitan pada kepala pelayan untuk pulang karena pelayan dapur yang mengganti tugasnya sudah datang.


setelah berpamitan Zalina langsung pulang ia melangkah ke luar dari pintu kafe dan ia melihat kedua sosok yang tidak asing baginya.


" Ayah...,"


kaget Zalina dalam hati.


Zalina langsung melangkah ke depan menghampiri Toy dan Reino yang sudah ketiduran di pundak kiri Ayahnya saat keduanya duduk di salah satu pohon besar yang sudah disediakan kursi bagi yang mau menunggu disana.

__ADS_1


" Ayah...panggil Zalina.


Ayah lagi ngapain disini ko ngak bilang sama Zalin," tanya Zalina pada Ayahnya.


" Ayah sama Reino kasihan kamu karena pulang larut malam, jadi kami berdua memutuskan untuk menjemput kamu," Toy berkata sambil berdiri saat melihat putrinya yang sudah ada di hadapannya.


Zalina pun merasa kasihan pada Toy dan Reino akhirnya Zalina membangunkan Reino yang sudah ketiduran untuk bergegas pulang kembali ke rumah mereka.


karena sudah malam jalanan sudah mulai sepi taksi atau pun angkot jarang terlihat mereka memutuskan untuk berjalan anggap saja olah raga malam.


Zalina yang berjalan dengan ayah dan adiknya merasakan bahwa ada yang sedang mengikuti mereka namun saat ia melihat ke belakang tidak ada siapa-siapa.


" Ayah sama Reino merasakan sesuatu tidak?" tanya Zalin saat merasakan keganjilan dihatinya.


" Tidak. Mungkin cuma perasaan kakak, maklum ini, 'kan sudah malam jadi kakak takut," Reino berkata sejenak dan sedikit tawa ledek karena melihat ketakutan pada mata kakaknya.


" Sudahh....Zal.


Tdak ada apa-apa ayo kita lanjutkan perjalan kita semoga saja diperempatan ada taksi atau angkot yang lewat."


Karena perjalanan mereka cukup jauh Zalina berjalan di belakang ayah dan adiknya sambil terus was-was tiba-tiba.... datanglah sosok enam orang yang sudah memakai serba hitam dan wajah mereka ditutupi.


Saat Zalin baru berbalik mulutnya dibekam oleh sebuah tangan dan kepalanya ditupi dengan kain hitam Zalina yang mau berteriak tapi, sayang suaranya tidak kedengaran. Reino yang berbalik mau melihat kakaknya namun kakaknya sudah dibawa oleh segerombolan orang ke dalam sebuah mobil Reino, berterika memanggil kakanya dan ayahnya pun ikut kaget saat keduanya berusaha malah mereka kehilangan jejak.


" Paman....!" sebutan Gilang yang datang menghampiri Toy dan Reino.


"Ada apa paman? 'ko paman sma Reino menangis?" bingung Gilang.


" Zalina diculik oleh segerombolan orang yang entah siapa tolong selamatkan putriku nak Gilang," mohon Toy pada Gilang dan Nando.


" diculikk? 'ko bisa paman?" tanya Gilang bingung.


Namun setelah beberapa lama Gilang mengingat kembali kejadian tadi siang dan mungkin saja Niko berulah lagi.


TOY kembali menceritakan Semua kejadian dari awal hingga akhir Gilang pun mengajak Toy dan Reino untuk mengikuti mobil tersebut tak lupa Gilang menelpon anak buah Ayahnya untuk membantunya.


" Tolongg....lepaskan saya...!" teriak Zalina saat sadar dari pingsan dan dirinya sudah ada disebuah mobil yang sudah dikelilingi pria -pria yang bertubuh kekar.


" Saya mau di bawa ke mana pa....?" Zalina kembali bertanya namun tetap tidak jawab oleh mereka.


Di belakang mobil mereka sudah diikuti sepuluh mobil mewah serbah hitam yang berangotakan empat orang di masing- masing mobil.

__ADS_1


Mereka adalah anak buah Papa Gilang sedangkan Gilang sudah lebih dulu menahan mobil anak buah Pikke dari depan dengan cara mobilnya di halang di depan mobil anak buah PIkke dan dibelakang samping sudah dikelilingi oleh anak buah Papanya Gilang.


Yah memang anak buah Mada ada di mana-mana dalam dua puluh lima menit mereka sudah siap siaga membantu Gilang putra tunggal bos mereka.


Karena ketakutan maka anak buah Pikke memberikan peringatan pada Gilang bahwa mereka akan melepaskan Zalina asalkan Gilang membuka jalan bagi mereka jika tidak maka nyawa Zalina dalam bahaya.


Demi Zalina Gilang memrintahkan anak buah papanya sedikit mundur dan semuanya berjalan sesuai perintah mereka saat Zalina dilepaskan turun dari mobil dia masih diancam oleh salah satu anggota anak buah Pikke.


" Jauhi Gilang jika tidak maka keluargamu dalam bahaya!" bisik lelaki yang berbadan kekar dikuping Zalina dengan matanya menatap tajam ke depan sedangkan bibirnya tersenyum miring.


Lalu Zalina diturunka dari mobil hal tak terduga terjadi sebelum mereka pergi. Saat Zalina turun dari mobil


Dia lari memeluk ayahnya dengan erat dan tangisan. " Ayah...," teriak Zalina dan memeluk Ayahnya dari depan.


"Upppppp.....Zal....na,"


suara Toy terbata-bata saat ia merasakan kesakitan dan matanya sudah berputar tidak bisa melihat jelas.


" Ayah.... Reino berteriak saat melihat darah keluar dari tubuh ayahnya. Kakak ayah ditikam,"


tangis Reino pun pecah saat melihat lelaki itu menarik benda tajam dari perutnya Toy.


" Paman...,"Gilang menghampiri Toy yang sudah terjatuh di aspal jalanan dengan kedua tanganya memegang perut yabg sudah berdarah.


" Uhuuhh..... ,"serak suara tangisan Reino.


"Ay...ahh....!" Zalina pun menangis saat melihat Toy yang tersunggkur di aspal jalanan dan tanganya memegang perut yang bedarah.


" Ahhhh tidak....Ayah jangan ahhhhh....uhh...."


" Tolonggg lakukan sesuatu," teriak Zalina lagi dengan deraiaan air mata dan suara yang bergememtar, serta semua tubuhnya gementar saat memegang perut Toy dengan kedua tanganya saat Zalina menahan kepala Toy dengan tumpuan pangkuanya.


Suasana semakin tegang saat Ayah Zalina pingsan dan pria yang menikamnya membom dirinya sendiri dengan bom dihadapan Gilang Zalina, Nando dan yang lainya .


" Lang. Biar gue yang urus sekarang lo antar Ayah Zalin ke rumah sakit," teriak Nando saat ia melihat kondisi ayah Zalin yang semakin lemah ditambah lagi bom pelaku itu. Dan kebakaran tubuh pria tersebut.


" Ok. Thanks Nand.


Lo hati-hati ya," ucap Gilang pada Nando .


" Kalo ada apa- apa kabari aku," tambah Gilang lagi.

__ADS_1


Gilang,Nando dan empat pengawalnya mengedong Toy yang sudah pingsan untuk dibawa kerumah sakit dan dikuti oleh Zalina dan Reino.


Bersambung.


__ADS_2