
Niko yang selesai bercerita tentang kasusus Jian langsung menangis dengan keras. Gilang mendengar ucapan Niko terdiam sebentar kemudian Ia kembali memulai percakapan.
" Jika bukan ayahku yang mengancam Jian, maka hanya satu orang yang kita curigai, " kata Gilang sambil menatap ke Nando, dan Tomy.
" Apa kalian sepemikiran dengan aku? " tanya Jian pada Nando dan Tomy.
" IRWAN PIKKE.... " suara serentak dari Gilang, Nando, dan Tomy. Benar sekali karena hanya dia yang mampu menutup kasus ini sesuai kehendaknya.
" Karena dia adalah seorang pengacara," tambah Gilang.
Kecurigaan Gilang makin menjadi setelah mereka mengaitkan kasus Jian dengan kasus Ayahnya Zalina.
Mereka pun mulai berdiskusi satu sama lain untuk memulai aksi mereka sedangkan Niko hanya mengikuti perintah dari Gilang.
" Tunggu dulu kenapa Ayahnya Reina? Gilang apa kamu yakin?" tanya Niko.
" Gue kurang yakin, tapi kita cari tahu dulu, " jawab Gilang sambil menatap Niko.
"Entah apa tujuanya kita harus mencari tahu soal itu, "tambah Gilang lagi.
Setelaha tiga puluh menit mereka berdiskusi, mereka pun pergi kembali ke kelas, Gilang sudah tidak sabar ingin melihat Zalina sebelum pergi.
Gilang meminta mata-matanya yaitu dua orang anak buahnya mencari tahu tentang informasi keluarga Pikke, dan semua gerak-gerik Pikke lewat chatan wa. Lalu Gilang pun memberitahu pada Niko dan kedua temanya bahwa semua sudah beres.
Kini mereka hanya bisa menunggu informasi dari kedua mata-mata tersebut. Dan mereka pun pergi tak lupa mereka mengunci kembali ruangan tersebut.
" Gue rasa Gilang benaran serius sama lo, " kata Ina sama Zalina saat keduanya duduk di kelas.
" Hem Na, gue lagi malas bahas soal itu lagi bedmuttt beb..., " jawab Zalina sambil menidurkan kepalanya di atas tumpuan meja.
Ina yang melihat sikap Zalina tersenyum sekan ia mengerti mengapa Zalina bersikap seperti itu. Lalu Ina mulai menggoda Zalina.
" Tapi lo rindu 'kan, sama dia? lo tenang saja hari ini Gi....., " mulut Ina ditutup dengan tangan Zalina saat melihat Gilang, Nando, Niko, dan Tomy masuk ke kelas.
Gilang yang melihat mata indah yang dari tadi ada dipikiranya. Namun ia masih ingat kalo ia dengan Zalina lagi bertengkar jadi Gilang melangkah mencueki Zalina.
Zalina yang mengerti sikap Gilang ia pun kembali tiduran di atas tumpuan meja. Dengan kedua tanganya dialaskan sebagai bantal untuk kepalanyan
__ADS_1
"Lo lagi pms Zal? " tanya Ina.
Zalina yang melebarkan kedua bola matanya, langsung bangun kembali sambil menutup mulut Ina lagi lalu berkata.
" Mulut lo ngak bisa diam? malu tau
lagian dari tadi lo cerewet bangat sih, bukanya urus pacar lo yang dari tadi thu tatap lo terus, " ucap Zalina memiringkan kepala Ina pada tatapan Nando. Yang memang sedang memandang Ina dari belakang. Namun Zalina tak sadar kalo Gilang dan Niko dari tadi sedang memperhatikannya.
Ina yang mau menyapa Nando mulutnya, terdiam saat Ibu Nani memasuki kelas mereka sebagai guru mata pelajarn Ekonomi.
Ibu Nani pun masuk ke kelas dan memulai pelajaran seperti biasanya.
Zalina mengambil buku dan pena untuk ditulis saat ia melihat materi pelajaran ditulis dipapan tulis. Ibu nani mulai menjelaskan satu persatu materi Ekonomi melihat Zalina yang masih tiduran di meja akhirnya Ibu Nani memutarkan kedua bola matanya ke meja Ina dan Zalina saat menjelaskan materi ia , pun berhenti membaca lalu tatapanya sangat tajam pada Zalina yang lagi tiduran. Yang membuat semua anak-anak melihat ke bangku Zalina dan Ina, Gilang yang bingung sedikit kwatir lalu mengangkat tangannya agar perhatian Ibu Nani teralihkan.
Tapi sayang Ibu Nani berteriak nama Zalina yang membuat, semua murid di kelas termasuk Gilang, Nando, Niko, dan Reina serta Ledy menutup kuping mereka.
" Zalina Putri..... maju ke depan dan ulangi kalimat terakhir saya."
Zalina yang kaget atas suara Ibu Nani, salah satu guru super duper jahat di Sekolah Bangsa namun , tidak sejahat Harimau Jahat dalam arti tegas dalam mendidik murid-murid menjadi lebih baik.
"****** gue, " gumam Zalina dalam hati.
" Lo kenapa dudukin gue?" tanya Zalina dengan mengerutkan dahinya dan menatap Ina.
" Lo lagi tembus, " bisik Ina ditelinga Zalina. Wajah Zalina secara tiba-tiba kaget lalu ia menutup mulutnya, yang membuat Ibu Nani bingung dan Gilang serta anak- anak yang lainya ikut bingung.
" Zalina Putri Ibu tegaskan lagi, "
belum menyelesaikan perkataannya Nani terdiam saat Ina yang maju bukan Zalina.
Ina berbisik pada Ibu Nani kalo Zalina lagi tembus haid di roknya dan itu sangat banyak, Ibu Nani pun terdiam saat itu juga yang mumbuat anak- anak makin bingung lagi.
Namun ada sebagian yang sudah mengerti kenapa Zalina tidak maju.
Ibu Nani pun mulai berkata pada Zalina yang membuat anak-anak kelas menjadi sedikit jijik kecuali Gilang, dan teman-temanya serta Niko.
" Zalina cari salah satu jaket temanmu, pinjam untuk tutupi rok kamu agar bisa keruang uks, minta rok sekolah baru karena kamu lagi tembus. "
__ADS_1
"Oh my God... Ihhhhh jijik banget deh Zal, " seru Reina pada Zalina yang membuat suasana kelas jadi heboh.
Pantesan aja lo tidur terus dari tadi, jorok banget sihhh lo Zalina, makanya otak itu dipake bukan dengkul, " ledek Reina yang membuat Gilang sangat kesal dengan sikap Reina.
Dengan cepat Gilang membuka jaket merahnya yang dari tadi ia kenakan, lalu Ia melangkah cepat ke depan di mana itu tempat duduk Zalina. Gilang menerobos masuk ke tempat duduk Zalina yang membuat Ina bangkit berdiri dan ke luar dari bangkunya.
Lalu Gilang langsung memegang kedua lengan Zalina dengan lembut untuk dibangkitkan berdiri, kemudian Gilang langsung mengikat jakentnya di pinggul Zalina dengan erat dan menutup semua bekas darah dirok Zalina dengan jeketnya.
" Ina sekarang lo boleh antar dia pergi ke uks, " tutur Gilang saat sudah menyelesaikan ikatanya jaketnya pada Zalina.
Zalina yang dari tadi diam hanya menatap Gilang, dengan dalam lalu ia melangkah mengikuti Ina yang mengengam tanganya untuk pergi. Saat melangkah Zalina sempat mengengam tangan Gilang yang beriisi sapu tanganya dan ia berikan pada Gilang dengan memberi kode agar membersihkan wajahnya yang keringatan. Gilang yang membuka tangannya yang sudah ada sapu tangan hanya mengangukan kepalanya pelan pada Zalina.
Niko yang cemburu dari tadi namun Ia bahagia karena akhirnya Zalina ditolong, walau itu bukan dirinya Ia pun menatap ke Reina yang dipenuhi dengan rasa cemburu di wajahnya. Niko mulai memanas-manaskan Reina.
" Makanya jadi cewe jangan sok-sok jadi princes di kelas, otak udah pas-pasan, kecantikan cantiknya Zalina kali, lo hanya menang dengan polesan bedak dan bibir merah doang, " seru Niko sambil melihat ke Reina yang dari tadi menatapnya dengan geram.
" Hahaaha....kalo gue cemburu wajar karena dia tunangan gue, sedangkan lo mengapa cemburu sama Zalina? lo bukan siapa-siapa Zalina. "
" Oh ya gue lupa lo 'kan, pernah tembak Zalina tapi sayang lo tolak oleh Zalina, " tawa Reina pecah yang membuat semua anak-anak ikut ledekin Niko. Yang dari dulu tidak pernah ditolak dengan cewek.
" Lo yang benar saja Ren, kalo Seorang Niko ditolak oleh Zalina?" tanya Ledy yang masih meragukan perkataan Reina.
" Silakan tanyain sama orangnya, " jawab Reina yang kembali menatap Niko yang wajahnya sudah agak sedikit malu.
" We derom lo jangan ikut campur kali, lagian lo sama teman lo sama-sama so-so cantik di kelas. "
" Emang benar 'ko, yang dikatakan Niko kecantikan Zalina kali dibanding kalian berdua, buktinya Gilang saja terpesona dengan kecantikan Zalina, " sambung Tomy yang sedikit menjatuhkan Reina dan Ledy lagi.
Ledy yang mau membalas perkataan Tomy langsung, dihalang oleh Ibu Nani dan menyuruh mereka untuk melanjutkan materi yang tadi tertunda, hingga akhirnya pelajaran pun dimulai kembali seperti semula walau suasana hati baik dari Reina, Ledy, dan Niko sudah tidak seperti tadi pagi , dikarenakan perkataan pedas dari lawan mereka.
Bersmbung.
Cast pemeran Ledy.
Cast pemeran Ina.
__ADS_1