
Hari semakin siang , pelanggan kafe Quing semakin rame berdatangan yang membuat semua pelayan semakin sibuk siang itu.
Terlihat dari jauh sebuah mobil sport biru memarkir mobilnya di area parkiran yang sudah di sediakan . Pemilik mobil itu adalah Gilang.
Gilang pun masuk ke dalam kafe matanya berputar kekiri kanan ,belakang dan depan seperti mencari seseorang.
" Maaf Tuan muda , ada yang bisa dibantu?" sapa seorang kariawan di kafe pada Gilang
" Dimana Zalina ?" tanya Gilang sambil terus melihat ke sana dan ke sini terlihat mata Gilang sangat kwatir dengan Zalin.
" Hari ini Zalin tidak masuk Tuan," jawab kariwan itu dengan lehernya sedikit tertunduk yang artinya menghormati putra bos mereka.
Tanpa bertanya alasan Zalina tidak masuk, Gilang langsung berlari ke luar kembali dengan poselnya selalu ditelinga menelpon Zalin namun tidak diangkat, lalu dia terus chat Zalin dengan pesan yang sama.
" Dimana kamu? mengapa tidak masuk? jawab telpon aku apa kamu mau mati menghindar seperti ini dari aku, " Pesan tersebut Gilang kirim lewat
whatsap, facebook, instgram dan twiter namun tak ada satu pun balasan dari Zalina yang membuat Gilang semakin cemas dan frustasi di siang itu.
Gilang tadinya mau ke rumah Zalin namun dia masih mengurungkan niatnya karena, dia tahu ayahnya pasti mengirim mata-mata dua puluh empat jam mengawasi setiap gerak-geriknya. Dan itu tentu saja membuat situasi Zalin semakin sulit.
Karena tidak ada jawaban dari Zalin. Gilang akhirnya memutuskan kembali ke sekolah Bangsa, lalu menyuruh Nando bertanya pada Ina tapi sayang Ina pun tidak mengetahui alasan Zalin tidak masuk sekolah.
" Hallo sayang," suara Nando dari ponsel Ina.
" Hem ," Ina berdehem karena memang dia lagi sibuk dengan acara pernikahan sepupunya.
__ADS_1
" Kamu tahu tidak Zalin kenapa tidak masuk sekolah?"
" Tidak sayang, emangnya Zalin tidak masuk sekolah?" tanya Ina balik ke Nado.
" Kalo masuk tidak mungkinkan aku bertanya," jelas Nando.
Ina pun menggit bibir bawahnya baru dia mau lanjutin perkataanya lewat telpon Nando memotong perkataanya.
"Ya sudah lanjutin saja acaramu tidak usah cemas , ingat cepat pulang aku merindukamu.
Jangan lirik laki-laki tampan di bandung."
" tut... tut..., "Telpon pun dimatiin yang membuat Ina sedikit kesal.
Namun dia tersenyum bahagia dengan kata - kata Nando barusan, "Aku merindukanmu juga sayang," bisik Ina dalam hati sambil memeluk ponselnya didada dan tertawa bajagia.
" Ya elah lu Gilang namanya juga orang kangen , lo aja nyariin terus si Zalin saat Zalin tidak masuk masa gue tidak," seru Nando.
Baru Gilang mau berkomentar perkataan Nando, terdengar suara di kuping Gilang saat keduanya sedang duduk dikursi taman sekolah yang dekat dengan lapangan basket sekolah.
" Vin. Panggil Niko pada kevin."
"Masa sampah seperti dia masih aja dicariin," sindir Niko pada Gilang.
Niko sengaja menyebut nama Kevin dengan tatapan tajam pada Kevin dan senyuman miring dibibir ketiganya serta sikap santai berdiri mereka memasukkan kedua tangan mereka kesaku celana sekolah masing-masing.
__ADS_1
Yang tidak lain adalah Niko, kevin, dan Sanjaya.
"Waduh. Ini kenapa sih perusuh sekolah datang lagi bakal perang kedua,'ni," bisik Nando pelan dalam hati dengan matanya sedikit berkedip wajahnya menghadap sedikit ke kiri dan mulutnya berkomat kamit sendiri sambil terus melirik ke arah Niko dan kompotan.
Gilang yang mendengar ocehan Niko hanya tersenyum miring, namun bukan senyum licik, tapi senyuman sedikit merasa lucu dengan sikap Niko dan teman-temannya.
" Lang tidak usah diladeni ayo kita pergi ke kelas," seru Nando pelan saat melihat Gilang berdiri menghadap ke Niko dan kawan-kawan.
"Lo tenang saja aku mengerti kecemasan lo," ucap Gilang sambil menatap Nando yang ada di sampingnya itu.
" Waoo....," mulut Gilang terbuka lebar membentuk huruf w.
" Setelah dipikir-pikir ternyata tidak salah ya kalo nama kalian diinisialkan sebagai perusuh sekolah," senyum Gilang makin lebar dibibir.
" Ayo jalan! meladeni mereka tidaklah penting . Membuang-buag waktuku saja," sambung Gilang sambil melangkah ke depan dengan santai dan disusul oleh Nando yang juga tersenyum, melihat sikap Gilang yang sudah sangat berubah lebih kalem menghadapi Niko tidak seperti waktu masa smp.
Mendengar ucapan Gilang kuping Niko kepanasan merah. Seakan mengeluarkan asap seperti memakan cabe rawit dua pelastik, terlihat jelas wajah Niko sangat diliputi dengan emosi. Kini senyuman miring pun semakin mejadi dibibirnya yang sedikit hitam itu.
" Vin semalam lo cium berapa kali bibir si cewe SAMPAH DAN MURAHAN itu," teriak Niko dengan kedua bola mata yang seperti harimau dan menekankan kata-kata Murahan dan sampah.
"Siapa lagi kalo Bukan Gadis malam ZALINA...,"
tambah Niko dengan tawa kencang. Yang membuat langkah kaki Gilang berhenti di belakangnya.
Jari-jemari Gilang diramas begitu keras sedangkan kedua bola matanya melotot lurus ke depan, yang menandakan emosi Gilang sudah memuncak.
__ADS_1
***Bersambung.
jangan lupa like, vote dan komen kasih bintang sesuai isi cerita ya mkshh bagi yang sudah mampir***.