
Karena jam istrahat dimulai maka anak-anak pun satu persatu keluar dari kelas mereka masing-masing untuk kekantin seperti biasanya.
"Zal lo mau tidak ke kantin sama aku dan Lina," ajak Ita yang memang mau ke kantin dengan Zalina karena Zalin tidak ada Ina.
" Terima kasih ,tapi hari ini aku lagi tidak mutt mau ke kantin, maaff.. ya Ta," ucap Zalina sambil mengatup kedua tangannya dan sedikit tersenyum.
" Ya sudah tidak apa-apa, ummm..lo mau dibelein apa, biar aku yang traktir," seru Ita menawari Zalina.
" Minuman dingin saja, "sahut Zalina.
"Ok lo tunggu bentar ya kita ke kantin dulu," pinta Ita sambil melangkah pergi.
" Ta. panggil Zalina.
"Hemmm....Ita berdehem sambil menoleh ke arah Zalina."
" Makasih banyak," ucap Zalina dengan senyuman lebar dibibirnya.
"Sama-sama Zal. Kami pergi dulu," jawab Ita dengan senyum dan melangkah ke luar dari kelas.
Sedangkan Zalina hanya mentapa punggung Ita dan temanya yang satu lagi dari tempat duduknya hingga kedua sahabatnya itu menghilang dari tatapan Zalina.
Saat Gilang yang melihat Zalina yang tidak ke kantin, Gilang hanya terdiam sambil terus menatap Zalina dari tempat duduknya. Gilang ingin menyapa Zalin namun ia masih mengurung niatnya.
Gilang pun menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskanya pelan-pelan
" Maafin aku Zal. Tapi ini hanya sementara aku begit merindukanmu Zalina putri," bisik Gilang dalam hati.
Sambil terus menatapa dalam Zalina dari belakang. Lalu Gilang dan Nando keluar untuk kekantin. Zalina yang melihat langkah kaki Gilang dari belakang jantungnya berdebar-debar, Zalina pun mengumpulkan tenaganya dan mau menyapa Gilang namun saat Zalina membuka mulutnya ingin mengeluarkan suara, Gilang malah melangkah mencueki Zalina. Dia hanya melangkah menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke samping, kiri dan kanan.
" Apa Gilang marah karena kemarin aku tidak membalas chattanya," Zalina bertanya dalam hati, mukanya sedikit sedih lalu dia pun menunduk dan hanya diam.
"Lo pikir Gilang bodoh menyukai gadis sampah seperti lo, baguslah akhirnya Gilang menyadarinya," bisik Reina dalam hati saat melihat reaksi Zalina dicuekin sama Gilang.
" Ledy ayo keluar ke kantin," kata Reina pada Ledy yang lagi murung dari tadi jam pelajaran.
" Ledyyyy....!"teriak Reina dikuping Ledy yang mengagetkan Lamunan Ledy.
" Ihhhhhh....Reina tidak usah teriak kali, kupingku lama-lama budek deh dengar teriakan suara cempreng lo," dengus kesal Ledy.
" Maaf... habisnya lo juga sih pake bengong segala, ayo ke kantin!" tarikan tangan Reina pada tangan Ledy lalu mereka melangkah keluar kelas.
Kelas sudah sepi kini tinggal Zalina, Niko dan Kevin.
" Lo mau ke kantin tidak?" tanya Kevin pada Niko.
" Ngak....," jawab cuek Niko dan terus melihat ke Zalina.
Ada yang harus aku urus dulu."
"Lo pergi dahulu nanti gue susul," perintah Niko pada Kevin namun matanya masih melihat Zalina dengan tajam dan Dia pun menggeser kursi ke belakang melangkah untuk menghampiri Zalina.
"Lo mau ngapain?"tanya Kevin dengan memegang lengan Niko saat melihat sahabatnya itu yang mau pergi ke Zalina.
" Niko. Panggil pelan Kevin ditelinga Niko. Sudah cukup jangan buat rusuh lagi, lo tahu Gilang menyukai Zalina, jangan memperkeruh situasi ini semakin rumit, cukup kemarin saja."
" Lo tenang saja ,aku tidak akan menyakitinya," jawab Niko pelan dan memberikan kode pada Kevin untuk pergi.
" Terserah lo saja...intinya aku tidak ikut dalam permainan kamu lagi," ketus kesal Kevin melepaskan tanganya dari lengan Niko lalu pergi meninggalkanya dan Zalina yang sendirian di kelas.
Niko melangkah santai ke arah pintu kelas dengan senyuman dibibirnya, lalu langkah kaki Niko terhenti di depan pintu kelas tanganya menarik pintu tersebut dan mengunci pintu dari dalam yang membuat Zalina kaget melihatnya.
__ADS_1
" Kenapa dikunci? anak-anak masih diluar ini bukan jam pulang sekolah."
" Karena aku ingin menguncinya," sahut Niko sambil menatap Zalina dengan dalam dan tajam.
Zalina yang melihat tatapan Niko menghindarkan tatapan mata Niko, lalu dia berdiri melangkah ke arah Niko, yang berniat membuka kembali pintu yang dikunci oleh Niki itu.
Jangan bergerak tetaplah disana karena aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," ucap mohon Niko pada Zalina.
" Tapi....," belum selesai berkata Niko memotong perkataannya.
"Zal. Kumohon kali ini aku minta waktu kamu sebentar."
Zalina pun mengikuti kemauan Niko, entah apa yang mau dilakukan Niko Zalina hanya melakukanya karena melihat ketulusan dimata Niko.
Niko memutar sebuah musik romantis, Niko pun mulai mendekati Zalina. Zalina yang sedikit ketakutan berkata pada Niko.
" Lo mau apa? jangan ....," mulut Zalina ditutup oleh jari tunjuk Niko yang sengaja ditempelkan dibibir Zalina.
" Zal. Bisakah kamu membuka pintu hati kamu sama aku?" ucap Niko sambil memandang mata Zalina dengan dalam .
" Maaaf Niko aku tidak bisa," ucap balik Zalin dan melepaskan jari Niko dari bibirnya lalu dia melangkah menghindar dari tatapan Niko dengan mundur.
Niko yang mendengar ucapan Zalina mengerti kenapa Zalina menolaknya, karena Zalina tidak menyukainya sama sekali.
Dia menyukai Gilang dan itu membuat emosi Niko menjadi dia pun menutup matanya sebentar lalu melihat ke arah Zalina yang menghindar darinya dan mau menuju ke arah pintu untuk membukanya.
Namun langkah Zalin terhenti saat melihat Niko sudah ada dihadapanya yang dua langkah kakinya sedikit dimundurkan ke belakang.
" Kenapa harus Gilang....!"teriak Niko dengan keras yang mengagetkan semua orang di luar kelas.
" Tidak bisakah kamu libatkan Gilang dalam cintamu Zal....!"
teriak Niko lagi dan kali ini dia dia menghancurkan pot bunga yang ada dimeja guru.
Zalina pun ketakutan dan semua tubuhnya gementar.
"Lo yang maksa aku seperti iblis Zal. Lo dengar lo akan kehilangan semuanya."
Niko melangkah ke depan dengan tatapan yang begitu tajam Zalina memundurkan kakinya ke belakang dengan pelan.
" Niko. pliss jangan mendekat atau aku...."
"Atau apa Zal...! teriak Niko lagi dan kali ini Niko sudah sangat dekat dengan Zalina.
Niko menarik Zalina ke depan dadanya dan menatap Zalina dengan sangat tajam.
" Lepaskan aku Nikk....
tolong .....," teriak Zalina yang membuat anak-anak sekolah bangsa heboh saat itu juga semua berkerumun mengintip dari luar jendela.
Di sisi lain, Gilang dan Nando lagi makan santai dikantin saat Gilang memesan air dingin pada pelayan kantin dia melihat Ita lari masuk meminta tolong pada Tomy untuk membantu Zalina yang dikurung sama Niko.
" Tomy," Panggil Ita dengan menarik nafas tersengal-sengal karena berlari tadi.
"Tolong bantuin Zalina."
" Ada apa sama Zalina?"
tanya Tomy dengan keras, yang membuat Gilang melihat kearah mereka.
"Zalina disekap sama Niko di kelas entah apa yang dilakukan Niko tapi Zalina tadi berteriak histeris meminta tolong.
__ADS_1
" Apa maksud lo?" tanya Gilang dari kejauhan dan melangkah menghampiri Ita dan Tomy.
"Dia dan Niko terkunci dalam kelas, dan Niko menghancurkan pot bunga dimeja guru dihadapan Zalina.
Mendengar ucapan penjelasan Ita membuat Gilang sangat marah, tanpa mendengar perkataan Ita lagi Gilang langsung
berlari keras keluar dari kantin matanya dipenuhi dengan amarah eratan pada jari-jemarinya begitu kuat.
" Niko. Buka pintunya," teriak Gilang dari luar pintu dan terus menerus memukul pintu kelas dengan keras.
" Ini yang aku mau," pinta Niko saat ia melihat ke arah pintu.
Zalina berlari dari hadapan Niko dan dia berteriak meminta tolong pada Gilang dengan tangisan ketakutan.
"Pliss tolong aku Gilang....," tangsi Zalina di kelas.
" Niko....lo mau mati...
buka....gue bilang bukaaaa....,"teriak Gilang semakin menjadi.
" Uhuuuuu...."
Zalina terus menangis saat Niko ingin meksa berciuman denganya.
Saat Niko ingin memaksa mencium bibir Zalina pintu pun terbuka Gilang yang masuk menarik Niko dari hadapan Zalina dan langsung memukul Niko.
Gilang mau memukul Niko lagi tapi dihalangi oleh Zalina .
" ja ....ngan Ku mohon jangan berantem lagi," ucap Zalina masih dengan tangisan saat memeluk erat dengan membungkuk di bawah perut Gilang.
" Pukulan dari Gilang atau Niko pun terhenti tangan mereka terpaksa dilepaskan dari kerak baju Niko atau Gilang.
" Tolong bawa aku keluar dari sini," pinta Zalina lagi yang masih memohon pada Gilang.
Gilang yang mendengar ucapan Zalina ia langsung mengarahkan perhatian dan matanya pada Gadis yang lagi memeluk dibawah sana.
Ini pertama kali Gilang melihat Zalina memeluk dan memohon padanya dengan tangisan.
Gilang tak kuasa melihat air mata Zalina yang terus menerus membasahi pipinya membuatnya memutuskan untuk membawa Zalina keluar.
Akhirnya Gilang mengengam jari jemari Zalina dengan erat dan lembut, lalu menatap Zalina sekilas dan mereka berdua pun keluar dari kelas.
Melihat gengangaman tangan Gilang pada Zalina, Tatapan mata Gilang dan Zalina membuat mata Niko berkaca-kaca dengan dipenuhi kristal matanya. Senyuman tangisan keluar dari bibirnya dan air matanya pun berjatuhan di pipi.
"Baru kali ini gue lihat Niko menangis untuk seorang wanita," bisik Nando saat melihat ekspresi Niko yang tersenyum dengan paksa padahal hatinya hancur.
"Lo tidak apa-apa," tanya Gilang saat dia dan Zalina sudah berada dihalaman sekolah.
Zalina menghapus air matanya yang masih jatuh dipipinya dan masih terdiam menundukkan kepalanya ke bawah menghindarkan tatapan matanya yang dipenuhi dengan berlinang air mata dari wajah Gilang yang menatapnya dan terus menatap Zalina.
Gilang yang melihat tangisan yang ditahan Zalina dia pun mendekatkan sedikit tubuhnya dihadapan Zalina dengan memegang pelan kedua pundak Zalina dengan tanganya, lalu pelan - pelan Gilang menarik Zalina kedalam pelukanya sambil mengelus lembut rambut Zalina dan menutup matanya.
"Jika kamu mau nangis, menangislah Jangan ditahan keluarkan apa yang kamu rasakan," bisik Gilang sambil terus mengelus lembut rambut Zalina.
"Maafkan aku karena mencuekin kamu hari ini. Sungguh aku minta maaf Zal, aku menyesal telah mencuekin kamu," bisik Gilang disamping telinga Zalina yang ada dipelukannya.
" Aku sangat merindukanmu, sangat rindu padamu. Saat kemarin kamu tidak ke sekolah rasanya seperti satu tahun tidak melihatmu," tambah Gilang dan ciuman terasa hangat dikening Zalina saat Gilang lepaskan pelukanya. Lalu memajukan bibirnya lembut untuk menempel di kening Zalina. Zalina yang merasakan keningnya dicium dengan hangat dia hanya menarik nafas sedikit lega dan begitu bahagia saat itu juga.
__ADS_1
Semua anak-anak yang melihat adegan itu termasuk Reina merasa irih dengan Zalina namun dibalik kebahagian Zalina ternyata Reina merencanakan hal yang tidak terduga pada Zalina.