
Rasa kwatir yang membara di pikiran Gilang dengan keadaan Zalin, Gilang melaju mobilnya lebih kecepatan yang cepat, dalam perjalanan Gilang sesekali menelpon Zalina berkali-kali namun tidak diangkat telponya.
"Dimana Zalin?" tanya Gilang pada Nando saat dia tiba di tempat kafe Quing.
" Di toilet,"sahut Nando.
"Lo samparin dia dulu,"
belum selesai berkata Nando pun melihat Gilang yang lagi berlari menghampiri Zalina di toilet.
Saat Gilang di toilet putri.
Gilang tidak menemukan Zalina dia pun ke luar dan ke dapur, di sana dia melihat seorang gadis sedang mencuci piring-piring kotor, yang sangat menumpuk dengan pakaiaan yang masih ada bekas kecap namun wajahnya sedikit bersih.
Gadis itu adalah Zalina.
Gilang menarik nafas lega dan menundukan lehernya sedikit, lalu dia pun kembali berlari dan langsung menarik tangan Zalin dengan lembut membawanya ke luar dari dapur kafe.
" Gilang!" kaget Zalin.
" Lo mau apa? aku lagi..."
" Sudah ikut aku saja!
kamu tolong bersihkan piring-piring itu!" Perintah Gilang pada salah satu pelayan .
Pelayan yang tidak kaget lagi mereka sudah diberitahu oleh kepala pelayan bahwa Gilang adalah anak bos pemilik kafe Quing. Hanya mengangukan kepala pelan yang mengartikan akan melaksanakn perintah tersebut.
" Kenapa lo tidak lawan saat lo di permaluin sama mamanya Reina?"
tanya Gilang saat mereka sudah di luar kafe.
" Kenapa lo biarin diri lo dipermalukan bahkan....," suara Gilang terhenti.
" Kenapa lo tidak jawab telfon aku saat aku telfon? Ponsel kamu rusak? apa lo mau buat aku gila haaa," teriak Gilang dengan nada suara yang agak tinggi.
Zalina hanya terdiam dan menundukan lehernya ke bawah tanpa menatap Gilang atau pun menjawab pertanyaan Gilang.
" Mulut kamu bisu ? Jawab aku," teriak Gilang sambil memegang sedikit kasar pada kedua pundak Zalin dengan tatapan yang masih tajam menatap Zalin.
Zalin mengangkat wajahnya menatap wajah Gilang
Gilang yang melihat air mata Zalin mengalir di kedua pipinya membut Gilang terdiam. Zalin pun menghapus kedua pipinya dengan tangannya lalu berkata,
"Kamu mau aku harus apa? haa... Melawan? menampar balik atau apa ? KATAKAN apa yang harus aku lakukan.....?" teriak Zalina dengan suara yang sudah kegementaran. Dan air mata yang dari tadi ditahan olehnya dan kini mata itu sudah menjadi cair dan terus berjatuhan membasahi kedua pipinya dengan begitu deras.
" Setelah aku lakukan itu
Aku akan dipecat"
__ADS_1
"Kamu tidak akan dipecat....
karena aku," belum selesai Gilang berkata suaranya dipotong oleh Zalina.
" Anak bos pemilik kafe ini?" sambung Zalina yang sudah tahu karena dia diberitahu oleh kepala pelayan.
"Mungkin bagi kamu ini adalah kafe papa kamu jadi kamu bisa ubah peraturan sesuka hati kamu, tapi itu berbeda dengan aku Gilang peraturan harus aku taati walau harga diriku dijatuhkan dibanyak orang. Karena aku adalah pelayan"
"Mengalami hal seperti ini sudah biasa bagi aku karena aku adalah anak pemulung yang sudah biasa merima hinanaan dari semua manusian dibumi ini"
" Gilang kamu tahu kenapa Ibu Siska memarahin aku?
mempermalukan aku?
Semuanya karena satu hal yaitu tunangan kamu jadi jangan libatkan aku dalam duniamu,"tambah Zalina lagi.
" Kamu memang tidak terlibat dalam duniaku tapi aku mau masuk dalam duniamu"
" Zal mau kamu tolak aku, tapi aku Gilang mada mau masuk dalam duniamu , karena aku menyukaimu", seru Gilang balik saat menatap Zalina dengan tatapan yang sangat dalam.
"Aku mau kamu melawan mereka supaya mereka tidak seenaknya sama kamu"
" Ah...," tarikan nafas Zalina yamg gementar.
" Lo pikir status aku sama seperti dia, sudahlah aku mau masuk. Pekerjaan aku masih banyak di dalam," Zalin berbalik melangkah mau pergi.
Namun di tahan sama Gilang dilengannya.
" Tunggu....! Aku sangat menyukaimu jawab dulu pertanyaanku ini"
"Lepaskan Gilang nanti akan ada fitnah lagi. Lebih baik kita bersikap seperti pelayan dan majikan saja,
" Jawab pertanyaaku....!" jerit Gilang lagi dengan nada yang mulai tinggi.
" Urusin tunangan kamu, itu jawaban aku," tutur Zalina sambil terus menangis karena dia tidak kuat menahan kristal-kristal itu lagi, saat tatapan matanya membalas tatapan dari Gilang dengan deraiaan air mata. Gilang yang melihat tangisan Zalina, Gilang yang tidak kuat melihat tangisan Zalina kembali berucap
" Aku rasa aku gila jika malam ini tidak memelukmu," baru Zalina mau menjawab tiba-tiba tarikan tangan Gilang pada lengannya menarik untuk pergi dalam pelukan Gilang.
Zalin yang menahan air mata kini semua kristalnya menjadi cair membasahi pipi dan kaos hitam Gilang.
" Jangan menangis, katakan kalo kamu mau berjuang aku sangat menyukaimu Zal. pliss....," bisik Gilang lembuat sambil terus mengelus rambut Zalin dengan halus. Zalin hanya menangis dan terus menangis dalam pelukan Gilang tanpa berkata apa-apa keduanya terhanyut dalam suasan romantis malam itu.
:
:
:
" *Apa yang terjadi hari kemarin biarlah berlalu ,awali hari ini dengan penuh syukur pada yang maha kuasa , selalu tersenyum walau mungkin dibalik senyummu itu terselip sebuah tangisan keras, setidaknya senyummu ini bisa mengobati mereka yang mungkin terluka," tulisan tangan sebuah penah yang tertera di sebuah kertas putih oleh Zalina. Sebelum ia menyiapkan sarapan pagi bagi Ayah dan Adiknya dan bersiap\-siap kesekolah seperti biasa*.
" Ayahhhhh....!" teriak histeris Reino saat melihat Toy yang jatuh tergeletak di kamar mandi.
Zalina yang mendengar teriakan adiknya langsung berlari ke luar dari kamar menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
" Ada apa Rei....no?" suara Zalina terhenti saat melihat Ayahnya yang jatuh pingsan di kamar mandi, dengan kedua tangannya yang berserakan tak tentu arah dan dahinya yang sedikit luka karena terbentur di lantai.
"A...yahhh..." tangis Zalin pecah saat ia duduk di samping Reino untuk membangunkan Ayahnya yang ada dipangkuanya dengan kedua tangannya, memegang kedua pipi Ayahnya dengan matanya yang dipenuhi hujan berjatuhan terus - menerus mengenai pipi Toy.
"Kamu tunggu di sini kakak cari bantuan dulu diluar," pesan Zalin pada Reino dan dia pun bergegas ke luar rumah untuk mencari pertolongan untuk membawa Ayahnya kerumah sakit.
Zalin pun berlari ke depan jalan raya umum untuk mencari taksi alhasil taksi pun di dapat. Lalu membawa Ayahnya kerumah sakit terdekat.
Setelah menempu perjalanan selama 35 menit akhirnya mereka sampe di tempat tujuan Rumah sakit cipto. Ayah Zalin yang belum juga sadar langsung ditangani oleh pihak rumah sakit.
" Maaf de. Ayahmu harus terlebih dahulu diperiksa oleh dokter," ucap salah seorang perawat saat Zalin dan Reino ingin masuk kedalam ruang Icu.
" Silakan menunggu di ruang tunggu", tambah perawat tersebut.
Melihat Ayahnya di dorong masuk ke ruangan. Zalin tidak bisa berkata apa-apa hanya memeluk Reino dan menangis tersedu -sedu saat keduanya duduk di kursi tunggu. Dekat ruang Icu rumah sakit Kusma tersebut.
Disisi lain Gilang yang baru datang ke sekolah memasuki halaman sekolah seperti biasanya selalu disambut hangat oleh para fens sekolah.
" Woi baskom", teriak Nando dari belakang .
" Dasar ember berisik sekali sih lo pagi-pagi," ledek Gilang balik.
Reina yang datang dari belakang hanya melihat Gilang langsung melangkah mencueki Gilang atas perkataan Gilang kemarin.
" Hai... Rei.. na,"
Sapa Nando dengan sedikit suara terbata-bata karena Reina adalah mantan Nando waktu masih duduk di bangku smp.
Namun sayang sapaan Nando tidak dijawab sama Reina. Lonceng kelas pun berdering yang menandakan semua siswa memasuki kelas mereka masing-masing. Namun ada yang berbeda dengan kelas XII.S1.
Zalina dan Ina tidak masuk.
Jika semua orang sudah tahu kalo Ina ijin karena dia mengahadiri pernikahan sepupunya di bandung , tapi Zalina tidak ada yang tahu alasan mengapa Zalina tidak masuk.
Absen kelas pun dimulai saat guru mata pelajaran pertama memanggil nama-nama siswa-siswi XII .SI
" Zalina putri..," Panggil Sinta selaku guru bahasa indonesia pelajaran pertama di kelas sosial 1.
Rerlihat semua mata tertuju pada bangku tengah di mana itu adalah tempat duduk Zalina dan Ina yang kosong, mereka saling bertatap dan mereka kembali fokus ke depan.
Ibu Sinta pun hanya melihat sebentar sambil menggelengkan kepala lalu melanjutkan absen kembali, dengan menandakan nama Zalin diketerangan absen menggunakan tanda ?
" Lo tahu kenapa Zalin tidak masuk, apa berkaitan dengan kejadian semalam?" bisik Nando di telinga Gilang.
Gilang yang tidak menjawab karena dia tidak fokus pada perkataan Nando melainkan,
pikiranya dan tatapan matanya hanya tertuju pada bangku Zalin dengan tanganya kanan memegang bagian kepala yang samping sambil terus menatap bangku kosong Zalina. Bukan hanya Gilang saja Niko dan Reina pun melakukan hal yang sama menatap kursi kosong Zalin dengan menulis-nulis catatan Bahasa indonesia di buku entah itu sesuai dengan apa yang ditulis dipapan tulis atau tidak.
Jangan lupa vote, laike komen dan saran
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir.