
Zalina hanya terdiam menahan sakit hatinya yang bagaikan dimasuki duri mawar disekujur tubuhnya, ia pun berbalik mencari kamar mandi terdekat.
" *Aku...sayang kamu Gilang, sangat menyangi kamu, bahkan ingin rasanya aku melupakan semua orang terdekatku dan mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu."
" Tapi itu tidak bisa aku lakukan karena, aku tidak mau orang terdekatku terluka karena keegoisan aku sendiri. Lima tahun aku pendamkan rasa diam ini, lima tahun aku selalu berdoa agar kamu sedikit melihatku tapi, itu semua hanyalah hayalan belaka bagi diriku sejak dulu. Saat semuanya menjadi nyata yang aku takutkan terjadi juga. Apa yang harus aku lakukan? Ibu........ Kenapa serumit ini? apakah ini yang namanya Jatuh Cinta..., " batin Zalina*.
Zalina menangis di dalam toilet putri menutup mulutnya agar suara tangisanya tidak didengar oleh orang luar. Zalina memang selalu menagis dikegelapan ia tak mau menangis di siang hari, Karen takut banyak orang akan melihat air matanya, ia hanya mau orang melihat senyumannya walau dibalik senyumanya itu terselip sebuah tangisan dan luka yang tidak diketahui orang lain.
Ina yang melihat Zalina berlari mencari toilet terdekat dari dalam kelas, ia pun ke luar dari kelas dan pergi menghampiri Zalina dari belakang.
INA yang menunggu di luar toilet, langsung mengetahui kaLo Zalina saat ini pasti sedang menangis begitu keras namun hanya menahan suaranya.
Di tempat lain, Pikke berjalan menuju sebuah tempat yang sangat menyeramkan tempat dimana dulu ia memusnahkan seorang gadis cantik Jian. Di sana sudah ada lima lelaki yang berbadan kekar, yang ditugasinya untuk melenyapkan Zalina semalam.
" Apa maksud kamu kalo rencana kita dicurigai?" tanya pikke, penuh nada yang tinggi.
" Karena putra Mada sedang mencari tahu pak. Sepertinya dia sudah mencurigai bahwa penculikan itu direncanakan, " Seru salah satu preman.
__ADS_1
" Sampai kapan pun kejahatan ini tidak akan diketahui siapa termasuk Gilang. Dia masih sangat muda untuk urusan ini, yang terpenting sekarang adalah jejak penculikan dan penikaman pada ayah gadis itu sudah melenyapkan dirinya sendiri. Jadi tidak ada yang perlu dikwatirkan, "jelas Pikke dengan senyuman dibibirnya.
" Kita akan bahas ini nanti sebelum perintah dari aku kalian jangan ngapa-ngapain, " tegas Pikke dengan mata yang tajam pada kelima preman tersebut. Lalu ia pun melangkah keluar menaiki kembali mobil mewahnya itu.
Karena pertengkaran Gilang dan Zalina membuat Reina begitu bahagia, walau dia tahu sebenarnya Gilang tidak bahagia tapi inilah yang diinginkanya sejak dulu.
" Sehabis pulang sekokah antar aku pulang,"
Reina mengetik pesan untuk Gilang.
Gilang yang mendegar ponselnya bergetar membaca pesan tersebut sedikit melirik ke arah Reina.
Reina yang membaca balasan Gilang kerutkan dahinya dan melirik balik Gilang yang lagi duduk diam entah apa yang sedang dibacanya.
" Lo lupa kalo hari ini kita ada pertemuan keluarga untuk diner bareng. Setidaknya lo menghargai kedua orang tuaku."
Gilang yang membaca pesan dari Reina menarik nafasnya dalam-dalam lalu, dia menutup kempali layar hanphonenya. Gilang mengeser kursinya ke belakang memasukkan semua buku-bukunya ke dalam tas, lalu menggantung tasnya dikedua punggung belakangnya dan melangkah kederetan kiri kedua.
__ADS_1
" Lo mau kemana?" tanya Nando saat melihat Gilang keluar dari tempat duduknya.
" Gue ijin, ada yang harus gue urus, " Gilang punk keluar dan melangkah kesamping deretan kedua kiri.
" Ijin.... lang?" tanya Nando namun dihiraukan Gilang.
Gilang yang menghiraukan ucapan sahabatnya itu, lalu Ia melangkah menghampiri Reina di tempat duduknya.
" Ayo pergi!" sebuah genggaman dari tangan Gilang pada Reina.
Reina yang kaget dengan ajakan Gilang, langsung menatao heran Gilang.
" Pergi...? tapi 'kan aku...., "
" Mau pergi atau tidak?" tanya Gilang memoting perkataan Reina.
Mendengar nada suara Gilang Rein mengerti. Akhirnya Rein memutuskan untuk pergi bersama Gilang tanpa bertanya lagi.
__ADS_1
Di sisi lain Zaljna yang melihat hal itu hanya diam dan menatap punggung belakang keduanya dan berpura-pura tersenyum saat Reina meliriknya.
Bersambung.