
Setelah sampai dirumah Pikke begitu marah sama sikap Gilang yang tidak menghargai putrinya sama sekali.
Dia tahu semua ini terjadi karena Zalina. Ia pun ingin memulai aksinya sama seperti dulu ia rencanakana sebelum membunuh Jian.
Pikke menutup rapat-rapat matanya dan membayangkan semua rencana jahatnya pada gadis malang Jian.
" Malam ini aku ingin ketemu sama kamu, Jian walau aku tahu kamu tidak mencintai aku lagi tapi rasaku padamu masih sama seperti dulu."
"Aku hanya ingin sebelum aku menghilang orang yang aku temui terakhir adalah kamu," sebuah ketika pesan dari nomor yang tidak dikenal namun di ketikan sms nomor itu mengatakan bahwa dia adalah Gilang.
Tanpa pikir panjang Jian pun bersiap dengam merias diri secantik mungkin memakai Dress putih panjang, rambut yang sengaja dibiarkan teruarai dan sepatu hihils hitam.
Sebelum pergi Jian memberi tahu kedua orang tuanya ingin menemui sahabatnya, Jian pun diantar oleh supirnya pribadinya dengan mobil berwarna hitam.
Pertemuan mereka disebuah jembatan yang dekat dengan sungai disana ada pondok yang, menyeramkan tapi demi Cintanya pada Gilang ia pun mengikuti perintah-perintah dari chatan sms itu, saat Jian sudah dekat ia memutar tubuhnya melihat supirnya sudah tidak ada dimobil dan ia tak tahu kemana supir tersebut, namun ternyata supirnya terlebih dahulu dibunuh oleh anak buah Pikke dan ditiduri di kursi penumpang mobil belakang.
Ketakutan Jian semakin menjadi saat melihat disekelingnya sudah dikelinggi oleh anak buah pikke dengan tubuh yang kekar dan wajah yang sangat menyeramkan, sedang di depanya sudah berdiri seorang lelaki tua yang sudah berumuran sedang mengisap rokoknya dan berbalik membelakangi dirinya Jian
dengan kedua tanganya disembunyikan disaku celananya.
" Maaf kalian siapa? dan dimana Gilang?" tanya Jian dengan nada suara yang gementar karena ketakutan.
" Jika tidak ada Gilang saya mau pulang kembali," tambah Jian sambil memutar tubuhnya menghadap jalanan yang sepi untuk pergi. Namun saat ia kakinya melangkah, langkahnya dihadang oleh enam lelaki berbadan kekar itu.
__ADS_1
" Maaf nona kamu belum bisa pergi karena bos kami sudah menunggumu dari tadi," pinta salah satu anak buah pikke.
" Apa maksud kamu?" belum selesai berkata Jian dikagetkan dengan tawa suara Pikke yang keras.
" hahaaaaaaaaa..... Jian Larasasti gadis jalanan yang ingin menjadi ratu di keluarga Mada, kamu pikir kamu bisa jadi ratu Mada? Perlu kamu ketahui Gilang tidak ada."
"Dan yang chatt kamu itu adalah aku, kamu masih mengenalku? sudah kuperingatkan jangan dekat dengan Gilang karena dia adalah kunci aku mengusai Harta Mada setelah menikah dengan putriku, tapi kamukeras kepala terpaksa saya melakukan hal ini. "
Pikke berkata dengan panjang lebar dan menjelaskan semua dari awal dimana ia mendapatkan nomor Jian dan mulai memberi kode pada anak buahnya untuk membawa Jian ke dalam Pondok tersebut.
Setelah sampai disana pikiran Pikke sudah dipenuhi dengan pikiran kotor apa lagi saat ditanya anak buahnya mau diapakan gadis kecil ini? dimana kaki tangan Jian sudah diikat dengan tali kedua tangannya diikat keatas dan kedua kakinya diikat dengan melebarkan kedua paha gadis itu dan wajahnya sudah dipenuhi dengan lumuran darah akibat siksaan yang dilakukan anak buahnya Pikke .
Dengan leluasa Pikke mulai merobek dres putih panjang Jian dari tubuhnya, dan kini tinggal bra coklat dan dalaman coklat. Pikke pun mulai menodai diri Jian hingga gadis itu berteriak jeritan minta tolong.
" Tolong jangan lakukan ini pak.... saya mohon... tolonggggg....., " teriak Jian namun tidak ada yang bisa menolongnya.
"Hhhahahha...., " tawa dari anak buah Pikke kini giliran enam anak buah Pikke yang bergantian untuk menodai gadis kecil ini namun dari mereka enam hanya satu yang menolaknya, dia sangat merasa kasihan pada gadis itu apa lagi saat menatap tatapan kosong, tatapan yang dialiri dengan butiran air mata. Pengawal tersebut sangat merasa bersalah pada Gadis itu, pertama kali menatapnya yang dari awal sudah melihat dengan iba pada Jian.
Tapi sayang ia tidak bisa membantu Jian yang ia lakukan hanyalah membuka ponselnya merekam suara Pikke yang memerintahkan mereka untuk membakar mayat Jian, dengan supirnya sekaligus dengan mobil lalu sengaja mobilnya Jian digeserkan agak miring menghadap Jurang dengan menabrak sebuah pohon besar dan semua kaca lampu mobil dihancurkan. Agar orang berfikir bahwa itu benaran real kecelakaan mobil, yang menuju sungai seakan itu adalah kecelakaan bukan pembunuhan.
Saat Jian dicekram oleh kedua tangan Pikke dengan keras dilehernya, Jian sempat melawan namun kedua tangan Pikke semakin dieratkan dilehernya yang membuat gadis ini lemah dan kehilangan nyawanya malam itu juga. Sedangkan keenam preman itu hanya melihat preman yang satu mengalihkan pandanganya dari tatapan gadis itu sebelum meninggal tatapan dimana sang penjahat itu merasakan apa yang ingin gadis itu katakan.
Jian lalu membalikkan matanya dengan air mata yang terus berlinang jatuh dikedua telinganya dengan menghadap keatap alang-alang sambil berbisik dalam hati
" *Tidak kusangka takdir kematianku seperti ini, hari ini hari dimana diriku merasakan indahnya dunia, melihat senyuman mama dan papa untuk yang terakhir kali saat aku datang dimana yang ingin kutemui cinta yang kurindukan, tapi sayang cinta itu membawa takdir kematianku yang mengenaskan.
Oh malangnya nasibku. "
__ADS_1
" Diriku sudah lemah, nafasku sudah tidak bisa aku kontrol lagi, Impian yang kutulis dibukuku kini, itu hanyalah impian kenangan tentang diriku. Bunda, Ayah maafkan Jian karena Jian tidak bisa mewujudkan harapan kalian berdua. "
" Seperti angin yang berhembus di udara, selalu melangkah tanpa mengeluh, menangis dan berteriak tidak ada yang bisa mendengar suaranya, angin yang akan melangkah tanpa menoleh lagi, walau ia menangis dengan darah tidak akan bisa kembali lagi, itulah diriku, " batin Zian. Dan air mata yang terus mengalir dari kedua bola mata indahnya itu.
"Aku......aku........Aku .....kedua mata Jian tertutup secara pelan\-pelan dan tangannya pelan\- pelan terlepas dari tangan pikke, namun hatinya masih berbisik lagi.
" Tuhan jika ini takdir kematianku darimu seperti ini maka aku rela Tuhan, dan aku hanya berharap semoga suatu saat nanti kejahatan bapak pengacara yang selalu dijunjung tinggi oleh semua orang bisa terungkap. Biarlah sakit, perih, hancur, biarlah semuanya aku yang rasakan dan kubawa dalam takdir mengenaskan ini*. "
Detak jantung Jian terhenti kini dirinya sudah tidak bernyawa lagi dan Pikke sudah melepaskan kedua tanganya dari leher Jian saat melihat Jian sudah meninggal akibat cekramanya.
Pikiran Pikke untuk sejenak hening lalu ia kembali membuka kedua matanya dengan pembunuhan yang dilakukanya empat tahun lalu. Kini ia akan kembali melakukanya pada Zalina.
••••••••
*Bersambung*.
Cast pemeran Jian Cinta pertama Gilang.
__ADS_1