CINTA GILANG

CINTA GILANG
ALASAN PINDAH SEKOLAH~ Cinta Gilang.


__ADS_3

Cinta yang dulu hanya sebuah angan bagi Zalina kini menjadi kenyataan. Namun disisi lain dia merasa kasihan pada Reina karena dia tahu Reina sangat mencintai Gilang.


Reina yang dari kejauhan melihat Zalin dan Gilang membuatnya sangat emosi bibirnya tersenyum miring namun bukan senyuman bahagia melainkan senyuman sakit hati dan tak terasa pipi Reina basah ia segera menghapus air matanya. Tidak dengan sadar Niko ikut berdiri disamping Reina ikut menatap pemandangan yang membuat keduanya sama-sama sakit hati.


" Gue tebak pasti sekarang hati lo sangat sakit seperti dibakar dengan api," Ucap Niko dari samping Reina sambil menatap tajam Gilang dan Zalina.


" Sok tahu 'lo," jawab Reina dengan sedikit melirik ke Niko.


Di satu sisi Zalina begitu bahagia mendengar ungkapan Gilang namun dia tetep belum percaya , sambil menatap Gilang yang masih berdiri dahadapanya .


" Sudah tidak sakit lagi," sambil menarik tangannya dari telapak tangan Gilang.


" Entar malam aku yang antar kamu pulang setelah habis kerja, mau kamu terima atau tidak . Yang pasti kamu milikku mulai dari sekarang," tambah Gilang dengan kembali menatap Zalina dan mendekatkan matanya pada mata Zalina dengan tersenyum. Gilang kembali berbisik pelan,


"Jangan berani mendekati pria lain selain aku," lalu Gilang kembali menjauhi tatapnnya dari mata Zalin seperti semula namun terus menatap tatapannya pada Zalin masih sama dan sangat mendalam


"Apa...!" kaget Zalina dengan mengerutkan wajahnya yang sama sekali tidak jelek. Melainkan membuat Gilang gemas karena melihat kedua pipinya yang merah merona seperti semangka, lalu mencubit gemas kedua pipi gadis yang mampu meluluhkan hati seorang Gilang.


'Yah, Gilang memang sangat menyangi Zalina semakin hari rasa cintanya pada Zalina semakin besar, walau dia tahu bahwa dia harus menghadapi kesulitan ke depanya. Sedangkann Zalin masih terus menjauhi Gilang walau Gilang sudah mengatakan isi hatinya,


" Gilang lepaskan ," tangan Zalina melepaskan tangannya Gilang.


" Lang," panggil Zalin lembut.


" Hem...," Gilang bersuara namun hanya dari dalam .


"Reina adalah tunangan kamu


tidak sepatasnya kamu melukai dia," kata Zalin sambil sedikit menunjuk ke arah Reina yang sedang melihat mereka dari kejauhan.


" Aku harap kamu mengerti maksud aku" , tambah Zalin sambil membelakangi Gilang dan melangkah untuk pergi.


" Tunggu," tangan Gilang menahan lengan Zalin saat Zalin hendak pergi.

__ADS_1


"Aku sudah pikirkan semua itu, Zal. Entah percaya atau tidak aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan sebelum mengambil keputusan ini," ucap Gilang. Lalu Gilang sedikit diam dan kembali melanjutkan perkataanya.


"Aku tidak mengatakan kamu adalah alasan aku pindah ke sini namun kamu salah satu alasan aku pindah," tambah Gilang dengan menatap Zalina serius.


Zalin pun terdiam beberapa detik dia menarik nafasnya dalam- dalam lalu menghembuskanya dan kembali melangkah pergi meninggalkan Gilang.


 


" Entah kenapa hatiku bahagia namun hatiku ada rasa takut. Cinta yang aku anggap hanya sebuah mimpi kini menjadi nyata , terima kasih Gilang maaf karena aku tidak mau terlibat dalam dunia kamu itu akan menyulitkanmu," bisik Zalina dalam hati dan terus melangkah pergi.


 


Gilang hanya melihat kepergian Zalin dari punggung belakan gadis yang semakin menjauh dan menghilang dari tatapanya.


"Urusan Zalina adalah urusanku, Gilang tidak pernah memberikanmu harapan namun kamulah yang terlalu banyak berharap," ucap Niko lalu pergi meninggalkan Reina.


Saat Reina mau menjawab tapi Niko pergi meninggalkannya.


" Aku adalah Reina pikke buat apa aku menangis?"


Saat Reina berbalik Gilang sedang menatapnya dari kejauhan dan berteriak


" Tunggu aku disana!"


Reina hanya menatapnya dan diam yang berarti mengiyakannya.


" Ren," panggil Gilang.


"Hemm," Reina menjawab berdehem.


" Aku menyukai Zalina, dan aku harap kamu mengerti dengan perasaanku ini", sambung Gilang.


" Ha...," suara hembusan nafas keluar dari mulut Reina.

__ADS_1


" Sudah kuduga , lalu buat apa kamu memberitahu aku? kamu anggap aku ini siapa?" suara Reina mulai sedikit kencang.


" Gilang seberapa kamu berjuang mendapatkan Dia ,


tetap saja dia yang akan terluka," tambah Reina dan pergi meninggalkan Gilang.


" Hari ini aku sendiri yang akan membatalkan pertunangan kita di hadapan Papa dan Mama aku.


Aku hanya mau memberi tahu kamu ini saja," Gilang melangkah pelan dari belakang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku lalu kembali berhadapan dengan Reina.


" Aku minta maaf sebelumnya" Gilang pun memutar tubuhnya ke depan dan melangkah pergi meninggalkan Reina.


Hati Reina sekarang bukan dibakar lagi tapi ditusuk dan dicabik dengan pisau berulang- ulang.


Mata yang dari tadi dipenuhi kristal-kristal kini mencair dan membasahi pipinya .


Reina sedikit mengingat kembali kata- kata Zalin waktu dulu mereka masih bersahabat saat di mana, Zalin menasehati Reina yang menolak cinta ade kelas yang menyatakan cinta padanya


" Ka ini untuk ka," kata rido dengan memberikan sekuntum bunga mawar dan surat ungkapan rasa


cinta.


" Maaf kamu bukan levelku", sahut Reina sambil membuang bunga itu di lantai.


"Zal lo tahu dia menembak aku, masa muka yang pas-passan nembak seorang primadona smp taruna," cerita Reina pada Zalin.


" Ren yang perlu kamu ketahui terkadang sebuah kata-kata lebih menyakitkan dari sebuah pukulan, yang keras atau luka di goresan di tangan," nasenat Zalin saat Reina menceritakannya dan menatap Reina begitu mendalam.


Kini Reina menyadarinya dan ternyata yang dikatakan Zalin benar Reina terus menangis, namun rasa bencinya pada Zalin kembali muncul di pikiranya.


Andai bukan cinta mungkin sekarang dia sudah memeluk Zalin dan menangis di sahatnya tersebut.


Jangan lupa vote, laike komen dan saran. Terima kasih buat yang sudah mampir🙏🙏❤😘

__ADS_1


__ADS_2