CINTA GILANG

CINTA GILANG
DIA PULANG dan Aku Kehilangan.


__ADS_3


Kerena bandara di London begitu ramai jadi Gilang menyuruh Jem untuk tidak menunggunya. setelah sampai di bandara akhirnya Jem pun menuruti kemauan Gilang


dan keduanya saling berpelukan untuk berpisah setelah tiba di bandara.


" see You again, bisik Jem saat melepaskan pelukannya dari Gilang."


"By, Jem see you", jawab singkat Gilang sambil melambaikan tanganya pada Jem dan menarik koper hitam untuk masuk ceeking tiket.


Di satu sisi Zalina yang baru pulang dari kerjanya memutuskan membeli hadiah untuk Ayah, Bunda ,dan Reino di salah satu pasar malam yang lagi rame dekat tempat kerjanya.


Karena keasikan belanja hadiah dari hasil bonus yang kemarin Ia dapatkan dari engkong.


Zalina lupa mengabari kedua orang tuanya.


Dan itu membuat Ibu Zalin kwatir karena Ayah Zalin lagi sakit atas musibah yang terjadi kemarin di sekolah. Jadi bunda Zalin tidak mau menggagu Ayahnya.


Dia memutuskan untuk pergi menunggu Zalina di depan Jalan raya umum.


" Tidak biasanya Zalin pulang telat biasanya kalo lembur kerja dia selalu mengabari aku atau Ayahnya, bisik Bunda Zalin sambil jalan mondar-mandir di depan teras rumah karena kwatir, malam itu hujan semakin deras kilat guntur di mana-mana kekewatiran Bunda Zalin semakin memuncak.


" Ren Bunda pergi menunggu kakak kamu di depan jalan umum ,kamu jagain Ayah kamu, pesan Ibu Zalin pada putranya yang sudah remaja itu."


akhirnya Bunda Zalina mengambil payung merah besar membukanya dan berlari ke depan.


" aduhhh ko batreku lobet. kasihan Ayah dan Bunda mereka akan panik jika aku pulang terlambat", bisik Zalina saat ia berteduh dengan orang-orang


yang terjebak hujan di halte bis.


Jalanan yang begitu rame ditambah lagi hujan yang deras membuat semua orang yang lewat berteduh di sebuah warung makan bakso.


" Nomor yang anda tuju tidak aktif. cobalah beberapa saat lagi", suara dari ponsel bunda Zalina. Wanita tua ini terus memencet tombol panggilan , mengulang- ulang panggil Zalin tapi tetap saja nomor ponsel Zalina tidak aktif.


" Akhirnya reda juga hujan. terimakasih Tuhan" ,ucap Zalina lalu keluar membawa tiga tas plastik coklat yg beriisi hadiah untuk keluarganya. Zalin pun menahan taksi lalu Ia masuk ke dalam taksi dan taksi kembali berlaju hingga berhenti di Jalan depan yang tidak jauh dari rumah Zalina.


"Makasih ya pak", ucap Zalin saat turun dari mobil taksi sambil memberikan uang ongkos.


" Sama- sama neng",sahut supir taksi, dan kembali menutup jendela kacanya untuk melaju pergi.


" Aku mau pulang cepat-cepat", bisik Zalina pelan dengan senyuman lebar dibibirnya sambil berlari pelan. Langkah kaki Zalin berhenti saat Ia melihat seorang wanita yang tidak asing baginya. memakai daster batik dengan sendal jepit.


Serta rambutnya diikat menjadi satu. Sedang berdiri di seberang jalan melihat kesana- kesini seakan mencari seseorang dia adalah Bunda Zalina.


" Bunda?, ucap Zalina kaget melihat bundanya."


" Bundaaaa.... tunggu di situ jangan kemana- mana," , teriak Zalina dari seberang jalan yg dilalui motor dan mobil dengan lambaiaan tanganya ke atas.


" Zalin? , sahut Bunda Zalina yang sedikit lega karena putrinya sudah kembali".


Dari kejauhan berlaju sebuah mobil hitam honda mewah yang besar dengan kecepatan yang tinggi.


" Zalin tunggu disitu...jang...", belum selesai berkata tubuh wanita dasteran itu dihantam oleh mobil hitam honda tersebut .

__ADS_1


" aaaaaaaaaaa.......teriak bunda lena sambil mengakat kedua telapak tanganya untuk menahan cahaya lampu mobil , namun sayang kecepatan mobil itu sangat tinggi".


"Prakkkkkklkkkkkkkkkk........", tubuh wanita paru baya itu mendarat di kaca mobil depan lalu terjatuh terbentur keras kepalanya ke aspal. Aspal jalan yg terbaring tubuhnya sudah di penuhi dari merah dari bagian kepala belakang Ibu Zalina.


"Bundaaaaaaa....Teriak histeris Zalina."


Zalin berlari begitu cepat melemparkan tas plstik coklat di seberang jalan yang melayang di udara. kekawatiran Zalin menjadi saat melihat darah mengalir dari otak kecil lena di bagian kepala belakang Lena.


Hidungnya pun berdarah tangan dan kakinya luka-luka yang sangat parah. dengan goresan- goresan di wajahnya.


tergeletak di tengah jalan dengan menutup mata.


"Bundaaaa....uhhhhhhh....


tidakk.... ba....ngun bundaaa. bangunnnnn....tangisan histeris Zalin,".


"Cepatan bawa ke rumah sakit ,kata warga yang saat itu melihat kecelakaan tersebut".


:


:


:


Tiba- tiba foto bunda Zalin dan ayahnya terjatuhhh di lantai kamar mereka. yang membuat Ayah Zalin kaget dan bangun dari tidurnya. perasaan tidak enak pun dirasakannya.


Dia lalu keluar ke depan karena istrinya tidak ada di kamar .


"Ayah, sapa Reino yang masih menunggu mama dan kakannya di depan teras."


" Ko kamu belum tidur?", tanya Toy.


" Aku lagi menunggu Bunda sama kakak. tadi bunda kwatir karena kakak belum pulang jadi, bunda pergi ke depan menunggu kakak", sahut kembali Reino dengan penjelasan.


" Kakak kamu belum pulang?, ko tidak banguni Ayah?. kata Toy pada putranya itu dengan wajah tanda tanya?."


" Tadi bunda bilang bapa lagi sakit, jadi bunda yang pergi".


Belum selesai berbicara


tiba-tiba bunyi telpon Toy berdering. Toy segere mengambil ponsel yang ada di atas meja. tertera panggilan masuk dari Zalina, Toy mengklik tompol hijau di bagian bawah layar.menempelkan benda kecil tipis itu ke salah satu telingganya.


"Ayahhh.........suara tangisan Zalina dari telpon."


" Ada apa Zalin?, kenapa kamu menangis?".


" Bunda ada dimana ?. kenapa kalian belum pulang?", jawab Toy dengan kewatir akan Istri dan anaknya.


" Aku baik- baik saja, Ayah. huuuuuuuuuuuu....


Bunda ....?"


" Ada apa sama Bunda ?", kecemasan mulai dirasakan lelaki tua ini.

__ADS_1


Dengan mengumpulkan keberanian Zalina pun mengatur nafasnya entah apa reaksi Ayahnya namun dia harus memberi tahu Ayahnya.


" Bun- da ... Kecelakaan Ayah".


" Apa?. Ponsel pun terjatuh dari tangan Toy".


Membuatnya terduduk lemas di kursi lalu matanya pun mulai berkaca- kaca ternyata Kekewatirannya benar.


" Ayah kenapa?. Apa semua baik- baik saja ?", bicara Reino yang sudah menangis melihat Ayahnya duduk lemas dan pipi yang sudah dibasahi air mata. merangkul kedua bahu ayahnya sambil peluk erat ayahnya dan dia menangis dalam pelukan Ayahnha.


Ponsel yang tadi terjatuh diambil oleh Reino lalu diberikan pada Ayahnya.


" Ayah ayo telpon ka Zalin!. tanya apa semua baik- baik saja?", kata Reino dengan kepolosannya sambil menyedorkan ponsel tersebut pada Ayahnya."


pesan masuk berbunyi dari Zalina.


" Ayah bunda dirumah sakit darma, bunda lagi dirawat di ruang Icu".


Melihat pesan tersebut. Toy langsung bangkit berdiri menggengam tangan Reino sambil berkata.


"Reino ayo pakai sendal!. kita kerumah sakit."


"Ada apa Ayah kita kerumah sakit?".


" Nanti Ayah jelaskan, ayo kita pergi sambil mengunci pintu lalu berjalan agak cepat sambil terus memegam tangan Reino dan menaiki ojek .


" Pak ke rumah sakit darma!".


" Baik pak0", tukang ojek punk melaju agak cepat.


" Maaf apa kamu anak ibu lena?", sapa dokter pada Zalina yang sedang menangis duduk di kursi dekat ruang Icu .


" Hallo dok, ahh.... ya saya anaknya".


" Dok. apa ibu saya baik-baik saja?", sahut Zalin sambil berdiri bersalam dengan dokter dan


Menatap dokter dengan kecemasan diwajahnya."


"Ehmmm...." tarikan nafas dokter yg tidak tega melihat Zalina dengan keadaan seperti ini.


" Maaf sebelumnya , tapi Ibu kamu tidak tertolong nyawanya karena benturan keras di otak kecilnya serta patahan tulang lehernya".


" Kami sudah mencoba semua cara tapi sayang Tuhan berkehendak lain."


" Tidakk.... ,tidak mungkin do-k Ibuku wanita yang kuat."


" Bundaaa.... Bangunnnnn lihat apa yang Zalina sudah beli buat bunda!, hadiahh buat bunda buka mata bundaaaa. Ehuuuhhhhh", tangisan yg begitu keras , Zalina yang biasanya menahan air mata kini air mata itu mengalirr tanpa hentinya.


Ina sahabat Zalina dan Nando yang datang kerumah sakit karena tadi sempat di beritahu oleh Ayah Zalin. Kebetulan rumah mereka dekat dengan rumah sakit darma jadi Toy meminta mereka untuk menemani Zalina.


Suara tangisan Zalin di ruangan kamar jenazah terdengar oleh Ina dan Nando dan mereka berdua diberitahu oleh perawat bahwa Ibu lena tidak tertolong dan dia kehilangan nyawa di tempat kejadian.


***Bersambung***.

__ADS_1


__ADS_2