CINTA GILANG

CINTA GILANG
Kebahagian Di atas penderitaanku


__ADS_3

Pagi yang begitu indah membawakan suasana yang baru bagi semua orang untuk mengawali dengan semangat yang baru.


Bagaikan semalam adalah mimpi buruk baginya seakan peristiwa itu terus menghantui pikirannya. wanita yang matanya seperti srigala sedang berdiri.


Mendadan dirinya di meja rias agar goresan luka yang ada di belakang lehernya tidak kelihatan.


Lalu dia berdiri kembali dari meja riasannya melihat ke cermin yang ada di hadapanya.


Rambut yang pendek, kemeja putih berbunga-bunga memakai rok hitam yang cukup pendek diatas lutut dan memakai haihils hitam membuatnya terlihat cantik.


Tapi sayang hatinya tidak secantik penampilannya.


Tiba-tiba seorang pria dewasa datang dari belakang mengeratkan pelukannya dipinggul wanita tadi ,pria yang memakai kacamata kumis agak tebal dan badan sedikit gemuk.


Rambut yang sedikt putih.memakai jas hitam beraalas kemeja putih dasi hitam dan celana hitam.mereka adalah Ayah Reina dan mama Reina.


" Sayang kenapa kamu sangat cemas?".


" Apa kamu memikirkan masalah semalam?",


bisik irwan pikke ditelingga istrinya. Atau nama lainya adalah siska. saat dia mendekatkan kepalanya dan meletakan dagu bawahnya di bahu siska lalu Dia mengeratkan pelukannya."


" Mas gimana kalo orang- orang tahu aku yang menabrak wanita tua itu",


Sahut Siska sambil melepaskan pelukan Pikke dipinggulnya dengan tangannya memisahkan kedua tangan suaminya dari perutnya dan berbalik menatap pikke.


" Kamu tenang saja aku sudah urus.


Aku sudah bayar jaksa- jaksa dan saksi mata, jadi jika mereka melaporkan ke polisi mereka tidak akan menemukan apa-apa" .


" Bagaimana dengan mobil aku yang lecet dan tanda darah-darah ada di lampu sorot mobil?",


Sahut siska yang kwatir karen dialah pelaku tabrak lari mama Zaliana.


" Hei ! Kamu percayakan sama suamimu ini. Aku irwan pikke masalah sekecil ini tidak ada apa-apa sama aku".


"Semuanya sudah aku handalin pake ini dan sudah aku urus secara matang", sahut kembali Irwan dengan menatap istrinya. mengangkat kedua jarinya yang menberikan bahwa sudah dikerjakan dengan uang.


Dan soal mobil dia sudah memberi tahu bengkel untuk menghilangkan bekas darah. dan dia


juga sudah membayar tukang servis mobil dengan bayaran yang mahal hanya untuk menghilangkan jejak tabrak lari tersebut.


Sungguh kejam bukan.


Akhirnya mereka berdua tertawa bahagia


dan berpelukan kembali,


" Terima kasih mas , beruntungnya aku memilikimu".


" Sama- sama sayang , di dunia ini uang adalah segalanya jadi mama tenang saja".


setelah bercakap sedikit mereka berdua melepaskan pelukan dan keluar membuka pintu kamar. melangkah menuruni anak tangga untuk sarapan pagi.


Di bawah sudah ada Reina yang menunggu.

__ADS_1


dia pun menyapa kedua orang tuannya .


" Pagi mom....pi...",


Kata Reina sambil mencium pipi kedua orang tuanya.lalu kembali duduk di kursi meja makan.


"Mam aku sarapan dikit saja, soalx ntar aku mau jemput Gilang".


" Ok sayang. salam dari mama dan papa untuk Gilang", Reina pun menyelesaikan sarapan roti coklatnya lalu beranjak dari kursi mengambil tas sekolah untuk pergi ke sekolah.


" Ma...., pi...., aku berangkat dulu", sahut Reina sambil mencium kening mamanya dan pipi papanya lalu melangkah ke depan pintu untuk keluar dan masuk ke mobil.


Zalina yang terus menangis di Jenazah ibunya yang mau dimakamkan.


" Zalin jangan sedih sayang kamu harus Iklas kepergian Ibu nak. Ibu tidak akan bahagia jika kamu terus menangis begini".


" Ayah..... Huujuuuu.... semua ini salah Zalina. Zalin yang membuat Ibu begini".


Kata Zalina sambil menangis di pelukan Ayahnya.


" Zal kata Ayah kamu benar kamu harus iklas , ibu kamu tidak akan bahagia jika kamu terus menangis", Kata Ina yang menemani Zalina dari semalam sampai sekarang.


" Zalin ini bukan salah kamu tapi ini adalah takdir. Kita tidak tahu kapan takdir itu datang,


Yang kita lakukan hanya kesiapan Batin di setiap waktu", Kata Ayah Zalin yang terus mengelus rambut Putrinya dan putra kecilnya yang sedang menangis di pelukannya.


Ayah Zalina menahan rasa sakitnya agar kedua anaknya tidak sedih kini dia harus menjadi orang tua tunggal untuk kedua anaknya.


Dia tahu ini memang sulit tapi apa pun tantangannya dia harus bisa hadapi demi keluarganya.


Kini tiba pemakaman Bunda Zalin


" Bundaa......... Bundaaaaa jangan tinggalkan Zalina, Bundaaa semalam Zalina melihat senyuman Bunda. mengapa senyuman itu sekarang hilang? ,Bundaa....."


" Huuuuhh.... sudah sayang ", air mata Toy mengalir saat melihat tangisan putrinya. dia lalu memeluk kedua anaknya dalam pelukan saat mengiringi istrinya dimakamkan di tempat peristirahat terakhir.


" Ayah apakah Reino hanya melihat tanah ini saat Reino rindu bunda?,huuuh..."


" sudah sayang", bisik Toy lagi.


Tangisan air mata ,luka senyuman tawa canda kini tinggal kenangan dalam sebuah potret sehelai kertas yang akan selalu dikenang dalam sebuah memory", bisik Zalina dalam hati sambil memegang foto mamanya dan menangis di pusaran makam mamanya.


Dilain sisi Reina sama sekali tidak peduli dengan kematian Bunda Zalin dia bahkan tidak mau memikirkanya. Dia lebih memilih menjemput Gilang


dari pada harus pergi melayat kematian bunda Zalina. dia pun berkata Dulu memang sahabat aku tapi sekarang musuhku


"Ledy tolong sampaikan salamku pada Zalina , kata Reina yang mau pergi kebandara saat mama Gilang datang menjemputnya".


Reina dan mama Gilang yang menunggu kedatangan Gilang di bandara mereka lagi bicara sedikit saat mama Gilang memujii kecantikn Reina.


"Wahhh kamu tumbuh dengan baik


Kamu makin cantik, tidak salah Gilang bertunanagan dengan kamu."


" terima kasih tanta atas pujianya", sahut Reina singkat sambil senyum lebar.

__ADS_1


tidak lama mereka berbincaang-bincang


dilihat dari kejauhan ada Seorang lelaki tampan ,tinggi, dengan kaos hitam sedang berjalan menarik Koper hitam melangkah dengan santai keluar dari pintu bandara.


" Halo mam , ada di mana?",kata Gilang di telpon saat dia sudah tiba di bandara.


" Itu Gilang tante", teriak Nando saaat dia datang dari belakang menghampiri Reina dan Malti.


Gilang sengaja menyuruh nando menjemputnya karena dia malas berduan dengan Reina.


"Ohh Tuhan Tampanya Gilang, sungghh dia sangat Tampan", bisik Reina saat dia sudah dihadapan Gilang.


"Hai sayang ,I miss You so Much" ,


Kata mama Gilang yang langsung memeluk putranya.


"Hai Nando?", sapa Gilang pada Nando saat melepaskan Pelukan dengan mamanya.


Reina yang dari tadi diam ,bersuara kembali saat ditegur oleh Malti.


" Ren sapa dong tunangan kamu, kamu tidak kangen sama dia?".


" Hai Gilang!. apa kabar ?", jawab Reina dengan sedikit canggung karena sudah lama tidak bertemu dengan Gilang.


"Hai!", jawab cuek Gilang. Selesainya bersapa-sapa sebentar


Akhirnya mereka punk pulang kerumah masing-masing. sebelum pulang mereka masih mengantar Reina pulang.


" Gilang, panggil Reina saat sudah di rumahnya sebenarnya Gilang malas turun dari mobil hanya untuk mengatar Reina ke depan Rumah , tapi karena dipaksa mamanya akhirnya Gilang terpaksa ke luar dari mobil.


" Hem....", Jawab cuek Gilang dengan suara dari dalam tapi mulutnya tidak terbuka.


" Terima kasih , ahhhh.... aku sangat bahagia saat kamu, belum selesai Reina berkata ."


" sudah sampai, sana masuk!.


Aku juga lelah kita ngoborol dilain waktu saja. Selamat malam", kata Gilang sambil tersenyum paksa dan mengeluarkan tangannya dari dalam saku celana dengan memegang lehernya dan menggoyangkan kekiri dan kekanan yang menandakan kalo dia sangat lelah.


" Maaf...., selamat malam", jawab Reina sambil melangkah pelan ke depan Pintu rumahnya,


Lalu berbalik melihat Gilang sebentar sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.


Gilang pun melambaikan tangan sambil membalas senyuman tipis pada Reina lalu dia berbalik pulang kembali ke mobil.


Reina hanya melihat mobil Gilang yang sudah berlaju pergi.


Hingga menghilang dari tatapannya.


Dia pun berbisik dalam hati


" aku tahu kamu tidak menyukaiku tapi aku akan membuat kamu jatuh cinta padaku. Karena kamu adalah tunanganku. dan aku tidak akan pernah mau menyerah untuk mendapatkan cinta kamu.


Aku adalah Reina pikke.


Semua keinginanku harus tercapai.

__ADS_1


Reina tersenyum sambil mengangkat alisnya mata kirinya sedikit keatas dan melototkan matanya seperti mata mamanya yang seperti srigala itu.


***Bersambung***.


__ADS_2