CINTA GILANG

CINTA GILANG
TIDAK~ CINTA GILANG.


__ADS_3

Cinta adalah fakta bukan donggeng sebuah cinta memang kadang menyakitkan namun jika diresapi cinta adalah sebuah rasa yang tidak bisa di jelaskan oleh sepasang insan yang berbeda.


Reina yang menangis terus-terus menerus di kamar membuat mamanya sangat kwatir dengan keadaanya.


" Ren sebenarnya apa yang membuat kamu menangis?" tanya mama Reina sambil mengelus rambutnya putri semata wayangnya itu.


"Ma....," Reina memeluk mamanya dengan erat dan terus menangis.


"Ma Reina sayang sama Gilang, tapi Gilang menyukai gadis sampah itu"


"Maksd kamu?" tanya mama Reina binggung.


Reina pun menceritakan yang sebenarnya terjadi antara dia dan Zalin serta Gilang mulai dari awal sampai akhir.


" Maksud kamu Gilang menyukai anak seorang pemulung!" kaget Mama Zalin.


Reina pun mengangukan kepalanya pelan tanpa bersuara.


" Buat apa kamu menangis ? kamu itu anak seorang Irwan pikke Ren," tambah mama Reina lagi.


Di satu sisi Zalin bekerja namun Zalin lagi kepikiran dengan Ayahnya yang lagi sakit-sakitan. untungnya dia memiliki adik, jadi Reino yang menjaga Ayahnya.


Sedangkan Zalina bekerja untuk bisa memenuhi kebeutuhan mereka sehari-hari.


Disisi lain Gilang membatalkan keinginannya yang mau menjemput Zalin setelah pulang kerja .


Dia harus mengikuti acara makan malam dengan mama dan papanya untuk rencana membatalkan pertunanganya.


"Pa," panggil Gilang saat sudah duduk di meja makan dengan Ayah dan mamanya di meja makan. Yang sangat besar dengan bermacam-macam makanan dan minuman.


" Ya," sahut Mada lalu menatap Gilang.


" Ada hal yang harus Gilang katakan pada mama dan papa," seru Gilang lagi.


" Lanjutin perkataanya nanti saja setelah makan. Tidak baik saat makan kita berbicara" , bisik pelan Malti menatap suami dan anaknya.


Lalu mereka pun memulai makan dan menyelesaikan makan malam tersebut.


Setelah itu Gilang pun membersihkan mulutnya dengan tissu lalu meletakkan kembali garpu dan sendok di meja, mengambil air putih yang ada di meja dan meminumnya.


" Silakan katakan apa yang mau kamu katakan", ucap Mada saat dia sudah menyelesaikan makananya.


" Sayang kamu mau mengatakan apa?" tambah Malti sambil menatap Gilang dari samping.


" Ma..., pa...! Gilang mau berbicara soal pertunangan Gilang dan Reina"


" Reina adalah gadis cantik


dan gadis yang baik namun gilang ...." Gilang menghentikan perkatanya.


" Namun ?" tatapan mata papa Gilang begitu tajam dengan wajah yang penuh pertanyaan.


"Lanjutkan perkataanmu", sambung Mada lagi.


" Gilang tidak menyukai Reina dan Gilang ingin", belum selesai berkata perkataan Gilang dipotong oleh Mada.


" Sudah cukup, Papa mengerti"


" Gilang mau kamu terima atau tidak pertunangan ini tetep dilanjutkan dan papa tidak akan membatalkanya

__ADS_1


silakan saja kamu berontak


ini adalah keputusan papa," tutur Mada sambil bangkit berdiri dan meninggalkan meja makan lalu melangkah pergi.


" Pa. Gilang mencintai gadis lain,"


teriak Gilang.


" Gilang tidak menyukai Reina alasan aku pindah ke indonesia karena aku menyukai gadis itu pa," tambah Gilang.


Sambil mengeserkan kursinya dan melangkah pergi meninggalkan meja makan berjalan mendahului Ayahnya dengan menaiki anak tangga untuk ke kamarnya.


" Gadis siapa Gilang? yang kamu taksir?" teriak Malti pada Gilang dari meja makan.


Tanpa menjawab Gilang terus melanjutkan kakinya menaiki anak tangga satu persatu, sikapnya seperti itu membuat Mada semakin emosi.


" Gilang....!" teriak papa Gilang yang sangat marah melihat Gilang terus melaju menaiki anak tangga tanpa memjawab pertanyaan mamanya.


" kamu lihat, 'kan, anak yang kamu manja bukanya sopan malah sama saja seperti dulu" , kata Mada pada Malti lalu melangkah pergi meninggalkan Malti di meja makan.


" Maafkan Gilang ma, tapi Gilang harus bisa jujur tentang perasaan Gilang yang sebenarnya," bisik Gilang pelan saat ia sudah di depan pintu kamar yang tidak sengaja mendegar perkataan papanya.


Di tempat lain Zalina membereskan meja-meja pelangan yang baru habis di gunakan. Ina sms ke Zalina yang mengatakan bahwa dia dan Nado mau pergi makan di kafe Quing. Kerena besok Ina tidak masuk sekolah dia memita ijin untuk mengikuti pernikahan sepupunya di bandung.


Zalina yang membaca sms tersebut hanya tersenyum sedikit di bibirnya. Tiba-tiba Zalin mendengar langkah sepatu haihils hitam yang berhenti di tempat di mana Zalin membereskan meja. Zalin yang bingung dan kaget menggangkat wajahnya, lalu melihat keatas.


Disana sudah berdiri seorang wanita memakai kemeja putih, rok hitam agak pendek dengan tatapan mata yang tajam seperti srigala kelaparan.


Dia adalah Siska mamanya Reina. Sontak batin Zalina kaget melihat sosok itu karena Zalin kenal siska yang sering diceritakan Reina waktu dulu mereka masih bersahabat.


Namun Siska tidak mengenal Zalin karena tidak pernah Zalin ke rumah Reina. Dan Reina pun belum mengenalkan Zalina pada mama dan papanya jelas Reina takut di larang berteman dengan Zalina karena kehidupan Zalin yang berbeda dari Reina.


" Ahh maaf ibu mau duduk disini?"tanya Zalina.


" Mengapa mamanya Reina mencari aku?" batin Zalina berkata.


"Hello.... apa kamu tuli?


teriak Siska.


" Maaf bu sa..ya"


Suara Zalina terbata-bata dan sedikit grogi .


Semua pelanggan yang ada di kafe Quing melihatnya karena keget dengan teriakan Siska.


"Sa...ya adalah Zalina,"


jawab Zalina dengan tangannya yang sudah bergementar.


" Ohh jadi kamu anak sampah yang lagi mau berusaha jadi ratu?" Siska Melipat kedua tangannya di dada dengan mata yang menatap tajam Zalina.


" Maaf saya tidak mengerti maksud ibu?


" srekkkkkk .....," siraman air putih dari gelas ke wajah Zalina .


Salah satu gelas yang beriisi air putih yang ada di meja dan kebetulan dekat dengan meja di mana Zalin bersihkan itu.


Semua orang menutup mulutnya termasuk para pelayan-pelayan kafe dan kepala pelayan.

__ADS_1


Zalina yang tadi bingung dia pun mengerti dengan maksud ini.


" Lo tidak usah berpura-pura lagi.


Bagaimana mungkin seorang anak sampah seperti kamu merebut hati seorang pangeran?"


"Oh.... aku mengerti kamu adalah gadis pemulung yang mencari kehausan kekayaan, 'ya kan," seru Siska lagi dan masih dengan wajah yang diliputi kemarahan.


" Maaf .


Ibu mau pesan apa?" Zalin masih berusaha menahan emosinya dan bersikap tenang.


Kamu mau saya pesan apa...! teriak Siska lagi. Pelayan ambil kecap yang ada di meja sebelah!" panggil Siska pada seorang pelayan yang sedang mengantar makanan pada pelanggan di meja sebelah. Lalu dia pun kembali mengambil kecap bekas yang ada dimangkok bekas makan pelanggan, dan memberikanya pada Siska.


" Kamu mau saya pesan apa


Ini.....?Srekk...," siraman kedua kalinya namun bukan air putih melainkan kecap bekas.


Kini baju kerja dan muka Zalina penuh dengan kecap.


Zalin yang menutup mata saat wajah cantiknya disiram kecap hanya terdiam dan menahan kristal es dimatanya yang sekarang sedang membendung di sana.


Zalin yang baru mau membuka satu matanya yang lengket dengan kecap di pipinya kanannya,


"PAK....................," lagi dan lagi tamparan keras dari tangan Siska melayang dipipi kananya dan bekas telapak tangan yang besar itu membekas di pipi yang mulus dan mungil itu.


" Sekali lagi kamu buat Reina menangis! akan lebih parah dari ini!" tambah Siska dengan menunjuk jari tunjuk ke wajah Zalin. Lalu dia pun menghentakkan sepatu haihilsnya keras dilantai dan pergi meninggalkan Zalina. Bertepatan dengan itu ada Ina dan Nando yang melihat dari luar kaca, kebinggungan akan apa yang sebenarnya terjadi.


Zalin yang mau menangis namun masih di tahannya saat melihat semua mata yang masih memperhatikanya.


" Zalin!"


teriak Ina pada Zalin dari luar pintu kaca.


" Kamu baik-baik saja Zal?"


tanya Ina dengan cemas saat berlari masuk menghampiri Zalina.


" Aku baik -baik saja Na", jawab Zalin sambil memaksakan senyuman dibibirnya. Namun Ina melihat tatapan kedua bola mata Zalin dipenuhi dengan kristal mata yang sudah membendung di sana"


" Na . Aku ke toilet sebentar, Nila tolong kamu layanin kedua tamuku sebentar," pesan Zalin pada Nila salah satu teman kerjanya.


" Gilang lo dimana?" ketikan pesan Nando pada ponselnya lalu mengirim ke kontak Gilang.


Gilang yang lagi kesal dengan sikap papanya mebuatnya melamun di sofa kamarnya, namun tiba-tiba ponselnya berdering menandakan pesan masuk.


" Dirumah," Jawab singkat ketikan pesan Gilang ya g lagi duduk sambil meyandarkan lehernya ke kepal sofa yang ada di kamarnya.


"Zalina dalam masalah. Ibu Reina tadi datang ke sini entah apa yang terjadi, yang jelas semua wajah Zalina penuh dengan kecap bekas makanan soto atau apa itu? dan pipinya sangat merah seperti sebuah tamparan"


Gilang yang lagi duduk dan menyadarkan leher baru sebentar di sofa dalam kamarnya, langsung bangkit berdiri.


Memakai sendal kamar dan mengambil jaket merahnya lalu keluar dari kamarnya dan berlari menuruni anak tangga , menuju pintu utama mengambil mobilnya dan keluar dari rumahnya dengan sangat cepat lebih dari biasanya.


" Kamu mau kemana?" tanya Malti pada Gilang.


" Aku ke luar sebentat ma,"


Jawab singkat Gilang dan pergi meninggalkan mamanya yang lagi duduk di kolam renang, yang kebetulan jaraknya tidak jauh dari garansi mobil.

__ADS_1


***Jangan lupa like, vote, komen dan saran.


Terima kasih ya buat yang sudah mampir🙏❤😘***


__ADS_2