
Gilang dan Reina dalam mobil sport birunya dia memakai sabuk pengaman dan Reina mengikutinya memakai juga. Keduanya hanya terdiam saat mobil distar oleh Gilang dan melaju keluar dari halaman sekolah.
" Lo jangan berpikir aneh- aneh dulu ini aku lakukan sebagai rasa hormatku pada kedua orang tuamu. "
Suara Gilang keluar saat mereka sudah sampai di halaman rumah Reina setelah dua puluh lima menit menempuh perjalanan.
Reina hanya diam dan turun dari mobil
namun tetap saja dia bahagia walau Gilang belum sepenuhnya iklas.
" Mau masuk tidak? " tawar Reina pada Gilang dari luar kaca mobil.
" Tidak. Salam buat mama papa kamu sampi bertemu nanti malam. "
Tolak Gilang lalu melaju mobil pergi meninggalkan Reina yang masih melihat dari belakang.
Akhirnya lonceng sekolah pulang berdering semua anak-anak Sekolah Bangsa pulang dari kelas mereka masing-masing, Zalina seperti biasa meminta Ina mengantarnya ke toilet ganti untuk langsung memakai pakaiaan kerja dan bekerja seperti biasanya.
Mereka berjalan bersama ketoilet ganti Ina melihat wajah Zalina yang murung dari kelas sampai sekarang.
" Zal. Lo tidak apa- apa? apa lo sama Gilang bertengkar? Ina memegang kedua tangan Zalina saat mereka sudah di hadapan toilet dan Zalina yang bergegas dengan memegang baju kerjanya yang hendak melangkah ke dalam toilet.
" Ina ini memang harus terjadi, dari dulu lo tahu siapa Gilang ia adalah anak orang kaya raya sedangkan aku anak dari keluarga yang sangat berbeda darinya."
"Apa lagi ayah aku lagi sakit dan aku kerja di salah satu kafe milik kedua orang tuanya. Bayangkan apa yang akan terjadi jika sampai pak Mada dan bu Malti tahu."
" Aku mungkin akan dipecat sedangkan kafe itu yang mambantu aku menghasilkan uang untuk membantu Ayah, " jelas Zalina pada Ina.
Zalina pun melangkah masuk ke dalam toilet, untuk mengganti pakaiaan kerja. Zalina melihat ke depan cermin lalu membasuh wajahnya dengan air agar mata sembabnya, tidak dilihat oleh orang kecuali sahabatnya Ina. Yang tadi hanya memeluknya saat ia keluar dari toilet dan sempat Zalina tadi tumpahkan tangisannya.
Disisi lain Nando dan Tomy yang mulai mencari bukti penikaman, yang dilakukan salah satu preman pada Ayah Zalina. Nando yang mulai mengaitkan penikaman Ayah Zalina dengan kasus kecelakaan Bunda Zalina serta Jian.
Mereka membahasnya di sebuah ruangan rahasia di sekolah yang hanya diketahui Gilang, Nando, dan Tomy.
"Tom lo lihat saat preman itu menikam Ayah Zalina ia membom dirinya," ucap Nando sambil menunjuk video bom bunuh diri preman tersebut.
" Lalu kecelakaan ibu Zalina, kasusnya ditutup dan pelaku tabrak lari itu tidak diketahui pada hal sudah dimuat dikompas koran, dan polisi hanya diam."
"D an juga kasus kecelakaan Jia empat tahun lalu dimana Jian dikatakan membunuh diri dengan memutuskan kabel penyambung mobil, dan bocoran pada aki mobil sehingga mobil itu terbakar dengan Jian hangus dalam kebakaran tersebu, " jelas Nando pada Tomy.
" Benar sekali Nand. Bagaimana mungkin seorang anak putri yang baru berusia 15thn, dikasih mobil pribadi oleh kedua orang tuanya mengendarai sendiri di malam hari dan tidak dikawal, " tambah Tomy.
__ADS_1
" Sedangkan sim mobil dimiliki saat berusia 17thn , mengapa polisi tidak selidiki dan menutup kasus tersebut tanpa ada jejak penyebab kecelakaan itu, " sambung Nando sambil menunjuk gambar kecelakaan jian yang, ada di meja dan gambar kecelakaan ibu Zalina dikompas koran dan vidio yang tidak sengaja di rekam oleh Nando pada malam itu.
"Menurutmu bukankah ini aneh? " tanya Nando pada Tomy.
"Lalu siapa yang merencanakannya? dan dia sengaja menghilangkan jejak pembunuhan ini. "
" Nando kita harus memecahkan ini dan yang membantu kita untuk kasus Jian adalah Niko, " jelas Tomy.
Malam telah tiba hotel yang berbintang lima sudah siap. Tertata meja yang panjang dan kursi \-kursi, semua lampu menyala yang menghiasi ruangan hotel tersebut.
Yang menggambarkan ruangan yang indah dengan tema serba biru. Di sana sudah dihadiri oleh seorang lelaki yang beruumur, berjas biru dengan mengunakan kacamata dan mengenakan pakaiaan resmi.
Sedangkan yang duduk di samping kiri dan kanannya, ada seorang wanita cantik awet muda yang mengenaka dres biru panjang yang sangat anggun dan juga seorang pria tampan mengenakan pakaiaan resmi sesuai kedua orang tuanya. Rambutnya yang diacak-acak tapi tetap kool sedang menunggu tamu undangan mereka. Mereka adalah keluarga Mada, Durga Mada, Gilang Mada, dan Malti Mada.
Sesuai tema malam ini semua mengenakan serba biru terlihat dari pintu masuk tiga orang yang juga mengenakan pakaiaan biru, Irwan Pikke mengenakan jas biru sepatu hitam alas putih. Sedangkan istrinya Siska mengenakan dress biru yang tidak terlau panjang dan hanya cukup di lutut kakinya, sedangkan anaknya mengenakan dress biru yang sedikit terbuka didanya namun tetap anggun. ditambah lagi rambutnya yang dibuat agak ombak diujung rambutnya dismer sedikit coklat, dan mengenakan haihils sedang dan bibirnya yang merah merona, mereka adalah keluarga Pikke, Siska Pikke dan Reina PIkke.
Melangkah masuk dari pintu, terlihat jelas semua para pelayan hotel sangat kagum dengan kecantikan keduanya dan semuanya fokus pada ketampanan Gilang mada yang wajahnya sudah murung sejak awal.
Acara makan malam pun dimulai sebelum dimulai Reina dan kedua orang tuanya bersalaman dengan Gilang dan kedua orang tuanya.
Mada pun hanya menganguk kepalanya, sambil berdiri dan sedikit memegang rambut Reina lalu melepaskanya kembali sambil berkata.
" Tidak apa-apa. Beruntungnya Gilang memiliki calon istri secantik kamu. Benar tidak Gilang? tanya Mada sedikit melirik ke Gilang.
Gilang yang mendengar ucapan Mada hanya tersenyum paksa karena di senggol, lengan kirinya oleh mamanya. Sebenarnya dia tidak mau menghadiri acara makan malam ini tapi karena menghormati nama baik papanya jadi terpaksa di menghadirinya.
Terlihat semua makanan yang berbeda sudah disiapkan dimeja, awalnya Gilang mau berkata sesuatu tapi ia kurungkan niatnya saat melihat semua sedang menyatap makanan di meja dengan penuh kebahagian. Ditambah lagi Ayahnya dan Pikke yang terus berbicara tentang bisnis dan bisnis.
" Mada aku rasa kita secepatnya, menandatangi kontrak kerja sama kita untuk proyek yang sudah kita rencanakan, " ucap Pikke disela-sela makan sambil menatap Durga Mada. Terlintas dipikiranya sebuah niat jahat yang akan menghancurkan Durga Mada.
" Sebentar lagi semua aset saham perusahaanmu akan menjadi milikku. Setelah anakku menikah dengan putra tunggalmu, " batin Pikke dengan senyuman yang miring dibirnya. Dengan menatap sedikit keGilang.
" Jika Gilang yang ingin membongkar kejahatanku, maka dia orang pertama yang harus aku lenyapkan setelah menikah dengan putriku Reina."
" Kamu benar tapi aku belum bisa menandatangi kontrak kerja itu aku harus meneliti, semua berkas-berkas proyek tersebut, "jawab Mada dengan tersenyum.
" Aku rasa besok kita bisa bertemu di kantor aku, setelah aku selesai rapat meeting dengan klienku, " ambah Mada saat dia sudah meyelesaikan makananya.
" Tentu saja aku akan datang dengan senang hati, sekalian membawa semua berkas itu.
__ADS_1
lebih cepat lebih baik bukan?"
" Pa. Tidak baik kita makan malam, membahas bisnis. Tujuan kita 'kan, ingin membahas pertunangan Gilang dan Reina, " seru Malti saat melihat Pikke dan Mada yang dari tadi hanya membahas bisnis.
" Betul pa, harusnya kita berikan kesempatan buat Gilang dan Reina untuk mengobrol," pinta Siska yang mengiyakan perkataan Malti sambil melirik sedikit kesuaminya.
Mada dan Irwan saling menatap lalu keduanya tersenyum, Gilang yang melihat semuanya sudah selesai makan dan Reina yang dari tadi hanya tersenyum-tersenyum melihatnya, karena mereka berdua duduk berhadapan ia pun berpikir dalam hati
"Mungkin ini saatnya aku membatalkan pertunangan ini."
" Mohon perhatian semuanya aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian semua malam ini juga, " ucap Gilang sambil berdiri mengakat tangannya yang satu.
Reina dan Siska sudah saling menatap, begitu juga dengan Malti dan Mada serta Pikke mereka pun melempar tatapan satu sama lain. Seluruh tubuh Reina sudah kaku dan wajahnya sedikit cemas saat mendengar perkataan Gilang.
" Sebenarnya aku rasa mungkin ini sudah diketahui oleh Bibi Siska dan Reina, mungkin disini aku yang salah karena waktu itu aku mau bertunangan dengan Reina."
"sebenarnya aku hanya ingin pertunangan ini di BATALKAN....," kata dibatalkan jelas berulang-ulang dikuping Reina yang sudah lemas ditempat duduk begitu juga dengan Pikke.
yang menatap kaget pada Gilang dan Juga Siska yang memegang tangan putrinya yang sudah lemas. Serta Mada dan Malti pun dikagetkan dengan dengan perkataan yang sudah dua kali didengar oleh mereka.
" Pak Mada coba jelaskan aku kurang paham maksdud putramu?" tanya Pikke menatap Mada yang ada dihadapanya.
"Maaf Om papa tidak perlu jelaskan aku ingin...., " belum selesai berkata Gilang didiamkan oleh suara tegas Ayahnya.
" Ahhhhh... maaaf aku rasa acara makan malam kita cukup disini, maaf atas perkataan putraku silakan kita akhiri makan malam ini. " jelas Mada.
" Tanpa kamu menyuruh kami pun akan pergi, oh ya pak Mada ajari anak bapak untuk bersikap sopan seperti nama belakangnya Mada," ucap tegas Siska yang sedikit menyindir.
" Maaf atas jawaban istiri saya aku harap besok, aku terima kabar baik, karena sikap putramu sama sekali tidak cocok dengan nama belakangnya, " tambah Pikke dengan mengatup kedua tangannya pada Mada dan Malti, lalu pergi meninggalkan mereka diruangan hotel.
•••••••••••••••••
" Mama.... aku sayang sama Gilang," tangis Reina saat ia berada dimobil yang sedang melaju mengantar mereka pulang.
" Jangan tangisi pria yang tidak menghargai kamu!" seru Siska yang kesal dengan sikap Gilang sambil memeluk putrinya.
Pikke hanya terdiam dari tadi ia sedikit memikirkan atas ucapan Gilang.
" Zalina gadis itu adalah penghalang bagi aku, untuk menguasai seluruh harta Mada aku harus secepatnya melenyapkan dia sebelum suasana menjadi lebih buruk lagi, " batin Mada.
***Bersambung***.
__ADS_1