
Biarlah hari ini aku memilikinya sebentar walau aku tahu setelah ini kami akan berpisah dan tidak saling mengenal seperti dulu lagi.
Cinta yang dulu hanyalah mimpi bagi gadis seperti aku kini cinta itu menjadi nyata, namun sayang karena perbedaan kami tidak bisa bersama. Karena akan banyak yang terluka jika rasa ini aku perjuangkan. Tulisan tinta hitam pen pada buku dairy Zalina yang selalu dibawanya setiap hari dimana pun ia pergi.
Zalin terbangun dari tidur panjangnya. Ia membuka kedua matanya melihat Ayahnya yang masih terbaring dengan mata yang tertutup di ranjang rumah sakit. Ia menarik pelan tanganya dari genggaman ayahnya.
Zalina melihat lagi ke sofa yang ada di ruang rumah sakit, di sana ada Reino yang tertidur di pangkuan Gilang, dengan tangan Gilang sedang memegang kepala Reino yang tertidur pulas. Namun kedua bola matanya berputar dua kali lebih cepat saat mata yang indah, mata yang penuh dengan ketulusan menatapnya dengan segala kecemasan pada dirinya.
Gilang menatap Zalina dengan begitu dalam sama seperti Zalina yang menatapnya kembali, karena tatapan yang ada pada Gilang membuat jantung Zalina kini sangat berputar kencang seakan seperti kincir angin yang menerpa seluruh tubuhnya.
Ia pun mengalihan matanya dengan berdiri dan membereskan barang - barang milik Ayahnya yang sedang berantakan.
Semalam dia tidak sempat membereskanya karena masih trauma dengan kejadian semalam, walau dokter mengatakan Toy baik-baik saja karena tusukan pada perutnya tidak terlalu dalam. Jadi dua hari atau tiga hari ia bisa pulang tapi belum bisa melakukan aktivitas seperti biasanya karena jahitan pada lukanya itu belum sembuh total dan kering.
" Lo tidur dengan sangat pulas ?"
Gilang mulai membuka percakapan, dengan duduk santai di sofa dan terus melihat gadis pujaan hatinya itu, sambil melipat kembali kedua tangan santai didadanya.
"Emang kamu tidak tidur?" tanya Zalina pada Gilang dengan terus menghindari tatapan Gilang.
" Bagaimana bisa aku tidur dengan kejadian semalam, lagian semalam aku sangat cemas dengan keadaan paman dan kamu yang terus menerus menangis."
"Ditambah lagi kejadian penculikan kamu dan penikaman pada paman oleh salah satu penculik itu. Untuk sekejap aku sudah merasa kehilangan kamu seperti kehilangan hidupku."
" oh 'ya, aku sudah mendapat kabar dari Nando kalo pelaku penculikan dan pembunuh Ayahmu sudah direncanakan. Untuk sekarang kami belum tahu siapa yang melakukanya tapi masih dicari tahu oleh Nando dan para anak buah ayah," jelas Gilang.
Mendengar penjelasn Gilang Zalina menarik nafas dalam-dalam, sambil berbisik pelan.
"Mengapa ada yang ingin membunuh atau menculik aku? setahu aku, aku tidak bermusuhan dengan siapa pun kecuali sama Reina , dan mamanya," batin Zalina.
Lalu ia pun mengelengkan kepalanya karena ia sadar kalo Gilang pasti memperhatikan semua gerak geriknya dari punggung belakangnya.
"Terima kasih untuk semuanya.
Lang," ucap Zalina dengan tersenyum memberanikan kekuatanya untuk menatap mata Gilang dengan senyuman di bibirnya.
Tatapan Zalina ke Gilang begitu penuh cinta karena terbawa suasana Zalina bangkit berdiri dari duduknya, dan melangkah mendekati Gilang. Saat ia duduk disamping Gilang hanya satu menit Zalina menyandarkan tubuh dan kepalanya dimiringkan ke bahu kiri Gilang dengan lembut.
Gilang yang sedikit terkejut, merasa bahu kirinya berat ia pun berbalik kesamping melihat mata, hidung dan bibir Zalina yang sangat dekat dengan wajahnya.
__ADS_1
" Lang...," panggil pelan Zalina.
" Hemm...,"Gilang menyahutnya dengan berdehem.
Sambil menatap ke Toy dan melihat mentari pagi lewat jendel.
" Terima kasih untuk semuanya.
Dan maaf karena aku mungkin kamu mengalami kesulitan."
" Jangan berkata hal tidak penting."
" Tanpa aku jelaskan kamu pun tahu bahwa aku melakukanya karena aku menyukaimu," pinta Gilang.
Dan ia membalikan tatapanya untuk menatap kembali bidadari yang ada disampingnya itu. Kini keduanya saling menatap dengan sangat dalam, Zalin menatap sambil melihat lewat dagu Gilang sedangkan Gilang menatap dengan sedikit memiringkan lehernya ke pundak dimana itu tatapan Zalina.
" Waktu berhentilah sebentar.
Kumohon karena ini terakhir kali aku ingin bersamanya, walau hanya seperti ini," gumam Zalin dalam hati saat menatap mata Gilang yang menatapnya itu.
Tanpa keduanya sadari Toy menatap mereka *dengan senyuman dibibirnya, cinta yang penuh banyak konflik.
"Suasana pagi ini menjadi sunyi dengan dua insan yang menghadapi kisah cinta mereka dengan banyak masalah, kesulitan, dan luka bagi orang terdekat, namun apakah mereka bisa bersama? hanya Tuhan yang tahu dan menjawab semuanya ini," bisik Toy dalam hati*.
:
:
:
keduanya pun bertemu.
" AKU sangat merindukamu,"
pelukan lembut dari Ina dengan kedua kakinya menjinjit, dan kedua tanganya melingkar erat dileher Nando.
Nando yang tersenyum saat dipeluk oleh Ina, ia pun membalas pelukan Ina dengan kedua tanganya dilepaskan dari saku. Lalu dilangkari erat di pinggul ramping Ina dengan sedikit menarik Ina lebih erat untuk ia peluk.
" Aku juga sangat merindukamu sayang," suara Nando membisik dibahu Ina yang membuat Ina tersenyum dan mereka pun berpelukan dalam beberapa menit.
keduanya melepaskan pelukan Nando meraih tangan Ina untuk digengam dan mereka melangkah bersama saling menatap dan membalas senyuman satu sama lain.
Mengelilingi Ancol dipagi hari memang sangat berbeda namun kedua hanya ingin menikmati momen mereka hari ini.
Nando dan Ina menaiki perahu untuk mengelelingi pantai Ancol, keduanya pun menaiki perahu dengan sangat romantis saling menatap Nando pun terus mengengam tangan Ina dengan erat.
" Coba ceritain acara pernikahan sepupumu, apa semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Nando dengan suara yang pelan.
__ADS_1
" Semuanya lancar. Saat aku disana ada seorang lelaki tampan terus melihat aku hingga aku salah tingkah," Ina sengaja membohongi Nando penasaran melihat ekspresi cemburu Nando.
" Lalu kamu jatuh cinta padanya?"
wajah Nando sudah sedikit menunjukkan ekspresi cemburu.
" Emmmmmm....," Ina sengaja mendehem berpikir dalam hati.
" Apa emmmmm. Tidak jelas ," nada Nando sudah sedikit berbeda dan wajahnya dengan murang melihat ke depan pantai.
Ina yang melihat ekspresi Nando Ia pun mendekatkan wajahnya ke hadapan Nando dari samping.
" Nan....suara pelan Ina."
Saat Nando membalikkan wajahnya kearah Ina, kedua mata Ina tertutup dan ia memberi satu kecupan bibir pada bibir Nando lalu secepatnya menjauhkan wajahnya dari Nando.
Nando yang kaget dengan keberanian Ina, memutarkan kedua bola mata hitamnya namun bibirnya tersenyum saat melihat pipi Ina yang sudah merah merona.
" Kamu sengaja memancing aku?"
tanya Nando dengan senyuman mengembang dibibirnya.
"Enggak 'kok, dan kecupan itu aku berikan karena, memang sudah waktunya aku memberikan ciuman pertamaku pada kamu, 'kan."
" Aku hanya mau kamu tahu kalo aku sangat mencintai kamu, dan soal cerita tadi aku hanya mengarangnya saja," jelas Ina dengan tatapan kemenangan dan penuh cinta.
"Aku sudah tahu, cuma iseng aja agar kamu bahagia," Nando melingkari tanganya dipinggul Ina dan sedikit menarik Ina untuk mendekat pada wajahnya.
"Tadi kamu yang memulai dan kali kita lakukan dengan serius," pinta Nando sambil mendekatkan bibirnya mendekat pada bibir Ina. Ina yang belum siap menutup keras kedua matanya.
Nando yang melihat kedua mata Ina yang ditutup ia pun mengangkat wajahya keatas dan kecupan bibirnya hangat dikening Ina dengan lembut. Nando melepaskan kecupan dikeningnya Ina dan menatap ekspresi Ina yang sedikit lega.
" Aku tidak mungkin memaksa kamu , aku tahu kamu belum siap dan seorang lelaki yang mencintai wanita dengan hati tidak akan memaksa gadis itu untuk memenuhi nafsu belakanya," ucap Nando tersenyum. Ina membuka matanya dan Ia melihat mata Nando tidak ada kekecewaan disana melainkan kebahagian.
" Terima kasih," bisik Ina dengan tetesan air mata dipipinya karena terharu dengan perkataan Nando.
Ina sangat bersyukur memiliki Nando ia pun memeluk erat Nando dan berbisik lagi.
" Aku akan berikan jika sudah saatnya, Aku mencintaimu Nando.
I Love You."
Nando yang mendengar perkataan Ina tersenyum lebar lalu memeluk Ina dengan erat dan membalas kata Ina.
" Akan kutunggu waktu itu,
I Love You too."
__ADS_1
" Seorang pria sejati tidak mungkin mengembalikan gadis yang belum ia miliki seutuhya pada kedua orang tuanya dengan bekas. Melainkan harus dengan sempurna seperti pertama mereka bertemu itulah komitmen aku, Gilang, dan Tomy, saat kami merajut hubungan dengan anak gadis orang," ucap Nando saat Ina ada dipelukanya.