CINTA GILANG

CINTA GILANG
Ketenangan Hati Gilang~ Cinta Gilang.


__ADS_3

Gilang yang kesal dengan Sikap Reina melajukan mobilnya di jalan begitu kencang bahkan Ia hampir menabrak ayah Zalina.


" Apa- apaan dia, kenapa memeluk aku di depan Zalina", ucap kesal Gilang dalam hati dengan wajah yang kesal."


" Awasss...!", teriak Gilang yang hampir menabrak Seorang lelaki tua, yang sedang mendorong gerobak. di mana gerobak itu di isi dengan barang- barang bekas.


"Ya Tuhan..." kata Ayah Zalin sambil bangun dari aspal yang memegang dadanya karena kaget, dan di bantu oleh Gilang yang sudah kepanikan secepatnya turun dari mobil saat itu juga."


" Bapa tidak apa- apa kan?, maaf pak aku tadi benar- benar tidak sengaja".


" Aku tidak apa- apa nak ,lain kali hati- hati kalo bawa mobil. apa lagi ini jalanan umum".


Gilang punk memegang kedua bahu Toy sambil membatu untuk duduk di kursi yang ke betulan ada di pohon mangga dekat jalan raya tersebut.


" Bapa yakin tidak apa-apa?"tanya Gilang lagi.


" Bapa tidak apa-apa nak. sekarang aku harus pulang ,terima kasih sudah membantu bapa. lain kali hati-hati nanti kamu sendiri yang kecelakaan", sahut Toy sambil memegang pegagangan gerobaknya untuk berjalan namun, Gilang kembali menahannya.


" Bapak benar-benar tidak apa- apa ?, begini saja aku bantu bapa pulang ke rumah. anggap saja Ini sebagai untuk menebus kesalahan saya", tutur Gilang sambil menatap Toy dengan wajah yang bersalah.


" Tidak apa- apa nak. rumah bapak masih jauh sebelum, pulang Bapa mau singgah di tempat kerja anakku Zalina", jadi kamu tidak perlu repot.


"Apa aku tidak salah dengar?. Ini ayah Zalina?, Ya Tuhan apakah ini takdir. aku benar- benar bahagia ternyata Zalina memang anak yang sederhana", bisik Gilang pelan yang kaget dengan perkataan Toy menyebut nama Zalina. saat mendengar nama Zalina hati Gilang begitu bahagia.


Akhirnya Gilang punk membantu Ayah Zalin mendorong gerobaknya hingga ke tempat kerja Zalina.


Sedangkan mobilnya, Gilang menelpon anak buah papanya untuk mengambil mobil dan mengendari mobil tersebut lebih duluan ke tempat kafe Quing milik papanya.


" Ayah !. ko dengan Gilang", bicara Zalina yang melihat Ayahnya dari luar kaca saat, Toy berjalan dan mendorong gerobak bersama Gilang.


"Aku tidak salah lihat kan?", Zalina pun meninggalkan kerjaannya lalu, berlari keluar dari pintu untuk menemui Ayahnya."


"Ayah", teriak Zalina dari pintu depan kafe.


" Ayah ko sa...ma?", suara Zalina berhenti saat mau menyebutkan nama Gilang.


" Kenalin ini nak Gilang tadi Dia tidak sengaja mau menabrak Ayah, tapi untung itu tidak terjadi", Toy memperkenalkan Gilang pada Zalina dan menjelaskan kejadian yang terjadi beberapa jam lalu.


" Ayah tidak apa- apa kan?, tidak ada yg luka atau....?"

__ADS_1


" Ayah tidak apa-apa, malah nak Gilang menolong Ayah. membantu mendorong gerobak",Toy berusaha menjelaskan ke Zalina agar tidak menyalahkan Gilang.


" Maaf sebelumnya aku benar-benar tidak sengaja tapi kalo mau minta ganti rugi aku bersedia melakukanya."


" Tidak Lang. itu bukan sepenuhnya salah kamu, lagian aku percaya sama Ayah",


"Aku berterima kasih karena kamu sudah mau menolong Ayahku, Zalina menyahut dan memotong perkataan Gilang sambil tersenyum lalu, Zalin memegang bahu Ayahnya untuk duduk di kursi pelanggan yang ada di depan kafe bersama dengan Gilang.


Zalin pun pergi sebentar masuk ke dalam kafe mengambil air putih lalu, kembali lagi duduk di samping ayahnya.


"Untung ada Gilang kalo tidak kepala kariawan mau memarahi Zalina karena, menyuruh pemulung duduk di kursi pelanggan depan kafe Quing.


"Gilang tadi kamu minta kenalan dengan aku di sekolah kan?", Zalina kembali duduk sambil menyodorkan tangannya ke depan Gilang dan tersenyum.


Dengan semangat Gilang membalas senyuman Zalina sambil berjabat tangan dengan Zalina.


"Zalina"


" Gilang"


Keduanya menyebutkan nama masing- masing saat berjabat tangan dan melemparkan senyuman, Gilang menatap Zalina begitu dalam sambil berkata dalam hati.


" Ehemmmm", suara batuk dari Toy yang mengagetkan suasana diam beberapa menit lalu.


" Ahhhh...sekali lagi terima kasih Gilang sudah membantu Ayahku", Zalina yang berkata tapi jantungnya yang berdegup kencang lalu, melepaskan tangannya dari tangan Gilang dengan wajahnya yang malu sama papanya.


" Sama-sama Zal ", sahut balik Gilang sambil menghindarkan wajahnya ke samping pelanggan yang kebetulan sudah ada di belakang mereka,


agar Zalina tidak melihat eksperi wajah bahagia Gilang.


"Zal Ayah pulang dulu, ingat pulang jangan malam-malam", Toy lalu bangun dari kursi sambil berpamitan pada Gilang dan putrinya lalu mencium kening Zalina.


" Aku antar bapa pulang ya,


Sebagai tebusan rasa bersalahku"


" Tidak usah Nak Gilang, tadi kamu sudah membantu bapa kesini lagian, sebelum pulang Bapa harus memasukkan sampah dan menjual hasil punggutan hari ini. terima kasih karena sudah mau membantu bapa", Toy pun pergi meninggalkan Gilang dan Zalina sambil tersenyum pada keduanya.


" Zal kerja hati-hati sayang."

__ADS_1


Mata Zalina pun berkaca-kaca melihat perjuangan Ayahnya ia menahan air matanya agar tidak dilihat Gilang. Zalin pun mengangukan kepalanya pelan pada Ayahnya yang lagi tersenyum sebentar lalu melangkah pergi ,


Zalina yang melihat punggung ayahnya yang berjalan, membelakangi dirinya di jalan raya sampai menghilang dari hadapanya.


Suasana pun diam beberapa menit setelah Ayah Zalina pergi. Gilang yang mau memulai pembicaran dengan Zalina merasa sedikit canggung.


Akhirnya Zalina yang mulai membuka suara membuat suasana diam siang itu kembali bersuara.


" Gilang aku masuk ke dalam mau bekerja dulu. kalau kamu mau memesan makanan atau minuman silakan hubungi kepala koki, terima kasih", pamit Zalina hendak melangkah ke dalam kafe kembali.


" Zalina ... teriak Gilang dengan suara yang sedikit keras dari yang berdiri di samping Zalina sambil memegang lengan Zalin."


"Maaf aku menghalang kamu lagi ,boleh aku minta waktu kamu sebentar?", tatap Gilang begitu mendalam yang membuat Zalina sedikit grogi.


"Ahhhh ... boleh tapi cuma sebentar ya soalnya aku lagi banyak kerja di dapur", sahut Zalina yang sedikit malu karena dilihat oleh kariawan dan pelanggan semua yang ada di kafe Quin tersebut.


Akhirnya keduanya pun duduk kembali di tempat yang semula sambil tersenyum satu sama lain.


"Bolehkah aku minta nomor hp kamu?", tanya Gilang saat keduanya duduk sambil mengutarakan pikiran yang dari tadi ada di otaknya , dengan menyodorkan Ponselnya ke depan Zalina agar memasukkan nomornya


dengan wajahnya yang sedikit canggung".


Zalina kaget sambil tersenyum tipis.


"Baiklah", Zalina pun mulai mengetik nomor ponselnya di ponsel Gilang tanpa bertanya.


" Terima kasih. nanti jangan lupa angkat telpon jika aku menelpon".


" Aku pergi dulu ada urusan yang harus kuurus, kata Gilang langsung bangkit berdiri lalu melangkah ke depan dan tersenyum bahagia dengan matanya yang kiri sedikit tertutup pada saat kembali menatap Zalina.


Membuat semua orang yang melihat di tempat itu merasa iri dengan Zalina karen bisa duduk dengan seorang Gilang Mada.


Zalina yang binggung dengan sikap Gilang hanya mengerutkan dahi lalu, pergi kembali bekerja namun hatinya kembali bahagia karena akhirnya dia bisa bertukar nomor dengan Gilang sungguh kejadian tadi diluar nalarnya Zalina.


Zalina hanyan tersenyum -senyum lalu melanjutkan pekerjaanya kembali seperti biasanya.


*Jangan Lupa like,komen dan kasih sara, jangan lupa juga tekan bintang.


aku sangat membutuhkan saran kalian karena itu lebih membantu aku ke depan dalam dunu penulisan terima kasih sudah mampir🙏🙏🙏🤗*

__ADS_1


__ADS_2