
Sepintarnya kamu menyembunyikan, bangkai secepatnya bangkai itu akan tercium juga.
Sama seperti kejahatan yang dilakukan, pikke sepintarnya dia menyembunyikan atau menghilangkan jejak kejahatanya tapi bau kejahatanya sudah sedikit demi sedikit dicium.
"Ikut aku .... aku ingin berbicara sama kamu," tarikan kasar Reina pada tangan Zalina.
" Ehhh tarikannya jangan kasar gitu juga kali, pikir ini karet ban mobil?" ucap Ina menarik tangan Zalin dari tangan Reina.
" Bukan urusan lo, jangan ikut campur," tepisan tangan Reina dengan keras dari tangan Ina.
" Apa maksud lo, ini bukan urusan aku justru ini urusan aku karena dia sahabat aku, " Ina pun bangkit berdiri tatapan Ina begitu tajam pada Reina dengan memegang tangan Reina.
Dan berkata dengan nada tegas yang mebuat semua anak kelas serta Gilang, Nando, Niko,Tomy dan yang lain kaget.
" Lepasinnn....! gue bilang lepasinnn...."
" Kalo gue tidak mau lo mau apa?"
balasan Reina pada Ina dengan santai.
"LO...!" tatapan tajam dari Ina sudah terlihat jelas emosi Ina melonjak naik.
Melihat pertengkaran Ina dan Reina yang memperbutkan tanganya dari tadi membuat ia kesakitan. Suasana kelas semakin keruh Zalin pun berteriak pada Ina dan Reina.
" Cukup....tanganku sakit, "
tindih suara Zalin yang menatap ke Reina dan Ina.
Ina melepaskan tangannya dari Reina tapi masih dengan emosi.
" Maaf Zal. Jika bukan karena lo gue tidak tahu apa yang akan terjadi pada dia, " remasan jari jemari Ina yang sudah emosi.
melihat wajah emosi dari Ina Zalin pun bangkit berdiri lalu berkata pada Reina.
" Kamu mau bicara apa sama aku, ayo kita keluar, " Zalin mengeserkan kursi kebelakang dan melangkah keluar.
"Kamu sengaja tidak tahu malu atau sengaja menutup rasa malu kamu itu," ucap Reina dari pungung belakang Zalina dengan nada suara yang tinggi.
Gilang dan Nando yang melihat dan mendengar perkataan Reina mengerutkan kening mereka masing-masing , Gilang terus diam dia mau menyampari tapi masih dicegat sama Nando.
" Apa maksud kamu? jika kamu ada masalah sama aku ayo kita bicarakan baik-baik diluar, jangan dikelas, " seru Zalin sambil berbalik lagi namun lengannya dicegat lagi sama Reina.
__ADS_1
" Aku tidak menyangka ternyata kamu lebih dari perpacor alias sama seperti pelakor," nada Reina semakin menjadi dan membuatnya melangkah ke depan dengan tatapan tajam.
" Cukup Reina....," suara Gilang dari tempat duduknya yang melangkah ke depan.
Niko yang mendengar perkataan Reina meremas jari jarinya dengan erat dan menokakan gigitan giginya dari dalam dengan keras.
" Jika bukan cewek sudah aku tonjok bibirnya pecah," batin Niko dalam hati.
" Terusin saja bela dia lang. Semua orang disini tidak buta tidak tuli semua tahu kamu tunangan aku lalu siapa Dia....?" Reina menunjuk jarinya tetap di mata Zalina dengan tatapan penuh air mata.
" Kamu salah Ren , aku sama....."
"PAK....," sebuah tamparan melayang di wajah Zalina.
Reina menampar dengan sangat keras yang membuat Gilang dan yang menyaksikan menutup mulut mereka sedangkan Gilang menatap Reina begitu tajam.
" Reina......apa kamu sudah gila? ikut aku, Gilang menarik tangan Reina kasar namun emosi Reina semakin menjadi.
" Ya... Aku gila, " nada suara Reina meningi.
"Aku gila, aku gila.... aku sudah gila....," tangisan Reina pecah dengan lemas tubuh Reina tersungkur di kaki Zalina.
"Mengapa harus Gilang, Zal... aku selama ini selaluh diam, diamku bukan berarti kamu dengan leluasa mendekat pada Gilang."
" Ren aku...."
" Gilang....!" teriak Zalina pada Gilang. Urusin dia dan apa yang dikatakan, Reina benar aku ini pelakor, " tambah Zalina yang tak kuasa melihat tangisan dari Reina dihadapanya.
"Kamu...apa maksud kamu?"
Gilang melepaskan tangannya dari tangan Reina dan menarik tangan Zalina.
" Ikut aku."
Saat Gilang menarik tangan Zalina ia melangkah lebih dahulu di depan Zalina dan Zalina dari belakangnya. Namun tiba-tiba,
" Zalina....Pak....kamuuu...," Reina menampar lagi dan lagi wajah Zalina dan mencekram rambut Zalina dengan kedua tangannya
emosi Reina tidak bisa ditahan lagi.
Nando, Ina dan Niko yang menyaksikan itu langsung menghampiri Reina dan membantu melepaskan tangan Reina dari rambut Zalina.
" Lepaskan.... tanganku! kamu pantas matii...," teriak Reina lagi saat dirinya sudah berhasil dipisahkan dari diri Zalina.
" Kenapa kamu tidak balas pengemis? Zalina ...., " diri Reina meronta-ronta di genggaman Nando dan Tomy yang membuat suasan semakin tegang.
"Reina....cukup...!" teriak balik Gilang dengan mengangkat tanganya yang ingin ia layangkan pada wajah Reina namun ditahan sama Zalina.
" Kamu mau tampar aku lang.
__ADS_1
TAMPAR AKU.....tamparrr.....!"
teriak Reina yang melihat tangan Gilang sedang diangkat berdiri tegak. Gilang menghiraukan perkataan Reina ia pun berbalik melihat Zalina.
" Kenapa kamu sepolos ini? kenapa kamu terus diam?"
" Aku harus bagaimana? semua yang dikatakanya benar. "
Zalina mengalihkan pandanganya dari tatapan Gilang, Reina dan semua orang
" Zalina bukan waktunya sekarang kamu lemah," bisik Zalina dalam hati karena hampir saja ia mengeluarkan air matanya. Karena saat ini hatinya sudah hancur ia seperti seorang pelakor benaran, pada hal ia tidak seperti itu.
Gilang melihat pandangan Zalina dialihkan Ia menarik tangan Zalina untuk keluar, saat Reina ingin menahanya Ina mencegah dengan meramas kuat lenganya.
" Dari tadi gue diam, tapi kali ini gue akan melakukan apa pun itu jika lo berani mengikuti mereka. "
" Zal lo kenapa seperti ini. Sudah aku bilang hadapi mereka dengan kekerasan jangan membuat aku menjadi semakin kwatir dan memperkeruh suasana."
lepasan tangan Gilang dari genggamanaya pada Zalina dengan sedikit kesal.
" Menperkeruh kamu bilang? haa.....hufff tarikan nafas Zalina dalam lalu menghembuskanya kembali keudara."
" Hentikan semua ini , hentikan Gilang.
Kita berbeda ku mohon biarkan aku hidup sendiri seperti dulu."
" Cukup sudah masalah hari ini, kembalilah padanya hidupku sudah sulit jangan mempersulitkan keadaanku lagi dengan duniamu, disini akulah korbanya."
" Aku dipermalukan, dibilang pelakorlah, apa lagi yang akan terjadi jika kamu masih mepertahankan keegoisan kamu sendri. "
Zalina meramas jarinya kuat mengumpulkan tenaga dan melawan hatinya yang berlawanan dengan perkataanya.
" Apa lo bilang, jadi kamu anggap aku adalah pembawa masalah?" tanya Gilang dengan tatapan penuh kekecewaan pada Zalina.
" Selama ini aku berusaha sebaik mungkin, aku bahkan melawan Ayah dan mama untuk memperjuakan cinta aku padamu."
"Kamu pikir perasaanku ini permainan.
Lalu bagaimana dengan perjuangan aku yang berusaha membatalkan pertunangan aku,
ha....apa itu sebuah lelucoon buat kamu. "
" Gilang. Bukan begitu maksdud aku tapi...?"
"Cukup. Baiklah aku akan meninggalkan kamu mulai sekarang, bukankah ini yang kamu mau? aku tidak lagi mengangu kamu," Gilang melangkah mundur dengan kekecewaan Ia pun melangkah meninggalkan Zalina.
Zalina hanya terdiam menahan sakit hatinya yang bagaikan dimasuki duri mawar disekujur tubuhnya, ia pun berbalik mencari kamar mandi terdekat.
Bersambung
__ADS_1