Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)

Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)
Jadian


__ADS_3

"Kita nggak usah kemana-mana ya...." Arga menjawab pertanyaan Indi.


"Aku harus kembali ke desa hari ini. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu berdua denganmu." Sambungnya.


Disamping karena alasan itu, Arga juga harus menyimpan tenaganya. Jika dia berkeliling hari ini, dia akan kelelahan. Perjalanan kembali ke desa akan cukup melelahkan.


Darah Indi berdesir mendengar ucapan Arga. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Arga memegang tangan Indi dan mencium buku jarinya.


Perasaan hati Indi semakin tak karuan. Dia harus tetap menjaga kesadarannya, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat mereka hanya berdua saja dirumah itu.


"Indi, aku cinta kamu." Arga mengucap pelan, penuh perasaan.


Indi menarik nafas panjang.


"Aku juga....." jawab Indi.


Arga segera memeluk Indi, membuat kepala Indi bersandar didada Arga. Kemudian Arga membelai rambut Indi. Indi benar-benar merasakan detak jantung Arga yang berpacu melawan waktu. Sepertinya, ingin mereka hentikan waktu supaya hari ini tidak pernah berakhir.


"Terimakasih sayang." Arga mengecup pipi Indi dengan lembut.


"Lalu, ini artinya apa?" Indi mulai mempertanyakan status hubungan mereka.


"Maksud kamu?"


"Hubungan kita.... status hubungan kita bagaimana?" Indi mencari kepastian.


"Aku cinta kamu... kamu juga kan? Kita jalani seperti ini. Saling menyayangi." Jelas Arga. Kemudian Arga mengecup lembut bibir Indi.


Indi kaget menerima kecupan dibibirnya. Namun, dia tidak menolak.


"Ya, aku cinta kamu. Tapi aku nggak mau hubungan tanpa status. Aku ingin sekali mendengar kata 'ya kita jadian'. Tapi kenapa kata itu tak kunjung keluar dari mulutmu?" Ingin rasanya Indi meneriakkan kata-kata itu pada Arga.


"Kamu jangan khawatir, aku sayang padamu." Arga masih belum melepas pelukannya. Mendekap Indi membuatnya merasa nyaman. Indi juga membalas pelukan Arga. Menunjukkan pada Arga, kalau dia juga menyayangi Arga.


"Iya..." Indi menjawab pelan. Dia menelusupkan kembali kepalanya didada Arga.


Puas berpelukan, mereka mulai ngobrol lagi. menceritakan pekerjaan mereka, kehidupan mereka belakangan ini.


Indi mengambil ponselnya dan membuka halaman sosial media.

__ADS_1


"Oh iya, sudah lama aku nggak liat profil sosmedmu." Indi langsung menulis nama Arga pada kolom pencarian.


"Siapa ini? posting kayak koran didinding halaman sosial mediamu." Indi menunjukkan foto laki-laki. Fotonya tidak jelas, hanya ada seorang laki-laki berdiri tampak dari belakang. Laki-laki itu baru saja menandai Arga dengan sebuah postingan yang sangat panjang.


"Oh itu kakakku." Sahut Arga sambil menoleh ponsel Indi.


"Kakak kandungmu?" Indi bertanya lagi.


Arga hanya mengangguk.


"Boleh aku tambahkan dia sebagai teman?" Indi meminta persetujuan.


"Buat apa?" Arga sepertinya agak keberatan.


"Aku kan sedang dekat sama kamu, aku juga ingin dekat dengan keluargamu."


"Oke, kamu boleh tambahkan dia, tapi jangan pernah ceritakan apapun tentang kita"


"Kenapa?" Indi tidak terima. Dia merasa dirinya tidak diakui oleh Arga.


"Kamu malu kalau ketahuan sama kakakmu punya pacar seperti aku? eh maksudku...maaf." Indi tidak menyelesaikan ucapannya. Dia benar-benar keceploan berkata begitu. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Arga menarik tangan Indi dengan lembut.


Tunggu... pacar? Arga sudah menyatakan Indi adalah pacar? Indi merasa jiwanya melayang ke udara. Senyum manis terukir jelas dibibirnya. Tak bisa dia sembunyikan senyum itu dari Arga.


Melihat kebahagiaan dimata Indi, Arga kembali memeluk Indi dengan penuh kasih sayang. Dia juga menghujani Indi dengan kecupan mesra.


"Bagaimana kalau kita foto berdua?" Indi meminta pada Arga.


"Foto? Buat apa?" Arga sepertinya tidak suka berfoto ria. Beda dengan Indi, sedikit-sedikit maunya foto.


"Untuk kenang-kenangan. Hari ini akan menjadi hari yang tak terlupakan untuk kita." Indi mencoba merayu Arga.


Dalam beberapa argumen, Arga mengalah. Mereka berfoto berdua menggunakan ponsel Indi. Mereka berdiri, Indi menghadap Arga, tangan kanannya melingkar dileher Arga, tangan kirinya menempel didada Arga. Sedangkan kedua tangan Arga melingkar dipinggang Indi. Mereka mengambil empat buah gambar dengan pose yang hampir sama. Arga benar-benar tidak berekspresi. Bukan karena dia marah, tapi karena dia tidak bisa senyum didepan kamera.


"Sudah, cukup ya." pinta Arga.


"Baiklah." Indi menutup aplikasi kameranya.


"Tolong jangan diunggah kesosial media." ucap Arga.

__ADS_1


"Kenapa?" Indi agak kurang puas dengan permintaan Arga.


"Kita kan baru saja jadian. Aku takut nanti ada yang iri melihat kemesraan kita." katanya.


Walaupun Indi tidak seratus persen setuju dengan ucapan Arga, tapi dia akan mengikuti permintaan Arga yang ini.


"Iya, tidak akan aku unggah. Hanya akan aku lihat setiap hari." ucap Indi.


Mereka kembali duduk. Arga duduk dibelakang Indi, sedangkan Indi berada diantara kedua paha Arga. Dagu Arga menempel dibahu Indi, dan tangannya menggenggam jari-jemari Indi.


"Sayang kenapa harus seperti ini?" ucap Indi lirih.


"Seperti ini apanya?" Arga tidak mengerti.


"Kita baru jadian hari ini. Tapi, hari ini juga kita harus berpisah lagi."


"Pekerjaan yang membuat kita seperti ini. Seandainya aku bekerja dikota, mungkin kita tidak harus berpisah. Tapi, aku sudah terikat kontrak disana, aku tak bisa pindah." Arga mencoba memberi pengertian. Tapi, seandainya bisa, dia juga berharap bisa bekerja dikota bersama Indi.


"Aku tahu. Kita hanya bisa bersabar. Aku hanya sedikit sedih harus berpisah denganmu, dan entah kapan kita akan bertemu lagi."


"Aku juga sedih bila harus jauh darimu, lagi. Tapi kamu sangat pengertian." Arga mencium pipi Indi.


Beberapa jam berlalu, tiba waktunya mereka harus berpisah. Arga harus kembali ke desa. Hari Senin besok mereka harus melaksanakan tugas masing-masing.


"Kamu hati-hati dijalan." Indi berbicara sambil menahan sedih. Belum ditinggal saja, Indi sudah bisa merasakan rindu. Masalahnya, dia tidak tahu kapan bisa bertemu Arga lagi.


"Kamu juga jaga diri baik-baik. Aku pasti akan sering menelponmu. Salam sama Lia kalau dia datang."


Mereka berpelukan sebelum Arga keluar dari pintu ruang tamu.


"I Love You." ucap Arga ditelinga Indi.


Indi tersenyum.


"I Love You too." balasnya.


"Telepon aku kalau sudah sampai." Indi mengingatkan.


Arga mengangguk, kemudian dia memalingkan arah. Kakinya terasa berat melangkah. Dia mengambil motor besarnya dan melaju pelan meninggalkan Indi.


Indi mengamati punggung Arga sampai dia menghilang dikejauhan. Air mata Indi mulai menetes. Dia bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena akhirnya dia memiliki kekasih hati, sedih karena kekasih hatinya sudah tidak ada lagi dihadapannya.

__ADS_1


"Sampai jumpa lagi sayang." ucap Indi dalam hati.


~Happy reading 😚😚. Silahkan like, vote, comments dan tandai sebagai favourite ya~


__ADS_2