
Orang tua Indi sangat senang melihat anak gadisnya datang. Indi rutin mengunjungi mereka setiap bulan. Biasanya dia akan datang dihari Sabtu awal bulan. Baru minggu lalu dia mengunjungi orang tuanya, hari ini dia datang lagi. Kedatangannya yang secara tiba-tiba mengundang tanya dihati ibunya.
"Tumben kamu datang tanpa kasi kabar." Ucap ibu Indi sembari duduk disamping Indi yang sedang membuka jaket dan sepatunya.
Indi tersenyum.
"Pulang sama siapa?" Biasanya Indi datang sendiri dan ibunya tidak pernah mempertanyakan. Kali ini juga Indi datang sendiri tapi beliau bertanya Indi pulang dengan siapa. Ibu Indi seolah memiliki indra ke enam. Firasatnya sangat kuat.
"Pulang sama Edwin bu." sahutnya.
"Siapa itu Edwin?"
"Temanku. Aku baru mengenalnya beberapa bulan. Dia baru datang dari luar negeri."
"Rumahnya dimana? Kok kalian bisa pulang bersama?"
"Didesa Payungjati."
Ibunya Indi tersenyum.
"Kamu mencintainya?" ibu Indi memegang tangan Indi.
Mendengar pertanyaan itu, Indi menoleh ibunya sambil memasukkan kaos kaki kedalam sepatunya.
"Ibu... kenapa bertanya begitu?" Sepertinya dia enggan menjawab pertanyaan yang dia sendiri tidak tahu jawabannya.
"Ibu hanya bertanya saja, apakah anak gadis ibu ini sekarang sudah memiliki tambatan hati atau tidak." jawabnya santai.
"Aku tidak tahu bu. Dia baik, tapi aku tidak tahu aku mencintainya atau tidak."
"Melihat raut wajahmu, ibu tahu sepertinya laki-laki ini memperlakukanmu dengan baik. Jika ada waktu, ajak dia kesini bertemu bapakmu. Sepertinya ibu setuju kalau kamu pacaran dengannya."
"Ibu kan belum pernah ketemu, kenapa ibu bisa mengatakan ibu setuju?"
"Perasaan ibu, firasat ibu mengatakan demikian."
"Ah ibu, lagi-lagi ibu mengeluarkan indera ke enam ibu." Indi menggoda ibunya. Dia menyembunyikan senyum sambil mengambil ranselnya yang masih diteras dan membawanya kedalam kamar.
Indi sangat senang mendengar perkataan ibunya kalau beliau menyetujui hubungannya dengan Edwin. Kalau saja mereka sudah pacaran, Indi pasti akan dengan segera memberitahu Edwin berita baik ini. Jarang ada orang tua yang belum melihat calon menantunya sudah menyatakan setuju.
Indi meluangkan waktu untuk bermain bersama adik-adiknya. Dia mempunyai tiga adik. Dua perempuan dan satu laki-laki. Lia sudah tinggal bersamanya dikota. Hanya sesekali dia pulang ke desa. Sama seperti dirinya. Kedua adiknya yang lain Putri dan Rizky masih duduk dibangku SD. Jarak usia mereka memang sangat jauh. Itulah yang menyebabkan mereka tidak terlalu akrab.
Indi sudah merantau kekota sejak Putri duduk dikelas dua SD dan Rizky masih kelas satu SD. Walaupun jarang bertemu, Indi sangat menyayangi adik-adiknya itu.
Seperti biasa, ketika berada di desa dia akan membantu ibunya untuk mencari kayu bakar kekebun disebelah rumah sambil mencuci matanya dengan pemandangan hijau pepohonan. Tidak seperti dikota, dia hanya bisa melihat beton bertumpuk dan besi bergerak dijalanan. Dia benar-benar meninggalkan jabatannya sebagai seorang assistant manager ketika dia berada diluar kantor dan sama sekali tidak malu melakukan itu. Ayahnya adalah seorang bengkel reparasi mobil. Beliau membangun usaha itu sejak beliau masih remaja. Usaha itulah yang membuat mereka bisa bersekolah.
Indi memiliki seorang nenek yang tinggal bersama ibu dan ayahnya. Sewaktu Indi kecil, neneknya sangat memanjakannya. Sekarang, giliran Indi yang memanjakan neneknya.
Indi memijat kaki neneknya dengan lembut sambil menonton televisi diruang tamu. Nenek mengelus-elus rambut Indi. Mereka mengobrol tentang banyak hal. Edwin pun tidak luput dari cerita Indi. Neneknya sangat bahagia mendengar cerita Indi. Nenek merasa Edwin adalah laki-laki yang paling cocok untuk menemani cucunya.
Malam itu, Indi tidur bersama nenek untuk melepas kerinduannya. Memang setiap kali pulang ke desa, Indi akan tidur dikamar neneknya. Dia masih suka mendengarkan dongeng dari nenek sebelum tidur. Neneknya juga selalu memperlakukan dia seperti anak sekolah dasar. Sebelum dongeng nenek habis, Indi akan tertidur pulas. Sama seperti hari-hari biasanya.
__ADS_1
Indi tidur nyenyak sekali. Ketika dia bangun, nenek sudah pergi kedapur untuk memasak. Nenek tidak pernah bisa bangun siang. Hari masih menunjukkan jam setengah enam pagi. Tapi ayam-ayam dikampung sudah membangunkannya dengan kokokannya yang khas.
Karena masih malas, Indi masih ditempat tidurnya. Dia megambil ponselnya yang berada diatas meja dan dia melihat pesan dari Edwin. Edwin mengirimkan pesan itu jam lima pagi. "Edwin selalu saja bangun lebih dulu daripada aku." Indi salut pada Edwin. Kemudian, segera dia membaca pesan itu.
"Indi... bagaimana kalau kita kembali kekota besok?." isi pesan Edwin.
Besok adalah hari Sabtu. Jika mereka sampai di kota besok siang, mereka akan punya waktu untuk jalan-jalan Sabtu sore dan Minggu sebelum Indi kembali bekerja. Padahal rencananya Edwin ingin mengajak Indi untuk kembali kekota hari ini. Tapi Bu Rika melarangnya dengan dalih masih kangen pada Edwin. Maklum saja, Bu Rika sudah dua tahun ditinggalkan oleh putra sulungnya. Edwinpun mengikuti keinginan ibunya.
"Mau berangkat jam berapa?"
"Bagaimana kalau kamu jemput aku jam sepuluh pagi?"
"Baiklah, aku akan datang." jawab Indi.
***
Keesokan harinya,
Indi sudah bersiap-siap untuk berangkat. Setelah berpamitan kepada orang tua dan neneknya, Indi berangkat. Adik-adiknya sedang bersekolah. Tapi dia sudah memberi tahu adiknya kalau dia akan kembali kekota. Hal yang paling adik-adiknya suka ketika Indi atau Kak Maria datang adalah mereka mendapatkan uang saku.
Setengah jam berkendara, Indi sampai didepan gang Edwin. Indi agak ragu-ragu, apakah gang ini benar gang rumah Edwin atau bukan, karena dia baru pernah kesana sekali. Indi melemparkan pandangan kesekeliling sampai dia yakin bahwa itu adalah gang rumahnya Edwin.
Indi mengirim pesan pada Edwin untuk memberitahu Edwin bahwa dirinya sudah sampai. Namun sepuluh menit berlalu, Edwin belum juga membaca pesannya. "Mungkin Edwin nggak dengar nada pesanku." pikirnya. Tidak mau menunggu lebih lama, Indi kemudian memencet nomor telepon Edwin dan meneleponnya.
"Hallo...." Edwin menyahut.
"Edwin, aku sudah didepan gang rumahmu."
"Oke, tunggu sebentar." katanya.
Mendengar percakapan singkat itu, Bu Rika tahu, itu pasti Indi yang datang. Bu Rika mengutus Ricky untuk menemui Indi didepan gang dan mengajak Indi untuk mampir kerumahnya. Jika Bu Rika meminta pada Edwin tidak mungkin akan diturutinya.
*Flashback on
Dua hari yang lalu.
Bu Rika melihat Edwin masuk kedalam rumah dengan berjalan kaki.
"Mana motormu Win?" tanya ibunya yang sedang duduk diteras rumah membuat anyaman topi dari benang pesanan pengrajin dari kota.
"Dikota bu."
"Lho, trus kamu pulang sama siapa?"
"Sama Indi." Sahutnya. Kemudian masuk kedalam kamar dan meletakkan barang-barang dimeja kamar.
"Sekarang dimana dia?" Bu Rika celingak celinguk melihat-lihat barangkali Indi masuk belakangan.
"Sudah pulang." Edwin dengan santai menjawab pertanyaan ibunya.
"Kamu nggak suruh dia mampir?"
__ADS_1
"Enggak bu, buat apa?" katanya.
"Ya ampun Edwin, ibu kan ingin ketemu dia." Bu Rika tampak sangat kecewa. Calon menantunya baru saja lewat dan dia tidak sempat melihat batang hidungnya.
"Untuk apa ibu ketemu Indi?" Edwin duduk dikursi yang berada disebelah ibunya. Menyantap pisang rebus yang tersedia dimeja.
"Ibu ingin berkenalan dengan calon menantu ibu."
Edwin terperanjat.
"Calon menantu? Siapa yang berkata begitu?"
"Kata Ricky kalian pacaran?"
Edwin mendengus. Sedangkan Ricky tertawa cekikikan mendengar percakapan mereka. Dia merasa sudah berhasil menjadi comblang. Sekarang Edwin dan Indi sudah dekat.
"Dasar anak nakal. Jadi memang dia biang keladinya." ucap Edwin pura-pura marah.
"Lalu kapan kamu akan mengenalkannya pada ibu?" Bu Rika tampak memohon pada Edwin.
"Ibu tunggu saja. Kalau waktunya sudah tepat, aku akan mengajaknya mampir kesini." Edwin meminta permakluman ibunya.
*Flashback off.
Ricky mendapatkan perintah dari sang ibu untuk menjemput calon kakak iparnya didepan gang. Indi dan Ricky juga belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi mereka sudah mengenali wajah satu sama lain melalui sosial media.
"Kak Indi..." Ricky memanggil.
"Ricky...." Indi kaget kenapa Ricky yang datang bukan Edwin.
"Ibu memintaku untuk mengajak kakak mampir. Ayo kak."
"Aku? Mampir? Mana Edwin?" Indi tambah kaget dibuatnya. Akhirnya dia disuruh mampir. Perasaannya senang bercampur gelisah.
"Kak Edwin ada dirumah. Dia sedang siap-siap. Ayo kak, ikut aku." ucap Ricky.
Indi mengikuti langkah Ricky dengan perasaan sedikit lemas. Lagi-lagi dia takut jika Arga ada dirumah.
"Indi.. Ayo duduk disini." Bu Rika mengandeng tangan Indi dan mengajaknya duduk diteras. Indi tampak malu-malu. Dia mencuri-curi pandang kanan kiri takut tiba-tiba Arga muncul.
Indi mendengar percakapan Bu Rika dan Ricky didepannya dan dari percakapan tersebut dia mengerti kalau Arga sedang tidak dirumah. Hal itu membuatnya tenang.
Bu Rika mengajak Indi mengobrol sambil menunggu Edwin yang sedang bersiap-siap. Beberapa kali Bu Rika memuji kecantikan Indi. Hanya senyum kecil yang mampu dia keluarkan ketika mendengar pujian dari wanita paruh baya yang kemungkinan akan menjadi mertuanya suatu hari nanti.
Edwin sudah siap. Kakinya melangkah keluar dari ruang tamu. Mendengar suara langkah kaki, Indi menoleh kearah sumber suara. Tatapan mereka beradu. Betapa kagetnya Edwin melihat Indi sudah duduk dikursi didepannya.
"Indi.. Kenapa kamu sudah ada disini?" tanyanya. Edwin tidak ingin mengajak Indi kerumahnya karena dia belum siap. Edwin bukan berasal dari kalangan orang kaya. Meskipun dia sudah pernah menceritakan ini pada Indi sebelumnya, dia hanya merasa tidak pede. Apalagi dia belum ada hubungan apa-apa dengan Indi.
Sedangkan Indi tampak santai berada dirumah Edwin. Rumah Edwin sangat nyaman. Halamannya luas. Meskipun rumahnya tidak terlalu besar, tapi design lantai dua minimalis terlihat sangat rapi dimata Indi.
"Ibu yang menyuruhnya kesini." Bu Rika tersenyum seolah baru saja mendapatkan sebuah kemenangan dari Edwin.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat." Edwin menarik tangan Indi dengan lembut. Mereka berpamitan pada Bu Rika dan Ricky kemudian berangkat kekota dengan berboncengan lagi. Mengulang kemesraan mereka tempo hari.
~Enjoy. Silahkan like, vote, comment dan teman tombol favourite sesuka hati yaaa ❤️❤️~