Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)

Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)
Perampok?


__ADS_3

Pagi ini Indi berangkat kekantor seperti biasa. Sudah satu bulan dia berangkat kekantor sendirian tanpa diantar Edwin. Sampai-sampai para satpam mengira mereka sudah putus karena Edwin tidak pernah sekalipun kelihatan.


Selesai mandi dan makan malam, Indi merebahkan tubuhnya dikasur kemudian menunggu pesan dari Edwin.


Hari ini agak berbeda dari hari biasanya, seharian ini Edwin belum mengiriminya pesan sama sekali."Mungkin Edwin sibuk." pikirnya.


Sudah jam sembilan malam, belum juga ada tanda-tanda kemunculan Edwin. Biasanya jam tujuh malam mereka sudah mulai bertukar kata.


Satu jam berlalu, pikiran Indi sudah mulai tidak menentu. "Apa yang terjadi pada Edwin?" ini tidak seperti hari-hari sebelumnya. Mengingat Edwin sedang berada dikota metropolitan, Indi takut jika Edwin menjadi korban pencopetan dan lain sebagainya. Namun, dengan cepat Indi menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak...tidak..! Tidak mungkin Edwin dalam bahaya. Dia pasti bisa melindungi dirinya." Indi mencoba mengusir segala pikiran negatifnya.


Sampai jam sepuluh, keadaan masih sama. Indi memberanikan diri mengirim pesan pada Edwin. Toh juga mereka sudah jadian. Tidak ada salahnya jika Indi memulai lebih dulu, pikirnya.


"Edwin, bagaimana pelatihan hari ini?" Seandainya Edwin sibuk, paling tidak dia menyempatkan waktu untuk mengatakan kalau dia sedang sibuk. Indi pasti mengerti.


Tidak mendapatkan balasan, Indi mencoba menelepon Edwin. Tapi ternyata ponselnya tidak aktif.


Pikiran Indi mulai risau. Dia mulai cemas. Tidak biasanya Edwin menghilang. "Kemana Edwin? Kenapa ponselnya tidak aktif? Indi berusaha mengusir semua pikiran tidak baik yang memenuhi kepalanya.


"Edwin, apakah kamu baik-baik saja?" Indi mengirimkan pesan kedua itu pada Edwin.


"Mungkin besok, dia akan menghubungiku. Mungkin Edwin terlalu lelah sampai-sampai dia ketiduran dan lupa mengisi daya ponselnya sehingga ponselnya mati kehabisan baterai." Hanya itu yang bisa Indi pikirkan untuk menenangkan hatinya.


Indi menutup kedua kelopak matanya. Dengan usaha yang keras akhirnya Indi berhasil. Diapun terlelap.


***


Tok..tok..tok..


Indi mendengar suara pintu diketuk.


"Baru juga tidur, masa sudah pagi?" Indi mengusap-usap matanya yang berat karena sangat mengantuk.


Karena lampu dikamar dipadamkan saat tidur, Indi tidak bisa melihat jam didinding. Dia meraih ponselnya yang diletakkan diatas meja disebelah kasurnya kemudian memperhatikan jam yang terpampang disana. Ini jam dua belas malam.


Pintu masih diketuk dari luar. Indi mendadak ketakutan. Dia pun membangunkan Lia yang tertidur pulas.


"Li, bangun."


Lia hanya menggeliat.

__ADS_1


"Kamu dengar suara pintu diketuk?"


"Iya, kakak buka saja pintunya." Lia mendengarnya samar-samar karena dia masih sangat mengantuk.


"Ini jam dua belas malam. Siapa yang bertamu malam-malam begini? Apa jangan-jangan itu perampok?" Kata-kata Indi berhasil membangunkan Lia.


"Kak...gimana ini? Aku takut." Lia memegang bahu Indi.


"Gimana kalau kita lihat keluar. Kita intip dulu dari jendela. Kalau kita tidak kenal orangnya, kamu telpon Doni minta dia kesini." Indi memberanikan diri.


"Baiklah."


Mereka berdua turun dari tempat tidur. Lia menyiapkan ponselnya dan mereka berjalan mengendap-ngendap.


"Pelan-pelan Li, jangan sampai orang itu tahu kita mendekat." Indi berbisik pada Lia yang terus saja memegang tangan Indi sambil membuntutinya.


Suara ketukan semakin keras karena mereka semakin dekat.


Indi menyeruak gorden disebelah pintu. Karena lampu seluruh ruangan padam, mereka hanya bisa melihat siluet seseorang berdiri didepan pintu. Mereka tidak berani bersuara.


Indi memperhatikan orang itu. Beberapa kali orang itu terlihat mengeluarkan sesuatu dari sakunya, dia perhatikan, kemudian dia masukkan kembali. Sedangkan Lia bersembunyi dibelakang Indi menunggu perintah untuk kalau-kalau mereka perlu menghubungi Doni.


"Apa itu? pisaukah?" Indi tidak bisa melihat dengan jelas. Hanya bayangan hitam yang tampak. Dia semakin takut. Kaki dan tangannya mulai bergetar.


Indi tetap memperhatikan. Orang itu berbalik arah berjalan menjauhi pintu hingga cahaya lampu taman mengenai wajahnya.


Dan...


"Aaaahhhh..." Indi berteriak.


Dia melompat mendekati daun pintu berwarna coklat itu. Dia memutar anak kunci dan gagangnya.


Lia tak kalah kagetnya. Apa yang dilakukan kakaknya berlari seperti itu? Apakah kak Indi akan menyerang orang itu? Tangannya gemetar mencari kontak Doni hendak meneleponnya tapi kegugupan membuat pikirannya tidak fokus, dia tak berhasil menemukan nama Doni.


Mendengar suara, orang itu berbalik badan. Indi segera meraih punggung orang itu dari depan. Punggung orang yang sedari tadi mengganggu pikirannya.


"Edwiiiiinnn......Kenapa tidak bilang kalau kamu akan datang?" Indi memeluknya semakin erat.


"Edwin? Itu kak Edwin?" Lia mengeluarkan suara, kemudian dia menyalakan lampu ruang tamu.


"Aku ingin memberimu kejutan." ucap Edwin sambil memeluk Indi tak kalah eratnya.

__ADS_1


"Kamu baru saja hampir membunuhku. Hampir jantungku copot karena ketakutan. Aku pikir kamu perampok yang datang tengah malam begini." Indi mulai memperbaiki ritme nafasnya yang tidak jelas beberapa menit belakangan ini.


Edwin tertawa terbahak-bahak.


"Aku berhasil memberikanmu sebuah kejutan." Edwin tersenyum puas.


"Ini tidak lucu..." seru Indi. Bibirnya mengerucut, tangannya sibuk memukul dada Edwin dengan lembut.


"Maafkan aku." ucap Edwin sambil mengecup bibir Indi membuat Indi terdiam.


Lia melihat semuanya dari sudut ruangan yang lain. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian masuk kamar dan melanjutkan tidurnya. Dia membiarkan dua sejoli itu melepas rindu.


Rupanya kejutan ini sudah disiapkan sejak awal bahkan sebelum Edwin berangkat ke Jakarta. Pelatihannya memang hanya satu bulan. Dia mengaku tiga bulan supaya Indi tidak menyangka dia akan datang secepat itu. Dan itulah, kejutan!


Seharian ini dia memang tidak menghubungi Indi. Bukan maksudnya membuat Indi khawatir, tapi dia ingin melihat reaksi Indi, apakah Indi akan mencarinya jika dia menghilang atau tidak.


Edwin mematikan ponselnya ketika dia sampai di bandara. Mulanya dia ingin kerumah kontrakannya malam itu dan mengunjungi Indi pagi-pagi buta keesokan harinya. Tapi, ditengah perjalanan dia berubah pikiran. Dia meminta supir taksi untuk memutar haluan menuju alamat rumah Indi. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Indi. Dia sangat rindu.


Didepan rumah Indi, Edwin bimbang antara menelepon Indi yang sedang tidur atau terus saja mengetuk pintu, kemudian langsung memeluk Indi ketika Indi membuka pintu untuknya. Itulah kenapa dia ambil lagi ponselnya, dia perhatikan, kemudian dia masukkan lagi. Dia memutuskan untuk membiarkan Indi tidak tahu kalau dirinya sudah datang sampai Indi berada didepan matanya.


Ternyata kedua rencananya berhasil. Indi benar-benar terkejut dengan kejutan yang dibuatnya. Tapi Edwin tidak menyangka hal itu akan membuat Indi sangat ketakutan.


Tapi ada hal yang membuat Edwin senang. Ternyata Indi juga mengkhawatirkannya. Buktinya Indi mengirim pesan dan menanyakan apakah dia baik-baik saja atau tidak.


Indi menceritakan bagaimana kecemasan dan ketakutannya malam ini. Edwin semakin yakin bahwa Indi benar-benar mencintainya.


Indi tidak menyangka sama sekali Edwin akan memberinya kejutan seperti itu. Skenarionya sangat cantik sehingga dia tidak bisa menerka sama sekali.


"Untung aku tidak mati berdiri mengira ada perampok masuk kedalam rumah." ucapnya, berharap Edwin akan merasa bersalah.


Edwin malah tertawa mendengar kata-kata Indi.


"Sayangku, malam ini apakah aku boleh tidur disini? Ini sudah jam satu pagi." Edwin mengedip-ngedipkan matanya. Memohon dengan cara nakal.


Setelah berpikir-pikir, Indi kasihan juga jika Edwin harus kembali kerumah kontrakan temannya. Dia sudah lelah pelatihan hari ini, kemudian tanpa istirahat, Edwin melanjutkan perjalanan pulang dari Jakarta dan dia belum sempat istirahat sampai saat ini.


"Baiklah, tapi kamu tidur dikamar sebelah dan jangan berani-berani menggangguku." Indi memperingati.


"Baiklah, aku janji. Aku tidak akan macam-macam." sahut Edwin meyakinkan.


Mereka sepakat untuk melanjutkan acara kangen-kangenannya besok pagi. Mereka masuk kedalam kamar masing-masing. Indi segera mengunci pintu dari dalam untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


"Dasar perampok! Perampok hatiku." ucap Indi tersenyum sambil menarik selimutnya.


*Terimakasih sudah membaca. Terimakasih sudah memberikan like, vote, comments dan menandai sebagai favourite. Semoga terhibur 😘😘*


__ADS_2