Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)

Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)
Hampir Kepergok


__ADS_3

"Jadi ... kamu pacarnya Arga?" tanya Indi ketika Hera duduk disampingnya.


"Iya, Kak," jawab Hera dengan wajah berseri-seri. Sepertinya Hera memang ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dia sangat bahagia bersama Arga. Walapun kenyataannya tidak seperti itu. Banyak luka yang harus dia tahan karena cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Kakak sudah lama pacaran dengan kak Edwin?" tanya Hera hanya untuk berbasa-basi.


Arga pergi meninggalkan mereka berdua dan menuju kamar tidur. Dia tidak ingin berada didepan kedua wanita itu ketika mereka bercengkrama. Yang satu adalah kekasihnya, yang satu lagi adalah wanita yang dicintainya. Ada hati yang terluka disana karena dirinya.


Dari dalam kamar, Arga memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan setiap suku kata yang keluar dari mulut mereka.


"Aku ... baru beberapa bulan saja. Kamu?" Indi sebenarnya sudah tidak ingin lagi mencari informasi tentang Arga dan Hera. Dia sudah melupakan Arga dan membiarkan Arga bahagia bersama Hera. Meskipun begitu, terkadang dia penasaran ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Namun, dia harus berhati-hati dalam berucap jika dia tak ingin Hera curiga kepadanya.


"Aku sudah setahun lebih, Kak. Arga sangat menyayangiku," ungkapnya.


Arga hampir saja menghantam tembok kokoh dihadapannya mendengar pernyataan Hera. Arga tidak terima Hera mengatakan didepan Indi bahwa dirinya sangat mencintai Hera. Indi lah wanita yang sangat dia cintai.


Indi menganggukkan kepala pelan sambil menggigit ujung bibirnya mendengar ucapan Hera.


*Ternyata benar, Arga sangat mencintai Hera dan mereka sudah jadian sejak lama. Pantas saja, Arga tak kunjung putus dengan Hera. Tapi biarlah sudah, semuanya sudah berlalu. Aku sudah melupakan Arga, *batin Indi.


"Kak Indi sudah sering kesini?"


"Nggak juga, ini baru kedua kalinya. Harusnya tadi aku cuma mampir sebentar, tapi ternyata hujan deras. Aku nggak bisa pulang."


"Oh, kalau aku sering kesini kak. Seminggu tiga atau empat kali. Sepulang mengajar, Arga akan mengajakku kesini," ucap Hera pamer.


"Kak Indi, aku boleh tambahkan Kakak sebagai teman disosial mediaku? Apa nama akun Kakak?" Hera mengeluarkan ponselnya. Dia tampak sangat antusias. Akhirnya dia punya teman yang mengenal keluarga kekasihnya. Hera berharap bisa lebih dekat dengan Indi dan menjadikannya teman curhatnya ketika Arga mengecewakan atau menyakitinya seperti yang dia lakukan sebelumnya.


"Kamu cari saja Indira Kumalasari. Panggil aku Indi, sepertinya kita seumuran," ucap Indi sambil tersenyum. Bagaimanapun juga, Hera adalah kekasih dari calon iparnya. Dan jika mereka menikah, Indi dan Hera akan menjadi saudara ipar. Dia harus menjaga hubungan baik dengan Hera.


Hera segera membuka akunnya dan mencari nama yang


disebutkan oleh Indi. Namun, dia tidak berhasil menemukannya. Indi menahan


senyum. Dia sudah tahu akunnya diblokir. Entah Hera atau Arga pelakunya,


sekarang akan ketahuan.


“Kok nggak ada ya?" keluh Hera.

__ADS_1


"Coba Kakak bantu cari dari akun Kakak," lanjutnya.


Indi mengambil ponsel dan mencarinya. Dia tidak mau langsung mengatakan akunnya sudah diblokir. Itu akan membuat Hera bertanya-tanya, kenapa Indi bisa tahu sebelum mencari.


“Siapa nama akunmu?” Indi balik bertanya.


“Hera Agatha Putri”


Indi bermain-main dengan ponselnya mencari nama yang disebutkan Hera. Kemudian dia mengangkat kedua bahunya.


"Nggak ada juga. Sepertinya akunku diblokir dari akunmu, Coba kamu lihat dipengaturan akunmu, dibagian blokir," ucapnya santai.


Arga tersentak mendengar penjelasan Indi. Sepertinya Arga lupa, Indi adalah wanita yang cerdas. Walaupun kadang-kadang cinta menghilangkan akal sehatnya, tapi urusan teknologi, Indi bisa diadu. Semakin sakit hati Arga mengakui kenyataan bahwa dia tidak bisa lagi mendekati Indi. Wanita yang dicintainya sudah resmi menjadi kekasih kakaknya. Orangtuanya mengenal Indi sebagai kekasih Edwin, bukan kekasihnya.


Dibantu oleh Indi, Hera membuka blokir akunnya.


"Kenapa bisa diblokir ya? Padahal kita nggak pernah kenal sebelumnya lho," tanya Hera dengan tatapan Heran.


"Entahlah," sahut Indi.


Tanya saja pada si playboy Arga, ucapnya dalam hati. Tapi tidak mungkin dia menjawab begitu. Itu sama saja bunuh diri.


"Honey, kenapa ya akun Kak Indi bisa diblokir dari akunku? Aneh sekali," tanya Hera sambil membuka pintu kamar Arga yang tak jauh dari ruang tamu.


"Mungkin kamu salah pencet," sahutnya cepat.


"Bagaimana bisa? Aku kan tidak pernah berteman dengan kak Indi."


"Aku juga tidak tahu. Mungkin juga akunmu mengalami masalah," tungkas Arga.


Indi tersenyum sinis mendengar jawaban Arga.


*Padahal nyuruh nanya dari dalam hati ya ... kok nanya beneran. Bisa baca kata hati kali ya? Si Arga juga, p**intar sekali dia mencari alasan.*Indi cekikikan dalam hati.


Hera keluar dari kamar Arga dengan perasaan tidak puas dan kembali duduk disebelah Indi. Mereka ngobrol lebih lama sambil menunggu hujan reda. Ada rasa canggung dalam hati Indi. Setiap kali Hera menyebut nama Arga, ada kenangan manis dan pahit yang muncul dari hati Indi. Begitu pula dengan Hera, dia merasa sakit harus membohongi diri sendiri karena selalu saja mengaku berbahagia dengan Arga. Sebagaimanapun Indi melupakan Arga, Indi tak bisa memungkiri, Arga pernah mengisi hari-harinya.


Beberapa saat kemudian, hujan reda. Indi menyambutnya dengan sukacita. Akhirnya dia bisa pulang kerumah orangtuanya dan menghindar dari cercaan pertanyaan yang dilontarkan Hera kepadanya.


Indi pamitan pada Hera, Bu Rika, Edwin, Arga sang mantan kekasih, dan adik bungsu mereka.

__ADS_1


Edwin mengantar Indi sampai diparkir motor dengan memeluknya. Membuat Arga terbakar api cemburu.


***


Dua hari berlalu. Indi akan kembali kekota. Kali ini dia akan mengajak serta kedua adiknya, Putri dan Rizky untuk ikut bersamanya. Mereka ingin liburan di kota. Biasanya setelah menerima raport, mereka akan ikut ke kota untuk berlibur. Indi sudah berjanji akan mengajak mereka jika mereka mendapatkan peringkat dikelas. Dan kali ini, mereka menjadi peringkat pertama. Putri mendapat peringkat pertama dikelas dua SD, dan Rizky mendapat peringkat pertama dikelas satu SD.


Indi meminta maaf kepada Edwin karena berniat untuk mengingkari janjinya dan meminta Edwin untuk membatalkan pertemuan mereka dengan keluarga Edwin. Edwin menyetujuinya.


Lia membonceng Putri, dan Indi membonceng Rizky menuju arah kota, sedangkan Edwin berangkat sendirian.


***


Beberapa hari berada di kota, Indi benar-benar memperlakukan adik-adiknya dengan sangat baik. Setiap pagi, Edwin akan datang kerumah Indi untuk menemani Rizky bermain. Indi akan memasak untuk mereka, mencucikan pakaian adik-adiknya, dan selalu ada kasih sayang disetiap hal apapun yang Indi lakukan untuk mereka. Bahkan ketika mereka berjalan-jalan kebeberapa tempat wisata, Indi akan benar-benar melindungi kedua adik kecilnya.


Edwin menatap Indi dengan perasaan hangat. Dialah calon istri idaman. Edwin yakin, jika mereka punya anak kelak, Indi akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya.


Otaknya berputar ingin mendekap gadis itu. Namun, hal itu tak mungkin dilakukannya didepan adik-adik Indi.


Ketika Indi masuk kedapur, Edwin mengikutinya. Dia melihat Indi mencuci piring bekas makan mereka tadi. Dia merengkuh tubuh itu dari belakang dan menempelkan dagunya dibahu Indi.


“Sayang, nanti adik-adikku lihat. Malu …’ ringis Indi berusaha melepaskan tangan Edwin dengan tangannya yang penuh dengan sabun.


“Tidak apa-apa, aku rindu. Mereka nggak akan lihat. Mereka sedang asik menonton diruang tamu.” Edwin mulai menciumi pipi Indi.


“Sayang, hentikan,”  ucap Indi manja.


“Sini bibirmu sayang, satu kecupan saja.” Edwin menarik pipi Indi dan mendaratkan satu kecupan dibibir Indi.


Mereka tersenyum nakal. Ciuman yang diberikan Edwin terlalu manis, tak sanggup Indi menolaknya. Dia minta ijin untuk mencuci tangannya yang penuh sabun sebelum melanjutkan aksinya.


Kini Indi sudah menghadap Edwin. Dengan ragu-ragu dia membalas ciuman itu. Pelan-pelan dia mulai mengeluarkan lidahnya untuk menyicipi bibir manis Edwin. Sesekali  mata Indi melihat-lihat kearah pintu dapur. Mengawasi, barangkali ada yang datang.


“Sayang, aku mencintaimu,” ucap Edwin dengan bibir yang melekat dibibir Indi.


“Aku juga,” sahut Indi sambil mengalungkan kedua tangannya dileher Edwin. Dia sangat bahagia memiliki Edwin yang sangat menyayanginya.


“Kak Indi …” panggil Rizky yang sedang berjalan kearah dapur. Seperti maling yang aksinya tercium polisi, dengan


cepat mereka menghentikan aktifitas mesra mereka dan melanjutkan mencuci piring sehingga pada saat Rizky masuk ke dapur, dia melihat Indi mencuci piring dan Edwin sedang mengelap meja.

__ADS_1


"Fiuhh" Indi dan Edwin bernafas lega dan saling melirik.


Terimakasih sudah membaca. Terimakasih sudah vote, comments dan like yaaaaa.....😘😘😘


__ADS_2